Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Restoran Seafood


__ADS_3

"Demi apa kalau Pak Ethan kasih kamu izin buat ambil filmnya. Ada angin apaan emang?" Selin dengan segera melancarkan pertanyaan begitu Zoya memberitahukan wanita itu jika Ethan memberinya izin untuk mengambil film yang sempat pria itu tolak dan Zoya siap untuk syuting bulan depan.


"Aku juga nggak tahu alesannya, mungkin juga karena hasil inseminasi Naina yang gagal."


"Hasil inseminasinya gagal?" Selin tentu merasa sangat terkejut begitu mendengar hal tersebut karena Zoya baru memberitahukannya mengenai hasil inseminasi yang gagal, Zoya menganggukan kepala meski Selin tidak dapat melihatnya.


Zoya lagi-lagi merasakan sesak di dadanya mengingat hal tersebut, namun begitu dengan segera ia menyeka air mata-nya yang jatuh, kemudian mengukir senyum mengingat jika Ethan sudah memberinya izin untuk mengambil film yang sangat membuat Zoya tertarik untuk membintangi nya. Seridaknya Zoya masih memiliki alasan untuk terus bertahan, dengen menekuni bidang yang disukainya.


"Zoy," suara Selin terdengar melemah di ujung sana.


"I'm fine." Zoya segera menyahut dengan senyum seceria mungkin menyadari nada khawatir Selin di ujung sana.


"Zoy, you are not fine. Mbak tau siapa kamu."


"Udah, Mbak. Aku anggak mau bahas. Aku nelpon cuma buat ngasih tau Mbak aja kalo Ethan kasih izin aku buat ambil filmnya. Jadi Mbak tinggal konfirmasi lagi sama produsernya." panjang lebar Zoya. Ia segera berpamiatan pada Selin dan memutuskan sambungan telpon. Ia tidak ingin pembicaraan mereka melebar dan kembali membahas kegagalan Zoya sebagai seorang wanita.


"Gimana?" Ethan bertanya setelah wanita itu memutus sambuangan telpon, sejak tadi ia hanya mendengarkan dengan sabar.


"Enggak gimana gimana, sih. Tapi Mbak Selin juga seneng kaya aku." sahut Zoya dengan sejuta senyum di bibirnya. Ethan balas tersenyum, meraih tangan Zoya dan mengecup punggung tangannya.


"Kenapa kamu selalu turutin apa yang akau mau?" Zoya bertanya begitu pria itu menjatuhkan kepala di paha Zoya. Keduanya masih berada di ruang rahasia Ethan, atau mungkin akan bermalam di sana mengingat begitu suasananya sangat nyaman dan hangat.


Zoya menatap pria itu dalam-dalam. Menunggu jawaban Ethan yang tampak sedang berpikir. "Karena saya sayang sama kamu. Jadi. saya pasti akan selalu turutin apa yang kamu mau, Zoya."


"Apapun?" tanya Zoya. Ethan mengangguk.


"Iya. Apapun selama saya bisa."


"Sekalipun aku nggak prrnah mikirin perasaan kamu?" tanya Zoya lagi, Ethan tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir istrinya.


"Kamu tidak pernah memikirksa perasaan saya?" pria itu justru balik bertanya. Zoya mengangguk pelan, lantas menyahut.


"Aku nggak se-care kamu ke aku. Aku nggak seperhatian kamu ke aku."


"Pokoknya aku nggak bisa balas sikap kamu ke aku." jujur Zoya. Karena selama ini, ia merasakan hal seperti itu. Sekalipun ia memerhatikan sang suami tapi rasanya tidak akan sama seperti Ethan memerhatikannya.


Lagi-lagi Ethan tersenyum mendengar apa yang istrinya katakan. "Saya jadi mau nanya sesuatu." raut wajah Zoya seketika berubah melihat raut wajah serius Ethan, ia mengangguk mempersilakan pria itu untuk memberinya pertanyaan.


"Kamu sebenarnya cinta atau tidak sama saya?" tanya Ethan yang spontan membuat Zoya mengangguk tanpa berpikir sedikitpun. Jika ditanya perihal cinta, maka jangan salah. Zoya sangat mencintai pria itu, tapi ia tidak bisa sepenuhnya menunjukan hal tersebut pada Ethan sebagaimana yang seringkali pria itu lakukan padanya.


"Cinta." wanita itu mengangguk setelah beberapa saat.

__ADS_1


"Aku cinta sama kamu." sambungnya saat melihat tatapan tidak yakin dari sang suami. Tetapi Ethan terus memusatkan tatapan padanya.


"Aku serius." wanita itu meyakinkan, kali ini Ethan tertawa. Lantas mengusap puncak kepala istrinya.


"Saya percaya." Zoya mengangguk samar. Setelahnya yang terjadi di antara dua orang itu adalah hening. Sedangkan tangan Ethan terus mengusap puncak kepala Zoya.


"Saya tidak butuh apapun Zoya, saya cuma butuh pengakuan dari kamu bahwa kamu mencintai saya. Itu lebih dari cukup, sisanya saya tidak perduli."


***


Pada akhirnya, Zoya seakan dipaksa untuk mampu beradaptasi kembali dengan hal apapun yang terjadi di sekitaranya, di dalam kehidupannya. Sekalipun kecewa masih ia rasakan, dan keputusasaan seringkali meresahkan perasaan. Ia tetap mencoba berpikir positif. Berbaik sangka pada yang Maha Kuasa dan berusaha kembali sebisanya. Tapi jika seandainya kemungkinan besarnya adalah kembali gagal, Zoya belum benar-benar memiliki persiapan apapun untuk kembali patah dan terluka.


Untuk yang kesekian kali.


Hari ini, Zoya dan juga Ethan menemani Naina untuk melakukan inseminasi buatan ulang sekali lagi untuk percobaan yang kedua kali. Zoya mendampingi gadis itu melakukan inseminasi buatan tersebut dari tahap pertama hingga selesai.


Begitu proses inseminasi buatan itu usai, keduanya hanya sama-sama saling tersenyum. Begitu juga dengan Ethan, tidak ada kata-kata yang mampu keluar dari mereka sekedar mengucapkan 'semoga berhasil.' tidak ada. Tetapi hati ketiganya hanya berharap yang terbaik untuk hasil inseminasi nanti.


***


Hari- hari Zoya lalui dengan situasi yang sama seperti saat ia menunggu hasil inseminasi pertama, setiap hari ia melihat kalender pada tanggal yang sudah ia lingkari dimana nanti mereka akan melakukan tes kehamilan. Zoya selalu berharap cemas atas hasil yang akan mereka dapatkan nanti.


**


Zoya sudah mengatakan jika ia akan menyusul Freya, namun wanita itu bersikeras tak mau mendengarkan dan justru menjemput Zoya ke lokasi syuting.


"Bunda. Zoya, 'kan udah bilang jangan repot-repot." sahut wanita itu saat ia menghampiri Freya begitu salah satu staf memberitahukannya jika Freya menunggu di parkiran.


"Enggak apa-apa Sayang. Bunda sengaja, biar bisa langsung barengan sama kamu." sahut Freya, membuat Zoya mengukir senyumnya. Tapi kemudian ia mengalihkan pandangan. Menyapu penjuru guna mencari di mana keberadaan asistennya.


"Nyari siapa Sayang?" tanya Freya yang memerhatikan menantuanya.


"Ini, Bunda. Nyari Naina Bun. Tadi kayaknya dia ada di sana." sahut Zoya, matanya memaku pada sebuah kursi di dekat ruang make up di mana tadi Naina duduk di sana ketika ia pamit akan menemui Freya sebentar.


"Naina boleh Ikut yah, Bunda." Zoya meminta perssetujuan Freya. Zoya takut mertuanya keberatan jika ia mengajak Naina di antara mereka, tetapi Freya justru mengangguk dengan senyuman. Respon yang sangat Zoya harapkan.


"Enggak, enggak papa Sayang, kalau kamu mau Naina ikut, Naina biar ikut saja sama kita." sahut Freya yang membuat Zoya mengangguk antusias, lantas pamit kepada mertuanya dan berlalu mencari keberadaan Naina untuk mengajak gadis itu agar bergabung dengannya dan Freya berjalan-jalan.


"Kamu ada liat Naina nggak?" Zoya bertanya kepada beberapa staf yang ia temui sedang membereskan peralatan syuting.


"Di sana!" salah satu dari mereka menyahut dan menunjuk ke dalam ruang make up. Zoya mengangguk dan mengucapkan terima kasih kemudian masuk ke ruang make up untuk menemui Naina.

__ADS_1


"Mbak Zoya." Naina segera membalikkan tubuhnya begitu melihat pantulan wajah Zoya di dalam cermin. Naina sedang membereskan peralatan make up pribadi miliki Zoya saat wamita itu pamit untuk menemui mama mertuanya.


"Gimana, udah beres?" tanya Zoya melihat gadis itu yang tengah sibuk membereskan peralatan make up miliknya.


"Sebentar lagi beres Mbak," Naina menyahut. Zoya menganggukan kepalanya kemudian ikut membantu gadis itu membereskan peralatan make up miliknya.


"Mbak Zoya, nggak usah." Naina mencegah wanita itu, tetapi Zoya hanya tersenyum sambil melanjutkan aktivitasnya tersebut.


"Biar cepat beres. Abis ini kita langsung berangkat."


Naina mengerutkan kening. "Berangkat. Ke mana Mbak?"


"Kita jalan-jalan sama Bunda."


**


Begitu selesai membereskan peralatan make up Zoya, lantas dua wanita itu menghampiri Freya yang tengah menunggunya di mobil. Sedangkan Selin sudah pulang lebih dulu begitu Zoya usai syuting sejak beberapa belas menit yang lalu.


"Sudah siap?" tanya Freya kepada Zoya. Zoya mengangguk. Ketiganya segera memasuki mobil. Zoya duduk di samping kemudi sedangkan Naina berada di bangku belakang.


Tak lama, Freya mulai melajukan mobilnya menembus jalanan yang padat oleh kendaraan.


"Kita kemana Bunda?" tanya Zoya setelah mobil melaju cukup lama.


"Kamu pengennya kemana? Bunda, sih, ngikut aja."


"Bunda jadi sopir pribadi kamu hari ini." sahut Freya dengan tatapan menggoda Zoya. Wanita itu menatap mama mertuanya, tenggelam dengan keajaiban sang mama mertua.


"Gimana kalau kita makan siang dulu, Zoya laper." usul Zoya begitu mengingat jika dirinya belum makan siang.


"Boleh." ia mengedarkan pandangan ke depan kemudian menepikan mobil di sebuah restoran seafood.


"Enggak papa kalau di sini?" tanya Freya begitu ia memarkirkan mobilnya dengan mulus.


"Enggak apa-apa, Bunda. Zoya di mana aja boleh." wanita itu menyahut tak masalah. Ia menoleh pada Naina yang tampak menaruh telapak tangan di mulutnya dengan tangan yang lain memegang bagian perut.


"Kenapa Naina?" Zoya bertanya dengan nada panik. Membuat Freya ikut menoleh dan menatap heran pada Naina.


"Minum?" tawar Zoya. Tetapi Naina menggelengkan kepala. Justru ia dengan cepat membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana. Sedangkan Zoya hanya mematung di dalam mobil. Menatap punggung Naina yang menjauh menuju sebuah toilet umum.


TBC

__ADS_1


__ADS_2