Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Lembar Foto


__ADS_3

"Mom, aku tidak mau!" tolak Alexa tanpa berpikir panjang saat sang momy menyampaikan kabar jika dirinya harus membintangi sebuah iklan.


"Aku baru aja kembali dan Momy sudah menyuruhku untuk bekerja?" sambungnya tak percaya, menatap sang momy penuh taut kecewa.


Setidaknya, Rachel harus menunggu dalam jangka waktu dua minggu, atau satu bulan agar stamina Alexa terkumpul sempurna untuk kembali ke dunia entertaint. Dengan para wartawan yang mewawancarainya karena kepulangannya pun cukup membuatnya kewalahan. Alexa tak ingin buru-buru menambah beban.


Rachel yang duduk di kursinya hanya diam membaca kontrak yang harus ditandatangani oleh putrinya. Setelah ia membaca secara menyeluruh isi kontrak, ia lantas menatap putrinya yang sejak tadi menggerutu.


"Perusahaan brand iklannya benar-benar ingin kamu membintangi iklan ini dan menjadi BA mereka."


"Mereka bahkan berani menjamin kalau produknya akan menjadi yang paling unggul untuk ke depan kalau kamu yang jadi bintang iklannya."


"Kamu juga akan dapat banyak keuntingan dari itu, Baby." panjang lebar Rachel yang membuat Alexa dilema, wanita itu menyandarkan kepalanya pada bahu sofa dan memejamkan mata.


Alexa bukan tidak ingin, hanya belum. Ia belum siap untuk langsung terjun di bidangnya setelah kembali ke agensi milik sang momy.


"Bagaimana?" tanya Rachel saat wanita itu sudah menegakan duduknya dan menatap Rachel dengan pasrah. Sementara Rachel tersenyum penuh kemenangan karena tahu sang putri tidak akan menolak.


Bahkan Rachel melipat tangannya di dada, saat dengan raut ogah-ogahan Alexa berjalan ke arah mejanya untuk mengambil surat kontrak kerjasama dan juga pena.


Pada akhirnya, Alexa pun tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan kontrak iklan tersebut. Bagaimanapun, brand tersebut adalah brand besar yang tidak mungkin Alexa sia-siakan begitu saja.


"Tapi, boleh aku mengajukan syarat, Ma?"


"Apa, Sayang? Katakan, akan Momy usahakan." sahut Rachel dengan senang hati.


"Aku yang akan menentukan kapan proses syutingnya dimulai." sahut wanita itu mantap, Rachel tampak diam sesaat. Kemudian mengangguk-anggukan kepala seolah syarat yang putrinya ajukan adalah hal yang mudah.


Alexa akhirnya menandatangani kontrak kerja sama tersebut tanpa membacanya, ia yakin jika Rachel sudah membacanya dengan baik.


Rachel tersenyum puas setelah putrinya membubuhkan tanda tangan di sana.


"Good girl." decaknya yang membuat Alexa memutar bola matanya jengah.


***


"Kamu pikir perusahaan ini cuma milik kamu?"


"Kamu datang dan pergi seenaknya tanpa mempertimbangkan penilaian para karyawan. Mau jadi apa kamu ini?"


"Mau jadi pemimpin yang seperti apa kamu?"


Rachel tidak habis pikir ketika Ethan datang ke gedung agensi pukul satu siang tanpa konfirmasi apapun padanya sebelumnya. Yang dimarahi hanya duduk dengan pandangan tertunduk, jari-jari tangannya saling bertautan dengan pasrah mendengar ocehan Rachel karena ia memang bersalah.


"Kamu kalau dimarahi tidak pernah melawan tapi juga sama sekali tidak pernah ada perubahan." sambung Rachel, ia mengembuskan napasnya kasar. Sedangkan Ethan masih sama seperti bermenit-menit yang lalu.


Cukup lama Rachel menatap pria itu, namun Ethan tak bereaksi sama sekali hingga membuat Rachel naik pitam. Untuk meredakan amarahnya, wanita itu memilih untuk menghempaskan tubuhnya ke sofa lain di hadapan Ethan.


Keduanya saling terdiam cukup lama, membuat ruangan menjadi begitu senyap dalam beberapa saat.


"Bagaimana proses syuting hari pertama Zoya?" Rachel mengalihkan topik. Karena percuma saja membahas kesalahan Ethan, pria itu tidak akan jera dan mendengarkannya.


"Berjalan lancar, sesuai harapan." kali ini pria itu bereaksi bahkan mengangkat pandangannya dan menatap Rachel. Bahkan membuat wanita itu jengah, andai saja wajah Ethan tidak tampan mungkin ia tidak akan mau melihatnya.


"Syuting berikutnya, kecuali hari libur kantor atau pekerjaanmu sudah selesai, kamu tidak perlu datang ke lokasi syuting Zoya!" ucap Rachel tanpa bisa dibantah, raut wajahnya kali ini kembali tegang.


Ethan menatap wanita itu tepat di matanya. Pria itu mengangguk samar.

__ADS_1


"Momy ingin kamu mendengarkan, Ethan. Hanya untuk kali ini, tolong jangan memperbanyak masalah. Momy sakit kepala." nada bicara Rachel kali ini terdengar tak bertenaga.


Wanita itu terlihat sudah lelah menghadapi pria itu. Ethan hanya menatapmya iba, ia memang seringkali membuat masalah dan menempatkan Rachel dalam posisi yang sulit.


"Kamu boleh keluar!"


"Iya Mom, terimakasih ..., dan maaf." sahutnya, bangkit dari duduk dan kemudian keluar dari ruangan Rachel.


Sementara itu, Alexa tengah berjalan keluar dari gedung agensi sembari menilik kembali lembaran foto yang ia dapatkan dari Rachel. Sang momy memintanya untuk memusnahkan foto-foto tersebut.


Alexa beberapa kali berdecih saat melihat lembar demi lembar foto. Sekalipun tidak ada keromantisan apa pun yang terlihat antara Ethan dan Naina, tetap saja. Dua orang itu memiliki ikatan yang sakral dan pasangan yang sah.


Di belakang umum, orang-orang tidak akan ada yang tahu hal apa yang dua orang itu perbuat ketika mereka hanya benar-benar berdua.


Sangat memuak-kan melihatnya terlalu lama, Alexa memilih memasukan kembali semua lembaran foto itu ke dalam amplop berwarna cokelat, hingga seorang gadis dengan tubuh mungil tak sengaja bertabrakan dengannya ketika gadis itu tengah berlari kecil hendak memasuki gedung. Membuat lembaran foto di tangan Alexa jatuh dan berserakan.


"Maaf, maaf." ucap gadis itu penuh sesal seraya berjongkok dan mengumpulkan lembaran foto yang berserakan. Alexa juga ikut berjongkok dengan hati-hati karena dress ketat pendek sepaha yang dikenakannya. Dalam hati ia menggerutu karena membuat foto-foto tersebut dilihat oleh orang lain.


Gadis itu memunguti lembaran foto. Gerakannya sempat mematung sesaat ketika melihat foto-foto tersebut. Saat ia belum sadar dari lamunannya, tangan putih Alexa sudah lebih dulu mengambil alih lembaran foto itu di tangannya.


"Maaf sekali lagi, yah." ucap gadis itu, Alexa mengangguk, dengan cepat memasukan amplop berisi foto-foto itu ke dalam tasnya. Sekilas ia menatap gadis yang sudah menabraknya dan membuat lembaran foto di tangannya itu terjatuh.


"Maaf," ucap gadis itu sekali lagi, Alexa mengangguk samar. Lantas segera berlalu melanjutkan langkahnya sembari menggerutu, berharap hal ini tidak akan menjadi masalah karena kecerobohannya.


Sementara gadis yang ditinggalkannya hanya menatap punggung wanita tinggi itu dengan bibir yang berucap lirih. "Pak Ethan?"


"Asisten Zoya?"


"Ada hubungan apa mereka?"


***


"Dimarahin?" tanya Freya. Wanita itu tampak mengerutkan kening di dalam layar ponsel. Wanita itu melakukan panggilan vidio pada Zoya untuk menanyakan proses syuting Zoya di hari pertama. Waktu menunjukan pukul delapan malam.


"Iya. Ethan ke perusahaan pas Zoya udah selesai syuting. Hmm, jam satu siang." Zoya menyahut seraya menatap Ethan yang baru saja menuruni anak tangga sembari membawa laptopnya dan kemudian duduk di samping Zoya. Pria itu sempat mengintip layar ponsel Zoya sebentar dan tersenyum kepada sang bunda.


"Astaga Zoya, itu suami kamu gimana, yah, harus dibilanginnya. Nggak ada kapoknya diomelin mulu, nggak ada mau berubah. Seenaknya aja." oceh Freya sembari memijat pelipisnya.


Ethan yang tengah mengotak atik laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai siang tadi hanya tersenyum saat sang istrri menyender bahunya untuk memberikan tanggapan atas apa yang bundanya katakan.


"Jangan gosipin Ethan di depan Ethan sendiri Bunda." sahutnya dengan tangan yang tetap aktif mengotak atik keyboard laptopnya.


"Ini bukan gosipin. Ini ngomelin!" sahut Freya yang membuat Zoya tergelak. Sedangkan Freya menggelengkan kepala. Pasalnya, bukan hanya sekali putranya bertingkah seperti itu, rasanya terlalu sering. Sangat sering, mungkin salah Agyan dan Freya juga karena sudah memaksa Ethan untuk mengurus perusahaan.


"Biar Zoya coba bilangin nanti, Bunda. Siapa tahu aja kali ini Ethan mau dengerin istrinya." sahut wanita itu pada mertuanya.


"Hey! Saya selalu dengerin kamu, Sayang." pria itu angkat bicara. Tapi Zoya justru menatapnya sinis, berbeda dengan Freya yang kali ini tertawa.


Sedangkan dari sudut lain, Naina yang tengah membersihkan debu pada figura keluarga dalam acara pernikahan Ethan dengan Zoya yang di pajang pada salah satu dinding ruang utama, hanya tersenyum tipis melihat interaksi antara Zoya dengan Freya.


Manis. Dua orang itu selalu tampak manis.


Naina menggelengkan kepala, menepis isi kepalanya yang akhir akhir ini begitu sering merasa iri pada Zoya.


"Nggak bisa kaya gitu, nggak boleh Naina." gadis itu mencoba mengendalikan dirinya sendiri.


Ia tidak pantas merasa iri pada Zoya, jelas saja. Karena wanita itu adalah pemeran utamanya, Naina hanya pemeran pendukung, ia fguran. Mustahil ia mendapatkan sesuatu yang istimewa atas perannya.

__ADS_1


Jika bisa, ia hanya akan mengandung anak Ethan, kemudian pergi dari kehidupan Ethan dengan Zoya sejauh mungkin setelah nanti ia melahirkan.


"Yaudah, kamu jaga pola makan, jangan terlalu cape, jangan terlalu diforsir, kalau butuh sesuatu, bilang Bunda yah." sahut Freya sebelum menutup panggilan vidio.


"Iya, Bunda. Makasih banyak,"


"Sama-sama, Sayang. Bunda tutup yah, daah."


"Daah, Bunda." tangan Zoya melambai di depan kamera. Panggilan dengan Freya berakhir, ia menaruh ponsel di atas pahanya kemudian menoleh pada Ethan yang sibuk berkutat dengan laptopnya.


Sadar jika sang istri tengah menatapnya, Ethan menghentikan gerakan tangannya lantas menatap Zoya. Wanita itu hanya menyipitkan mata menatap sang suami, pria itu justru mendekatkan wajahnya pada Zoya dan menatap mata wanita itu lekat-lekat.


Tingkah usil Ethan berhasil membuat Zoya berdecih seraya mengalihkan perhatiannya ke arah lain. "Aku nggak tau mau bilang apa. Tapi yang pasti aku nggak akan bosen buat nasihatin kamu, Momy sama Bunda bener." sahut Zoya panjang lebar, ia menjeda kalimatnya sebentar.


"Kamu nggak bisa seenaknya sebagai CEO AE RCH. Kamu jadi contoh bawahan kamu, kamu harus kasih mereka contoh yang baik."


"Zoya, orang-orang cenderung meremehkan orang orang rajin yang ulet, cekatan dan profesional."


"Mereka selalu mengira, kalau orang yang telaten dalam bekerja adalah orang yang haus akan pujian rekan maupun atasan–"


"Enggak semua orang punya pola pikir dan presepsi yang sama Ethan!" wanita itu menyela dengan cepat, seperti biasa Zoya adalah yang paling nyolot saat berdebat dengan suaminya.


Ethan tak bereaksi, ia hanya tersenyum kecil kemudian menyentuh hidung sang istri dengan gemas.


"Perusahaan dan kamu, yang paling penting buat saya adalah kamu. Saya jatuh hati sama kamu jauh sebelum jadi CEO di AE RCH." sahut pria itu seraya kembali berkutat dengan pekerjaannya.


"Tapi nggak bisa gitu, Ethan. Perusahaan punya aturan, sebagai CEO harusnya kamu lebih tau."


"Sayang, saya tahu tapi–" pria itu tak melanjutkan kalimatnya, bibirnya terlihat bergerak pelan membaca sebuah laporan di dalam monitor laptopnya.


"Tapi?" Kening Zoya berkerut, memerhatikan Ethan dan menunggu jawaban pria itu.


"Tapi saya tidak perduli!" Ethan menyahut dengan entengnya. Zoya hanya berdecak, melipat tangannya di dada dan memilih untuk tidak lagi menatap suaminya. Sepertinya ia harus sudah bosan menasihati sang suami.


Ketika sang istri tak lagi bereaksi. Ethan menoleh, pria itu hanya tersenyum melihat istrinya yang melipat tangan dengan wajah ditekuk.


***


Di dalam sebuah kamar dengan nuansa putih yang menyilaukan, seorang pria tampak tengah duduk pada sebuah sofa di sudut kamarnya dengan raut bingung.


Rival menatap layar ponselnya di mana pada sebuah kontak tertera nama Naina. Ia mendapatkan nomor Naina langsung dari gadis itu sendiri saat berada di gedung bioskop.


"Boleh saya minta nomor kamu?" tanya Rival mengingat jika nomor lama Naina tidak bisa dihubungi.


Naina tentu saja tidak bisa menolak, ia akan merasa canggung dan tidak enak karena Rival sudah mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk mengetikan nomor Naina.


"Hubungi saya jika kamu sudah siap bertemu keluarga saya."


"Mas–"


"Saya tidak meminta cepat, Naina. Kamu memiliki banyak waktu untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Tidak perlu terburu-buru. Tapi kamu harus memastikan, jika kamu yakin saat memberikan saya jawaban."


Rival mendesah, melihat kembali ponselnya yang tak memiliki notifikasi apapun. Ia harus merasa kecewa saat gadis itu tak kunjung menghubunginya untuk memberitahukan keputusannya.


"Ini baru sehari."


"Naina masih butuh banyak waktu untuk berpikir." Rival berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2