
Malam ini hujan turun dengan lebatnya. Airin baru saja habis menidurkan Syfa. Cuaca yang dingin membuat bayi mungil itu nyenya tertidur setelah diberi ASI.
Airin keluar dari kamarnya, melangkah hendak ke kamar mandi. Ia ingin berwudhu, karena sebentar lagi akan masuk waktu sholat Isya. Hujan turun sedari maghrib tadi, dan belum kunjung reda. Dewi dan Rahmat orangtuanya tengah dikamar mungkin. Karena Airin tidak melihat keduanya.
"Tok,,, tok,,, tok,,, " terdengar suara ketukan pint ddi depan.
"Ada tamu ? siapa yang datang hujan hujan begini." Gumam Airin, tapi dia begegas juga kedepan. Mungkin ada tetangga yang ada keperluan, begitu fikirnya.
Sekilas Airin mengintip lewat jendela. Dia kaget, terlihat Syahdan berdiri dilur pintu. Basah kuyup dan pakaiannya tida seperti biasanya. Syahdan berpakaian baju koko dan memakai peci. Juga pakaiannya seperti kotor, seperti ada bekas lumpur lumpur tanah. Segera Airin membuka kan pintu.
"Mas Syahdan,, " Ucap Airin menatap Syahdan heran.Syahdan pun menatapnya. Kemudian tiba tiba Syahdan mendekapnya erat. Airin ingin mencoba melepaskan dekapan tangan Syahdan.
"Sebentar Airin, aku tau ini tak pantas. Tapi aku mohon, izinkan aku memelukmu sebentar saja. Hanya untuk sebentar saja Ai..." Ujar Syahdan lemah. Airin pun tak tega, meski tak membalas pelukan Syahdan. Tapi Airin membiarkan Syahdan memeluknya erat.
Lama Syahdan mendekapnya. Karena merasa tak enak dengan sekitar. Takut kalau ada tetangga yang melihat, atau Ayah dan Ibunya keluar dari kamar. Jangan sampai jadi salah paham, Airin mencoba untuk melepaskan dekapan Syahdan.
" Mas,, ada apa. Jangan begini,,," Ucap Airin. Dan Syahdan pun mengerti. Dia pun melepaskan dekapannya.
"Airin, menikahlah dengan mas,," Ujar Syahdan tiba tiba. Syahdan menatap lekat Airin. Pandangan mata yang penuh cinta dan damba. Airin terkejut, sesaat dia terdiam. Airin pun menatap wajah Pria yang memang tengah berada dalam hatinya saat sekarang ini.
Airin tersadar, dia teringat akan perjodohannya. Ingin rasanya dia menjawab "Iya" pada Syahdan. Tapi itu tak mungkin, karena perjodohannya sudah ditentukan. Airin pun hanya bisa menangis.
"Maafkan aku mas, aku,,, aku nggak bisa,, sudah terlambat mas..." Ujar Airin dengan linangan airmata.
"Mas mohon Airin...mas ingin selalu bersamamu dan Syfa..." Syahdan memohon dan tak terasapun airmatanya telah mengalir.
Kembali Airin menggeleng, lidahnya kelu. Dia tak sanggup untuk memberi tau Syahdan kalau besok adalah acara lamaran dan pertunangannya. Dan Lusa dia sudah akan resmi menjadi istri pria lain.
"Maafkan aku mas..." hanya itu yang mampu terucapkan...
"Apakah kamu tak bisa merasakan kasih sayang mas Ai ? " Kata Syahdan lirih.
"Mas sangat membutuhkanmu disisi mas." Ujarnya lagi.
__ADS_1
Tangis Airin makin berderai. ingin rasanya ia mengatakan rasa cintanya juga. Lagi lagi, perjodohan itu mengikatnya. Airin meremas jarinya. Jari yang telah terpasang cincin pengikat dari calon Ibu mertuanya.
"Maafkan Airin mas,, Mas pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari Airin." Ujar Airin.
Syahdan menggeleng, dia tau dia tak mungkin memaksa Airin. Apalagi kalau dia sampai memberi tau kalau Maminya telah meninggal. Dia tak ingin Airin merasa bersalah atau terpaksa menerimanya. Mungkin dia akan mencobanya lagi di lain hari. Begitu fikir Syahdan.
"Maafkan mas sudah mengganggumu malam malam begini... Mas pamit ya, salam buat Ayah dan Ibu. Salam mas untuk Syfa." Ujar Syahdan. Kemudian dia pun melangkah pergi meninggalkan rumah Airin.
Airin ingin rasanya berteriak memanggil Syahdan. Tapi dia tak sanggup. Airin terduduk dilantai, tangisnya kian pecah.
"Maafkan Airin mas, maafkan Airin. Airin mencintaimu mas. Semoga kamu mendapatkan wanita yang terbaik." Gumamnya disela tangisannya.
Sementara itu, diruangan dalam. Dewi mendengar semuanya. Dia sudah lama berdiri melihat dan mendengarkan semuanya. Dewi pun menangis. Sebenarnya hatinya pun mulai bimbang. Tapi dia juga tak ingin Airin terluka lagi.
"Semoga ini yang terbaik nak.." bisik Dewi dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam pun berganti pagi. Sisa sisa hujan semalam masih meninggalkan kesejukan. Padahal sudah jam 8 pagi. Matahari pun belum terlihat.
Airin menatap cincin berlian yang melekat dijari manisnya. Apakah dia harus melepaskan cincin itu atau tetap memakainya. Apakah keputusan ini sudah benar. Airin masih bertanya tanya dalam hatinya.
"Airin.." Terdengar suara Ibu dari luar kamar.
"Ya bu, masuk saja. Pintunya ngk dikunci." Jawab Airin. Dan tak lama Dewipun masuk. Kemudian duduk disampingnya. Dewi sesaat menyapa Syfa cucunya.
"Ai, tadi ada telpon dari Ibu Anita. Katanya utuk persiapan acara nanti malam sudah disiapkan. Sebntar lagi akan ada yang datang untuk mendekor rumah kita. Dan juga bagian Cateringnya. Semua sudah disiapkan. Juga akan datang yang akan mendandanimu dan membawakan pakaianmu untuk nanti malam. Kita tak perlu mempersiapkan apa pa lagi katanya." Ujar Dewi.
"Iya bu.. Semoga semuanya lancar." Jawab Airin pendek. Meskipun enggan, dia tak ingin membuat Ibunya kecewa.
"Airin... Ibu melakukan semua ini untuk mu nak." Kata Dewi kemudian.
"Iya Bu, Airin mengerti." Jawab Airin. Dia mencoba tersenyum.
__ADS_1
Hari itu mulai kelihatan kesibukan dirumah Airin. Bunda Devid telah mengirim Wedding Organizer terbaik kerumah Airin. Mulai dari mendecor rumah sampai merias Airin. Kecantikan Alami yang di miliki Airin tak menyulitkan MUA untuk meriasnya.
Meskipun semua sederhana tapi tetap terkesan mewah. Untuk acara malam ini, keluarga Airin tidak mengundang banyak orang. Hanya kelurga dekat dan tetangga dekat saja. Airin tampak anggun dengan balutan busana Syar'i dengan hiasan make up yang smakin memancarkan Aura kecantikannya.
Sementara itu rombongan Devid sekeluarga tengah dalam perjalanan menuju rumah Airin. Anita tampak selalu tersenyum tak sabar ingin segera sampai dirumah calon menantunya. Sementara Devid tampak deg deg an. Dan sampailah mereka dirumah Airin..
Rombongan keluarga Devid disambut hangat oleh keluarga Airin. Semuanya pun bekumpul diruangan yang telah disediakan. Karena memang rumah Airin yang kecil dan sederhana. Maka sebagian nya ada yang diluar.
Banyak sekali bingkisan yang dibawa pihak keluarga Devid. semuanya nampak mewah. Itu semua membuat para tetangga tetangga Airin yang hadir berbisik bisik.Mereka semua terpana dengan kemewaham itu. Apalagi melihat Devid calon suami Airin. Sangat gagah dan tampan.
Acara pun akan dimulai. Airin dipanggil untu hadir. Karena sedari tadi Airin masih di ruangan dalam.
Tiba tiba ponsel Devid berbunyi. Saat melihatnya tampak dilayar ponsel itu panggilan dari Rumah Sakit.
"Halo,, Selamat malam Dokter Devid.. Pasien yang di Operasi pagi tadi tidak sadarkan diri. Tekanan Jantungnya makin melemah Dok." Ujar perawat Rumah Sakit.
"Apa kah Dokter Andini tidak bisa menanganinya." Tanya Devid. Andini adalah Dokter yang menemaninya mengoperasi pasien itu siang tadi.
"Maaf Dok, kami sudah menghubungi Dokter Andini. Tapi beliau telah berangkat ke Surabaya sore tadi. Jadi kami di minta menghubungi Dokter Devid langsung." Ujar perawat itu lagi
"Baiklah, saya segera kesana. " Ujar Devid dan matikan ponselnya.
"Apa apa an sih kamu. Ini kan acara mau dimulai." Kata Anita yang mendengar pembicaraan telfon Devid tadi. Semua yang ada diruangan itu juga mendengarnya.
"Tapi Bunda. Pasien Devid ada masalah. Siang tadi dia baru saja mejalani operasi. Sekarang keadaannya drop. Bagaimana kalau terjadi apa apa dengannya. Ini tangung jawab Devid Bund." Ujar Devid. Semua yang hadir pun tampak bingung.
"Saya minta maaf pada semuanya. Saya benar benar harus ke Rumah Sakit sekarang. Tolong tetap lanjutkan acara ini sampai selesai. InsyaAllah pas Akad besok saya pastikan tidak ada kejadian seperti ini.Saya pasti hadir.InsyaAllah. " Ujar Devid kepada semuanya. Ayah dan Ibu Airin saling berpandangan. Ayah Airin pun menganggukkan kepalanya.
"Berangkatlah nak. Ini sudah Tanggung Jawabmu sebagai seorang Dokter." Ujar Ayah Airin.
"Terima kasih om atas pengertian. Sekali lagi saya mohon maaf." Ujar Devid. Kemudian menatap Bundanya yang masih dengan wajah kesal.
"Bunda maafkan Devid ya. Tolong lanjutkan acara ini sampai selesai," Ujarnya. Anita pun akhirnya mengalah, dan membiarkan anaknya pergi.
__ADS_1
Saat akan meninggalkan ruangan itu, saat itu juga Airin muncul dari dalam. Devid masih sempat melirik sekilas ke arahnya, hanya sekilas saja. Devid melihat kalau wanita yang menjadi calon istrinya itu sangat cantik dan anggun. Meskipun Airin hanya menundukkan kepalanya, tapi masih terlihat cantik. Berhijab, Devid semakin terpesona dengan penampilannya.
Tapi Devid harus buru buru segera ke Rumah Sakit. Jadi dia tak bisa benar benar memperhatikan calon istrinya itu. Dan dia pun masih belum menyadari siapa wanita cantik itu.