Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Satu Hari Lebih Cepat


__ADS_3

Sudah berapa lama kira-kira Zoya tidak menginjakan kaki di rumah mertuanya? Rasanya sudah cukup lama. Malam ini, ia tidak bisa menghindar dari ajakan Freya untuk menginap di rumah wanita itu. Zoya menurut dan ikut.


Suasana rumah sang mertua masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Bedanya, tidak ada Arasy yang menyambut kedatangannya dengan wajah secerah matahari kali ini, yang ada hanya Agyan yang sedang membaca sebuah buku di ruang utama rumah kemudian beranjak dari posisi nyamannya saat melihat sang istri pulang membawa menantunya.


"Zoya," tegur Agyan dengan senyum penuh ucapan selamat datang. Zoya tersenyum dan segera menyalami Agyan kemudian membiarkan pria itu mendekap tubuhnya sebentar.


"Ayah apa kabar?"


"Baik. Kamu sendiri bagaimana?"


Zoya tersenyum sebelum kemudian menjawab. "Baik, Ayah."


Saat dua orang itu berbasa-basi, Freya menepuk bahu Zoya dan berpamitan ke arah dapur. Membiarkan Zoya hanya berdua dengan Agyan di ruang utama.


"Ayah dengar sebentar lagi kamu akan kembali syuting film." sahut pria itu saat keduanya sudah duduk pada sofa. Zoya mengangguk, mengiyakan apa yang ayah mertuanya katakan.


"Iya Ayah, produsernya Pak Arfat dan sutradaranya Pak Irpan." jawab wanita itu yang membuat Agyan tersenyum bangga, ia mengenal Arfat dengan baik dan dia buka produser film sembarangan. Ia sangat keren dan berpengalaman, begitu juga dengan Irpan.


Pria berusia empat puluhan itu sudah banyak menyutradarai film-film terkenal.


"Waw, ngeliat dari siapa produser dan sutradaranya, filmnya pasti akan sangat keren. Ditambah aktrisnya luar biasa." pujinya yang membuat Zoya tersanjung.


"Ayah bisa aja." Agyan hanya tertawa menanggapi ketersipuan Zoya. "Ayah do'ain aja. Biar filmnya sukses sesuai harapan." Agyan mengangguk.


"Kamu mau nginep?" tanya pria itu kemudian. Zoya menjawab dengan anggukkan. "Ethan?" tanya Agyan lagi dengan beberapa lipatan di dahinya.


"Ethan ke luar kota,"


***


Freya mengeluarkan ponselnya setiba ia di dapur. Jari tangannya tampak lincah mencari kontak Ethan sampai kemudian menemukannya, baru ia akan menekan ikon telepon, panggilan masuk dari Rachel sudah menginterupsinya lebih dulu. Sempat terdiam, Freya kemudian menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Hallo," ia menyapa lebih dulu.


"Frey,"


"Ada apa Rachel?"


"Anak kamu nggak masuk kerja beberapa hari ini. Dia kemana?" tanya Rachel di ujung sama yang membuat Freya seketika terdiam dengan kerutan di dahinya.


Bukankah seharusnya sebagai atasan Ethan, Rachel tahu kemana pria itu pergi?


"Dia– dia ada urusan." Freya akhirnya bebicara.


"Ethan suka kebiasaan, seharusnya dia ada konfirmasi ke perusahaan. Memang dia ada urusan apa? Randy saja nggak tahu dia di mana." Rachel tampak menggerutu di ujung sana dengan suara khasnya.


"Nanti biar aku bilang ke Ethan, suruh dia cepet cepet beresin urusannya." sahut Freya, menenangkan Rachel yang tampaknya memang sudah kesal dengan kelakuan Ethan yang seringkali bersikap seenaknya.


"Kalau dia sudah pulang, bilang padanya aku ingin bicara secara langsung."


"Okey, nanti aku bilang ke dia."


Setelah panggilan terputus, Freya kembali pada niat awalnya untuk menghubungi sang putra. Pada dering ke-tiga barulah panggilannya mendapat respond.


"Hallo Bun," suara Ethan seketika menyapanya.


"Tadi Mommy Rachel telpon Bunda, katanya kamu udah beberapa hari nggak masuk kerja, kamu juga gak ada konfirmasi apapun ke perusahaan. Kamu sebenernya di mana, sih Than?" oceh Freya tanpa basa-basi.


"Zoya bilang kamu di luar kota. Ada urusan apa?"


"Kamu juga ngebiarin Zoya di rumah sendirian! Kamu nggak mikirin resikonya?"


"Asisten rumah tangga kalian juga malah pulang kampung diwaktu yang nggak tepat. Kok bisa bertepatan banget, sih, Than." Freya mengoceh tanpa henti, Ethan di ujung sana hanya mendengarkan, tau jika sang bunda sedang sangat kesal saat ini.


Setelahnya, Freya mengembuskan napas kasar. menandakan jika amarahnya sudah berakhir dan ia sudah bisa menahan diri.


"Kamu sebenernya di mana?" tanya Freya lagi, kali ini nada bicara wanita itu terdengar lembut seperti biasanya.


"Iya, Ethan di luar kota, Bunda. Ada urusan yang harus diselesaikan." Ethan menyahut seperlunya.

__ADS_1


"Kalau urusan pekerjaan, kenapa Randy nggak ikut sama kamu?"


"Ethan bisa urus ini sendiri Bunda." seperti biasa Ethan berbicara dengan lembut dan penuh sopan santu terhadap sang bunda.


"Kamu nggak bohongin Bunda, 'kan Than? Kalian nggak nyembunyiin sesuatu dari Bunda, 'kan?" mendadak Freya merasa parno.


"Kamu sama Zoya nggak lagi ribut kan?" tanyanya lagi. Ia khawatir jika putra dan menantunya masih berselisih paham mengenai anak dan membuat keduanya bertengkar sehingga harus saling berjauhan.


"Bunda tenang aja, Ethan sama Zoya, kami baik-baik aja. Bunda nggak perlu khawatir, sebentar lagi Ethan juga akan pulang." Ethan menenangkan. Mendengar suara putranya yang tampak meyakinkan, perasaan Freya mulai tenang. Setidaknya, rumah tangga putranya baik-baik aaja.


"Bunda ngajakin Zoya buat nginep di rumah. Bunda khawatir kalau dia sendirian di rumah," beritahu Freya.


"Hmm, di mana Zoya sekarang?"


"Dia di ruang utama rumah, lagi ngobrol sama Ayah."


"Yasudah, Ethan titip Zoya ke Bunda. Dua haru lagi Ethan pulang,"


"Yasudah kalau gitu, jaga diri kamu baik-baik."


"Iya Bunda."


***


Sementara di tempat lain, Rival yang sedang menghadiri acara reuni masa SMA-nya tampak tengah menikmati jamuan yang dihidangkan di tempat acara.


Rival senang bertemu kembali dengan kawan-kawannya dalam acara reuni ini. Mengingat jika dihari hari biasa mereka sudah memiliki kesibukan masing masing dan sangat sulit untuk bertemu terutama berinteraksi secara intens seperti saat masa sekolah dulu.


Rival mengedarkan pandangannya ke segala sudut, acara reuni yang digelar di sebuah restoran yang telah disewa itu tampak dipenuhi oleh kawan-kawan seangkatannya. Nyaris semua kawan Rival sudah memiliki istri dan anak. Barangkali, hanya dirinya saja yang belum berkeluarga sehingga ia adalah orang yang paling mendapat atensi dari kawan-kawannya untuk dijodoh-jodohkan dan diledek bujang lapuk.


"Ada kawanku di kantor Val, anaknya cantik, baik juga. Kapan-kapan bolehlah kalian ketemu. Tapi dia janda anak satu." salah satu kawan Rival mengutaran inisiatif baiknya untuk Rival, membuat yang lain heboh karena status yang disebutkan.


"Kalau gadis ada nggak?" Rival justru meladeni keisengan kawannya tersebut.


"Wah, kalau gadis, sih, ada satu. Tapi punyanya Pak Bos." sontak saja apa yang dikatakan pria berambut pirang itu menciptakan tawa menggelegar di meja Rival.


Setelahnya, pria itu hanya diam dan mendengarkan saat para lawannya masih membahas perihal wanita yang akan dikenalkan padanya. Sesekali ia hanya tertawa saat beberapa kawannya mengeluarkan jokes yang mengundang tawa dan sakit perut.


Setidaknya, sekalipun ia takut gagal karena takut akan mendapat penolakan. Ia harus mencobanya lebih dulu.


***


"Bunda marahin kamu?" tanya Zoya pada Ethan di ujung sana saat sang suami menghubunginya dan mengatakan jika setengah jam yang lalu menelponnya dan menanyakan keberadaannya. Waktu menunjukan pukul setengah delapan malam saat itu.


"Tidak memarahi, cuma sedikit meninggikan suaranya saja." pria itu menyahut pasrah dan membuat Zoya tertawa.


Sesaat, hanya ada hening di antara mereka. Zoya berjalan menuju pintu balkon dan membuka tirai, ia menatap ke luar di mana suasan terlihat gelap dan sepi.


"Kamu belum ngantuk?" Ethan bertanya di ujung sana. Zoya menggelengkan kepala.


"Masih sore, aku belum mau tidur." sahutnya kemudian. Lagi. Hening menyelimuti, Zoya berpikir jika saat ini adalah kesempatan bagus untuknya berbicara pada Ethan mengenai Edrin yang akan menjadi lawan mainnya di film terbarunya.


Sehingga ia mulai memberanikan diri untuk berbicara pada suaminya.


"Than,"


"Sayang, sebentar, yah. Nanti saya telpon lagi."


"Ada apa?"


"Ada sedikit masalah, nanti saya telpon lagi." sahut Ethan sedikit buru-buru dan kemudian memutus sambungan telpon. Zoya hanya pasrah, ia menatap ponselnya begitu panggilannya dengan Ethan berakhir dan menyimpulkan jika saat ini mungkin waktunya belum tepat.


***


Postingan salah seorang sutradara terkenal dalam sebuah akun instagram resmi mliknya sukses mendapat banjiran tanggapan dari para pengguna media sosial. Terutama penggemar Zoya Hardiswara dan Edrin Nicolas.


Sebuah foto menunjukan jika sang sutradara tengah bersama dengan dua bintang itu berikut seorang produser terkenal Arfat Nahlil. Membuat para penggemar sang aktirs dan aktor mempertanyakan kebenaran sebuah film yang digadang-gadang akan dibintangi Zoya Hardiswara dipasangkan dengan Edrin Nicolas.


Tentu saja hal itu menjadi kabar baik bagi para penggemar mengingat chemistry yang dibangun oleh dua bintang itu benar-benar menghipnotis para penonton. Terlebih untuk para penggemar yang masih dihantui tokoh Azriel dan Ansel yang sebelumnya dibintangi oleh Edrin dan Zoya dan booming pada masanya.

__ADS_1


Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, postingan tersebut sudah mendapat hampir satu juta like dan ratusan ribu komentar serta di share oleh ribuan akun. Respond yang sangat positif bahkan jauh sebelum penayangan film.


"Zoy, ini bener-bener fantastis banget." kalimat pertama yang Selin katakan pada Zoya saat keduanya bertemu di lokasi pemotretan. Raut wajah Selin begitu senang, wanita itu tampak berbunga-bunga dan membuat Zoya senang melihatnya. Ia juga sudah melihat postingan tersebut dan tentu saja Zoya pun merasa sangat bangga karena hal itu mendapat respon positif dari publik.


"Aku jadi nggak sabar pengen cepet-cepet syuting." ujar Zoya, Selin mengangguk setuju.


Setelahnya, Selin kembali sibuk membaca beberapa komentar dalam postingan tersebut. Sesekali tampak kegirangan saat membaca komentar penuh dukungan dari para fans Zoya dan Edrin untuk dua orang itu.


"Oh, iya. Habis ini kamu mau langsung dianter ke rumah mertua kamu atau kita jalan-jalan dulu?" tanya Selin kemudian, ia menyimpan ponselnya dan fokus pada Zoya.


"Mbak nggak perlu nganterin aku. Katanya Bunda mau jemput." sahut Zoya mengingat pagi tadi Freya berpesan jika sang mama mertua akan menjemputnya untuk mengajaknya berziarah me makam Tommy.


"Oh, gitu, yaudah." pasrah Selin.


Ketika waktu menunjukan pukul setengah empat sore, Zoya sudah tiba dengan Freya di makam Tomny–kakek Agyan.


Zoya ikut menabur bunga dan meletakan buket bunga yang dibawanya dengan Freya. Saat sang mama mertua hanya mengusap nisan Tommy dengan raut sendu, Zoya tetap berada di sana dan mengusap punggung Freya guna menenangkan wanita itu. Bahkan ketika Freya berhasil menjatuhkan air matanya, Zoya tetap berada di sana untuk menemani Freya.


Freya sama sekali tidak bersedih atas ketiadaan Tommy di tengah-tengah suaminya. Ia percaya jika maut adalah ketetapan sang pencipta yang tak bisa dihindari. Hanya saja, rasanya sudah begitu lama mengingat pertemuannya dengan Agyan dulu setelah tidak ada komunikasi di antara mereka selama satu tahun.


Pertemuan pertama itu terjadi di sini, di tempat seribu duka, saat Tommy kembali ke pangkuan sang pencipta. Tanpa terasa, ternyata sudah berlalu begitu lama.


Freya dengan Zoya pulang ke rumah ketika waktu menunjukan pukul tujuh malam. Agyan yang sudah cemas menunggu kepulangan sang istri segera menyambut kedatangan Freya dengan raut penuh khawatir di wajahnya.


"Kenapa handphone kamu nggak bisa dihubungi? Aku khawatir."


"Hp ku nggak ada batre,"


"Kamu kan bisa charger di mobil, Sayang."


"Aku lupa, Sayang."


Zoya bagai jadi obat nyamuk di antara kedua mertuanya. Tetapi ia hanya pasrah tanpa mengunterupsi keduanya.


"Aku sama Zoya habis dari makam Grandpa Tommy." sahut Freya kemudian dengan senyum tipis di bibirnya. Agyan diam sesaat, lantas mengusap puncak kepala istrinya. Setelahnya, pandangan dua orang itu beralih pada Zoya.


"Ayah, Bunda, kalau gitu Zoya ke kamar duluan, yah." pamit Zoya yang kemudian segera berlalu ke kamarnya saat Agyan dengan Freya mengangguk.


"Harusnya kamu bilang ke aku kalau kamu ke sana, biar aku bisa nyusulin kalian." sahut Agyan setelah menantunya berlalu.


"Nanti kapan-kapan aja kita ke sana bareng, yah."


***


Waktu menunjukan pukul setengah sepuluh malam saat Zoya baru saja menutup pintu balkon setelah ia meniknati angin malam di luar kamarnya. Pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sosok pria yang beberapa hari ini jauh darinya.


"Ethan," Zoya masih dengan raut terkejutnya. Ia memaku di tempat saat Ethan menutup pintu dan menguncinya. Zoya belum benar-benar fokus pada apa yang ada di dalam pikiran dan apa yang dilihatnya saat ini?


Atau ia sedang berhalusinasi? Bukankah seharusnya Ethan pulang besok dan sampai di rumah pada sore hari? Lantas, siapa orang yang saat ini berada di hadapannya dengan raut tak wajah tak terbaca


"Kamu–" Zoya kian gugup saat sosok itu berdiri dengan jarak hanya beberapa centi meter darinya. Terlebih, saat pria itu merengkuh pinggangnya dan meraih bibir Zoya.


"Bukannya kamu baru pulang besok?" tanya Zoya begitu Ethan menciptakan jarak di antara mereka.


"Kenapa? Kamu tidak senang kalau saya pulang?"


Zoya menggeleng pelan, hatinya berdebar melihat raut wajah Ethan yang tidak seharusnya.


Karena dalam bayangan Zoya, saat pria itu pulang nanti, raut wajahnya penuh senyuman saat kembali bertemu dengan Zoya. Tapi apa yang dilihatnya saat ini benar-benar bukan seperti yang Zoya harapkan.


Pria itu tampak sedang ..., cemburu. Dan ekspresi yang paling mendominasinya adalah amarah.


"Bukan gitu, aku cuma pengen tau alasan kamu pulang sehari lebih cepet, ada apa–" bahkan Zoya belum selesai dengan kalimatnya saat tiba-tiba saja terlintas di benaknya jika barangkali Ethan sudah melihat postingan yang tengah menjadi perbincangan.


Perkiraan Zoya dikuatkan ketika pria itu mulai buka suara. "Edrin Nicolas."


"Apa maksud kamu tidak memberitahu hal itu pada saya?"


TBC

__ADS_1


TBL TBL Takut Banget Lhoo. Hahaa


__ADS_2