
Akhirnya, setelah Ethan berhasil membujuk Zoya, wanita itu mau menuruti suaminya untuk sarapan. Tak lama setelah pria itu menelpon seseorang. Pintu ruangan Ethan terbuka. Randy muncul dari sana dengan paper bag di tangannya.
"Sarapan khusus untuk Nyonya Ethan." sahutnya sambil meletakan paper bag dengan sopan. Beruntung tadi Ethan menelponnya saat ia sedang sarapan bubur, dan Randy berinisiatif untuk membelikan saja Zoya bubur ketika Ethan memerintahkannya untuk membelikan sarapan.
Zoya mencebikan bibir, tapi setelahnya ia mengucapkan terimakasih pada Skretaris suaminya tersebut. Membuka paper bag dan mengeluarkan sterofoam bubur dari sana. Sementara Randy menghampiri Ethan di mejanya yang tengah membaca beberapa berkas.
"Pak Ethan."
"Hmm."
"Pak Agyan meminta anda untuk datang ke perusahaan Pak Warry hari ini." Ethan yang semula fokus pada pekerjaannya lantas menatap Skretarisnya begitu mendengar apa yang baru saja disampaikannya.
"Ada apa?"
"Tidak tau."
Ethan terdiam, lantas mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang. Zoya yang duduk di sofa sudut ruangan Ethan hanya memperhatikan sambil menikmati buburnya. Gelagat pria itu terlihat tidak menyenangkan.
"Hallo, Yah?" sapa Ethan begitu panggilannya sudah terhubung dengan Agyan. Ia bangkit dari duduk dan memunggungi dua orang di ruangan itu. Zoya mengernyitkan dahi, menebak-nebak apa yang sedang suami dan ayah mertuanya bicarakan.
"Ada apa Than?"
"Ethan yang harus bertanya. Ada apa Ayah menyuruh Ethan untuk datang ke perusahaan Grandfa?"
"Oh, seperti biasa." Ethan mendesah mendengarnya. "Kamu datang saja, okey. Ayah tunggu,"
"Iya."
Setelahnya sambungan terputus. Ethan berbalik dan meletakan ponselnya di atas meja, Randy memperhatikan. "Ada berita buruk? Tugas?" tanyanya, sudah dapat membaca raut wajah sang atasan. Ethan menganggukan kepala, sedangkan Zoya memperhatikan tidak mengerti.
Tak ambil pusing, Zoya hanya menikmati bubiurnya sampai habis.
Sedangkan di ruangan lain.
"Kamu enggak langsung pulang?"
"Enggak," tatapan Fahry beralih pada Anye yang tertidur pulas di sofa, sedangkan ia sendiri berdiri di depan jendela kaca besar di ruangan istrinya.
"Papa kemaren telpon. Katanya kenapa kamu nggak netap di Surabaya aja?"
"Kamu tau sendiri aku nggak suka di sana."
"Apa salahnya, sih, Fah? Kalau di Surabaya, kamu tinggal ngurus perusahaan Papa. Kamu enggak perlu kerja di perusahaan orang dan jadi karyawan biasa."
"Anggun, kamu bisa gak, sih, dukung aku sekali aja?"
"Kapan aku nggak dukung kamu?"
"Kamu milih buat ke Jakarta, aku dukung bahkan sampe aku berantem sama Papa."
"Kamu titipin Anye di rumah orangtua kamu karena kamu bilang Ibu pengen ngurus Anye, aku juga kabulin dan dukung kamu."
"Kurang apalagi?" Anggun merasa emosi
"Coba, sekali aja. Kamu yang dengerin dan dukung aku!"
"Kurang baik apa, sih Fah keluarga aku sama kamu?"
Fahry terdiam, kemuduan satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Anggun seolah lupa apa yang telah mereka lalui sepanjang pernikahan mereka. "Kamu bener, keluarga kamu memang baik, kamu juga sangat pekerja jeras. Itulah kenapa mereka menindas aku sebagai suami kamu yang nggaak punya apa-apa." Fahry juga tersulut emosi, mengingat hal itu membuatnya sakit hati, hal tersebut sangat melukai harga diri Fahry.
"Kenapa kamu malah merambat ke sana, sih?"
"Sejak awal juga aku nggak pernah berarti apa-apa dibanding kamu sama keluarga kamu."
"Keluargaku nggak punya perusahaan seperti Papa kamu, aku juga nggak punya ruangan sebagus kamu." mata Fahry mengedar pada setiap sudut ruangan Anggun yang saat ini sedang ditempatinya.
Anggun mengguyur rambut ke belakang. Seharusnya ia memang tidak perlu membicarakan apapun dengan Fahry, karena semuanya akan percuma saja di mata pria itu.
"Beruntung kita punya Anye," Fahry kembali bersuara. Membuat Anggun mengangkat pandangannya. Ia tersenyum hambar, Fahry seolah berbicara, jika seandainya tidak ada Anye maka pernikahan mereka tidak akan bertahan.
__ADS_1
"Fahry, aku nggak bermaksud menyinggung ke sana."
"Sekali pun iya, nggak papa. Aku udah kebal,"
"Fahry!" Anggun berteriak kesal.
"Apa?" Fahry juga menyahut dengan nada tinggi. Napas keduanya memburu, hawa marah sedang menguasai dan membuat atmosfer di dalam ruangan Anggun berubah negatif.
Fahry hendak beranjak, tapi sebuah suara berhasil menghentikan langkahnya. "Ayah sama Mama berantem?" Anye sudah terduduk dengan mata yang masih mengantuk, bahkan mereka tidak sadar jika pertengkarannya sudah mengganggu tidur sang buah hati. Fahry tersenyum melihat putri kecilnya, berjalan dengan langkah cepat untuk menghampiri sang putri. Anggun menyeka air mata, mencoba menciptakan senyum agar putrinya tidak curiga. Jika hubungan Ayah dan Mamanya, tidak pernah dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Enggak, Sayang. Ayah sama Mama nggak berantem."
"Kenapa Ayah sama Mama teriak-teriak?" gadis kecil itu mulai terisak.
"Sayang, Mama sama Ayah nggak teriak-teriak. Ayah cuma bilang, biar Mama nggak cape-cape kerja. Biar Mama istirahat," Anggun meyakinkan putrinya, Fahry mengangguk, mengiyakan apa yang Anggun katakan agar Anye percaya.
"Beneran?"
"Hmm." dua orang itu mengangguk, Anye berhambur memeluk leher kedua orang tuanya. Begitu juga dua orang tua itu yang memeluk putri kesayangan mereka.
"Ayah sama Mama jangan pernah berantem, yah, Anye nggak mau liat kalian berantem, nanti Anye sedih."
"Iya Sayang."
**
"Kamu punya apa mau menikahi putri saya?"
Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari calon mertua Fahry saat pria itu mengutarakan niat baiknya untuk melamar Anggun, wanita yang sudah ia pacari selama dua tahun.
"Saya punya ketulusan hati untuk mencintai putri Bapak."Fahry menyahut dengan berani. Sejujurnya, di dalam rumah mewah dengan ukuran yang luas itu, nyali Fahry menciut. Semua dinding di dalam rumah tersebut seolah memiliki mata dan menatapnya penuh intimidasi. Dan tatapan semua kakak juga kaka ipar Anggun kian menambah seram suasana.
Fahry mungkin terlalu berani melamar Anggun, aktris terkenal yang sedang naik daun. Mungkin hal itu yang membuat Papa Anggun tidak setuju untuk putrinya segera menikah, karena putrinya tersebut sedang berada dalam puncak karier yang melambungkan namanya. Terlebih Anggun akan menikah dengan orang biasa, hanya putra dari seorang guru honorer di kota tersebut, berbeda dengan Anggun yang berasal dari keluarga kaya.
Fahry mungkin terlalu kelewatan dalam memberanikan diri, tapi cintanya pada Anggun membuat ia harus menghadapi resiko besar saat melamar wanita itu, yaitu menghadapi penolakan keluarga Anggun terutama Papanya.
Anggun adalah anak bungsu dari empat bersaudara, semua saudaranya perempuan, ibunya meninggal saat melahirkannya. Anggun adalah anak kesayangan, hingga pada akhirnya sang Papa tidak dapat menolak keinginan putrinya untuk menikah dengan Fahry.
acara tersebut. Fahry merasa jika perjuangannya sudah selesai, karena ia sudah bersanding dengan orang yang dicintainya.
Namun nyatanya Fahry salah, pernikahannya dengan Anggun adalah awal dalam langkah panjangnya menyebrangi jalan yang penuh bara api. Pekerjaan Fahry yang hanya sekedar karyawan biasa sering kali menjadi bahan cemoohan hampir semua kakak iparnya. Anggun juga seringkali dikucilkan, mengingat tiga kakaknya menikah dengan para pengusaha kaya sedangkan Anggun menikah dengan orang biasa.
"Fahry,"
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintai kamu. Tutup kuping kamu di hadapan kakak-kakakku, aku tau itu nggak mudah. Tapi aku nggak mau kamu terluka,"
"Kamu calon ayah dari anak-anakku, kamu harus kuat."
Fahry tersenyum, mencium punggung tangan Anggun dan menempelkan telapak tangan wanita itu di pipinya. Cintanya pada Anggun terlalu besar untuk bisa meruntuhkan perasaan Fahry atas hal menyakitkan apapun yang ia rasakan.
Ketika Anggun mengandung anak mereka, kebahagiaan Fahry terasa sirna dengan ucapan-ucapan menohok kakak iparnya.
"Seharusnya kamu nggak langsung hamil, Gun. Agensi kamu kasih izin? Memangnya kamu mau berenti syuting?" kalimat penuh penekanan itu terdengar dari kakak ketiga Anggun saat wanita itu memberitahukan pihak keluarganya jika dirinya sedang hamil saat makan malam bersama sedang berlangsung.
"Mau punya anak, emang suami kamu bisa kasih makan apa?"
"Masa selamanya mau numpang dibiayai hidup sama keluarga ini?!"
Terluka? Tentu saja, harga diri Fahry benar-benar tidak berarti di sini. Bahkan tidak ada orang yang sekedar menghargai kehadirannya sebagai bagian dari keluarga.
"Fahry, lebih baik kamu bekerja sama Mbak aja. Selama Zoya hamil, dia juga akan bekerja di perusahaan dan vakum dulu dari dunia entertaint sampai melahirkan nanti." barangkali hanya kakak pertama Anggun yang menganggap, jika Fahry ada.
Fahry setuju dengan hal itu. Ia juga tidak bisa mengecewakan Anggun karena memiliki suami yang gagal. Namun faktanya, itu bukan sesuatu hal yang baik bagi Fahry, di mana ia memang tidak memiliki usaha apapun dalam menafkahi istrinya. Ia bekerja di perusahaan Papa mertuanya, semakin membuat kakak ipar dan Papa mertuanya mengintimidasi dirinya yang bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa.
Pernah sekali waktu, Fahry mengajak Anggun untuk pindah rumah. Atau setidaknya mengontrak dengan uang yang Fahry miliki, asalkan mereka tidak tinggal di rumah keluarga wanita itu. Namun Anggun menolak dengan lembut karena semua kakanya juga tinggal bersama dalam rumah besar keluarga mereka. Terutama Anggun enggan meninggalkan sang Papa. Fahry mengalah, tidak ingin memaksa istrinya. Apapun ia lakukan asalkan Anggun bahagia.
Kehadiran Anye menjadi sumber kebahagiaan dalam hidup Fahry, ia seolah mendapat kekuatan baru untuk terus melanjutkan kehidupan. Tepat di hari ke-lima belas Anye lahir, Anggun mendapat kabar jika dirinya diangkat menjadi Direktur Kreatif di agensi yang menaunginya lebih dari sepuluh tahun. Fahry ikut bahagia, namun lagi-lagi hal tersebut menjadi bahan untuk kakak iparnya menggunjing Fahry, yang kalah dari istrinya sendiri.
Setelah mereka memiliki Anye, Anggun sibuk menjalankan pekerjaannya dan harus bolak-balik Surabaya-Jakarta sedangkan Fahry sibuk mengurus buah hati mereka. Fahry sadar ia tidak mungkin meruntuhkan mimpi besar sang istri untuk meninggalkan dunia entertaint demi untuk mengurus putri mereka. Lagi, Fahry mengalah.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, keharmonisan rumah tangga Fahry dengan Anggun memudar, komunikasi keduanya berkurang dan setiap bertemu mereka lebih sering cekcok. Sampai kemudian Fahry memutuskam untuk bekerja ke Jakarta, awalnya Anggun menentang, tapi perlahan ia membiarkan.
Anye bersama dengan pengasuhnya, sesekali akan menginap di rumah orang tua Fahry. Sedangkan kedua orang tuanya bekerja, daripada Anggun, Fahrylah yang jauh lebih sering mengunjungi putri. Memberikan hal-hal sederhana untuk Anye. Bukan barang-barang mewah yang sering kali dikirimkan kurir hadiah dari Anggun untuk putri mereka.
Menjadi pria yang gagal membuat Fahry lebih gigih dalam bekerja. Kehidupannya yang tak tentu arah hanya diterangi oleh Senyuman Anye sepanjang langkah. Dalam kelamnya kehidupan seorang Fahry, takdir mempertemukannya dengan seorang Zoya Hardiswara dalam sebuah acara, wanita cantik yang ditemuinya di sebuah toilet dalam keadaan sedang membutuhkan bantuan.
"Kenapa jadi robek gini, sih?"
"Ini gimana caranya buat ke balik ke acara?"
Samar-samar Fahry yang berada di dalam salah satu toilet pria dan sedang mencuci tangannya mendengar suara seorang wanita. Ia akhirnya keluar dan mendapati Zoya di depan pintu toilet wanita. Fahry tau apa yang terjadi, dan yang ia lakukan cukup klise, melepas jas yang dikenakannya dan menyerahkannya pada Zoya tanpa sepatah kata pun.
Fahry merasa ia tidak perlu berurusan dengan para wanita karena ia sudah berkeluarga, memiliki Anye dan Anggun dalam hidupnya. Namun nyatanya takdir berkata lain saat Fahry kembali bertemu Zoya ketika wanita itu mengembalikan jas miliknya.
"Kamu di mana?"
"Aku mau ngajak kamu makan malam. Aku kebetulan udah ada di depan agensi kamu."
"Aku lagi di luar kota, Fah."
"Kok kamu gak bilang?"
"Aku sibuk, nanti aku telpon lagi, yah."
Komunikasinya dengan Anggun yang tidak bisa diperbaiki membuat Fahry membutuhkan pelarian. Saat itu, Zoya orang yang tepat untuknya, berikut orang yang berhasil membuatnya berpaling dari Anggun. Fahry jatuh cinta pada aktris cantik itu, dan cara Zoya mencintai kesederhanaan yang Fahry miliki membuat Fahry merasa diistimewakan.
Ketika ia mengetahui jika manejer Zoya adalah Selin, orang yang ia kenal dan mengetahui pernikahannya dengan Anggun. Semua sudah terlambat, Zoya terikat dan Selin tidak bisa melakukan apapun.
"Fah, kamu udah punya Mbak Anggun dan kalian udah punya anak, kenapa harus Zoya, sih?" kesal Selin saat wanita itu mengajak Fahry untuk bertemu, tanpa Zoya ketahui tentunya.
"Kenapa harus Zoya?"
"Karena Zoya bisa ngertiin perasaan aku!" Fahry menemukan segala kehangatan dari Zoya, wanita itu sangat baik dan mengertikannya. Membuat Fahry tanpa sadar selalu membandingkan wanita itu dengan Anggun, istrinya.
"Gimana kalau Zoya tau status kamu yang sebenarnya." tanya Sein dengan luapan emosi.
"Maka dari, jangan bilang ke Zoya. Jangan bilang apapun, bantu aku buat nutupin ini semua."
"Enggak bisa! Aku nggak bisa bohongin Zoya," Selin beranjak, tapi Fahry menahan tangan wanita itu. Mungkin seharusnya orang tua mereka tidak perlu saling mengenal hingga membuat ia dan Selin juga saling mengenal satu sama lain.
"Apa yang kamu lakuin akan berdampak sama Zoya, berikut juga kariernya." sahut Fahry. Sejenak Selin terdiam. "Kapan pun itu, tetap bakal berdampak di masa depan. Rahasia kamu adalah bom waktu buat Zoya."
"Tapi setidaknya kita bisa tunda!"
Selin terdiam, menatap pria itu. Otaknya berpikir keras, bagaimanapun saat ini Zoya memiliki schedule yang padat. Jika ia mengetahui fakta tentang Fahry. Maka hal itu akan berpengaruh pada Zoya dan juga kariernya.
Dengan berat hati Selin menyetujui apa yang Fahry katakan. Merahasiakan fakta pria itu dalam waktu yang lama. Sampai Fahry ada pada titik, di mana ia ingin mengakhiri semuanya.
Sesulit apapun melepas Zoya, meninggalkan wanita itu jauh lebih baik daripada terus bertahan dalam kebohongan yang ia ciptakan. Ketika wanita itu menikah dengan Zeinn Ethan Maheswari, perasaan Fahry terluka. Tapi setidaknya Zoya sudah berada dengan orang yang tepat
Ia dapat melihat jika Ethan memperlakukan Zoya dengan sangat baik.
Meski hubungannya sendiri dengan Anggun, tak kunjung membaik.
**
Fahry menghentikan langkahnya saat ia baru saja keluar dari lift yang membawanya langsung ke basemant AE RCH. Ia melihat Zoya yang baru saja memasuki mobil dengan Ethan.
Satu sudut bibir Fahry tertarik ke atas. Sekali pun ia tidak bisa jujur pada Zoya mengenai apa yang selama ini dirahasiakannya, fakta melihat wanita itu sudah bahagia dan melupakannya membuat perasaan Fahry melega.
Sekarang, gilirannya untuk benar-benar bisa melupakan wanita cantik itu.
TBC
So, sekarang tau, 'kan alesan kenapa Fahry bisa berhubungan sama Zoya? Doi sad banget:"(
Penasaran sama visual Fahry nggak? Nanti aku post di ig.
eva_yuliaaan_04
__ADS_1
Sekalian promo wkwk
Oh, yah btw buat yang salah paham sama hubungan Selin Fahry, mereka nggak ada something, yah guys:")