Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Anugerah


__ADS_3

Nggak kerasa, ya. BCB udah nyampe 100 Bab😍 Meskipun sebagian pembaca pada ilang, aku bakalan tetep lanjutin cerita:')


Karena prinspiku kalau udah bikin cerita itu satu. Harus sampe Tamat:')


*


*


Seperti mimpi, rasanya lebih membahagiakan dari mendapatkan harta karun di berbagai belahan bumi. Agyan dan Freya baru saja mendapatkan fakta luar biasa dari Dokter Obgyn yang sempat membuat Agyan kesal itu, jika Freya hamil bayi kembar. Meski waktunya belum tepat untuk mengetahui jenis kelamin bayi tersebut.


Agyan dan Freya sangat senang dan bersyukur, di tengah kesulitan mereka, Tuhan menghadirkan sebuah anugerah besar dalam keluarga kecilnya. Bahkan mempercayakan Agyan dengan Freya untuk memiliki dua bayi sekaligus.


Sebagai calon ayah, agyan merasa ia jauh lebih senang daripada ayah manapun di dunia ini. Rasa semangatnya untuk bekerja semakin tinggi demi mencukupi kebutuhan ia dan Freya.


Meski perasaannya menolak untuk meninggalakan istrinya itu berlama-lama.


"Aku nggak papa, kamu udah dua hari nggak masuk kerja. Nanti dimarahin Gavin," bujuk Freya pada Agyan yang terus memeluk pinggangnya, sementara Freya menyisir rambut pria itu.


Dua hari kemarin, Agyan memang izin tidak masuk bekerja karena harus menjaga Freya. Memastikan jika istrinya tidak kelelahan dan beristirahat dengan baik.


"Katanya semangat kerja," sahutnya lagi, ia berhenti menyisir rambut Agyan saat pria itu justru menggesek-gesekan wajah dan rambutnya pada perut Freya sehingga rambutnya kembali berantakan.


"Kita sarapan dulu, nanti kamu langsung berangkat." Freya melepas tangan Agyan yang meluknya. Pria itu mendongak pada Freya yang berdiri di hadapannya. Kemudian bangkit berdiri, ia melihat arloji di pergelangan tangannya.


"Aku sarapan di sirkuit aja, yah. Kamu siapin bekel buat aku, udah telat." Freya mengangguk. Agyan merapihkan rambutnya sendiri sementara Freya berlalu.


Tapi satu langkah Freya pergi, Agyan menahan pergelangan tangannya dan menarik pinggang Freya. Mencium bibir Freya dengan tiba-tiba.


Hal yang sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi keduanya. Agyan tersenyum setelahnya, Freya juga hanya membalas pria itu dengan senyuman.


"Aku siapin bekal buat kamu." pamitnya, kemudian. Membuat tangan Agyan yang memeluk pinggangnya terlepas.


Rutin Freya selalu mengantar suaminya sampai di teras saat akan pergi bekerja. Tapi hari ini berbeda saat Agyan dan Freya baru saja keluar dari rumah. Sebuah sedan hitam terparkir di pelataran rumah mereka.


Anna keluar dari arah pintu belakang setelah sopir membukakan pintu mobil.


"Mami," lirih Freya sambil menoleh pada suaminya. Melihat ekpresi Agyan karena kedatangan tamu tak terduga.


"Freya." Anna menghampiri Freya antusias. Ia sangat merindukan putri semata wayangnya. Agyan melepas rangkulan tangannya dari bahu Freya, membiarkan Freya melangkah dan menyambut pelukan Anna.


"Mami apa kabar?"


"Mami baik." Anna menyahut sendu. Bagaimana pun, sejujurnya ia tidak akan baik-baik saja terpisah dengan tidak wajar dengan putrinya. Terlebih, Warry tidak mengizinkannya untuk mengunjungi Freya.


Tidak tahan menahan rindunya. Anna memaksakan diri untuk datang menemui Freya setelah mendapat alamat rumah mereka dari Gavin yang ia paksa.


"Mami denger kamu kemarin masuk Rumah Sakit." sahutnya, mengerling pada Agyan. Sedangkan Agyan menolak untuk menatap mata mertuanya.


"Freya nggak papa, cuma kecapean biasa aja." Freya menyahut, ia merasa tidak enak pada Agyan.


"Kamu pasti cape ngurusin rumah ini sendiri."


"Agyan sering bantuin Freya, Mi." Freya tidak ingin Anna menilai Agyan dengan sebelah mata.


Anna menatap Agyan, cukup lama dan kali ini Agyan pun balas menatapnya. "Kamu nggak bikinin Mami minum,"


"Oh," Freya berlalu ke dalam meninggalkan Agyan dengan Maminya di teras rumah. Sedangkan Anna mengamati rumah Agyan, tidak buruk untuk pasangan yang baru menikah. Terlebih tidak ada dana bantuan dari orangtua.


"Kalian kekurangan?" Anna bertanya dengan to the point. Agyan tersenyum dan menggeleng kecil.


"Sama sekali enggak, Mi. Agyan selalu berusaha mencukupi segala kebutan kami. Terutama Freya dan juga calon anak kami."


"Mami tidak perlu khawatir. Freya bahagia." Agyan berucap dengan penuh percaya diri. Anna tersenyum dan mengangguk. Ia yakin menantunya tidak berbohong. Karena ia dapat melihat sendiri jika putri kesayangannya sangat bahagia hidup dengan Agyan.

__ADS_1


Anna menyentuh bahu Agyan. "Terimakasih, sudah menjaga Freya dengan baik."


"Sudah menjadi tugas. Gyan."


Obrolan keduanya terhenti begitu Freya keluar dengan nampan berisi dua gelas minuman di tangannya. Ia meletakan minuman untuk sang mami di meja kayu teras rumahnya.


"Sayang, aku berangkat." pamit Agyan. Freya mengangguk. Agyan melangkah mendekat, mencium kening Freya, dan ia melupakan satu hal jika ada mami mertuanya di sana. Baru Agyan akan mendaratkan ciumannya di bibir Freya, ia berhenti sejenak. Menoleh pada Anna yang berpura-pura tidak melihat.


Sebagai gantinya karena tidak jadi mencium bibir Freya, Agyan hanya mengusap puncak kepala Freya. Ia beralih pada Anna dan mencium tangan Anna. Kembali menatap Freya.


"Aku berangkat,"


"Hati-hati, kalo udah sampe kabarin aku."


Agyan mengangguk. "Gyan berangkat Mi," Anna mengangguk dengan tersenyum. Agyan berjalan ke arah motor dan menaikinya, memakai helm dan berlalu dari pelataran rumah setelah sekali membunyikan klakson motor.


Jika harus jujur, sebenarnya Agyan merasa keberatan membiarkan Freya dengan Anna tanpa dirinya. Otak kotornya takut jika hal buruk terjadi. Takut jika Anna mempengaruhi Freya untuk meninggalkannya. Meski Agyan sendiripun tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan.


Ia tau jika Anna mempercayai perkataannya. Jika Freya bahagia bersamanya.


Selepas kepergian Agyan, Freya mempersilahkan Anna untuk duduk di kursi panjang di teras tersebut.


"Mami ada perlu apa ke sini?" tanya Freya setelah cukup lama hanya saling terdiam dengan Anna. Anna yang sedang meminum suguhan Freya mengernyit mendengar pertanyaan putrinya yang seolah tidak memberi izin jika ia datang berkunjung.


"Kamu keberatan Mami datang?"


Freya menggeleng pelan. Anna hanya memperhatikannya, ia kemudian meletakan gelas minumannya di atas meja dan meraih kedua tangan Freya.


Kedatangannya kemari, tulus untuk melihat keadaan putrinya. Juga akan mengajak Freya kembali padanya jika saja ia tidak bahagia dengan Agyan.


Namun ternyata dugaannya salah saat justru ia menemukan banyak kebahagiaan dalam rumah tangga putrinya.


"Kamu butuh uang, atau mobil?" tanya Anna dengan binar di matanya. Berharap Freya mau dan ia akan memberikannya.


Tapi Anna sedikit kecewa saat justru Freya menggelengkan kepala. "Freya nggak butuh apapun."


"Agyan nggak akan mau, Mi."


"Kenapa?"


"Kami ingin hidup mandiri. Memiliki segalanya dari uang hasil jerih payah kami, itu yang kalian mau, bukan?"


"Dan lagi, seandainya Mami beliin Freya mobil. Agyan pasti bakalan nolak, dan bakal ngerasa harga dirinya jatuh di hadapan ibu mertuanya."


"Freya nggak mau Agyan sedih."


Anna terdiam. Ia tidak sakit dengan apa yang dikatakan Freya. Ia hanya kagum jika putrinya dapat berfikir dewasa.


"Agyan benar-benar menjadi suami yang baik, buat kamu." sahutnya seraya mengelus puncak kepala Freya.


*


*


Sejak memasuki gedung sirkuit dan memarkirkan motornya. Agyan cukup merasa heran ketika sebuah mobil box berada di parkiran surkuit. Juga terdapat banyak orang-orang asing yang berlalu lalang membawa sebuah perlatan syuting.


Gavin yang berjalan ke arahnya bahkan tak ia hiraukan, matanya fokus pada orang-orang tersebut. "Ada acara apaan, sih?" tanyanya saat Gavin sudah berada di hadapannya. Gavin mengikuti arah pandang Agyan.


Ia hanya melipat tangannya di dada sambil bersandar pada motor Agyan. "Mereka dari RCH Pictures, kemren pas di acara fasion show, gue ketemu produsernya."


"Nah, terus?" tanya Agyan saat Gavin menjeda kalimatnya.


"Dia kenal bokap gue, dan mau sewa sirkuit buat di pake syuting."

__ADS_1


"Terus kerjaan gue?"


"Jalan terus kali, lagian mereka juga nggak tiap hari syuting di sini."


Agyan ber-oh ria, memandangi orang-orang yang memulai syuting. Tampak seorang aktris muda yang sedang naik daun menghampiri seorang pria tampan yang sudah lebih dulu terjun ke dunia entertaint. Tampaknya dua orang itu adalah pemeran utama dalam film yang sedang mereka jalani.


"Biasa, lah. Film-film anak muda. Cowoknya pembalap gitu, terus si ceweknya ngejar-ngejar si cowok meski ditolak beberapa kali."


"Anti mainstream." ucap Agyan seraya tertawa. Tawanya mereda begitu Gavin menyenggol lengannya. Seorang pria paruh baya dengan pakaian rapih dan jas biru tua menghampiri keduanya.


Agyan melirik Gavin, bertanya dengan bahasa isyarat siapa orang di hadapan mereka.


"Gyan, ini Pak Arfat Nahlil, produser film ini." Gavin memperkenalkan, Agyan mengangguk sopan seraya mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Kamu artis juga?" tanyaya pada Agyan dengan iseng.


"Saya bekerja di sini." Agyan menyahut jujur. Arfat tampak mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyum lebar. Ia kemudian pamit untuk mengamati proses syuting.


"Enggak ada niat jadi artis, Gyan?" goda Gavin saat ia melihat ketertarikan dari mata Arfat pada Agyan. Bahkan Gavin yang seorang pria saja mengakui pesona kuat dari suami saudara sepupunya itu.


"Kagak." Agyan menyahut singkat tanpa minat.


Hari ini, Agyan pulang cepat karena hanya membimbing latihan selama dua jam tepat setelah tamu-tamu Gavin selesai syuting. Sebelum pulang ke rumah, Agyan mampir di toko bunga langganannya.


Ia akan membelikan Freya setangkai mawar. Dan akan memberi kecupan di dahi, bibir, dada dan seluruh tubuh istrinya.


Agyan keluar dari toko bunga tepat berpapasan dengan seorang wanita yang dikenalinya.


"Agyan."


"Senang bertemu kamu, tadi juga saya melihat kamu di lokasi syuting."


"Sirkuit." Tari menerangkan. Agyan hanya tersenyum.


"Kamu tidak bertanya kenapa saya ada di sana?" saran Tari, tidak enak jika ia hanya berbicara sendiri.


"Kenapa?" Agyan bertanya seperlunya.


"Salah satu model saya jadi pemeran pendukung dalam film tersebut."


"Oh, yah. Saya tertarik dengan kamu."


Agyan mengernyitkan dahinya. Tertarik dalam artian macam apa?


"Tertarik merekrut kamu untuk menjadi model." ia memperjelas kalimatnya sebelum Agyan bertanya.


" Kamu tampan, badan kamu juga oke."


"Tapi maaf, saya tidak berminat." tolak Agyan dengan halus. Ia masih menghormati Tari sebagai rekan dari istrinya.


Tari tampak tersenyum tipis, ia kemudian merogoh saku blazernya dan menyerahkan sebuah kartu kecil pada Agyan.


"Ini kartu nama saya. Kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa menghubungi saya."


"Kamu juga bisa mendiskusikannyan terlebih dulu dengan Freya." ia mengakhiri kalimatnya bersamaan dengan ponselnya yang berdering.


"Jangan lupa menghubungi saya." sahutnya. Agyan hanya mengangguk, Tari berpamitan untuk masuk ke dalam toko bunga sambil mengangkat telponnya.


Sedangkan Agyan hanya berdiri di sana. Dengan bunga mawar di tangan kiri dan kartu nama Tari di sebelah kanan. Di ufuk barat, langit sudah mulai jingga, sang surya dengan perlahan kembali ke peraduannya.


Tak ingin ambil pusing, Agyan memasukan kartu nama tersebut ke saku belakang celananya. Ia menaiki motor dan melajukan motornya dengan tenang.


Dengan perasaan menggebu yang ingin segera bertemu dengan orang terkasihnya.

__ADS_1


TBC


Mohon untuk meninggalkan like dan komentnya guys:")


__ADS_2