
Segala cara Ethan lakukan untuk menemukan keberadaan Zoya, namun hasilnya nihil hingga membuatnya nyaris putus asa. Selama dua puluh empat jam, ia tidak menemukan hasil apapun dari pencariannya. Sementara semua media masa masih sibuk membahas perihal skandalnya dan juga konferensi pers Zoya.
Ethan sangat muak dengan semuanya. Ia nyarus kehilangan arah andai Freya dan Agyan, juga Randy tak selalu menguatkannya. Di hari berikutnya, keluarga Rayn kembali berkumpul di rumah Ethan. Bagaimanapun, Ethan harus segera menyelesaikan tugas terakhirnya untuk menceraikan Naina agar Rival bisa segera menikahi gadis itu.
Naina tampak tidak tega melihat raut wajah Ethan. Pria itu pasti sangat terpukul karena tidak dapat menemukan keberadaan Zoya. Pria itu pasti sedang merasa hancur karena Zoya lebih memilih meninggalkannya. Padahal bahagianya berpusat pada wanita itu.
Naina hanya menatap pria itu ketika Ethan menyentuh kepalanya, sorot mata Ethan tampak lembut saat menatapnya, bahkan pria itu sempat tersenyum tipis sebelum kemudian mengatakan sebuah kalimat yang akan mengakhiri ikatan di antara keduanya.
"Saya, Zeinn Ethan Maheswarry, memberi Ananda Naina Mehrunisa binti Safar Raharjo, talak."
Hari itu, Naina sudah bukan lagi istri sementara Zein Ethan Maheswarry. Ia terbebas dari kontrak pernikahan dengan pria itu.
Perceraiaan Naina dengan Ethan secara resmi diumumkan oleh pihak agensi guna memberi jawaban pada mereka yang seringkali bertanya perihal hubungan keduanya.
Beberapa hari selanjutnya, ketika pemberitaan mengenai Zoya masih menjadi topik hangat yang terus dibicarakan, Ethan masih sibuk mencari dimana keberadaan sang istri.
Bagi Ethan, perpisahan di antara mereka bukanlah jalan terbaik bagi Zoya, terutama bagi dirinya. Ethan tidak bisa.
Sementara Naina yang hari ini sudah mulai tinggal di rumah Rival membiasakan diri untuk beradaptasi di sana berikut juga memperkenalkan diri pada dua adik Rival. Ia mendapat sambutan hangat dari Davika, adik perempuan Rival, begitu juga dari Rafa.
Ia datang pada malam hari karena siang tadi Rival sibuk di perusahaan, sehingga terlambat untuk datang menjemputnya.
"Ini kamar Mas Rival. Kamu tinggal di sini, biar nanti Mas Rival tidur di kamar Rafa." sahut Vina saat membawa calon menantunya itu menuju lantai atas. Naina hanya mampu mengangguk, sekilas ia melihat pintu kamar Rafa yang berada tepat di samping pintu kamar Rival. Naina dapat mengetahuinya karena terdapat inisial nama Rafa di depan pintu.
"Mbak Naina mau tinggal di sini?" tanya Davika ketika melihat Rival yang membawa barang barang Naina. Vina tersenyum mengangguk pada putri bungsunya.
"Iya Sayang, kan Mbak Naina akan menikah sama Mas Rival." beritahunya kemudian. Davika tampak mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti.
__ADS_1
"Jadi kalau nanti sudah menikah. Mas Rival nggak akan tinggal di luar negri lagi, yah?" tanyanya lagi. Rival yang muncul dari arah kamar setelah menyimpan barang-barang Naina hanya mengangkat bahu acuh, membuat bocah itu memanyunkan bibirnya.
Vina segera melerai dan mengusap puncak kepala putrinya. "Iya, Sayang. Mas Rival nggak akab pergi pergi ke luar negri lagi. Makannya, Davika yang baik yah, biar Mbak Naina betah tinggal di sini."
"Siap Boss."
"Yasudah, Davika tidur yah, biar Mama temani." ajak Vina kemudian, bocah itu mengangguk patuh, segera berpamit pada Naina dan juga Rival sebelum Vina menggendongnya menuruni anak tangga.
Sepeninggalan dua orang itu, Naina dan Rival hanya saling terdiam dengan pandangan mata dalam satu garis lurus. Naina dengan sorot mata tak percaya jika ia dengan pria itu akan menikah dan tinggal bersama, dalam satu atap yang sama.
Sedangkan Rival dengan sorot yang sama pula, namun begitu ia sangat senang karena keinginannya terlaksana. Sekalipun Rival tak akan mampu menyangkal fakta, jika cara yang sudah ia lakukan adalah salah besar.
"Kamu mau lihat isi kamar aku?" tawar Rival kemudian. Naina mengangguk, lantas segera masuk ke kamar pria itu. Aroma maskulin seketika menyeruak indera penciuman Naina, sesaat membuatnya mual meski masih dapat ia tahan.
"Kamu mual?" tanya Rival, tampak khawatir, bahkan refleks ia menyentuh perut Naina. Naina menggelengkan kepalanya. Begitu tersadar jika apa yang keduanya lakukan cukup intim, Naina buru-buru menghindar.
Sorot mata yang mengingatkan Naina pada malam dimana mereka melakukan kesalahan di kamar hotel keluarga Zeinn. "Mas Rival–" Naina menyadarkan pria itu.
"Ekhem!" sampai pria itu memutus tatapannya begitu mendengar dehemaan dari arah pintu, Vina sudah berdiri di sana dengan tangan terlipat di dada. Rival dapat menebak jika Davika pasti tidur dengan pengasuhnya atau dengan Rafa.
"Jangan macam-macam Mas. Lagian kalian juga sebentar lagi menikah, sabarlah sedikit." ungkapnya yang membuat pipi Naina memanas, ia merasa pipinya sudah semerah kepiting rebus saat ini.
"Kita turun ke lantai bawah, ada yang perlu Papa bicarakan." instruksinya yang membuat Rival segera bangkit dari duduknya.
"Mas duluan saja, Mama mau bicara berdua sama Naina." sahutnya. Rival diam sesaat, sempat ragu dengan permintaan Vina terutama melihat Naina yang mendadak gugup begitu Vina mengatakan hal tersebut.
Tapi Rival percaya jika Vina tidak akan macam-macam pada gadis yang dicintainya. Rival akhirnya menganggukkan kepala dengan sorot mata meyakinkan gadis itu jika semuanya akan baik-baik, saja lantas ia meninggalkan Naina bersama dengan Vina di dalam kamarnya.
__ADS_1
Naina benar-benar merasa gugup ketika Rival sudah meninggalkannya bersama dengan Vina hanya berdua dalam kamar pria itu, ia hanya mampu meremas pinggiran dress yang dikenakannya karena gugup, tapi kemudian Vina duduk di sampingnya dan meraih tangannya, membuat Naina mengalihkan tatapan pada wanita itu.
Mata Vina tampak berkaca-kaca, sorot matanya menyiratkan perasaan kecewa. membuat Naina paham jika mungkin kesalahan yang dibuatnya dengan Rival membuat wanita itu terluka.
Naina balik menggenggam tangan Vina.
"Maafkan saya Bu. Karena saya sudah merebut masa depan Mas Rival. Saya sudah menghancurkan karakter yang sudah ibu dan Pak Rayn didirikan pada Mas Rival."
"Maaf, karena kami sudah mengecewakan kalian." sesalnya, sungguh-sungguh.
Vina hanya mampu tersenyum mendengar penuturan gadis itu. "Apa yang kamu dengan Mas Rival lakukan memanglah salah Nina. Saya sangat kecewa. Saya bahkan sangat ingin membenci kalian, tapi saya yakin kalian juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi." tutur Vina dengan tatapan lembut
"Sebagai seorang ibu, saya merasa sangat gagal mendidik Mas Rival. Tapi saya tahu, Mas Rival sangat mencintai kamu dan saya tidak bisa menghalanginya. Saya hanya berharap jika kalian akan hidup bahagia." kali ini, Vina mengelus rambut Naina. "Di bawah, Papa akan membahas mengenai pernikahan kalian."
"Apa boleh kami menikah saat permasalahan antara saya dan Pak Ethan belum mereda di media?" tanya Naina.
"Saya takut keluarga Ibu Vina dan Pak Rayn mendapat gunjingan dari masyarakat karena anaknya menikah dengan saya." sambungnya khawatir.
"Kita hanya perlu tidak mendengarkan perkataan orang lain bukan? Biarkan saja, apa yang kita lakukan tidak merugikan mereka. Mereka bebas berpendapat, tetapi hidup kita adalah milik kita orang lain tidak bisa mengatur."
Dua hari serelahnya, pernikahan sederhana antara Rival dengan Naina akhirnya digelar di rumah pria itu, sebelumnya Rival juga sudah mengabari Bibi Naina di kampung secara langsung jika Naina akan menikah dengan Rival .
Bibi tentu saja sangat terkejut, tetapi Rival berhasil meyakinkan wanita itu jika semuanya baik-baik saja dan Naina aman bersama dengannya.
TBC
Hmm selanjutnya apa lagi, yah?
__ADS_1