Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
BAB 20


__ADS_3

Shinta yang baru saja selesai membeli makanan untuk di bawa pulang, tiba-tiba harus menyaksikan kejadian di mana suaminya yang sedang pergi berduaan menuju ke arah suatu tempat.


Wanita itu beinisiatif langsung mengejar mereka. Dan sesampainya ia, tiba-tiba saja seorang penjaga malah menghalangi aksinya tersebut.


Singkat cerita...


"Andika!" seru Shinta, hingga membuat mereka berdua spontan langsung menoleh ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Shinta dengan nafas yang memburu.


"Kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan?" Bukannya menjawab, tapi Andika malah kembali melayangkan pertanyaan yang membuat nya langsung menarik nafas secara perlahan.


"Aku kesini karena melihatmu, dan juga dia!" Tunjuknya ke arah Rosi. "Datang ke restoran ini, untuk melakukan kencan. Kau bahkan sampai menyewa restoran ini, dan mengosongkan nya selama beberapa jam kedepan. Apa kau sudah tidak waras?" tanya Shinta, dirinya benar-benar tidak paham dengan semua ini.


Andika lantas langsung memutuskan untuk berdiri dari duduknya, dan menghadap kepada istrinya itu secara langsung.


"Jangan pernah menghalangi ku Shinta! Karena selama ini aku selalu membiarkan mu berselingkuh dengan pria bodoh itu. Dan jangan pernah mrncampuri urusan pribadi ku!" bentak Andika, dengan penuh amarah.


Emosinya sedang berada di ujung tanduk sekarang, setelah melihat kejadian dimana istrinya yang tengah berpelukan dengan polisi brengsek itu.


"Kapan aku berselingkuh? Aku selalu setia pada mu, bahkan disaat kau memilih wanita lain dan berkencan mesra dengannya!" balas Shinta merasa tidak terima dengan omongan Andika yang menuduhnya telah berselingkuh.


"Omong kosong!"


Lalu pria itu berniat hendak pergi melangkah, namun Shinta langsung saja mencekal tangannya.


"Dengarkan aku dulu!" pinta wanita itu, namun bergegas Andika langsung menghempaskan begitu saja genggaman tangan Shinta.


Pria itu beralih mengambil jasnya, dan langsung menarik tangan istrinya itu untuk di bawa keluar.


Sesampainya mereka berdua di parkiran, Andika pun langsung saja mendorong paksa Shinta agar masuk ke dalam mobilnya. Membawa wanita itu pergi, dan melupakan begitu saja seorang wanita cantik yang tengah menangis sendirian di dalam restoran.


Siapa lagi kalau bukan Rosi.


...----------------...


Di dalam mobil,....

__ADS_1


Shinta memandang ke arah Andika yang saat ini sedang sibuk menyetir.


"Apa kau marah? Kau selalu saja marah kepada ku tanpa alasan." ucap Shinta dengan tersenyum miris.


"Dari mana saja kau seharian ini? Pergi tanpa ingat waktu." ujar Andika membahas hal yang sama sekali tidak nyambung pada obrolan Shinta sebelumnya.


"Untuk apa kau peduli? Bukankah selama ini kau tidak pernah menganggapku sebagai istrimu? Lalu lupakan saja, dan lebih baik pedulikan saja calon istrimu yang saat ini masih berada di restoran." balas Shinta, seketika membuat Andika langsung sadar jika ternyata saat ini ia telah peduli terhadap wanita itu.


"Sial!" umpatnya merasa kesal. "Seharusnya aku tidak berbicara denganmu, wanita ular!" ucap Andika yang setelah itu memutuskan untuk segera keluar dari mobilnya, karena memang saat ini mereka telah sampai di rumahnya.


Di susul dengan Shinta yang segera ikut masuk, dan membuntuti suaminya dari belakang.


Dengan langkah yang sedikit berlari, mereka berdua pun masuk ke dalam kamar. Andika yang saat ini sedang sibuk berganti baju, sementara Shinta tengah sibuk membuka sepatu heelsnya.


"Kau sudah makan bukan? Kalau begitu aku akan menghabiskan seluruh makanan yang ku beli di restoran tadi." ucap Shinta berniat hendak membawa seluruh makanan itu keluar.


Namun ternyata Andika malah menahannya dengan cara menutup pintu kamar serta menahan kuncinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Shinta begitu sangat heran.


Sesaat Andika terdiam dan terlihat seperti sedang mencoba untuk menahan sesuatu.


"Layani aku sebentar! Karena aku sudah tidak tahan sekarang." perintah pria itu, seketika membuatnya langsung melotot tak percaya. Ternyata ini alasan Andika mengajaknya untuk pulang dan meninggalkan Rosi sendirian. Ternyata pria itu tiba-tiba saja mendapat rangsangan, yang memaksanya untuk segera melakukan hubungan se*ks.


"Aku tidak mau! Kau telah berselingkuh, jadi aku tidak akan melayanimu lagi mulai sekarang." Shinta benar-benar mengatakannya. Membuat Andika benar-benar ingin marah saja rasanya.


Di sela-sela harus menahan rasa sakit bercampur nyeri yang telah menjadi satu.


"Aku akan memberikan apapun yang kau mau, tapi layani aku sekarang! Kau mau uang? Atau apa, aku pasti akan memberikannya." bujuk Andika memohon.


"Tidak! Kau pasti berbohong, aku tau siapa dirimu." tolak Shinta benar-benar tidak ingin berhubungan suami-istri bersama dengan Andika.


Namun sayangnya suaminya itu tidak mau menerima penolakan, sehingga memaksa dan menggendong tubuh Shinta menuju ke atas ranjang.


Wanita itu langsung menjerit di kala Andika yang langsung menerkam dirinya, dengan memberikan sebuah ciuman kasar pada lehernya.


"Aku tidak mau. Tolong lepaskan!!!" ucap Shinta sambil terus menangis, dan tentu masih di dengar oleh Andika.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya pelan-pelan! Agar tidak menyakiti bayi kita." balas pria itu, berbicara dengan suara yang berat, akibat sudah mulai kehilangan kendali.


Ingin rasanya ia menggauli wanita itu secepat mungkin, namun suara tangisan dari Shinta malah membuat konsentrasinya terganggu.


"Ck, diamlah!" perintahnya dengan nada suara yang berat, akibat sudah tidak tahan lagi.


Di tengah-tengah aktivitas panas mereka, Andika tiba-tiba saja langsung terbelalak di kala melihat ada sedikit darah di kemal*uan istrinya.


"Ka-kau sedang haid?" tanya Andika dengan menatap lekat wajah Shinta.


"Tidak! Memangnya kenapa?" Tanpa berbasa-basi lagi wanita itu langsung saja menyingkirkan suaminya dan beralih melihat ke arah bagian in*tinya. Dan benar saja! Ternyata kem*luan nya sedang mengeluarkan darah saat ini.


Terkejut? Tentu saja! Bagaimana mungkin ia bisa menstruasi di saat sedang mengandung seperti ini. Sangat mustahil!


"Apakah sakit?" tanya Andika lagi, namun Shinta langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu bersiaplah! Kita akan kedokter untuk periksa kandungan, mungkin ada yang salah." ucap pria itu menyuruh agar istrinya segera memakai baju.


Setelah mereka berdua sampai di Klinik Dokter Spesialis Kandungan. Shinta langsung saja menceritakan semua kronologi kejadiannya.


"Apakah mungkin wanita hamil bisa menstruasi Dok?" tanya Shinta kepada sang Dokter.


"Jadi begini Bunda! Sebenarnya sangat tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan suami-is*tri di saat sedang hamil muda. Karena itu sangat berbahaya untuk janin kalian, bisa saja nantinya kamu akan mengalami keguguran."


"Apa?" Spontan Andika yang mendengarnya tentu langsung di buat terkejut, atas pernyataan dari Dokter tersebut.


"Iya pak! Sebaiknya bapak tahan dulu, demi kebaikan istri dan juga janin bapak. Mungkin setelah usia kandungan memasuki waktu 6-7 bulan bapak sudah bisa berhubungan. Tapi tetap harus pelan-pelan! Nah, di saat memasuki bulan akhir di situ bapak dan ibu di anjurkan untuk melakukannya sesering mungkin." jelas sang Dokter, seketika membuat Shinta baru paham.


Kini ia pun telah beralih memandang sengit ke arah suaminya. "Kau dengar sekarang? Jadi jangan memaksa ku lagi habis ini." kata Shinta, nadanya tedengar tidak senang.


"Ck, padahal aku sudah melakukan nya secara pelan-pelan, bahkan miliku tidak semuanya ku masukan ke dalam. Hanya separuh saja!" balas Andika. Pria itu benar-benar tidak menyangka jika berhubungan bisa menyebabkan hal sefatal ini.


"Tapi tetap saja! Apa kau tidak dengar kata Dokter tadi?" protes Shinta marah.


Sementara sang Dokter yang melihat pasangan suami-istri ini tengah bergaduh, hanya bisa tersenyum manis, dan memakluminya.


"Karena kalian baru pertama kali. Itu adalah hal yang wajar! Saya akan memberikan obat untuk mencegah pendarahannya agar berhenti. Untung saja bapak ini melakukannya dengan sangat hati-hati, sehingga tidak terlalu fatal." ucap Sang Dokter, yang setelah itu langsung bangkit dari duduknya untuk mengambilkan obat.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari sang Dokter, tentu membuat Shinta merasa tidak suka. Dia tidak tau saja jika Andika selalu melakukannya secara kasar, dan tidak hati-hati. Namun Shinta tidak mau mengucapkannya, dan hanya bisa memendamnya di dalam hati.


__ADS_2