Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Menolak Berdiskusi


__ADS_3

"Saya di sini untuk memberikan klarifikasi mengenai foto kami yang tersebar di berbagai media."


"Mungkin hal itu sangat tidak wajar, membawa Zoya Hardiswara ke tempat tinggal saya."


"Saya tidak perduli apapun asumsi kalian. Saya merasa hal yang saya lakukan sangat wajar mengingat status kami sebagai calon suami istri."


"Apa maksud Bapak kalian memiliki hubungan spesial?"


"Benar."


"Saya dengan Zoya Hardiswara sudah berpacaran selama dua tahun. Secepatnya kami akan segera menikah."


Arasy yang sedang menikmati salad buah di jam istirahat begitu sesi pemotretan tahap pertamanya usai berdecak mendengar pernyataan Zeinn Ethan Maheswari yang disiarkan secara langsungel melalui media online tersebut berdecak.


Tidak mengerti tindakan sang kakak, sekaligus heran dengan Ethan yang mengambil keputusan tersebut.


"Mbak, jadi Pak Ethan bener-bener udah punya calon istri?" tanya seorang wanita dengan rambut pendek yang berada di belakang Arasy.


"Maybe," Arasy menyahut sekenanya. Justru membuat wanita di belakangnya histeris tidak terima. "Mbak, selama ini Pak Ethan, 'kan enggak pernah deket sama siapapun. Mustahil dong, kalo tiba-tiba ternyata dia sama Zoya ada hubungan spesial."


Arasy menoleh ke belakang dengan tatapan siap menerkam asisten yang merangkap menjadi fans setia kembarannya. "Mustahil dari hongkong! Itu dia bilangnya gitu. Gimana dong?"


"Enggak dipamerin ya bukan berarti nggak ada!"


Dini mengerucutkan bibir, rasanya sulit percaya jika saudara kembar majikannya diam-diam memiliki calon istri dari kalangan artis. Sedangkan jagat hiburan tau, Zeinn Ethan Maheseari tidak menyukai dunia entertaint sejak masih kecil.


Dan sangat anti berkaitan dengan hal itu kalau saja sang ayah tidak memaksanya untuk terlibat.


**


Sementara itu, di kediaman Zeinn Agyan Wijaya. Freya yang tengah menonton siaran langsung konferensi pers Ethan melalui layar televisi tidak kalah terkejut dari orang lain. Ia tidak tau apa yang sedang putranya rencanakan. Rasanya Freya tau dengan baik jika apa yang Ethan katakan pada media adalah sebuah kebohongan.


"Gyan, ini anak kamu cuma bohong, 'kan?" tanya Freya. Agyan sedang mengupas apel di meja yang tak jauh darinya.


"Bohong gimana? Dia udah bilang sendiri,"


Freya bangkit dari duduknya dan menghampiri Agyan. Menatap serba salah pada suaminya yang terlihat tenang-tenang saja sedangkan putranya dalam kesulitan.


"Ini perkaranya nggak mudah loh, Gyan. Ethan, tuh, udah ngomongin soal pernikahan. Aku gak mau sampe dia main-main sama Zoya."


"Sayang, Ethan, tuh, udah dewasa, wajar kalaupun dia serius ingin menikah."


"Tapai kamu tau pasti, dia sama Zoya gak ada hubungan apa-apa."


Agyan menghentikan gerakan tangannya, kemudian melipat tangan di dada dan menatap istrinya.


"Freya, kamu tau sendiri. Ethan orang yang tertutup. Kepribadiannya sangat berbanding terbalik dengan Arasy. Bisa saja, selama ini dia memang memiliki hubungan dengan Zoya Hardiswara tanpa memberi tau kita."


"Tapi, Gyan."

__ADS_1


"Kamu telpon Ethan, ajak dia makan malam sama kita."


Freya mengangguk, mengambil ponsel dan menelpon putranya meski tidak yakin Ethan akan mau menjawab telpon darinya.


**


"Calon suami istri?"


"Sudah pacaran selama dua tahun"


"DAN SEBENTAR LAGI AKAN MENIKAH!"


Zoya tertawa, sepenuhnya menetralisir perasaan kacaunya dengan apa yang sudah terjadi. Rasanya sangat sulit dipercaya. Sedangkan orang di hadapannya hanya duduk tenang sambil mengotak-atik komputernya.


"Pak Ethan bercanda, 'kan?"


"Tidak." menyahut spontan tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Zoya membulatkan matanya, lantas melangkah mendekat dan berdiri di samping kursi yang diduduki Ethan.


"Pak, ini masalah serius!"


"Saya tau dan saya sudah mengurusnya!"


Zoya menghela napas. "Kenapa Bapak gak diskusi dulu sama saya?" sepenuhnya Zoya sangat tidak setuju dengan keputusan Ethan.


Kali ini Ethan menatap Zoya, membuat Zoya spontan membeku kala mata elang Ethan bertabrakan dengan mata sayunya. Dalam seperkian detik, Zoya tersadar jika orang yang mengaku sebagai calon suaminya beberapa detik lalu ini sangatlah tampan.


"Seandainya saya berdiskusi dengan kamu apa kamu akan setuju dengan rencana saya?"


"Itu sebabnya saya tidak ingin berdisksusi dan membuang-buang waktu!"


Zoya kepanasasan, selain pernyataan Ethan pada konferensi pers tadi membuatnya panas dingin. Ternyata berbicara dengan Ethan juga mampu membuat emosinya meluap sampai ubun-ubun.


"Kalau begitu begini saja, kita klarifikasi lagi dan bilang kalau kita hanya pacaran, kemudian satu minggu lagi klarifikasi kita sudah putus."


"Saya sibuk!" menolak dengan telak.


"Pak, ini antara hidup dan mati saya!" Zoya memohon agar Ethan mau diajak bernegosiasi.


"Memangnya menikah sama saya bikin kamu meninggal?"


Kali ini Zoya benar-benar kehilangan kendali. Ia menghela napas dalam, membalikan kursi yang diduduki Ethan sampai menghadap padanya.


Mempersempit jarak di antara mereka dengan mata yang saling bertatapan dalam satu garis lurus.


Mendadak sumpah serapah yang akan Zoya lemparkan pada Ethan tadi hilang dalam seketika. Sedangkan tatapan Ethan sama seperti biasanya dan membuat perasaan Zoya risih, nyalinya ciut begitu saja.


Ethan menutar bola matanya kesal. Kenudian membuat kursi putarnya dalam posisi semula. Sedangkan Zoya sedang mengatur dirinya agar lebih rileks.


"Pak, saya mohon. Kita tidak mungkin akan menikah, 'kan?"

__ADS_1


Ethan menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard. Lantas menatap wanita yang memohon padanya.


"Kamh pikir saya mau menikah dengan kamu?"


"Ya kalau Bapak tidak mau seharusnya Bapak tidak perlu mengatakan hal itu pada media dan membuatnya menjadi rumit sekarang."


"Apa menurutmu ada cara lain?"


Zoya diam dengan kepala yang berpikir keras. Sedangkan Etgan melayangkan tatapan mengintinidasi padanya.


"Apa kamu pikir media akan menulis hal baik tentangmu jika saya mengatakan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kamu?"


"Apa media akan percaya jika saya bilang saya mabuk dan kamu membantu saya. DAN tidak ada yang terjadi di antara kita?"


"Apa media tidak akan menuduh hal macam-macam padamu?"


"Kalau saya bilang kita hanya berpacaran apa mereka akan memaklumi tindakan kita yang tidur dalam kamar hotel yang sama?"


"Mereka tau kita tidak menganut budaya barat. Kita tidak tinggal di negri gingseng atau negri tirai bambu yang meski hanya berpacaran tetapi bisa tinggal bersama."


"Ba–Pak, menonton drama?" bertanya dengan ragu. Tatapan Ethan menusuk dan membuatnya menunduk.


"Pikirkan apa yang tadi saya katakan!"


Zoya membeku, sepenuhnya apa yang dikatakan Ethan memanglah benar. Hal itu meruju padanya dan akan sangat merugikan jika Ethan memberikan pernyataan yang berbrda. Hanya saja, Zoya tidak percaya jika sampai Ethan akan benar-benar menikahinya.


Melihat Zoya yang sepertinya tidak akan buka suara lantas membuat Ethan mendesah. Mengambil sesuatu dari balik saku jasnya dan menyodorkannya di hadapan Zoya


Membuat wanita itu justru menutup mulut karena tak percaya. Zoya tidak bodoh untuk segera mengetahui benda apa yang berada di dalamnya.


"Randy mencarinya dengan buru-buru, saya tidak yakin apakah itu akan cocok di jari kamu atau tidak."


Dengan helaan napas yang pasrah Zoya mengambil kotak cincin tersebut. "Anggap saya melamar kamu hari ini."


Zoya lagi-lagi mengangguk dengan pasrah. meski dalam hidupnya ia tidaklah mengharapkan lamaran seperti ini.


"Keluarlah! Saya akan bekerja."


Beberapa detik berlalu, begitu menyadari Zoya masih berada di ruangannya. Ethan lantas mengangkat pandangan. "Ada apa?"


Menggelengkan kepala, Zoya berbalik. Melangkah keluar dengan gerutuan, bersamaan dengan ponsel Ethan yang berdering.


Meraih ponsel malas, Ethan menekan ikon hijau dan menenpelkan benda pipih itu di telinganya setelah membaca id penelpon.


"Iya, Bunda?"


"Bawa calon istri kamu makan malam di rumah kita."


"Bunda tidak ingin mendengar alasan."

__ADS_1


TBC


Vote sebanyak banyaknya nanti aku up sesering-seringnya wkwk❤❤ alovyu


__ADS_2