Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Rencana yang Gagal


__ADS_3

Zoya sudah menolak untuk diantarkan Ethan ke lokasi syuting, tapi pria itu tidak dapat ditolak dan tetap memaksa Zoya agar ikut dengan mobilnya. Jujur Zoya merasa enggan untuk menjalankan aktivitasnya hari ini, tapi ia juga tidak mungkin membatalkan jadwal syuting begitu saja sedangkan semua orang sedang menunggunya sekarang.


Selin sejak tadi sudah berkali-kali menanyakan keberadaan Zoya dengan mengirimkan pesan.


Terlebih Ethan juga tidak akan berangkat ke perusahaan jika Zoya tetap hanya terdiam.


Mobil yang dikemudikan Ethan berhenti di area parkir lokasi syuting. Zoya bersiap membuka seatbeltnya. "Selesai jam berapa? Biar nanti saya jemput." sahut Ethan menginterupsi wanita itu.


"Enggak usah. Aku pulang sama mobil Mbak Selin aja, hari ini dia juga pulang ke rumah kita." Zoya menyahut acuh, membuka pintu mobil.


"Zoya,"


Wanita itu memejamkan mata dan menoleh malas pada Ethan. "Kenapa?"


"Ponsel kamu!"


Zoya tersenyum hambar, menyambar ponselnya di dashboard mobil dan keluar dari sana tanpa berpamitan dengan suaminya. Ethan hanya menatap kepergian wanita itu, sampai ketika Zoya menghilang dari pandangannya. Ethan melajukan mobil meninggalkan tempat tersebut.


"Zoy, tumben terlambat. Nggak ada apapun yang terjadi, 'kan?" Selin yaang tampak khawatir segera mendekat pada Zoya yang baru saja tiba.


"Zoy, gimana, sih, sekali pun kamu senior dan istri dari Pak Ethan, seharusnya kamu tetep on time, kita udah lama nunggu kamu." sahut Sutradara, terlihat sedikit kesal. Zoya memijat pelipisnya. Memaklumi hal tersebut karena ia memang sangat terlambat. "Maaf, Pak."


"Sekarang kamu siap-siap!"


Zoya mengangguk sopan, kemudian mengikuti Adhel untuk memperbaiki riasannya. Ia mendesah, mengingat pagi ini yang terasa buruk baginya, memikirkan Ethan dan apa yang terjadi di antara mereka membuaynya sakit kepala.


"Zoy, kamu nggak apa-apa, 'kan?" Selin yang belum menerima jawaban apapun kembali bertanya.


"Enggak papa, Mbak."


"Terus kenapa kesiangan? Kamu berantem sama Pak Ethan?" tanyanya lagi karena Zoya tidak memberikan jawaban yang jelas padanya.


"Enggak juga."


"Kalau nggak enak badan mending kamu nggak perlu syuting, yah."


"Mbak nggak mau sampe kamu kenapa-napa nanti." Sekln tampak cemas. Tentu saja ia bersikap demikian, karena tidak biasanya ia mendapati Zoya seperti sekarang.


"Adhel, bisa tinggalin saya sama Zoya sebentar?"


"Bisa Mbak." Adhel berlalu, keluar dari salah satu ruangan yang disulap menjadi studio make up. Setelah Adhel pergi, Selin berdiri di hadapan Zoya yang tengah duduk pada kursi kayu.


"Kamu kalau ada masalah cerita sama Mbak. Kenapa, sih?"


"Akhir-akhir ini Mbak merasa kamu beda. Kamu marah sama Mbak, bilang apa salah Mbak, biar Mbak nggak bingung!" Selin berbicara panjang lebar. Membuat Zoya semakin merasa sakit kepala, terutama mengingat apa yang Selin dan Fahry lakukan padanya. Kemudian sekarang Selin bertanya apa masalahnya? Rasanya kepala Zoya ingin meledak saja sekarang.


"Enggak ada apa-apa, kok, Mbak."


"Zoy!"


"Mbak kenal kamu! Kamu nggak mungkin kaya gini kalau emang enggak ada masalah apa-apa." Selin menaikan nada bicaranya, ia kesal pada Zoya yang menjelma menjadi orang misterius dan terlihat begitu tertutup.


"Menurut Mbak Selin kenapa aku kaya gini?" Zoya balik bertanya dengan kesal.


"Harusnya Mbak Selin tau, apa yang udah Mbak Selin lakuin sampe aku bisa kaya gini!" Zoya juga menaikan nada bicaranya. Ia merasa frustrasi, terutama melihat Selin yang terus menerus bersikap seolah tidak tau apa-apa. Berpura-pura tidak ada yang terjadi dalam hidup Zoya.


"Mbak nggak ngerti sama apa yang kamu maksud." Selin menggelengkan kepalanya. Menolak membenarkan apa yang sesungguhnya ada di pikirannya jika barangkali Zoya mengetahui semuanya, mengetahui apa yang sudah ia lakukan.


"Mbak Zoya, sudah dipanggil Sutradara." kepala Adhel muncul dari balik pintu, Zoya hanya mengangguk. Kemudian mengatur deruan napasnya.


"Aku take dulu," pamit Zoya. Bangkit dan berlalu meninggalkan Selin. Sedangkan Selin terdiam, membeku di tempatnya. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi seandainya Zoya mengetahui semuanya. Fakta tentang ia dan Fahry yang membuatnya terjebak dengan Ethan, juga fakta mengenai siapa Fahry sebenarnya.


**


Kedatangan Ethan pagi ini hampir membuat orang seisi gedung agensi terheran-heran padanya. Bagaimana tidak, seorang CEO perfeksionis dan juga sangat disiplin waktu itu datang hampir pukul sepuluh pagi ke perusahaan.


Bahkan Rachel dibuat bertanya-tanya alasan mengapa Ethan terlambat datang, tidak seperti biasanya.


"Apa yang membuat kamu datang terlambat?" tanya Rachel, menghadang pria itu di pintu masuk ruangannya. Ethan mendesah, menatap Rachel yang juga sedang menatapnya penuh tanya. "Kamu memiliki banyak masalah?" tanyanya lagi, Ethan tampak tidak akan memberi jawaban apapun, Rachel tau itu. Ia hapal siapa putra dari Zeinn Agyan Geofata Wijaya itu.


"Tidak apa-apa, Mom. Momy tidak perlu khawatir."


Rachel menatap Ethan penuh selidik. Lantas menyingkir dari pintu dan mempersilakan Ethan untuk masuk. "Ethan masuk," pria itu berpamitan dan kemudian membuka pintu ruangannya. Di dalam sana sudah ada Randy yang sedang menunggu kedatangannya.


"Apa yang membuatmu terlambat datang?" segera menyambar Ethan dengan pertanyaan begitu sang bos duduk di kursi kebesarannya.


"Kenapa tidak kreatif sekali?" tanya Ethan yang membuat Randy mengerutkan kening tidak mengerti.


"Kenapa semua orang memberikan pertanyaan yang sama?" Ethan memperjelas, menghidupkan komputernya dan mulai berkutat di sana. Randy memperhatikan setelah sebelumnya berdecak atas apa yang tadi Ethan katakan.


Lama Ethan hanya terbengong menatap monitor, perasaan bersalah kembali menghampiri dirinya mengingat fakta jika ia sudah membuat Zoya menangis. Dan sudah mengungkapkan perasaannya dengan cara yang sangat tidak romantis.


"Randy," kemudian ia memanggil sang Skretaris yang masih berdiri di sana.


"Hmm." Randy yang sedari tadi memperhatikan Ethan lantas menyahut dengan cepat.


"Menurut kamu, bagaimana cara romantis untuk menyatakan perasaan terhadap perempuan?" tanya Ethan, matanya menerawang dan sedang berpikir.


Randy tersenyum, mengerti apa yang Ethan maksud. Ia tau semuanya sekarang, siapa Zoya dan bagaimana perasaan Ethan sesungguhnya pada wanita yang sudah berhasil diperistrinya itu.


"Kamu akan menyatakan cintamu pada Zoya?" Randy justru kepo dan memilih untuk bertanya.


Ethan menoleh, tanpa ragu sedikit pun ia menganggukkan kepala. Membuat tatapan Randy berbinar.


"Tapi aku sudah mengatakana jika aku mencintai Zoya." ungkap Ethan. Randy terdiam dengan penasaran.


"Di hadapan Zoya?" tanyanya yang segera dijawab anggukan oleh Ethan.


"Kapan?"


"Tadi pagi."


"Lalu bagaimana respond Zoya?" tiba-tiba Randy menjelma menjadi host dalam acara gosip.


Ethan tampak berpikir sebentar, kemudian menyahut. "Menangis."

__ADS_1


"Menangis?" Randy membulatkan matanya tidak percaya, kali ini mendapat decakan kesal dari Ethan yang memang sejak tadi merasa jika Randy bersikap sangat berlebihan.


Randy tersenyum kikuk, memilih tak lagi bertanya dan sedang berpikir alasan kenapa Zoya sampai menangis. Sedangkan Ethan diam membayangkan kejadian pagi tadi. Ia tidak mungkin bercerita pada Randy mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Jika Zoya menangis bukan karena unggkapan cinta darinya, melainkan karena paksaan Ethan yang sudah meminta haknya sebagai seorang suami.


"Jadi bagaimana?" tanya Ethan, kembali pada topik awal atas pertanyaannya pada Randy.


"Mm, makan malam romantis?" tawar Randy, Ethan menggelengkan kepala.


"Kenapa?" Randy bertanya setengah kesal.


"Sudah mainstream."


"Than, perempuan itu suka hal-hal romantis. Yang kamu anggap mainstream, bisa saja hal itu hal yang paling diinginkan perempuan." sahut logis Randy yang berhasil membuat Ethan mempertimbangkannya.


"Bagaimana kalau bulan madu?"


"Kalian juga belum bulan madu, 'kan?" Randy mengemukakan usul briliantnya. "Sepertinya tidak mungkin untuk hal itu. Aku nggak yakin Zoya akan setuju."


"Come on lah, Than. Zoya sedang dalam posisi belum mencintai kamu, jelas dia akan menolak."


"Tapi kamu juga nggak mau, 'kan kehilangan Zoya?"


Ethan dengan cepat mengangguk, apa yang sudah berada dalam genggamannya tidak boleh terlepas begitu saja. Ethan tidak bisa membiarkannya apalagi sampai harus kehilangan Zoya.


"Nah, kamu harus bisa bikin dia nyaman sama kamu. Caranya? Kalian harus banyak menghabiskan waktu bersama!" Randy menjentikan jarinya dengan bersemangat. Ethan tersenyum mendengarnya, merasa setuju pada apa yang Skretarisnya itu katakan.


"Tapi harus sabar, pelan-pelan. Perempuan nggak bisa dipaksa-paksa apalagi dikasarin." seketika senyum Ethan memudar begitu mengingat jika dirinya sudah melakukan hal itu.


"Jadi bagaimana? Dinner romantis atau bulan madu?" tanya Randy, begitu mendapat jawaban dari Ethan ia akan segera mengurus semuanya.


"Siapkan makan malam romantis, kamu atur semuanya. Kabari aku jika semua sudah selesai!"


Randy mengangguk sembari memberi hormat. Kemudian berlalu dari ruangan Ethan, sedangkan pria yang ditinggalkan itu hanya terdiam. Mempertimbangkan rencananya tersebut, juga memikirkan jawaban Zoya.


Ethan merasa takut wanita itu akan menolaknya.


**


"Zoy, kamu baca naskah nggak? Di sini adegannya bahagia, bukan sedih."


"Ada apa sama ekspresi kamu?" kali ini tingkat kesabaran sang sutradara benar-benar habis. Zoya tampak tidak fokus dan membuat semuanya kelelahan karena beberapa kali harus melakukan retake.


"Maaf Pak, sepertinya Zoya sedang tidak enak badan." sahut Selin, ia lantas berjalan menghampiri Zoya dan menggandeng wanita itu untuk menuju tenda istirahat.


Adhel segera menyodorkan minuman segar pada Zoya yang langsung diterima oleh wanita itu. "Kamu kalau gak enak badan enggak usah maksain, Zoy. Kamu keliatan pucat. Kita ke dokter, yah."


"Enggak papa, Mbak. Aku kayaknya istirahat di rumah aja."


"Biar Mbak antar pulang."


"Oh yah, Adhel bilang dia nggak bisa tinggal sama kita. Kamu tau sendiri, 'kan dia ngurus dua adiknya yang masih sekolah." sahut Selin, mengingat pembicaraannya dengan Adhel saat Zoya sedang syuting tadi.


"Aku juga mau pulang sendiri aja." sambungnya mengingat tawaran Selin untuk mengantarkannya pulang.


"Kamu yakin?"


Zoya mengangguk. "Yasudah, biar Mbak yang bilang ke sutradara sama yang lain kalau kamu nggak enak badan."


"Kamu istirahat."


"Iya, Mbak. Makasih, maaf ngerepotin."


"Nggak papa."


Zoya berlalu, Selin hanya menatap kepergian wanita itu dengan perasaan iba. Ia lantas berjalan ke arah sutradara dan para kru untuk menyampiakan jika Zoya sakit dan tidak bisa melanjutkan syuting untuk hari ini.


Sedangkan Zoya berdiri di pinggir jalan menunggu taksi, sampai sebuah mobil putih menepi di hadapannya. Zoya tau siapa pengemudi mobil. Membuat Zoya mendesah saat sang pengemudi keluar dan menghampirinya.


"Aku antar kamu pulang."


"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri." tolak Zoya sambil mengalihkan tatapannya.


"Zoy, kamu pucet. Kalau seandainya kamu pingsan, gimana?"


"Aku janji cuma nganterin kamu pulang."


"Tapi aku nggak bisa Fahry, mending kamu pergi sebelum ada orang yang liat kita."


"Justru itu, lebih baik kamu masuk ke mobil aku sebelum ada orang lain yang liat kita berdua di sini."


Zoya tidak punya pilihan, ia tidak ingin memperpanjang masalah sehingga akhirnya memilih untuk masuk ke mobil Fahry. Fahry tersenyum, sedikit memutari mobil kemudian duduk di bagian kemudi.


Tak lama ia melajukan mobilnya di bawah sinar sore langit ibu kota, wanita di sampingnya hanya memalingkan wajah. Fahry tau wanita itu masih mencintainya, sama seperti Fahry yang masih penasaran akan kabar Zoya setiap hari.


Dan Fahry juga tau jika wanita itu kecewa padanya.


"Zoya,"


"Kamu masih mencintai aku, 'kan?"


"Aku tau itu." Fahry menoleh pada Zoya yang sama sekali tidak memperdulikannya.


"Aku masih belum bisa lupain kamu!"


"Diem kamu Fahry!" Zoya tiba-tiba saja membentak dan membuat Fahry sedikit terkejut, hanya dalam waktu beberapa detik mata Zoya berkaca-kaca. Kenapa setiap orang menyakiti perasaannya?


Selin, Fahry dan Ethan. Mereka semua menyakiti Zoya.


"Kamu punya hubungan sama manejer aku, 'kan?" tuduh Zoya yang membuat Fahry terheran di tempatnya. Ia memelankan laju mobilnya.


"Kamu ada main di belakang aku, 'kan?"


"Itu sebabnya kamu dengan mudah biarin aku nikah sama Ethan, iya, 'kan?"

__ADS_1


Tak lama, Fahry menepikan mobilnya. Ingin mengetahui jelas apa yang sebenarnya Zoya maksud. Memiliki hunungan dengan Selin, manejer wanita itu? Hubungan yang seperti apa? Fahry sama sekali tidak mengerti.


"Zoya, aku sama sekali nggak ngerti. Apa yang kamu maksud?"


"Aku sama Selin nggak ada hubungan apa-apa, Zoy." Fahry meyakinkan meski tidak ada artinya. Tapi tetap saja Fahry harus bisa membuat Zoya percaya. Setidaknya agar wanita itu tidak berpikiran macam-macam padanya.


Meski hati kecil Fahry tetap merasa percuma. Mengingat apa yang sebenarnya ia sembunyikan dari Zoya selama ini.


"Zoya,"


"Aku nggak akan percaya sama apapun yang kamu bilang!" Zoya sudah mengancam.


"Oke, terserah. Tapi yang pasti, aku sama Selin nggak ada hubungan apa-apa Zoya."


"Mbak Selin juga pasti akan kasih jawaban yang sama."


"Karena kenyataannya kaya gitu, Zoya."


"Karena kalian udah kerja sama!"


Fahry memijit pelipis. Ia tidak mengerti mengapa Zoya bisa sampai berpikir jika ia dengan Selin memiliki hubungan.


"Jangan pernah temuin aku lagi!"


Zoya membuka seatbeltnya dengan kasar lantas turun dari mobil Fahry dan menghentikan taksi tanpa bisa pria itu cegah.


Fahry mengacak rambutnya frustrasi. Mungkun jika sejak awal ia tidak jatuh cinta pada Zoya, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.


**


Beberapa kali Ethan menghubungi ponsel Zoya, tapi ponsel wanita itu bernada tidak aktif. Sebelumnya Ethan juga sudah mengirimkan pesan lokasi yang harus Zoya datangi, tapi wanita itu tak kunjung membaca pesan darinya.


Dan sekarang, Ethan tengah menunggu Randy yang menjemput Zoya ke rumah, karena Selin bilang wanita itu pulang lebih awal dari lokasi syuting.


Ethan menggenggam sebuah kotak persegi di tangannya, hadiah yang sengaja ia beli untuk Zoya. Ethan melihat keadaan sekitar pantai yang senyap. Ia menundukan kepala. merasakan angin yang menusuk bahkan sampai ke tulang.


Randy memilihkan dermaga pantai untuk menjadi lokasi makan malam romantis antara ia dengan Zoya. Hidangan yang sudah tersaji di meja makan yang di dekor dengan sangat indah membuat Ethan tersenyum, tidak sabar menanti kehadiran Zoya.


Tirai putih yang di pasang di sekitar dermaga sebagai dekorasi semakin memperindah tempat tersebut, dengan taburan mawar merah sebagai jalan menuju meja makan, juga pengaplikasian lampu kecil beberapa warna sepanjang jalan menuju dermaga. Randy sudah mempersiapkannya dengan sangat baik.


Di kursi lain terdapat buket bunga mahal yang juga sudah Ethan siapkan. Ia sendirilah yang memilihnya. Ethan melihat arloji di pergelangan tangannya. Tepat jam sembilan malam.


Ethan bangkit saat Randy tiba. "Di mana Zoya?" tanyanya saat melihat sang Skretaris yang hanya datang sendiri.


"Zoya menolak datang kemari." terlihat raut wajah Randy yang tidak tega menyampiaknnya. Tapi ia harus jujur pada Ethan agar pria itu tidak perlu menunggu Zoya lebih lama lagi.


Randy sudah mencoba membujuk Zoya tapi wanita itu bersikeras menolak. Bahkan Selin sang manejer juga tidak bisa membujuknya.


Randy ragu-ragu menatap Ethan yang tampak kecewa. Ia menatap apa yang sudah dipersiapkannya sejak pukul sebelas siang. Ternyata semua berakhir sia-sia.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Randy melihat Ethan yang hanya terdiam.


"Zoya benar-benar menolak untuk datang?" tanya Ethan untuk memastikan jika tadi ia hanya salah dengar.


"Benar. Tadi siang ...,"


"Ada apa?" Ethan penasaran saat Randy menjeda kalimatnya.


"Zoya sempat bertemu seorang pria dan masuk ke mobilnya."


"Pria?" Ethan mengerutkan kening. Randy mengangguk.


Ethan mengepalkan tangan. Ia terlihat menghela napas dan berlalu dari sana. "Bereskan itu semua!" perintahnya, bersamaan dengan langkah kakinya yang meninggalkan dermaga, langit malam dipenuhi kembang api yang tampak memukau dengan banyak warna.


Bahkan Ethan sudah mempersiapkannya. Ia pergi dengan langkah kaki yang penuh kekecewaan. Ethan sudah dapat menebak siapa pria yang bertemu dengan Zoya hari ini.


Fahry.


Sementara itu, di rumah mewah mereka tepat di kamar utama. Zoya tampak tidak bisa memejamkan mata, hampir pukul dua dini hari tapi Ethan belum kunjung pulang.


Membuat Zoya bimbang dan merasa bersalah karena sudah menolak perintah pria iru untuk datang ke lokasi.yang sudah Ethan kirim melalui chat. Ia juga bahkan menolak jemputan Randy saat Skretaris suaminya itu datang.


Zoya meraih ponselnya di atas nakas, ia menyalakan ponsel dan melihat beberapa pesan masuk yang Ethan kirimkan. Juga puluhan panggilan tidak terjawab dari pria itu.


Pak Boss


Kamu sudah pulang dari lokasi syuting?


^^^19.30^^^


Pak Boss


Saya sudah menunggu kamu. Kita makan malam di luar.


^^^19.45^^^


Pak Boss


Kamu tidak akan datang?


^^^20.30^^^


Pak Boss


Kamu tidak akan datang sekalipun nanti saya akan marah?


^^^21.15^^^


Pak Boss


Kamu tidak bisa memperlakukan saya seperti ini, Zoya.


^^^23.45^^^


TBC

__ADS_1


__ADS_2