
"Ada apa Bunda?" tanya Zoya. Ia merasa terkejut begitu Ethan menelponnya, namun ternyata orang di balik telpon adalah Freya, mama mertuanya.
Sebegitu berharapakah Zoya mendapat telpon dari Ethan? Tidak bukan begitu, Zoya hanya merasa senang karena Ethan memperlakukannya dengan sangat baik.
"Bunda cuma pengen denger kabar kamu. Gimana syuting kamu lancar?"
"Euu, sedikit ada gangguan." jujur Zoya.
"Gangguan?" Freya bertanya.
"Hmm, mungkin karena Zoya nggak fokus aja."
"Kenapa? Apa karena kamu terus mikirin Ethan?" terdengar nada menggoda Freya di ujung sana.
Zoya terdiam, kemudian tersenyum. "Enggak gitu, Bunda."
"Masa?"
"Zoya, dipanggil sutradara." salah seorang kru memanggil. Zoya mengangguk dengan tersenyum. "Kamu mau lanjut syuting?" Freya bertanya di balik sambungan telpon. Dia pasti mendengar kru memanggil Zoya.
"Iya, Bunda. Kalau begitu kita tutup telponnya, yah."
"Iya, semangat."
"Terimakasih Bunda."
"Sama sama Sayang,"
Panggilan terputus, Zoya terdiam menatap layar ponsel. Senyumnya terukir, merasakan mendapat perhatian dari seorang Ibu. Tak lama, mata wanita itu berkaca-kaca. Hatinya merindukan sang ibu, sangat.
Begitu syuting usai sampai jam dua siang, Zoya lanjut ke lokasi pemotretan. Dering ponsel Selin yang sejak tadi berbunyi membuat Zoya menoleh pada sang manejer.
"Mbak, ada yang nelpon." sahutnya, membuat Selin terkesiap. Rupanya ia sedang melamun tadi, Selin tampak melihat layar ponsel, Zoya memperhatikan.
"Zoy, Mbak angkat telpon dulu."
Zoya mengangguk. Selin keluar dari studio make up. Sedangkan Zoya kembali terdiam, membiarkan penata riasnya melanjutkan pekerjaan.
Zoya keluar begitu selesai, ia berniat ke toilet sebentar untuk mencuci tangan. Namun samar-samar ia mendengar suara Selin yang tengah berbicara di telpon dari pintu kamar mandi yang lain.
"Aku udah bilang, jangan hubungin aku lagi."
"Berenti gangguin aku. Aku nggak mau sampe Zoya curiga."
Zoya menghentikan langkah kakinya begitu namanya disebut. Dahinya mengernyit, mempertanyakan kira-kira dengan siapa Selin berbicara di balik telponnya. Kenapa membawa-bawa namanya?
"Tolonglah, Fahry. Semuanya sudah berakhir, jangan ganggu aku lagi."
"Fahry?" bibir Zoya berucap lirih.
"Hubungan kamu sama Zoya udah berakhir, dan itu udah cukup buat aku."
"Apa yang terjadi sama Zoya dan Pak Ethan, cukup kita aja yang tau."
"Kita udah sepakat dengan itu, jangan menambah masalah atau akan ada orang lain yang tau perbuatan kita nanti."
"Aku gak mau sampe Zoya kecewa sama aku,"
Zoya menggeleng pelan dengan tawa hambar. Matanya seketika berkaca-kaca, tak lama ia melangkah begitu air matanya akan tumpah.
Sementara Selin yang sudah selesai melakukan panggilan telpon dengan Fahry kembali ke stuidio make up. "Di mana Zoya?" tanyanya pada penata rias Zoya yang sedang membereskan peralatan.
"Mbak Zoya sudah keluar sejak sepuluh menit yang lalu, Mbak."
__ADS_1
"Oh, begitu yah?" Selin melangkahkan kakinya keluar, ia bertemu dengan Adhel yang tampak kebingungan. "Adhel, di mana Zoya?" tanya Selin saat melihat asisten Zoya membawa tas Zoya di tangannya. "Itu dia Mbak, saya lagi nyari Mbak Zoya, orang-orang udah mungguin buat pemotretan."
Selin mendesah, menghubungi Zoya namun ponsel wanita itu ada di tangan Adhel. "Kira-kira Zoya kemana, yah?" Selin terlihat bingung. Tidak biasanya Zoya pergi tanpa alasan dengan tiba-tiba tanpa membawa ponselnya.
Sementara itu, wanita yang sedang ditunggu-tunggu untuk pengambilan gambar tengah berjalan dengan langkah kaki yang lelah. Kaki jenjangnya membawa ia ke sebuah pemakaman umum dan berhenti pada salah satu nisan.
Zoya ambruk, bersimpuh di sana tepat di makam sang ibu. Air matanya sudah mengalir deras sejak lama. "Ibu," pipinya basah, tangan mulusnya mengusap permukaan nisan, mengusap nama yang terukir di sana dengan rindu yang hanya dirasakan olehnya. Dengan pilu yang hanya bisa ditahan sendiri olehnya.
Zoya tidak ingin berpikir macam-macam pada Selin. Meski pikirannya mengarah ke sana, di mana yang terjadi antara dirinya dengan Ethan, semua adalah rencana buruk seseorang.
Zoya tau itu, memang ada orang yang mencoba menjatuhkannya, hanya saja Zoya tidak percaya dan tidak habis pikir jika orang terdekatnyalah yang melakukan hal tersebut.
Zoya tidak percaya jika Selin yang melakukannya ..., dan Fahry. Mereka memiliki hunungan spesial di belakang Zoya?"
"Kenapa kalian semua jahat?" Zoya berucap putus asa.
"Kenapa kalian menghianati aku?"
"Kenapa kalian tega?"
Zoya menangis tersedu-sedu. Langit mulai menghitam menampung air hujan yang sebentar lagi akan tumpah menjadi saksi, betapa Zoya merasakan kepedihan.
Sedangkan di tempat lain, Randy yang ditugaskan Ethan untuk mencari tau kejadian yang sebenarnya mengenai kasus antara Ethan dengan Zoya yang menyebabkan mereka harus terjebak pernikahan tersebut memicingkan mata begitu melihat rekaman cctv di mana pesta perusahaan yang digelar di hotel milik kakek Ethan berlangsung.
Kepalanya menggeleng pelan melihat hasil pengamatan. "Ini nggak mungkin," ucapnya begitu melihat detail lengkap rekaman.
**
Ethan menuruni anak tangga, setelahnya melihat arloji di pergelangan tangan yang menunjukan pukul sembilan malam. Zoya belum kunjung pulang, padahal wanita itu sebelumnya sudah bilang jika ia akan selesai pukul lima sore. Di luar hujan turun dengan sangat deras seperti kemarin malam.
Pria itu memutuskan untuk menghubungi Zoya yang sebelumnya ia tahan-tahan karena tidak ingin membuat wanita itu merasa terganggu.
"Hallo, Zoya." sapa Ethan begitu pelanggilan terhubung.
"Di mana Zoya?"
"Dia menghilang sejak jam tiga siang Pak, dan sampai saat ini belum kembali."
Ethan terdiam, mendadak ia merasa cemas dan khawatir pada istrinya. "Kemana kira-kira dia pergi?" Ethan bertanya dengan sangat tidak sabaran, mempercepat langkahnya menuruni tangga untuk keluar dari rumah dan segera masuk ke mobil.
"Apa terjadi sesuatu di lokasi syuting siang tadi"
"Tidak ada, Pak. Semua baik-baik saja, saya juga tidak mengerti kenapa Zoya tiba-tiba pergi."
"Tidak biasanya dia bersikap begitu."
"Aisshh." Ethan memutuskan panggilan sepihak. Memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, hal yang sesungguhnya sangat ia hindari, bahkan nyaris tidak pernah untuk dilakukannya.
Menyusuri jalanan Ibu Kota di bawah guyuran air hujan. Perasaannya tidak tenang, ia yakin Zoya tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Karena jika tidak terjadi sesuatu hal, tidak mungkin Zoya pergi begitu saja tanpa memperdulikan pekerjaan dan profesionalitasnya sebagai seorang aktris.
Ethan memasang earphone, menghubungi Randy orang yang dapat ia percayai. "Ran, kamu di mana?" langsung menyerang sang skretaris dengan pertanyaan.
"Aku baru aja keluar dan menyelesaikan tugas yang kamu berikan. Secepatnya kamu harus tau betapa keterlaluan kejahilan–"
"Itu nggak penting sekarang. Aku minta tolong kamu periksa semua cctv di setiap jalan, cari keberadaan Zoya dan beritahu aku setelah menemukannya."
Ethan memutus panggilan sepihak tanpa menunggu persetujuan Randy di ujung sana, matanya mengedar ke setiap tempat yang ia lewati, berharap segera menemukan sang istri.
**
Dengan napas memburu setelah menaiki tangga darurat karena lift yang sedang diperbaiki oleh teknisi, Ethan bersandar pada tembok di samping pintu unit apartement Zoya, Randy mengabarinya jika kedatangan Zoya ke apartement terekam cctv yang di pasang di jalan.
Tak lama, begitu napasnya mulai teratur Ethan mengetuk pintu. Berharap Zoya segera membukakan pintu dan membiarkannya masuk untuk melihat keadaan wanita itu.
__ADS_1
"Zoya," beberapa kali mengetuk dan menekan bel namun tak ada respon dari dalam. Sampai sebuah suara dari dalam melalui interkom membuat perasaan Ethan melega.
"Ada apa?" Zoya bertanya dengan enggan di ujung sana.
"Buka pintunya!"
"Hari ini aku gak pulang ke rumah." suara Zoya terdengar lesu.
"Buka pintunya!" Ethan tidak ingin mendengar apapun dari wanita itu, yang ia mau hanya melihat Zoya dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Hari ini aku gak pulang." Zoya bersikeras.
"Saya panggil petugas keamanan biar buka paksa pintu apartement kamu." Ethan mengancam, ia tidak memikirkan cara lain kecuali hal tersebut.
Di dalam sana Zoya mendesah. Dengan sangat terpaksa membuka pintu dan membiarkan Ethan masuk. Pria itu terlihat lega melihat Zoya, namun ia merasa heran saat mendapati apartement wanita itu yang gelap. Sedangkan suara tv menggema mengisi setiap sudut ruangan.
Ethan mengikuti wanita itu yang terlihat memakai kaos oblong berwarna hitam, rambutnya di gerai dan terlihat basah ..., dan sepertinya tanpa di sisir.
"Kamu hujan-hujanan?" tanya Ethan, menyentuh rambut Zoya tapi wanita itu menghindar. Membuat tangan Ethan terhenti di udara.
"Kamu ada apa kesini?"
"Kamu kenapa tidak pulang?" Ethan justru balik bertanya dan membuat Zoya merasa kesal.
"Apa perduli kamu?"
"Saya suami kamu–"
"Suami terpaksa!" Zoya menyahut cepat. Mendadak merasa emosi atas semua yang sudah terjadi.
"–dan saya sangat mengkhawatirkan kamu." Ethan tetap melanjutkan kalimatnya.
Keduanya hanya terdiam dengan saling menatap. Zoya menghempaskan tubuhnya ke sofa, memangku bantal dan memusatkan tatapannya pada layar besar di hadapannya.
"Kamu nggak perlu khawatirin aku!" ucapnya kemudian tanpa mau menatap Ethan.
"Kamu udah makan?"
"Kamu nggak perlu perduli sama aku!" Zoya berteriak dan membuat Ethan menegang, menatap Zoya yang tiba-tiba saja menangis di hadapannya.
"Kamu nggak usah perduli," wanita itu kembali berteriak.
"Semuanya cuma pura-pura. Pura-pura perduli dan sayang sama aku? Kenyataannya apa? Mereka semua bohong,"
"Bahkan orang yang sangat aku percaya, dia khianatain aku!"
"Dia tega nusuk aku dari belakang,"
"Enggak ada yang bener-bener tulus sama aku. Enggak ada!" Zoya menangis sesenggukan, ia menenggelamkan wajahnya pada bantal. Sampai di sini Ethan mengerti, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada sang istri.
Ethan mendekat. "Apa menurut kamu masalah kamu akan beres dengan bersikap kaya gini?" tanya Ethan, membuat Zoya mengangkat pandangan dan menatap pria itu yang tidak mengerti dengan perasaannya. Bukankah yang seharusnya Ethan lakukan adalah menenangkannya dan memberikan pelukan untuk Zoya, kemudian mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja?
"Karena aku butuh ketenangan!" Zoya menyahut setelah beberapa saat.
"Lalu kenapa kamu tidak datang kepada saya?"
Zoya menatap Ethan sebentar, tanpa bisa ia tahan air matanya justru jatuh tanpa bisa ia tahan. Ethan tersenyum, mengikis jarak dan merengkuh wanita itu ke pelukannya. Mengusap lengan wanita itu memberikan kekuatan.
"Semuanya akan baik-baik saja,"
"Saya bersama kamu di sini."
TBC
__ADS_1
Gue yang baper, Ethan🤭