Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kembar Tiga?


__ADS_3

Menatap dirinya dalam pantulan cermin sudah menjadi kebiasaan Zoya sejak ia hamil dan merasa ada perbedaan dengan tubuhnya. Setiap melepas dan akan mengenakan pakaian, ia pasti lebih dulu menatap pantulan dirinya. Waktu sudah malam, tubuhnya sangat lelah setelah menghabiskan waktu setengah harinya berjalan - jalan mengelilingi pusat perbelanjaan siang tadi. Tapi yang pasti, hal itu sangat menyenangkan ia lakukan.


Wanita itu menolehkan kepala begitu tangan seseorang melingkari perutnya, di susul sesuatu yang berat menindih pundaknya. Pria itu datang di saat Zoya usai memakai gaun tidurnya.


"Ada apa?" tanyanya, saat Ethan mengusek - usekan wajah ke ceruk lehernya. "Badan kamu panas." Zoya segera berbalik untuk memastikan keadaan sang suami saat kulitnya dan kulit Ethan bersentuhan. Bahkan mata pria itu tampak memerah dengan rambut bagian depan yang berantakan.


Punggung tangan Zoya mendarat di kening pria itu. Ethan memejamkan mata. "Kamu sakit?" Kepala pria itu menggeleng.


"Perasaan saya nggak enak. Badan saya juga nggak enak rasanya."


"Perasaan kamu nggak enak kenapa?" heran Zoya. Pria itu kembali menggelengkan kepala.


"Aku panggilin dokter, yah."


"Jangan."


"Tapi kamu demam."


"Enggak papa."


Zoya hanya menatap suaminya iba. Ethan menarik satu tangan wanita itu dan mengeluskannya pada pipinya. Ethan juga tidak mengerti dengan tubuhnya yang tiba - tiba saja terasa panas, padahal satu jam yang lalu ia merasa sangat baik - baik saja.


Sama dengan tubuhnya. Perasaannya pun tak karuan dan ia mengkhawatirkan Zoya. "Saya khawatir dan pengen deket kamu terus."


"Ini lagi deket."


"Makannya jangana kemana - mana." pinta Ethan dengan tatapan yang begitu serius.


"Iya. Aku nggak akan kemana - mana." Zoya membalas tatapan pria itu dengan sangat pasrah. Merasa tidak tega dan juga kasihan pada suaminya.


Keduanya terdiam setelah itu. Dengan Zoya yang terus menatap sang suami penuh heran, tidak biasanya Ethan bersikap berlebihan seperti sekarang. Pria itu juga jarang mengalami demam. Kecuali hanya kelelahan.


Akhirnya Zoya mengajak pria itu untuk berbaring di tempat tidur. Ethan menurut, tapi tidak mau Zoya meninggalkannya. "Aku cuma mau ambil kompresan, sama obat di bawah." sahut Zoya saat pria itu benar - benar melarangnya pergi meski hanya selangkah.


"Kamu bisa suruh Naina, yah." sahutnya setengah membujuk agar Zoya tidak pergi meninggalkannya.


Zoya menghela napas, kemudian mengangguk. Menggapai ponsel yang berada pada meja di samping tempat tidur kemudian mendial nomor Naina. Tak butuh waktu lama untuk panggilannya segera terhubung dengan gadis itu.


"Naina, kamu bawa kompresan ke kamar saya. Sama ambilin obat penurun panas juga di lemari pendingin. Bawa ke kamar saya sekarang, yah."


"Iya, Bu." gadis itu menyahut dengan cepat.


"Beneran nggak mau dipanggilin dokter?" tanya Zoya setelah memutus panggilannya dengan Naina dan menaruh ponsel ke tempat semula. Ia merasa tak yakin dengan keadaan sang suami. Bahkan bibir Ethan tampak lebih merah dari biasanya.


"Tidak usah."


"Kalau gitu aku telpon Bunda aja gimana?"


"Tidak usah, Zoya. Saya tidak papa,"

__ADS_1


"Beneran? Kepalanya nggak pusing, 'kan?" Ethan menggelengkan kepala, keningnya tampak berkeringat dan membuat Zoya kian khawatir.


"Bajunya ganti, yah." sahut Zoya, beranjak ke arah walk in closet dan mengambil salah satu kaos tipis milik Ethan. Kemudian kembali dan duduk di tempatanya tadi.


"Kamu perasaan nggak ada makan yang aneh - aneh, kok bisa tiba - tiba demam gini, sih, nggak biasanya." tangan Zoya membuka satu persatu kancing kemeja lengan pendek yang suaminya kenakan. Tak lama, terdengar ketukan pintu, Zoya segera menyuruh gadis itu untuk masuk. Lagi, Naina melihat Ethan tanpa pakaian yang menutupi tubuh bagian atasnya, sama seperti saat awal ia bekerja di rumah ini.


Naina berjalan ke arah Zoya dengan menundukan pandangan, berusaha untuk tak melihat Ethan, sedangkan wanita itu tampak memakaikan kaos untuk Ethan sampai kaos tipis berwarna hitam itu melekat di tubuh pria itu.


"Ini, yang Mbak Ziya minta." sahutnya, menyerahkan nampan berisi mangkuk yang sudah ia isi dengan air hangat, dan juga obat yang Zoya minta. "Pak Ethan sakit?" tanyanya kemudian, Zoya menoleh pada Naina kemudian mengangguk.


"Iya. Tiba - tiba badannya panas." sahut Zoya, ia memasukan handuk kecil pada air hangat di dalam mangkuk yang sudah Naina sipakan, memerasnya kemudian menaruhnya di dahi pria itu.


"Mau dipanggilin dokter tapi dia nggak mau." sambung Zoya. Ia semakin khawatir jika Ethan tak kunjung sembuh besok, padahal besok adalah hari pernikahan Selin dengan Randy.


Naina hanya menatap pria yang tengah memejamkan matanya itu dengan iba. Selama hampir enam bulan ia bekerja dengan Ethan dan Zoya, ini adalah kali pertama baginya melihat pria itu jatuh sakit.


Biasanya, jika memang sedang banyak pekerjaan yang mengharuskan pria itu sering lembur dan begadang, Ethan hanya kelelahan dan tubuhnya akan kembali prima begitu beristirahat dengan cukup dan meminum minuman herbal buatan Naina.


Bahkan Naina melihat bagaimana bibir pria itu begitu merah dari biasanya. Naina segera menepiskan tatapannya saat mata Ethan perlahan terbuka.


"Aku nggak kemana - mana." sahut Zoya pada pria itu, melihat tangan Ethan yang menggenggan tangan Zoya dengan begitu erat, akhirnya Naina memilih permisi keluar. Tak ingin mengganggu pasangan suami istri itu.


**


Zoya melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul sebelas malam lewat dua puluh lima menit. Sudah berkali - kali ia mengompres Ethan dan memberinya obat penurun panas, namun suhu panas di tubuh pria itu tak kunjung menurun, mata pria itu terpejam, meski sejak lama tangannya terus saja menggenggam tangan Zoya.


Zoya mendesah, khawatir dengan keadaan sang suami namun pria itu benar - benar bersikeras melarangnya untuk menghubungi dokter. Sampai kemudian sesuatu terlintas di kepala Zoya, ia melepas genggaman tangan Ethan dengan perlahan, rupanya gerakannya tersebut membuat Ethan terganggu sehingga pria itu membuka matanya.


"Nggak kemana - mana, aku mau panas kamu cepet turun." sahut Zoya, Ethan hanya mengernyit di tempatnya tapi tetap menurut saat Zoya menyuruhnya melepas pakaian.


"Sekarang mau ngapain?" tanya pria itu saat Zoya masuk ke dalam selimut dan melepas gaun tidurnya.


"Aku nggak yakin, sih. tapi katanya skin to skin contact bisa nurunin demam." ujar Zoya, merapatkan tubuh pada pria itu. Ethan justru terkekeh geli, tapi Zoya dapat merasakan hembusan napas panas yang keluar dari mulut pria itu.


"Mau sembuh nggak?" kesal Zoya. Ethan mengangguk.


"Kenapa tidak melakukannya sejak tadi?" tanya Ethan saat tubuh keduanya sudah benar - benar rapat. Obat paling menyanangkan, begitu batin Ethan.


"Aku ragu." jawab Zoya.


"Ragunya kenapa?"


"Takut kamu mikirnya macem - macem."


"Macem - macem yang kaya gimana?"


"Udah, ah, jangaan bikin kesel. Kamu tidur aja,"


Ethan tersenyum melihat wajah jutek sang istri jika sedang kesal, menganggukan kepala dan kemudian memejamkan mata setelah mengatakan pada Zoya. "Kamu juga tidur, yah."

__ADS_1


Zoya menyahut dengan gumaman. Menatap wajah damai Ethan yang tampak gelisah dalam tidurnya. Tangan Zoya terangkat mengusap satu sisi wajah pria itu. "Cepet sembuh. yah, aku nggak mau ngeliat kamu sakit."


**


Zoya mengerjap - ngerjapkan matanya saat sinar matahari terasa menembus mata. Sontak ia membuka mata dengan sempurna, begitu melihat hari sudah terang benderang. Hendak bangun namun sebuah tangan besar menahan dadanya.


"Mau kemana?" tanya seorang pria dengan kaos berwarna hitam. Wajahnya terlihat jauh lebih bugar dari biasanya, terutama semalam. Zoya merasa lega karena sang suami sudah sembuh. Namun bukan hal itu yang ia pikirkan sekarang.


"Sekarang jam berapa?"


"Jam sembilan."


"Ethan!" memukul dada pria itu dengan sangat keras. Ethan meringis, mengusap dadanya yang benar - benar terasa sakit.


"Kamu sejak kapan udah bangun?"


"Sejak dua jam yang lalu."


"Astaga."


Wanita itu hendak bangkit namun Ethan masih menahannya, sekarang justru mengapit paha Zoya dengan kakinya sehingga wanita itu tak bisa berbuat apa - apa.


"Kamu lupa? Ini hari pernikahannya Mbak Selin sama Randy. Bisa - bisanya nggak ngebangunin." protesnya dengan nada menggebu - gebu.


"Sebagai seorang adik, aku mau hadir langsung dalam acara akad nikahnya." sambung Zoya dengan kesal yang tiada kepalang pada sang suami. Bisa - bisannya Ethan sudah bangun sejka dua jam yang lalu dan tidak membangunkannya. Terus membiarkannya tidur dan melewati acara paling sakral dalam hidup bagi manejernya.


"Kamu kalau nggak nyebelin emang nggam enak kayaknya. Selalu bisa aja bikin orang kesel dan naik darah." masih ingin memaki sang suami yang berbuat seenaknya.


"Saya sudah bilang pada manejer kamu kita akan datang saat acara resepsi karena kamu harus istirahat."


"Enggak gitu, Than."


"Manejer kamu maklum Sayang. Lagi pula, semalam kamu begadang karena mengurus saya yang sedang sakit. Kamu kurang istirahat, saya nggak mau kamu sampai kelelahan." sahut Ethan. Logis memang, dan Zoya sangat berterimakasih karena suaminya begitu memerhatikannya.


"Tapi kamu pikir kesananya aku nggak perlu dandan, ini itu? Ribet, Than!"


"Saya sudah siapin semuamya, kamu terima beres." Ethan menjawab dengan mudahnya. Wanita itu hanya bisa mendesah dan mengusap wajahnya. Ethan justru mendaratkan kecupan di pipinya guna membujuk agar Zoya tidak marah. Untuk kali ini, Zoya menghela napas, kemudian mengusap rambut suaminya. Menaruh punggung tangan di dahi Ethan yang mbuat pria itu memejamkan mata.


"Panasnya kapan turun?"


Kepala Ethan menggeleng. "Pagi - pagi saya bangun panasnya sudah turun. Skin to skin contact ternyata ampuh juga." sahut Ethan dengan senyum menggoda. Zoya menggeleng pelan mendengar hal itu. Ethan menurunkan selimut yang Zoya kenakan, wanita itu hendak menahan namun sudah terlanjur saat Ethan menciumi perutnya berulang - ulang.


"Harus kembar tiga." sahut pria itu sebelum akhirnya kembali mendaratkan kecupan di perut Zoya, kali ini cukup lama.


"Kembar tiga, nanti aku nggak kuat bawanya."


"Bisa saya gendong. Kemana kamu pergi saya siap," ucap pria itu. Zoya hanya menganggukan kepala, mengiyakan agar suaminya senang.


Kembar tiga? Zoya tak dapat membayangkan bagaimana nikmat dan repotnya mengurus tiga bayi sekaligus.

__ADS_1


TBC


__ADS_2