Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Jangan Membuka Peluang


__ADS_3

Ethan berjalan dengan santai menyusuri lantai basemant sambil menenteng kunci mobil di tangannya. Wajahnya tampak terus mengukir senyum tipulis, membayangkan sang istri dan tidak sabar untuk segera bertrmu dengan Zoya di rumah.


"Mampir di mana, yah?" pria itu bertanya pada dirinya sendiri, tempat mana yang akan ia kunjungi dan apa yang akan dibelinya sebagai oleh-oleh untuk sang istri.


"Aku menunggumu untuk menikahiku. Tetapi kamu malah menikahi orang lain. Ketika kamu butuh orang lain untuk jadi yang kedua. Kenapa bukan aku yang dijadikan pilihan?"


"Kenapa kamu tidak mencari aku Ethan?"


Spontan Ethan menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping di mana seorang wanita dengan outfit serba hitam tengah bersandar pada salah satu pilar basemant tepat di sampingnya dengan tangan tersilang di dada.


"Alexa," lirih Ethan, sedikit terkejut melihat wanita itu. Alexa melangkah mendekati pria itu dan berdiri di hadapannya. "Ethan, Ethan." Alexa justru berdecak dengan menggelengkan kepalanya, kemudian tatapan matanya mengarah pada Ethan dengan sorot meremehkan.


"Aku mendengar pembicaraanmu dan Momy pagi tadi." beritahu wanita itu.


"Kenapa kamu belum pulang?" Ethan justru melemparkan pertanyaan pada wanita itu tanpa perduli dengan apa yang dikatakan Alexa sebelumnya. Ia juga tampak tak terkejut sama sekali atas apa yang Alexa sampaikan.


"Kenapa kamu harus menikahi wanita lain?" tanya Alexa masih berusaha mengulik pria itu.


"Kenapa kamu belum pulang?" Ethan masih dengan pertanyaannya yang sama dan membuat Alexa kesal tampaknya.


"Aku baru mau pulang." Alexa menyahut dengan nada yang terdengar jengkel. Siang tadi ia ingin bertemu dan berbicara dengan Ethan namun pria itu disibukan oleh pekerjaannya yang banyak sehingga Alexa memutuskan untuk menunggu waktu senggang Ethan bahkan menunggu pria itu sampai malam ketika tahu pria itu lembur seorang diri. Randy pulang lebih dulu untuk istrinya meninggalkan pria itu sendiri di ruang kerjanya.


Alexa yang menunggu kepulangan Ethan di depan ruang rawat pria itu memerhatikan ruangan Ethan, hingga saat ancang-ancang Ethan akan pulang, Alexa lebih dulu berlalu dan menunggu pria itu di basemant gedung.


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" cegah Alexa melihat reaksi Ethan yang tampak tak akan meladeninya. Dan hal itu memang akan Ethan lakukan. Ethan tak ingin melibatkan orang lain lagi dalam hubungan rumah tangganya sehingga ia tidak perlu meladeni Alexa.


"Aku tahu apa yang terjadi dengan kamu dan Zoya, juga asisten rumah tangga kalian." wanita itu kembali buka suara guna memancing Ethan.


Ethan mendesah pasrah. "Kalau begitu kamu cukup tahu, jangan melakukan apapun."


"Ethan–"


"Apalagi berbuat kekacauan." sambung pria itu seraya menepuk pundak Alexa dan tentu saja tindakannya tersebut membuat wanita itu kesal bukan main. Ia tidak suka sikap Ethan yang kerap kali memperlakukannya seolah ia adalah gadis kecil di mata pria itu. Selisih usia keduanya hanya satu tahun dan Alexa tak ingin jadi berbeda hanya karena satu tahun lebih muda dari pria itu.

__ADS_1


"Kamu pikir kamu dan rahasia yang kalian sembunyikan akan tetap aman?" Alexa mengecam dengan alis bertahut. "Semua akan aman jika kita tetap diam." Ethan menyahut telak, dengan jelas ia terlihat menahan amarahnya di hadapan wanita berambut pirang itu.


"Aku hanya tidak mengerti Ethan, kenapa juga kamu melakukan hal sulit seperti ini. Kamu memiliki dua istri?" Alexa sempat terkekeh hingga membuat kalimatnya terjeda, sehingga ia kemudian melanjutkan. "Kalau istrimu tidak bisa memberikan kalian anak seharusnya kamu ceraikan saja dia!"


Kalo ini Ethan mengepalkan tangannya kuat-kuat, bahkan buku-buku di tangannya tampak terlihat. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya.


"Jaga bicaramu Alexa, aku sudah cukup sabar." sahut Ethan dengan nada bicara yang terdengar bergetar karena kemarahan yang ia tahan. "Jangan mengatakan apapun tentang Zoya. Jangan ikut campur urusan kami dan tetaplah diam!" sambungnya, lantas mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


Setelah beberapa saat, ia kembali menatap Zoya dan mantab buka suara. "Kalau kamu pulang ke Indonesia hanya untuk membuat kekacauan, lebih baik kamu kembali ke Amerika sana."


Alexa memdengkus kesal mendengar apa yang dikatakan pria itu. "Kamu bercanda?"


"Jangan mengusikku!" Ethan menyahut penuh nada ancaman.


Setelah mengatur napas dan mengendalikan amarahnya, Ethan segera melangkah menuju mobilnya meninggalkan Alexa. Alexa mendesah, ia hanya menatap kepergian Ethan yang mengabaikannya. Ia tahu apa yang dikatakannya tadi memang keterlaluan, mengingat betapa Ethan sangat mencintai Zoya Hardiswara.


Lagi. Alexa mendesah kasar, ia mengguyur rambutnya ke belakang dengan kasar. Bisa bisanya Ethan berpikir jika kedatangannya adalah untuk membuat kekacauan. Momy-nya ada di sini, wajar jika ia pulang. Ia juga memulai karier keartisannya di sini, wajar jika ia rindu dengan tanah yang sekarang ia pijak.


Jika kedatangannya bertepatan dengan masalah dan rahasia yang Ethan punya, maka semua acalah takdir Tuhan dan Ethan tidak bisa menyalahkannya.


***


Tidak ada Naina yang membukakan pintu, dan tidak ada Zoya yang menyambutnya dengan pelukan hangat seperti biasa saat ia pulang bekerja.


"Zoya," ia memanggil wanita itu dan memeriksa dapur. Tapi keadaan dapur begitu sepi bagai tak berpenghuni.


"Zoya." Ethan memanggil lagi wanita itu seraya menapaki satu persatu anak tangga menuju kamar. Barangkali Zoya lelah menunggunya di lantai bawah dan memutuskan untuk kembali ke kamar.


Senyum di bibir Ethan kian lebar, mempersiapkan diri untuk bertemu sang pujaan. Hingga binar bahagia sirna perlahan di wajahnya saat ternyata Zoya tidak berada di dalam kamar.


Ethan mulai tidak tenang, ia menaruh plastik berisi dua kotak martabak spesial di atas tempat tidur lantas memeriksa kamar mandi. Dan Zoya benar-benar tidak ada di sana.


"Kemana dia?!" Ethan bertanya pada dirinya Sendiri. Jika wanita itu ada pekerjaan dan akan pulang larut malam maka wanita itu pasti menghubunginya agar Ethan tidak merasa khawatir.

__ADS_1


Namun eanita itu sama sekali tidak menghubunginya untuk perihal pekerjaan. Terlebih, terklhir kali ia berbicara dengan Zoya sore tadi, wanita itu menanyakan kapan kepulangannya dan akan menunggunya di lantai bawah


Ethan mendesah, memikirkan baik-baik di mana posisi keberadaan Zoya hingga akhirnya ia keluar dari kamar dan berjalan cepat menuju ujung lorong sampai ia tiba di depan sebuah pintu perpustakaannya.


Ethan memasukan password dan segera masuk tepat saat Zoya baru saja keluar dari ruang rahasia. Perasaan Ethan terasa begitu lega melihat wanita itu, spontan ia menarik bahu Zoya dan meraih bibir wanita itu penuh kerinduan dan luapan bahagia.


Sementata tubuh Zoya memaku mendapati kedatangan pria itu, sama seperti Ethan yang memaku saat tiba-tiba saja pintu rahasianya terbuka dan menampilkan Naina yang keluar dari sana.


Dengan perlahan, Ethan mengakhiri apa yang dilakukannya dengan Zoya. Tampaknya Naina sangat terkejut melihat kehadirannya, terlebih saat melihat pemandangan tadi, suasana mendadak awkward, tapi Zoya terlihat khawatir karena sudah tertangkap basah oleh Ethan sudah membawa Naina masuk ke dalam ruang rahasianya pria itu.


Raut wajah Ethan juga memang tampak menunjukan ketidaksukaan, Naina dapat menebak sehingga membuat perasaan gadis itu tidak enak melihat Ethan yang tampak tidak suka mendapati dia tahu mengenai ruang rahasia tersebut dan berada di sana dengan Zoya.


"Euu, kamu kapan pulang?" tanya Zoya, memulai topik untuk mencairkan suasana yang sedingin kutub di antara mereka.


"Barusan." Ethan menyahut singkat bagai menunjukan kemarahannya dan membuat suasana kembali canggung. Zoya hanya diam setelahnya, tubuhnya mematung, begitu juga dengan Naina. Ketiganya hanya saling terdiam di dalam ruangan itu.


***


"Kenapa kamu tidak bilang dulu sama saya?"


"Kenapa aku harus bilang, sih?"


"Aku kira nggak masalah, lagian itu Naina. Istri kamu!" sahut Zoya dengan nada kesal saat Ethan menegurnya karena ia sudah membawa Naina masuk ke dalam ruang rahasia milik mereka berdua.


Ethan mendesah, mengusap rambutnya gusar dan menatap Zoya dengan tatapan sengit. "Kamu gitu aja ngajak ribut, nggak cape?" Zoya tidak mau disalahkan. Apa yang keluar dari mulutnya memang benar-benar berhasil membuat Ethan kebingungan, sedangkan darah Zoya mendidih mendengar nada keterlaluan Ethan.


"Dengar ini!" intruksi Ethan.


"Zoya, saya hanya tidak suka jika kamu membuka peluang masuk pada orang lain dalam sesuatu hal yang adalah milik kita berdua!"


"Saya tidak suka!" Ethan menegaskan. Sedangkan Zoya hanya diam. Ia menatap Ethan dalam dalam sembari meresapi apa yang pria itu katakan.


Apa maksud Ethan termasuk pernikahan mereka yang adalan milik keduanya? Mungkin seharusnya Zoya tidak membuka peluang bagi Naina untuk masuk ke dalam hubungan rumah tangganya dengan pria itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2