
Ethan mempercepat langkah kakinya menuju pintu keluar perusahaan begitu ia mendapatkan kabar dari Freya jika Zoya membuka brankas dan dipastikan jika wanita itu menemukan surat yang selama ini ia sembunyikan. Rahasia yang selama ini Ethan coba tahan untuk waktu yang tidak ia tentukan agar wanita itu tidak perlu mengetahuinya. Bahkan selamanya jika perlu.
Langkah kaki pria itu kian cepat, mengingat bisa saja Zoya melakukan hal di luar dugaannya, atau lebih parah lagi bisa saja wanita itu pergi.
Ethan bahkan tidak peduli ketika ia bersenggolan bahu bahkan menabrak beberapa karyawan yang sedang berlalu lalang di jam makan siang kantor. Ia tetap melangkah, tak menoleh sedikitpun ke kanan atau ke kiri. Tidak perduli pada aktivitas orang-orang di sekelilingnya.
Randy yang mengikuti langkah kakinya justru setengah berlari. Tertinggal oleh langkah lebar Ethan menuju mobil yang sudah terparkir di depan perusahaan.
Randy membulatkan matanya ketika Ethan memasuki mobil tepat di kursi kendali, kali ini Randy benar-benar berlari, segera masuk dan duduk di samping kemudi. Ia tidak mungkin membiarkan Ethan menyetir sendiri dalam keadaan panik dan bahkan pria itu tidak bisa mengontrol diri.
Bagai orang kesetanan, Ethan segera menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi bahkan ketika mereka belum keluar dari area perusahaan.
"Pak Ethan, tolong biar saya saja yang menyetir. Pak Ethan tidak mungkin menyetir dalam keadaan seperti ini." Randy berusaha membujuk namun Ethan tampak tetap tidak perduli tetap melajukan mobil bahkan menganggap seolah Randy tidak ada di sampingnya.
"Pak Ethan!" Randy berteriak saat Ethan benar-benar menulikan pendengarannya.
"Pak Ethan akan membahayakan nyawa Bapak sendiri!" pekik pria itu lagi.
"Apa menurut Bapak lucu saat nanti kita mengalami kecelakaan dan Mbak Zoya kehilangan semuanya setelah ini?" tahu-tahu Randy merasa kesal, ia berteriak di luar kendali. Ia belum siap mati. Bagaimana nanti dengan Selin dan calon buah hati mereka?
Ethan memejamkan matanya sekilas, mobil melaju perlahan dan ia mulai tersadar. Namub tetap saja, Ethan tidak bisa berlama-lama seperti itu.
"Kita tidak bisa seperti ini Randy." sahut Ethan bagai orang yang baru mendapat kesadaran. Membuat perasaan Randy menjadi tenang.
"Saya akan tetap berhati-hati." sambungnya, untuk kali ini berhasil membuat Randy membulatkan mata ketika pria itu kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Dan yang membuat pria itu tidak mengerti lagi, saat dengan lancangnya Ethan menerobos lampu merah, menciptakan teriakan protes dari para pengguna jalan dan bunyi klakson yang saling bersahut-sahutan di bawah guyuran air hujan.
Dan yang lebih parah lagi, tak lama setelahnya Randy mendengar suara sirine polisi, dengan raut wajah panik, pria itu menoleh ke belakang di mana mobil patroli polisi dan dua moge tunggangan polisi berwarna putih mengikuti mobil mereka.
"Tamat!" decak Randy, badannya sudah begitu lemas.
Tapi nyatanya hal itu tidak berpengaruh sama sekali untuk Ethan, pria itu masih tidak peduli. Ia tetap melajukan mobil dalam kecepatan tinggi.
"Jangan egois, Pak Ethan! Jangan sampai membahayakan orang lain!" Randy memperingatkan dengan tegas.
"Saya sudah mencoba berhati-hati Randy!" pria itu menyahut dengan pandangan yang tetap fokus ke depan.
Randy mengerutkan kening, menatap takjub Ethan dengan kepala menggeleng penuh decakan.
Berhati-hati? Apakah maksud pria menerobos lampu merah adalah bentuk kehati-hatian? Batin Randy menggerutu.
__ADS_1
Ethan melanggar aturan lalu lintas dengan seenaknya, sikap yang tidak seharusnya dicontohkan kepada anak buahnya dan orang lain yang melihat. Jangan sampai para karyawan perusahaan tahu bagaimana bos besar mereka saat di jalanan benar-benar membahayakan nyawa orang lain.
**
Zoya.
Satu nama yang ada di dalam kepala Ethan dan mampu mengosongkan pikiran pria itu dari apapun. Ethan tidak dapat menebak bagaimana keadaan wanita itu sekarang setelah mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya sendiri. Tapi yang pasti, Ethan tahu dan ia sangat yakin jika wanita itu hancur, kecewa dan marah besar padanya.
Ethan tidak tahu lagi bagaimana caranya ia harus meminta maaf pada Zoya untuk yang kesekian kali.
Perasaan Ethan ikut hancur membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Zoya ketika wanita itu tahu jika sudah tidak ada lagi rahim di dalam tubuhnya.
Suara sirinie di belakangnya tak Ethan perdulikan, ia sudah terlanjur melanggar aturan. Tempat pertama yang Ethan tuju adalah Rumah Sakit, Ethan cukup yakin jika tempat itu yang akan istrinya datangi pertama kali.
Begitu tiba di Rumah Sakit, ia segera turun dari mobil dengan posisi mobil yang terparkir dengan asal. Keluar dari dalam mobil menembus hujan yang masih turun meski tidak sederas beberapa waktu lalu, meninggalkan Randy yang membulatkan mata di dalam sana.
Pria itu mendesah, menatap mobil patroli polisi yang masih mengikuti mereka dan berhenti di samping mobil Ethan, serta segera berjalan menghampiri mobil. Randy merapikan pakaiannya yang tampak berantakan. Merileks-kan tubuh serta raut wajahnya yang kaku karena tingkah brutal Ethan di jalanan.
Ia lantas segera turun dari mobil begitu seorang polisi mengetuk kaca jendela mobil. Bagaimanapun juga, Randy harus menyelesaikan masalah yang dibuat bos besarnya.
**
Ethan mengerjap tanpa mengusap wajahnya yang begitu basah karena air hujan. Zoya melangkah menuju ke arahnaya namun langkah kaki Ethan tertahan untuk melarang wanita itu menerobos hujan.
Suasana Rumah Sakit tampak sepi karena hujan. Hanya ada beberapa orang yang sedang asik dengan dunianya sendiri termasuk pasien yang betah menatap hujan. Langkah kaki Zoya kian mendekat padanya. Kira-kira apa yang pertama kali akan Ethan dapatkan dari istrinya?
Tamparan? Caci maki? atau apapun Ethan tidak perduli. Ia siap menerimanya jika saja Zoya melakukan apapaun.
Ethan sudah pasrah saat wanita itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Sorot matanya kosong menatap Ethan, seolah tanpa harapan, wajahnya begitu pucat.
"Tampar saya, Zoya." pasrah Ethan. Namun jauh dari dugaannya, tubuh wanita itu justru luruh menubruk tubuh Ethan. Bukan, Zoya tidak memeluk pria itu, Zoya pingsan.
**
Freya melangkahkan kakinya lebar-lebar menyusuri koridor Rumah Sakit, menuju ruanganan tempat di mana Zoya berada di sana, mengistirahatkan badan setelah mendapat penanganan dokter begitu wanita itu pingsan. Ethan menghubunginya dan tentu Freya akan segera datang.
Sementara di ruangan tempat di mana Zoya berada, wanita itu hanya menoleh ke samping dengan air mata yang terus berlinangan. Ia sudah siuman sejak beberapa waktu lalu, dan selama itu pula ia mengabaikan semua orang yang berada di dalam ruangannya–terutama suaminya. Sang suster yang sedang membujuk wanita itu untuk mengganti pakaianpun tak dihiraukannya.
"Ibu Zoya akan aakit jika terus mengenakan pakaian itu." bujuk sang suster nyaris putus asa, sedangkan sedari tadi Ethan hanya diam setelah memberi intruksi pada Randy untuk membeli satu set lengkap pakaian Zoya begitu sang skretaris usai mengurus masalah antara mereka dengan beberapa polisi lalu lintas.
Sedangkan Ethan sendiri juga sudah mengganti pakaiannya. Kemeja berwarna hitam melekat di tubuhnya yang putih.
__ADS_1
"Biar saya saja." sahut Ethan saat salah satu suster tak berhasil membujuk Zoya. Yang membuat dua suster itu menoleh, sedangkan tatapan Ethan tetap terpaku pada istrinya. Randy mengangguk pada kedua suster itu, meyakinkan mereka untuk menyerahkan Zoya pada sang suami. Lantas dua suster itu berlalu keluar dari ruangan setelah menyerahkan paper bag pada tangan Ethan kembali. Tak lama setelahnya Randy juga menyusul keluar dari ruangan.
Tinggalah hanya dua orang itu yang berada di sana, Ethan memutari brankar dan menatap tepat di mata Zoya yang berlinang krystal bening. Perasaan Ethan tentu saja hancur, bahkan pria itu tidak dapat memastikan apa hatinya kembali utuh atau tidak setelah hancur lebur begitu melihat kondisi Zoya dimana binaran kebahagiaan seolah sirna dari wajah cantik istrinya.
Air mata wanita itu tak henti mengalir sejak lebih dari satu jam yang lalu, di luar hujan masih turun dan Ethan tidak mungkin membiarkan istrinya terus memakai pakaiannya yang sudah basah. "Kita ganti baju dulu." sahut Ethan pada sang istri. Namun wanita itu tidak meresponnya sama sekali.
"Saya tahu kamu marah kepada saya. Saya tahu kamu sangat kecewa, tapi tolong dengarkan saya lebih dulu untuk kali ini Zoya."
"Saya tidak ingin sampai kamu jatuh sakit." sahut Ethan, mengutarakan kekhawatirannya
Zoya masih tak menyahut, masih mengabaikan Ethan seolah dia tak terlihat di sana. Tentu saja hal itu membuat Ethan merasa terganggu melihat kondisi istrinya yang memprihatinkan. Lebih tepatnya Ethan merasa bersalah dan teramat menyalahkan dirinya sendiri.
Geram dengan tingkah sang istri yang hanya berdiam di tempat tanpa meresponnya sama sekali, akhirnya Ethan meraih tubuh wanita itu, menggendongnya menuju kamar mandi. Zoya tentu saja berontak, ia memukul dada Ethan berulang-ulang.
Namub Ethan tak perduli, ia membiarkannya, sesak di dadanya sama sekali tidak berpengaruh atas pukulan Zoya. Justru hal itu rasanya masih belum cukup untuk dapat menenangkan perasaan wanita itu jika hanya sekedar memukulnya.
Zoya memukul dada Ethan dengan keras saat pria itu menurunkannya dalam kamar mandi.
"Kamu tahu, Ethan apa yang baru aja aku ketahui beberapa waktu yang lalu jauh lebih sakit daripada sakit karena hujan Ethan."
"Kamu tahu? Aku merasa gagal, aku cacat."
"Aku enggak akan bisa jadi istri yang sempurna untuk kamu. Aku enggak mampu menjadi seorang wanita yang sempurna untuk diriku sendiri!' Zoya berteriak histeris.
"Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku sejak awal?"
"Kenapa kamu malah nyembunyiin ini dari aku? Kenapa? Kenapa Ethan?" wanita itu memegangi dadanya, Zoya merasakan jika remuk di dadanya benar-benar kian menikam. Ethan melangkah mendekat pada wanita itu.
"Sakit Ethan, sakit!" Zoya memukul dadanya sendiri. Sedangkan Ethan tak mampu berkata-kata, ia hanya mematung di sana tanpa bisa berbuat apa-apa. Zoya boleh marah padanya, boleh memukul sepuas wanita itu bisa. Ethan akan menerimanya dengan lapang dada.
"Kamu jahat Ethan!" wanita itu mendekat dan memukul dada Ethan berulang-ulang. Bahkan menarik kemeja yang Ethan kenakan, membuat beberapa kancing teratasnya terlepas. Setelah itu, tubuh Zoya luruh di lantai, Ethan ikut luruh menahan wanita itu yang terus menangis.
Ethan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Air matanya jatuh sedangkan tangannya mencoba melepas dress yang Zoya kenakan. Setidaknya ia harus berhasil mengganti pakaian Zoya.
"Aku akan ngehubungin Pak Chen."
Ethan menatap wanita itu yang enggan melakukan eye contact dengannya. Ethan tentu tahu siapa namaa pria yang sang istrinya sebutkan. Pengacara Zoya.
"Aku akan minta dia urus perceraian kita."
TBC
__ADS_1