
Freya dan Agyan segera meluncur menuju kediaman putra dan menantunya begitu melihat pemberitaan mengenai kepulangan Zoya dari Eropa. Masalah ini harus segera diselesaikan bukan? Sebagai orang tua, Freya dan Agyan berhak tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga anak-anaknya.
Sejak kemarim malam, bahkan Freya tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan putra dan juga menantuanya. Agyan bahkan tidak tahu cara untuk membuat istrinya tenang.
"Zoya sudah bisa dihubungi?" tanya Agyan yang tengah menyetir, Freya menggelengkan kepala. Menantunya tidak bisa dihubungi sama sekali. Namun ia berhasil mendapat kabar dari manajer sang menantu yang mengatakan jika Zoya sedang dalam perjalanan ke rumah.
"Kamu tenang," Agyan yang menyadari kekhawatiran sang istri menggenggam tangan Freya.
"Aku nggak bisa tenang sebelum mastiin sendiri apa yang sedang terjadi." Zoya menyahut frustrasi. "Aku setengah gila, Gyan. Kepalaku rasanya mau meledak." sambungnya, ia tak berbohong dengan perkataannya. Faktnya memang seperti itu yaang ia rasakan.
Skandal yang beredar beberapa tahu lalu mengenai putranya yang dikabarkan memasuki salah satu kamar hotel dengan aktris dari agensinya rasanya tak membuat Freya sepusing ini. Tapi kali ini, ia bahkan tidak bisa tidur mengingat pemberitaan mengenai putranya.
***
"Aku nggak ngerti, kenapa Mas Rival malah nyuruh kita datang ke rumah Ethan. Bukannya kamu suruh dia bawa pacarnya ke rumah kita?"
Vina keheranan sendiri ketika sang suami mengajaknya untuk ke rumah Ethan setelah Rival memberitahukan mereka untuk datang.
Vina menoleh pada suaminya yang fokus mengemudikan mobil. "Kamu nggak ngerasa aneh, Pah?" tanya Vina karena sang suami tak banyak berkomentar ataupun menanggpi ocehannya sejak tadi.
"Kenapa juga dia harus ngelibatin Ethan saat Ethan juga lagi ngehadapin masalah besar. Anak kamu berarti ngasih beban ke orang lain, kan kasihan Ethan sama Freya–" Vina yang masih mengoceh lantas menjeda kalimatnya saat terlintas sesuatu di kepalanya.
"Pah, jangan bilang kalau anak kamu ngehamilin Zoya." mata Vina membulat mengingat isi kepalanya. Rayn menoleh dengan raut datar.
"Mah,"
"Jangan bilang–" Vina menatap suaminya penuh arti. Sementara Rayn hanya mendesah. "Asisten rumah tangga Ethan?" sambungnya, kali ini wajahnya tampak serius dan sangat mengharapkan jawaban dari Rayn yang tampaknya sudah tahu siapa wanita yang tengah mengandung anak Rival.
Wanita itu mendesah begitu melihat suaminya yang menganggukan kepala. Vina menggeleng, menolak percaya mengenai hal itu. Mengingat lagi beberapa acara keluarga yang dihadiri Ethan, Zoya, juga asisten rumah tangganya tersebut.
Rasanya tidak ada hal yang mencurigakan dari Rival. Tak pernah ada interaksi apapun antara putranya dan asisten rumah tangga Ethan. Tapi kenapa bisa wanita itu sampai hamil anak Rival?
Kepala Vina benar-benar terasa akan pecah memikirkannya.
Sementara Rayn di sampingnya terus mengemudikan mobil. Mengingat lagi pertemuan tidak sengajanya dengan Naina dalam acara sertijab hotel tempo lalu.
Sebagai seorang laki-laki, rasanya ia sedikit banyak dapat menerka arti tatapan putranya pada gadis itu. Rupanya mereka memang memiliki rasa saling suka. Namun Rayn tak pernah mengharapkan hal semacam ini terkadi. Terlebih lagi, wanita itu tengah terlibat skandal dengan Ethan. Sangat memusingkan kepala.
"Ini belum seberapa Pah. Papa akan lebih terkejut lagi setelah tahu kebenarannya."
"Mau sejauh apa kamu membuat Papa dan Mama terkejut, Mas?"
Rayn menepis obrolannya dengan Rival pagi tadi sebelum anak sulungnya itu pergi dari rumah. Dia bilang Naina berada di suatu tempat dan dia harus menjemputnya.
***
Naina segera keluar dari rumah begitu sebuah mobil memasuki pelataran rumahnya. Rival sudah mengabarinya jika pria itu akan datang menjemput dan membawanya ke suatu tempat. Saat Naina bertanya, Rival tak mengatakannya dan hanya menyuruh Naina bersiap, gadis itu hanya bisa patuh mengikuti perintah Rival.
"Mas Rival." ia segera menyapa Rival begitu sang pengemudi keluar dari mobil. Rival mengukir senyum tipisnya, lantas melangkah menghampiri Naina yang berdiri di teras.
Gadis itu terus mengukir senyum, hingga senyumnya luntur begitu melihat luka lebam di ujung bibir Rival. Naina hanya menatap pria itu, tak berani bertanya karena dengan cepat kepalanya sudah dapat menerka penyebab luka di ujung bibir pria itu.
"Sudah siap?" tanya Rival. Naina mengalihkan pandangannya dari luka di ujung bibir pria itu lantas menganggukan kepala.
"Yasudah, ayo." Rival melangkah lebih dekat dan meraih tangan mungil gadis itu untuk ia genggam. Lantas keduanya berjalan menuju mobil.
Rival mengenakan seatbelt di tubuh gadis itu sementara Naina hanya duduk diam. Rival menahan gerakan tangannya saat mata keduanya bertemu. "Aku udah jujur sama orang tuaku." beritahu pria itu. Naina tak mampu merespond, hanya saja, tangannya terulur dan jari tangannya menyentuh ujung bibir Rival.
"Ini hasilnya?" kali ini Naina memberanikan diri bertanya. Rival justru tersenyum, meraih tangan gadis itu dan ia tuntun untuk mengelus pipinya.
__ADS_1
"Bukan masalah besar. Kamu harus bersiap, Papaku ingin bertemu." sahut Rival dengan tenang namun tak mampu membuat gadis itu demikian.
Ia tampak gugup seketika. "Mas–"
"Ada aku."
"Aku–"
"Kamu nggak perlu khawatirin apapun, percaya sama aku."
"Tapi Mas Rival, gimana kalau Pak Rayn nggak suka sama aku?"
"Yang mau nikahin kamu kan aku."
"Aku tahu–" Naina terdiam, menatap Rival dengan tatapan penuh cemas. Tetapi senyum yang pria itu berikan mampu menenangkannya sekalipun tak bisa membuat gugup yang dirasanya hilang.
"Ada aku, kita hadapain ini sama-sama, yah."
***
Freya menciumi menantunya berulang-ulang begitu tiba di rumah anak dan menantunya. Mata wanita itu berkaca-kaca sementara Zoya hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apa-apa.
"Gimana syutingnya Sayang, lancar?" tanyanya dengan tangan yang sibuk merapikan rambut Zoya.
"Lancar Bunda."
"Kamu kenapa nggak bisa dihubungi. Bunda khawatir."
"Maaf Bunda, tapi Zoya sengaja nggak aktifin ponsel biar fokus di sananya." Zoya menyahut dengan tenang. Setelahnya, Freya tak banyak bicara, ia kembali memeluk menantunya. Ada rasa bersalah menelusup relung hatinya mengingat skandal Ethan yang pasti melukai perasaan Zoya.
Sementara Ethan dan Agyan hanya diam. Terlebih, Agyan melayangkan tatapan tak biasa pada putranya, membuat Ethan segan karena bagaimanapun ia bersalah dan menghilang sejak kemarin tanpa bisa dihubungi oleh siapapun.
"Permisi."
Sedangkan Zoya yang sudah mendengar langsung dari sang suami jika Rival sudah mengatakan pada orang tuanya perkara Naina yang hamil anak pria itu dan mereka akan berunding di rumahnya hanya tersenyum menyambut tamunya tersebut.
"Ini–" belum Freya meneruskan kalimatnya, kedatangan mobil lain ke pelataran rumah membuat mereka menatap ke arah luar. Tak lama Naina dan Rival turun dari sana, membuat Freya tidak mengerti. Mengapa keluarga Rayn harus terlibat dengan masalah yang tengah menimpa rumah tangga putranya?
"Mm, kalian pasti bingung." sahut Zoya melihat Freya dan Vina yang saling mematung dengan raut bingung.
"Ayo. Kita masuk dulu. kita bicarain ini di dalam." Zoya mempersilakan.
"Zoya, tapi Bunda–" Freya benar-benar bingung dengan apa yang terjadi dan ia butuh penjelsan dengan segera.
Zoya hanya mampu menatap mama mertuanya, kemudian menatap satu persatu dari mereka di sana. Sepertinya akan sangat sulit membuat semua orang mengerti.
****
Reaksi pertama yang terlihat dari orang tua Rayn dan juga orang tua Ethan sudah dapat diperkirakan oleh empat orang yang menciptakan masalah di sana usai Zoya bercerita jika Naina sudah menikah dengan Ethan dengan alasan agar Ethan memiliki anak dari wanita itu.
"Menikah?" Freya tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya, begitu juga dengan Vina. "Kamu bahkan hamilin istri orang, loh, Mas." sahitnya dengan suara pelan pada sang putra yang duduk tepat di sampingnya kanannya.
"Kalian pikir ini masuk akal?"
"Bunda, ini terpaksa dilakukan." Ethan menyahut.
"Seharusnya kalian diskusiin ini dulu sama Ayah atau Bunda. Kalian nggak bisa ambil keputusan seenaknya. Ini bukan perkara kecil, loh, Than." Freya benar-benar kecewa mendengar perkara ini sekarang setelah semuanya sedemikian kacau.
"Kamu pikir pernikahan kamu sama Zoya ini main-main sampai kalian bisa seenaknya ngelibatin orang lain dalam pernikahan kalian?"
__ADS_1
"Kalian sempet mikir ke sana atau nggak, sih?"
Freya mengacak rambutnya frustrasi. SedangkanVina masih berusaha memantau situasi yang menegang di ruang utama. Rayn sendiri hanya bisa mendesah pasrah, rupanya hal ini bukanlah perkara kecil.
"Zoya yang salah Bunda. Zoya yang minta Ethan buat menikah sama Naina. Zoya yang paksa Ethan biar nurutin apa yang Zoya mau." Zoya tak ingin suaminya disalahkan.
"Bukan Naina atau pun Ethan, tapi Zoya yang salah. Zoya yang ngerencanain ini semua tanpa pertimbangan apapun."
"Zoya pikir ini semua akan mudah, Bunda."
"Sayang–" Ethan berusaha mencegah.
"Zoya yang salah Bunda."
"Diam Zoya! Bunda sama sekali nggak ngerti maksud kalian!"
Sesaat hening terjadi di sana. Sorot mata Agyan juga tampak tak bisa. "Jadi benar, kalian menikah dan bahkan berbulan madu, Ethan?" Ethan mengalihkan perhatiannya pada sang ayah. Ia mengangguk tanpa ragu.
"Bangun Ethan!" intruksi Agyan yang sudah bangkit dari duduknya. Semua mata mengarah pada pria itu, terutama Zoya, begitu juga Rival yang merasa familiar dengan intruksi tersebut.
Ethan bangkit dari duduknya, perlahan melepaskan genggaman tangan sang istri yang seolah mencegahnya berdiri.
Dengan langkah lebar, Agyan mengampiri putranya, baru tangan pria itu akan mendarat di wajah Ethan, Zoya yang sudah sudah memperkirakan apa yang akan Agyan lakukan lebih dulu berteriak.
"AYAH!"
Wanita itu dengan segera memeluk kaki Agyan, menghalangi langkahnya menuju Ethan. Air matanya berjatuhan membasahi pipi, dengan suara bergetar ia memohon pada Agyan. "Ayah, Zoya yang salah. Jangan pukul Ethan, Ayah. Zoya yang salah."
"Pukul Zoya, Ayah, jangan Ethan. Zoya mohon," pintanya dengan suara parau.
"Ayah." Ia menatap Agyan penuh harap, sedangkan tatapan Agyan masih mengarah pada Ethan yang tetap berdiri, siaga menerima bogem mentah dari ayahnya.
Naina yang melihat hal itu hanya meremas pinggiran roknya. Ia sangat merasa bersalah melihat hal itu, ada perasaan tidak enak di hatinya. Rival yang mengerti hal itu segera meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
Freya dan Vina yang tidak sengaja melihat hal itu kian bingung dengan apa yang terjadi.
Agyan mengalihkan tatapannya pada Zoya. Ia memejamkan matanya sesaat melihat Zoya yang begitu memohon padanya. Pria itu sempat memijat pelipis sebelum kemudian berkata. "Seharusnya sebagai laki-laki kamu bisa lebih tegas, Ethan!" ujar pria itu dengan suara pelan.
Agyan membantu menantunya itu untuk bangun, ia mengusap lembut bahu Zoya. "Zoya, yang salah, Ayah. Karena Zoya ingin Ethan memiliki anak, Zoya ingin kami punya anak,"
"Tunggu." Freya angakt bicara, mengalihkan atensi semua orang, ia bahkan beranjak dari duduknya. Kepalanya mengingat lagi hari dimana ia datang pagi-pagi sekali ke rumah Ethan dan Zoya dan mendapati Naina yang mual mual? Mungkinkah itu gejala morning sickness? Artinya Naina sudah hamil anak Ethan?
"Dihari Bunda datang ke rumah kalian pagi-pagi, Naina mual-mual, apa sekarang dia sedang hamil?" tanya Freya dengan harapan Zoya dan Ethan menyangkal hal tersebut.
Sementara Rayn dan Vina yang sudah mengetahui fakta sebenarnya hanya mendesah pasrah.
"Iya." Ethan yang menyahut.
"Ethan!" Freya membentak.
"Tapi Naina bukan mengandung anak Ethan." pernyataan pria itu membuat Agyan dan Freya mematung. Saat pandangan Ethan mengarah pada Rival, Agyan dan Freya pun melakukan hal yang sama.
"Tapi anak Rival."
Freya sesaat terdiam, tak bereaksi apapun, ia benar-benar tidak mengerti atas perkara yang terjadi. Kali ini, Vina pun tampak geram pada putranya yang sudah membuat masalah besar.
"Than, bilang sama Bunda kalau kalian cuma bercanda." Freya terkekeh menatap putranya, tapi beberapa detik selanjutnya, pandangannya tiba-tiba saja kabur, penglihatannya menghitam dengan tubuhnya yang terhuyung dan hendak jatuh, beruntung Rayn yang duduk tak jauh dari sana dengan cepat dapat meraih tubuh wanita itu.
"Bunda!"
__ADS_1
TBC
Aku selalu berharap semua pada sepak up loh. Komen gitu, gak melulu jadi silent reader, hmm.