
"Di mana mereka?"
"Di mana Ethan?"
"Ethan, euu. Dia ada tugas ke luar negri untuk beberapa hari." Zoya menyahut spontan dengan senyuman. Diam-diam bernapas lega karena sudah mengemukakan alasan yang cukup masuk akal meski Ethan tidak pulang dan bertemu dengan Rival selama beberapa hari ke depan nanti.
Yah, alasan yang Zoya kemukakan sangat logis dan pasti akan dipercaya oleh Rival dengan mudah.
Mendengar apa yang Zoya katakan, Rival hanya mengangguk-anggukan kepala. "Mas Rival mau masuk?" tanya Zoya kemudian mengalihkan pria itu. Rival menatap Zoya dan menganggukan kepala, siapa tahu dengan begitu ia dapat bertemu dengan Naina.
Zoya membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan agar Rival bisa masuk. Sebelumnya, pria itu menyerahkan sebuah paper bag padanya.
"Wah, apa ini?" Zoya bertanya seraya melangkah masuk dengan Rival. Rival yang tengah mengamati seisi rumah menoleh padanya dan tersenyum. "Oleh-oleh." ia menyahut singkat yang membuat Zoya tersenyum dan berucap terimakasih.
"Silakan duduk."
Rival mengangguk dan duduk pada salah satu sofa di ruang tamu, sedangkan Zoya hanya berdiri dan memerhatikannya, kemudian bertanya sekiranya minuman apa yang Rival inginkan. Pria itu sempat menolak tawaran Zoya karena tidak ingin merepotkan, tapi pada akhirnya tetap mengangguk dan memilih air putih saat Zoya bersikeras ingin menyuguhinya minuman.
Tak lama setelah itu, Zoya kembali dari dapur dengan membawakan segelas air untuk Rival dan ikut duduk pada sofa lain, sementara Rival meraih gelas berisi air putih yang Zoya suguhkan lantas menenggaknya sebagian.
"Kamu sendirian di rumah?" tanya Rival, ia memerhatikan sejak tadi jika keadaan rumah sangat sepi, bahkan Zoya mengambilkannya minum sendiri. Lantas, di mana Naina berada? Apa gadis itu sudah tidak bekerja lagi dengan Ethan dan Zoya?
"Mm, iya, Mas. Sendiri."
"Naina?" akhirnya Rival memberanikan diri menanyakan keberadaan gadis itu meski merasa canggung pada Zoya. Ia memerhatikam raut wajah wanita di hadapannya yang terdiam saat ia bertanya mengenai Naina, cukup membuat Rival merasa kian canggung.
Sedangkan Zoya tampak kebingungan di tempatnya. Jika ia katakan Naina pulang kampung, Zoya takut Rival menemukan fakta jika sebenarnya Naina tidak ada di sana. Zoya takut Rival akan menyusul Naina seperti yang pernah pria itu lakukan tempo lalu.
Lantas, apa yang harus Zoya katakan?
"Mm, Naina ..., berkunjung ke rumah saudaranya untuk beberapa hari." dusta Zoya kemudian saat cukup lama ia membiarkan Rival menunggu jawaban.
"Dia punya saudara di Jakarta?"
"Euu, bukan di Jakarta."
"Tapi di luar kota." Zoya menyahut cepat, dalam hati mengutuki durinya sendiri karena sudah sembarangan berbohong.
__ADS_1
Rival hanya mengangguk-anggukan kepala. Meski merasa ada yang janggal dengan Naina. Gadis itu memiliki keluarga di kota besar? Tapi kenapa ia tidak tahu?
Kali ini Rival menggelengkan kepala, hal yang wajar memang jika ia belum mengetahui kehidupan Naina lebih jauh lagi. Toh juga mereka baru saja dekat, pun ada banyak jarak di antara keduanya.
"Kira-kira, kapan Naina pulang?" Rival kembali melemparkan pertanyaan pada Zoya. Membuat Zoya terkesiap.
"Mm, atau sejak kapan Naina berkunjung ke rumah saudaranya?"
"Siang tadi, mungkin empat lima hari lagi baru pulang." kali ini Zoya menyahut dengan senyum lebar. Untuk yang baru saja ia katakan, ia tidak berbohong pada Rival.
Rival mengangguk-anggukan kepala. "Hebat juga Ethan ngebiarin kamu tinggal sendirian di rumah." decak pria itu setelah beberapa saat, Zoya tak menanggapi, hanya mengangguk kecil sedangkan Rival juga hanya terdiam setelahnya.
Rival tak berlama-lama bertamu di rumah Zoya, kecuali ada Ethan, mungkin pria itu akan pulang sedikit larut. Namun, hanya ada Zoya dan rasanya sangat canggung berduaan dengan istri orang ketika suaminya pergi, itulah yang membuat Rival buru-buru pamit pulang dari rumah Zoya setelah basa-basi singkat mereka.
Begitu pria itu pergi dan Zoya mengantar kepergiannya sampai ke teras, bersamaan dengan mobil Rival yang meninggalkan pelataran rumah, hujan turun dengan begitu saja. Tampak sangat deras dan membuat Zoya sejenak mematung di depan jendela.
"Ethan lagi ngapain, yah?" pikirannya kembali berkelana pada sang suami yang tengah berada di Maladewa.
***
Disela-sela menikmati makan malamnya, Naina terpana melihat keindahan langit. Sedangkan di kursi tepat di hadapannya, Ethan hanya menikmati makan malam dengan terdiam. Pikirannya berkelana ke Jakarta, pada rumah miliknya dan Zoya.
Memikirkan sang istri dan apa yang tengah wanita itu lakukan saat ini? Mungkinkah Zoya juga sedang merindukannya? Sama seperti Ethan yang begitu merindukan wanita itu meski hanya dalam hitungan jam keduanya tidak bertemu?
Selamat menikmati.
Balasan pesan singkat yang wanita itu kirimkan beberapa saat lalu sama sekali tidak mampu mengobati kerinduan di dada Ethan. Tak lama, pria itu tersadar dari lamunannya dan mendapati makanan dalam piring Naina yang tampak masih utuh. Ia lantas memerhatikan wanita itu dan ikut melihat objek yang membuat Naina terjeda dari makannya cukup lama.
"Di Jakarta hujan nggak, yah? Apa langitnya juga secerah ini?" Naina bergumam, Ethan yang mendengar hal itu hanya mengangkat bahu acuh.
"Habiskan makannya, kita kembali ke hotel setelah ini!" intruksi Ethan dengan nada tidak mengenakan. Akhirnya Naina berhenti menatap keindahan bintang di langit sana dan kembali pada makanannya yang masih utuh. Sedangkan makanan Ethan nyaris habis.
Usai makan malam, Ethan dengan Naina benar-benar kembali ke hotel. Tidak ada agenda jalan-jalan malam untuk menikmati angin pantai. Sekalipun akan jalan-jalan, Ethan bisa melakukannya besok pagi karena malam ini ia butuh istirahat.
Naina hanya mengekor di belakang pria itu, ia hanya mematung saat Ethan sudah duduk di tepi tempat tidur. Pikiran Naina berkecamuk. Tiba-tiba ia dihantui oleh berbagai pertanyaan.
Apa semua akan dimulai malam ini? Ia terus bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Apa ia sudah siap?
Apa Ethan mau menyentuhnya? Jika tidak, maka apa Naina yang harus memulainya lebih dulu?
Tapi dimulai dari mana? Naina benar-benar tidak tahu.
Naina tersadar dari lamunannya saat Ethan sudah berbaring di atas tempat tidur. "Kamu tidak tidur?" pria itu bertanya dengannmata yang memerhatikan Naina. Naina hanya mengangguk, lantas membaringkan dirinya di samping Ethan.
Keduanya dalam posisi terlentang dan belum memejamkan mata. Keadaan terasa canggung bagi Naina saat keduanya hanya saling terdiam. Saat Ethan tak melakukan pergerakan apapun, atau bahkan tidak menyentuhnya sama sekali, Naina menyimpulkan jika Ethan benar-benar tidak akan melakukannya malam ini. Sehingga Naina memilih untuk memejamkan mata sebelum ia benar-benar akan membeku karena merasa kaku.
"Naina?"
Baru saja Naina memejamkan mata, pria itu justru memanggilnya dan membuat ia urung untuk segera tidur. Ia menoleh pada Ethan di sampingnya dan cukup terkejut saat mendapati pria itu sudah miring menghadap ke arahnya.
"Ada apa Pak Ethan?"
Naina menatap pria itu saat Ethan benar-benar hanya terdiam dan membuatnya kebingungan. Beberapa saat kemuduan pria itu justru mendesah kasar.
"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan." sahutnya dengan jujur, ia pun sama dengan Naina. Merasa canggung dengan keadaan ini. Canggung karena tidur di atas ranjang yang sama dengan gadis itu.
"Lakukan saja apa yang ingin Pak Ethan lakukan!" Naina menyahut pasrah. Ethan tak memberi respon apapun. Hanya diam.
Keduanya sama-sama menoleh ke arah jendela raksasa saat percikan air menampar kaca, awalnya sedikit demi sesikit namun lama-lama terdengar begitu sering dan nyaring. Rupanya, hujan turun dengan begitu deras di luar sana.
Kali ini, giliran Naina yang mendesah pasrah. Padahal beberapa saat lalu, ia melihat langit begitu cerah. Namun hujan tiba-tiba turun begitu saja.
"Di luar hujan." sahut Ethan, Naina mengangguk dan mempertemukan tatapan mereka. Rupanya sejak tadi Ethan terus menatapnya.
Suara hujan di luar bagai tak menembus masuk ke dalam kamar saat Naina merasa hanya ada keheningan di antara ia dengan sang suami. Sampai tiba-tiba saja, ia membulatkan mata begitu tangan besar Ethan melingkari pinggangnya.
Pria itu menggeser tubuh Naina dan mengikis jarak di antara mereka.
Naina bagai berubah menjadi batu, karena setelahnya ia hanya mematung di tempatnya, tidak melakukan gerakan sekecil apapun. Sedangkan Ethan menatapnya dengan sorot tenang.
"Naina, izinkan saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan."
TBC
__ADS_1