
Ini adalah hari ketiga di mana Zoya masih menolak untuk bertemu dengan Ethan. Membuat Ethan kian frustrasi dan ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang disarankan oleh Randy.
**
"Gimana perasaan kamu?" tanya Selin, wanita di hadapannya hanya diam, tampak berpikir kemudian menganggukan kepalanya dan menghela napas.
"Terasa jauh lebih baik." sahut Zoya. Menenggak air putihnya sedikit. Seperti Anggun yang memberi kesempatan pada Fahry untuk memperbaiki kesalahannya, Zoya pun melakukan hal yang sama untuk Selin. Selin juga pantas dimaafkan dan mendapat kesempatan.
Kemarin, Zoya baru saja menggelar acara jumpa fans dengan para fans yang menyambutnya kembali setelah beberapa hari tidak menunjukan diri di hadapan media. Zoya juga meminta maaf atas masalah yang terjadi dan juga dirinya yang tidak ikut dalam acara konferensi pers yang digelar AE RCH.
"Pak Ethan gimana?" tanya Selin lagi, menyendokkan sereal ke mulutnya. Keduanya memang sedang berada di kedai sereal milik Adhel, wanita itu tampak sibuk melayani para pelanggan sedangkan Zoya dengan Selin berada di dalam, jauh dari mereka dan para pelanggan juga tidak mengetahui keberadaan Zoya.
Akan terjadi keributan jika mereka sampai tahu.
"Kamu masih ikutin saran Arasy?" sambungnya. Lagi, Zoya menenggak air putihnya, ia memang tidak memesan apa pun karena tidak berselera. Kedatangannya hanya untuk mengunjungi Adhel yang memang memintanya untuk datang.
"Dia masih terus-terusin hubungin aku, tapi kata Arasy tunggu sampe besok." Zoya menyahut santai, Selin mengangguk anggukan kepala.
"Emang kamu gak kangen?" tanyanya lagi. Zoya diam sebentar sambil berpikir, kemudian menyahut. "Biasa aja,"
"Yakin?"
"Cuma sedikit, sih." imbuhnya disusul dengan tawa.
"Oh, yah, Mbak mau tanya lagi."
"Tanya apa?"
"Kemarin kamu ngomongin apa aja sama Fahry dan Ibu Anggun?"
Zoya lagi-lagi diam. Mengingat hari kemarin sepulang acara jumpa fans, Anggun dan Fahry menunggu untuk berbicara dengannya. Zoya menurut dan mereka mampir di sebuah restoran, restoran yang Zoya tau adalah milik Anggun.
Mereka memasuki sebuah ruangan khusus manejer. Zoya duduk berhadapan dengan dua orang itu.
"Maaf ya, Zoya, saya jadi mengganggu padahal kamu pasti lelah sekali." basa-basi Anggun memulai pembicaraan.
"Enggak papa, Mbak."
"Mm," Anggun tampak bingung untuk memulainya. Ia menoleh sebentar pada Fahry sedangkan Fahry hanya menunduk.
"Zoya, saya mengajak kamu bicara adalah untuk meminta maaf."
"Mbak Anggun tidak salah apa-apa. Justru saya yang harus minta maaf." Zoya menyela dengan cepat, senyumnya terukir dengan manis.
"Saya mewakili Fahry."
"Fahry ada di sini. Kenapa bukan Fahry saja yang meminta maaf secara langsung?" sahut Zoya santai, yang sesungguhnya menyindir pria itu. Jujur Zoya masih sangat marah dan kesal, jika menuruti amarahnya maka ia tidak akan mau duduk satu ruangan dengan Fahry. Berbagi udara dengan pria itu dalam ruangan yang sama.
Anggun memaksakan senyumnya. Ia mengerti bagaimana perasaan Zoya.
"Saya tau jika Mbak Anggun jauh lebih terluka. Tapi sebagai seorang wanita, Mbak Anggun juga pasti mengerti bagaimana perasaan saya." kini giliran Zoya yang menghela napas.
"Saya sudah maafin Fahry, dan masalah ini juga sudah selesai. Kita sudah punya kehidupan masing-masing, akan lebih baik jika kita berdamai." Zoya bangkit dari duduk bersamaan dengan seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan untuk mengantarkan minuman. Membuat Zoya diam sebentar sampai wanita itu keluar meninggalkan mereka bertiga setelah menyuguhkan tiga gelas minuman di atas meja, Zoya melangkah ke arah pintu keluar.
"Zoya." Fahry bangkit. Zoya membalikan tubuhnya dan menatap pria itu. Menatap Fahry yang tak kunjung mengeluarkan sepatah kata pun, Zoya menunggu pria itu untuk berbicara.
"Maafin aku."
"Kamu pantas marah. Tapi aku mohon maafin aku, aku ingin pergi tanpa rasa bersalah." sahut Fahry dengan raut wajah penuh sesal. Menatap Zoya ragu-ragu.
Zoya tersenyum. "Aku udah maafin kamu, semua orang pernah melakukan kesalahan,"
Fahry menatap Zoya meminta kepastian, Zoya mengangguk meyakinkan. Anggun juga bangkit dari duduknya dan tersenyum pada Zoya.
"Terimakasih Zoya."
"Aku yang harus berterimakasih sama kalian."
Fahry tersenyum lega, menggandeng Anggun dengan bahagia, Zoya menatap keduanya ikut berbahagia.
"Kami akan kembali ke Surabaya dan memulai lagi semuanya di sana." sahut Anggun yang membuat Zoya mengerti apa arti pergi yang dimaksud Fahry tadi.
"Semoga kalian selalu diliputi kebahagiaan." ungkap Zoya, tulus. Setelahnya ia membuka pintu dan benar-benar keluar dari sana meninggalkan dua orang itu dengan perasaan lega.
"Jadi Fahry sama keluarganya mau pindah?" tanya Selin setelah mendengarkan semua cerita Zoya mengenai pertemuannya dengan Fahry dan Anggun kemarin.
"Katanya, sih, gitu. Bentar lagi agensi juga pasti konfirmasi."
"Jadi Ibu Anggun memutuskan pensiun?"
Zoya mengangguk, Selin juga mengangguk anggukan kepalanya. Menurut Zoya, Anggun sudah mengambil keputusan besar dalam kariernya. Di mana ia rela meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidupnya demi dua orang yang dicintai, demi Anye dengan Fahry.
__ADS_1
Ponsel di atas meja yang bergetar membuat Zoya melihat ponselnyq, kemudian mengambil benda canggih tersebut dan melihat satu pesan masuk dari Ethan.
...Pak Boss...
...Saya sakit...
Zoya mengernyit, antara khawatir dan berpikir jika Ethan hanya berbohong. Sampai Zoya tampak dibuat terkejut saat Ethan mengiriminya foto. "39 derajat celcius." decak Zoya melihat foto termometer yang dikirim suaminya.
"Zoy." Selin menegur.
"Kayaknya aku harus duluan, Mbak." bangkit dari duduk bersamaan dengan Adhel yang baru saja akan bergabung, ia membuka dompet dan mengeluarkan uang ratusan ribu.
"Buat mereka." sahutnya yang jelas ditujukan pada Adhel, Adhel terbengong saat Zoya beranjak dengan cepat meninggalkan mereka, melewati para pelanggannya yang juga terbengong melihat Zoya.
"Itu Zoya Hardiswara?"
"Iya "
"Itu Zoya, 'kan?"
"Dari tadi dia di sini?"
"Hey semuanya ...," Adhel mengalihkan perhatian mereka dari Zoya yang sudah memasuki mobil. Para pelanggannya menoleh dengan wajah cengo.
"Hari ini aku traktir!" sahur Adhel, mengibaskan uang ke wajahnya yang membuat mereka berteriak heboh, Selin menggeleng pelan dengan senyuman. Diam-diam mengagumi kecerdasan Zoya agar wanita itu tidak jadi pusat perhatian.
**
Zoya segera turun dari mobilnya begitu sampai di pelataran rumah, ia berjalan ke arah kamar dengan langkah cepat. Cemas dengan keadaan suaminya, dan Zoya semakin cemas lagi saat ia memasuki kanar dan melihat sang suami yang sedang berbaring.
"Kamu beneran sakit?" tanya Zoya, duduk begitu saja di tepi tempat tidur. Menatap Ethan yang tampak dibungkus dengan selimut, ia juga memakai pakaian tebal.
"Zoya."
"Kamu beneran sakit?" tanya Zoya lagi. Ethan memutar bola matanya dengan raut wajah tidak berdaya.
"Kamu pikir saya pura-pura?"
"Kalau gitu kita ke Rumah Sakit."
Ethan menggelengkan kepala. "Kalau gitu aku panggilin Dokter." lagi, Ethan menggeleng dan membuat Zoya bingung.
"Ya terus aku harus ngapain?"
Ethan mengangguk, membuat Zoya kian cemas dan merasa bersalah karena sudah menuruti rencana tidak jelas Arasy agar mengabaikan Ethan selama tiga hari.
"Harusnya aku gak nurutin Arasy buat hindarin kamu." sahut Zoya, penuh sesal. Ethan menautkan alis, diam-diam menggeram kesal pada saudara kembarnya.
"Aku cek suhu tubuh kamu–" hendak menempelkan punggung tangan di dahi Ethan tapi pria itu menahan tangannya, membuat Zoya mengernyit heran sekaligus tidak mengerti.
"Panasnya udah mendingan." sahut Ethan. Zoya terdiam, menatap Ethan dengan kasihan, tatapan pria itu tamapak sendu dan memprihatinkan.
"Ya terus aku harus apa?" tanya Zoya, semakin bingung. Apalagi Ethan menolak ke rumah sakit dan juga menolak dipanggilkan dokter.
"Saya–saya mau makan bubur."
Zoya mengernyit, sepertinya akan sedikit repot. Sedangkan Ethan berpikir, jika biasanya orang sakit akan diberi makan bubur.
"Oke, aku ke dapur."
"Ambilin kompresan sama obat." sahut Zoya. Beranjak dari duduk dan meletakan tas yang dibawanya di atas tempat tidur setelah mengeluarkan ponsel.
"Jangan lama-lama." pesan Ethan. Zoya mengangguk dengan tersenyum, kemudian melangkah menuju pintu keluar dan berlalu.
Ethan berdesis kesal. "Arasy!"
Setelahnya Ethan mendesah. keluar dari selimut yang membuatnya kenapasan dan mengambil kipas angin portable di dalam laci, mengarahkan benda tersebut ke wajahnya, ia merasa sangat gerah.
Kalau bukan karena ingin bertemu Zoya, Ethan tidak akan mau menuruti ide gila Randy untuk berpura-pura sakit. Bola mata Ethan membulat saat melihat gelas berisi air di atas meja rias, ia buru buru beranjak dan mengambil gelas berisi air panas tersebut, membawanya ke dalam kamar mandi, kalau sampai Zoya melihat, ia akan curiga jika Ethan mencelupkan termometernya ke sana.
Zoya membuka lemari pendingin dan melihat beberapa botol obat di sana. Ponsel yang berdering membuatnya menutup pintu lemari pendingin sebentar.
Zoya segera menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinga sembari mencari handuk kecil untuk mengompres Ethan nanti.
"Syuting kamu udah beres?" tanya Zoya pada sang adik ipar.
"Iya, ini lagi di basecamp. Istirahat."
"Kamu di mana?" Arasy bertanya kemudian.
"Di rumah." Zoya menyahut seperlunya.
__ADS_1
"Rumah?" Arasy memastikan.
"Iya."
"Kan aku udah bilang jangan ketemu Ethan dulu." Arasy peka dengan rumah yang dimaksud oleh Zoya.
"Ethan sakit. Makannya aku buru-buru ke sini, kasian. Aku 'kan istrinya." sahut Zoya, mengapit ponsel diantara telinga dan bahunya, ia sedang menyiapkan air kompresan.
"Ethan sakit?"
"Hmm."
"Sakit beneran?" lagi-lagi Arasy memastikan.
"Dia bilangnya gitu." Zoya menyahut polos, ia mendengar Arasy mendesah di ujung sana.
"Kamu dikerjain, Zoy."
"Hah?" heran Zoya, meletakan mangkuk besar berisi air hangat dan memegang ponselnya.
"Ethan sekarang lagi ngapain?"
"Dia mau yang macem-macem atau gimana gituh?"
"Tadi dia minta dibuatin bubur, dan sekarang lagi tiduran dibawah selimut, pake baju tebel, mukanya juga agak pucat, suhu tubuhnya juga tinggi."
"Kamu udah cek?"
Zoya diam. Ia menggelengkan kepala mengingat jika Ethan menolak saat Zoya akan melakukannya. Sekarang Zoya mengerti kenapa Ethan mencegahnya.
"Belum, aku baru mau ngompres dia."
"Kalau lagi demam, dia shirtles, gak bakal betah pake baju tebel. Dia juga gak suka dikompres dan nolak makan bubur."
Zoya mendesah, memutus sambungan secara sepihak dan membawa apa yang sudah ia siapkan untuk Ethan dengan wajah kesal. Sedangkan di ujung sana, Arasy menatap layar ponsel saat sang kakak ipar memutus sambungan.
Arasy tersenyum jahil. "Rasain loe Than!"
**
Zoya menghela napas sebelum masuk ke kamar mereka. Mengukir senyum dan melangkah menghampiri Ethan yang masih terbaring di sana.
"Tadinya aku mau bikinin bubur, tapi kata Arasy kamu gak suka makan bubur kalau lagi sakit." sahut Zoya, meletakan nampan berisi mangkuk air hangat dengan handuk dan juga obat.
Ethan hanya menoleh sebentar. Zoya menatapnya, membuat pria itu akhirnya salah tingkah. "Kamu gak kepanasan?" tanya Zoya dengan tatapan mendadak horor. Ethan tampak tidak mengerti.
"Aku periksa suhu tubuh kamu."
"Zoy–" Ethan panik. Zoya abai, membuka laci dan mengambil termometer dari sana.
"Buka mulut kamu!" perintahnya.
"Zoy–"
Zoya memasukan ujung sensor ke bawah lidah Ethan, spontan membuat pria itu mengatupkan bibir setelahnya. Dengan mudah rencananya terbongkat begitu saja, lagi-lagi Arasy yang membuat ulah.
Begitu sensor berbunyi, Ethan membuka mulut dengan pasrah, Zoya mengambil benda tersebut dan melihar hasilnya. Ia mendesah.
"Tega ya kamu bohongin aku!" kesal Zoya. Hendak beranjak tapi Ethan memeluk pingganya, menahan Zoya dan membuat wanita itu tak bisa kemana-mana.
"Saya gak ada cara lain buat bisa ketemu sama kamu."
"Saya merindukan kamu."
"Maaf."
Zoya memutar bola mata, memilih mengabaikan pria itu. "Zoya."
"Hmm." menyahut dengan nada masih kesal. Ethan bangkit, ia sudah merasa sangat kepanasan. Membuka sweater yang dikenakannya, Zoya menoleh. Wanita itu terpekik saat melihat jika ternyata Ethan tak memakai kaos apa pun lagi. Ethan tersenyum melihat wanita itu yang memalingkan wajah, kemudian menyingkirkan sweaternya ke sembarang arah dan menggapai tangan Zoya.
"Kamu tau, saya melakukan segala cara untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, agar saya dapat bersama dengan kamu." sahutnya.
"Tapi saat masalah itu sudah selesai justru kamu malah menolak untuk bertemu dengan saya." sambungnya dengan sendu. Tapi Zoya hanya menatapnya dengan perasaan masih kesal. Padahal ia sudah sangat cemas dan buru-buru tadi.
Ethan tersenyum, membalikan bahu Zoya dan meraih tubuh wanita itu ke dalam dekapannya dengan senyum yang kian merekah saat Zoya tak menolak sentuhannya.
Zoya membalas pelukan sang suami, bagaimanapun juga ia sama seperti Ethan, merindukan kebersamaan mereka.
"Saya merindukan kamu."
"Jangan harap dapet jatah malam ini!" ancam Zoya yang masih merasa kesal.
__ADS_1
TBC
Jangan nagih up lagi atau bilang ini sedikit, yah guys. Ini tembus 1900 word lebih, lho. Hehe❤