Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sampai Jumpa Ethan


__ADS_3

Zoya memang pernah masuk dan duduk di meja makan di rumah keluarga Zeinn Agyan. Tapi merasakannya kembali, Zoya bagai tidak percaya, jika dirinya bagian dari keluarga ini. Sikap Freya yang ramah padanya juga membuat Zoya merasa nyaman dan dianggap sebagai seorang keluarga. Meski pada dasarnya baik Freya maupun Agyan tau bagaimana bisa pernikahan antara dirinya dengan Ethan terjadi, tapi mereka berdua seolah tidak mempermasahkan hal itu.


Mereka mempercayakan semuanya pada Ethan dan Zoya. Juga memperlakukan Zoya dengan baik sebagai menantu pertama keluarga ini.


"Ayah mertua sama suami kamu mungkin pulang larut, kita disuruh buat makan malam duluan." tegur Freya, barangkali Zoya merasa heran karena mereka hanya makan malam berdua tanpa menunggu yang lain.


"Kalau Arasy bunda?"


"Ada acara sama temen-temennya." Zoya mengangguk-anggukan kepala.


"Dihabisin makannya, nanti Bunda kasih liat kamar Ethan. Harusnya pas awal menikah, kalian menginap di sini. Tapi Ethan nggak mau."


"Mungkin takut pas malam pertamanya kedengeran." goda Freya.


"Kamarnya nggak kedap suara Bun?" Zoya. bertanya spontan dan membuat Freya terkejut, sedangkan Zoya yang sadar akan pertanyaannya barusan meringis.


"Maksud Zoya, tuh–"


"Enggak papa, Bunda ngerti, kok," sahut Freya, mencegah menantumya untuk berubah canggung. Zoya hanya mampu meringis, mengutuki mulutnya yang sembarangan berbicara dan membuat Freya salah paham padanya. Ia melanjutkan makan setelah tersenyum canggung pada mertuanya.


Setelah makan malamnya usai. Freya mengantarkan wanita itu ke kamarnya dan kamar Ethan, awalnya Freya merasa heran karena Zoya makan sedikit. Tapi wanita itu bilang jika dirinya tidak nafsu makan dan Freya jelas saja tidak bisa memaksa.


"Nah, ini kamar Ethan." sahut Freya begitu mereka sampai di lantai dua dan membuka salah satu pintu kamar. Zoya tersenyum, matanya menyapu setiap sudut kamar dengan nuansa warna nude dan mint yang paling dominan, persis seperti karakter Ethan. Kamar itu sangat cocok dengan pemiliknya.


"Kemari," Zoya tidak menyadari jika Freya sudah berada pada sebuah lemari besar yang Zoya kira adalah tempat pakaian. Zoya menutup mulut tidak percaya saat Freya membuka dan memperlihatkan sebagian isi lemari, di mana pakaian wanita berjajar rapi di sana termasuk gaun tidur.


"Ethan udah siapin ini sejak kalian berencana akan menikah, karena dia tau kamu pasti akan menginap di sini dan membutuhkannya. Dan ini–" Freya membuka laci di bawah lemari.


"Ini peralatan yang paling dibutuhin wanita." sahut Freya, memperlihatkan satu set lengkap make up dari merek ternama. Membuat Zoya terkagum melihatnya karena Ethan yang mempersiapkan hal itu untuknya. Zoya merasa seperti ..., diistimewakan.


"Sekarang kamu mandi, dan istirahat. Mungkin sebentar lagi Etham bakalan pulang, kamu harus wangi." sahut Freya dengan volume suara yang mengecil diakhir kalimatnya. Zoya mengangguk dengan senyuman dan mengucapkan terimakasih, setelahnya Freya berlalu keluar dari kamar.


Sedangkan Zoya kembali menilik kamar pria itu. Menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang Ethan dan menatap plafon kamar. Sampai Zoya menyadari jika ada figura besar di sana. Di mana foto Zoya dengan baju pengantin tengah tersenyum bahagia dalam rangkulan tangan Ethan.


Tanpa sadar Zoya tersenyum, kemudian menyadari satu hal lagi yang membuatnya mengedar melihat setiap sudut ruangan, barangkali Ethan memasng kamera pengawas, jadi Zoya harus berhati-hati.


"Arasy pulaaaaang." terdengar teriakan dari arah pintu masuk, Arasy muncul dengan wajah lelah, memeluk dan mencium sang bunda yang tengah menonton televisi sendiri.


"Gimana huntingnya?" tanya Freya. Mengusap lembut kelala putri kesayangannya.


"Mmm, membosankan!"


Freya mengernyit, pandangannya yang semula fokus pada layar televisi kini beralih menatap Arasy. Putrinya tampak mencebikan bibir.


"Apa Arasy nikah aja yah, amaa kaya Sethan!"


"Hus, kamu, nih." tegur Freya saat Arasy kebiasaan mengganti nama Ethan, juga asal asalan memutuskan akan menikah. Wanita itu hanya menyunggingkan senyum pada Freya. Tak lama setelah terdengar deru mesin mobil di pelataran rumah, dua pria tampan muncul dengan pakaian kantornya.


"Sayang, aku pulang."


"Bunda, Ethan pulang."


Arasy menoleh. "Kompak banget," celetuknya saat dua orang itu muncul. Agyan segera duduk dan memeluk Freya, membuat Freya heran dengan tingkah suaminya. Sedangkan anak anak mereka menatap tidak mengerti.


"Ada apa, Gyan?"


"Papi kamu ngasih tugas ke LA."


"Ohh, berapa hari?"


"Enggak tau, mungkin lama."

__ADS_1


Freya mengusap kepala Agyan dengan lembut. Pria itu tampak sedih karena akan berpisah dengannya. Sementara Arasy menggelengkan kepala dan bangkit dari sana.


"Jiwa mudanya emang masih oke." sahutnya, langkah kakinya menuju ke kamar berhenti pada anak tangga tertahan saat Ethan mengekor di belakang.


"Ngapain?" tanyanya, seolah terganggu sang kakak ada di rumah.


"Kamu pikir ngapain?" Ethan balik bertanya, melangkah lebih dulu ke kamarnya melewati sang adik.


Hal pertama yang Ethan lihat saat memasuki kamar adalah istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. Ethan tersenyum, lelahnya sirna begitu saja setelah melihat Zoya. Langkah kakinya membawa Ethan pada wanita itu. Membuat Zoya menoleh karena menyadari kehadirannya. Zoya dapat mengetahui kehadiran Ethan hanya dengan mencium aroma tubuh pria itu.


"Hay," Zoya menyapa lebih dulu.


"Aku udah siapin handuk buat kamu, sama piama." sahutnya dengan manis, tingkah wanita itu justru membuat Ethan heran, tidak seperti biasanya.


"Ada apa?"


"Kamu tidak biasanya melakukan hal-hal seperti itu."


"Hal-hal seperti inu gimana, sih?" tanya Zoya.


"Aku, 'kan istri kamu!" sambungnya dengan dahi berkerut.


"Sini, biar aku ngurusin kamu mulai sekarang." Zoya kembali berbicara. Melangkah lebih dekat pada Ethan dan membuka kancing jas pria itu, membantu Ethan melepasnya. kemudian membuka kancing kemeja Ethan, sedangkan pria itu hanya diam membiarkan.


"Gerak cepat amat!" tegur Arasy yang sejak tadi memperhatikan melalui celah pintu yang terbuka. Zoya tersadar, mendorong Ethan agar menjauh darinya. Ia tidak tau jika ada Arasy si sana. Sedangkan Ethan melanjutkan kegiatan yang Zoya hentikan karena kehadiran kembarannya.


"Hati-hati, yah, kamarnya nggak kedap suara!" godanya, menutup pintu kemudian berlalu. Zoya mengguyur rambutnya ke belakang, brberapa waktu lalu Freya dan tadi Arasy, sepertinya ada sesuatu di dalam keluarga ini.


Zoya menyadari jika Ethan sudah menghilang entah kemana, hanya ada ponsel dan kunci mobil pria itu yang berada di atas meja samping tempat tidur. Zoya memilih tidak ambil pusing, ia naik ke atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil bermain ponsel.


Dering ponsel Ethan yang berada di atas meja samping tempat tidur membuat Zoya menoleh. Memejamkan mata sekejap, Zoya memilih mengusir rasa penasarannya. Sampai dering ke lima, ia memilih mengintip layar ponsel. Tidak berniat mengusik privasi Ethan, ia hanya akan sekedar melihat.


Begitu id yang Zoya lihat. Sampai kemudian dering berhenti bersamaan dengan Ethan yang keluar dari kamar mandi. Membuat Zoya dengan cepat kembali ke posisinya meski Ethan sudah terlanjur melihatnya. Tapi pria itu berpura-pura. Ethan yang memang mendengar dering ponselnya lantas menggapai benda canggih itu.


Dengan handuk putih yang melingkar di pinggangnya, Ethan berjalan ke arah ruang ganti sambil membawa ponsel, Zoya yang melihatnya hanya melayangkan tatapan kesal.


"Pura-pura alim doang, nyatanya telponan sama cewek." gerutunya seperti tidak terima. Zoya berpura-pura acuh saja meski Ethan keluar dari ruang ganti dengan piama berwarna abu yang ia siapan, senada dengan gaun tidur yang Zoya kenakan. Pria itu keluar dari kamar dan mengabaikan Zoya, menambah kekesalan wanita itu yang sejak tadi diabaikan, padahal ia sudah berusaha bersikap baik pada sang suami.


Di lantai bawah, Ethan berjalan ke arah dapur untuk makan. Ia bertemu Freya yang kebetulan sedang membereskan meja makan, sepertinya Agyan dengan Arasy juga baru saja menyelesaikan makan malam. "Mau makan? Biar Bunda siapin." tawarnya. Ethan mengangguk, membiarkan Freya menyendokan nasi dan beberapa lauk untuknya.


"Zoya udah makan Bun?"


"Udah, tapi sedikit. Katanya gak napsu makan, mungkin karena gak ada kamu." Freya tersenyum. Menyerahkan piring berisi nasi dan lauk lengkap pada Ethan, Ethan menerimanya. Mengambil nampan dan menaruh piringnya di sana, juga menuangkan segelas air.


"Itu mau di bawa ke mana?"


"Ethan makan di kamar."


"Terimakasih, Bunda." berlalu dengan cepat dari hadapan Freya. Freya hanya menatap kepergian putranya, kepalanya menggeleng pelan dengan senyuman.


Begitu sampai di kamar, Ethan melihat Zoya yang buru-buru merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Ethan menaruh nampan yang di bawanya di atas meja di samping tempat tidur. Ia duduk dan menyingakap selimut Zoya.


"Bunda bilang tadi kamu makan sedikit." sahut Ethan, berharap wanita itu akan mau makan dengannya "udah kenyang kok," menjawab tanpa mengubah posisinya. Ethan tersenyum. "Kalai begitu, temani saya makan." pinta Ethan, wanita itu mengubah posisinya menjadi duduk, membuat Ethan tersenyum karena wanita itu mau menurut.


Ethan mengambil piring berisi makanan dan meletakannya di atas bantal dalam pangkuan Zoya. "Kamu mau menyuapi saya makan?" tanya Ethan. Zoya diam sebentar, Ethan merepotkan, begitulah kira-kira apa yang Ethan tebak melihat sorot mata Zoya atas permintaannya.


Sampai kemudian wanita itu mulai meraih sendok, Ethan segera membuka mulutnya. Bersiap menerima suapan dari istrinya. "Kamu, 'kan punya tangan." ujar Zoya setelah satu suapan masuk ke mulut pria itu, Ethan tersenyum.


"Kalau begitu, begini saja." Ethan mengambil sendok dari tangan Zoya. Menyendokan makanan dan bersiap memberikannya pada Zoya. "Kata Bunda kamu cuma makan sedikit, jadi kamu juga harus makan."


"Tapi–"

__ADS_1


"Buka mulut kamu!"


Zoya pasrah, membuka mulut dan menerima suapan makanan dari Ethan. "Alexa siapa?" kalah oleh rasa penasaran dan akhirnya Zoya memilih bertanya.


"Kamu pernah ada project iklan sama Alexa tiga tahun lalu." sahut Ethan, ia memang sudah dapat menebak jika Zoya penasaran sejak tadi. Zoya diam, berpikir sebentar, tiga tahun lalu. Sedangkan dalam waktu tersebut ia tidak terlibat hanya dengan satu atau dua orang.


"Alexa anak Momy Rachel,"


"Oh," seketika Zoya mengingat hal tersebut. Ethan tersenyum, melanjutkan makannya sendiri dan sesekali menyuapi Zoya. "Saya berangkat besok pagi." beritahu Ethan


"Jam berapa?'


"Jam delapan pagi pesawat take off."


Zoya menganggukan kepala mengiyakan. Ia hanya terdiam. Sedangkan Ethan keluar dari kamar untuk menyimpan piring. Zoya baru sadar jika perutnya terasa kenyang sekarang.


**


Pagi pagi sekali, Ethan bangun lebih dulu, mengucek matanya dan melihat Zoya yang tertidur pulas dengan selimut yang menggulung tubuhnya. Ethan tersenyum, menyingkap rambut Zoya yang menutupi wajah wanita itu. "Good morning," menyapa Zoya dengan suara pelan. tidak ingin sampai wanita itu terjaga. Ethan tidak berencana membangunkan istrinya.


Ia beranjak dari tempat tidur, memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai, membawanya ke kamar mandi. Sementara Zoya masih damai dengan mimpinya.


"Istri kamu?" tanya Freya saat Ethan keluar dari kamarnya sendiri.


"Ethan sengaja nggak bangunin, kasian. Dia semalem udah bantu Ethan packing beberapa keperluan yang mau dibawa ke LA." sahutnya.


'Dan begadang untuk membuat baby.' Batin Ethan melanjutkan.


Freya mengangguk mengerti.


"Yasudah, kita berangkat sekarang." sahut Agyan, Ethan mengangguk, Aryo membawakan koper Ethan. Freya mengantarkan dua orang tersayangnya itu ke sampai ke teras depan.


"Jaga diri kalian baik-baik, yah."


"Bunda juga jaga diri baik-baik," pesan Ethan, Freya mengangguk. Ethan berlalu lebih dulu ke arah mobil, sedangkan Agyan berpamitan pada sang istri.


"Aku berangkat, yah." meraih pinggang wanita itu dengan tatapan tidak rela. Meski tugas ini sangat sering ia laksanakan, tetap saja meninggalkan Freya selalu sulit untuk ia lakukan.


"Kamu hati-hati,"


"Jangan lupa kabarain aku kalau udah sampe." Agyan mengangguk, mengecup kening istrinya cukup lama. Kemudian beranjak dan melambaikan tangannya pada Freya, Freya melakukan hal yang sama. Mengantarkan kepergian suami dan anaknya sampai mobil yang mereka tumpangi keluar dari gerbang.


Sementara itu, tepat pukul setengah delapan Zoya terjaga. Melihat tempat di sampingnya yang sudah kosong, artinya Ethan sudah berangkat. Mendudukan diri, Zoya mendekap selimut untuk menutupt tubuh nakednya, ia merasa masih mengantuk dan tubuhnya terasa lelah. Mata Zoya menangkap sebuah notes di samping ponsel, iasegera meraihnya.


...Jaga diri kamu baik-baik selama saya pergi. Jangan telat makan....


...I love you...


...Your Husband...


Kedua sudut bibir Zoya terangkat membentuk sebuah senyuman. "Selamat tingg–" Zoya menjeda kalimatnya. "Sampai jumpa lagi, Ethan."


**


Agyan menoleh pada Ethan yang beberapa kali tampak menguap.


"Kerja keras kamu semalem?"


"Tidur jam berapa?" godanya. Ethan hanya berdecak mendengar godaan Agyan. Memilih untuk memejamkan mata sebelum sampai di Bandara. Agyan tersenyum, menggeleng pelan melihat putranya yang sudah tumbuh dewasa. Ia merasa bangga sudah membesarkan Ethan dengan sangat baik.


TBC

__ADS_1


__ADS_2