
Fahry menuruti saja keinginan Anye untuk bermain bola dengannya sembari menunggu Anggun yang sedang menyiapkan sarapan sendiri untuk mereka. Tanpa sengaja, Fahry menendang terlalu keras bola tak tentu arah dan membuatnya menjauh dari pelatatan vila.
Anak dengan ayah itu kompak menatap kemana arah bola melayang. "Maafin, Ayah. Sayang. Ayah nggak sengaja," sesal Fahry.
"Enggak papa. Biar Anye ambil bolanya." Anye segera berlari ke arah bolanya pergi. "Hati-hati!" Fahry sedikit berteriak, mau mengejar tapi sayangnya anak itu sudah berlari dalam jarak yang jauh dengan sangat cepat. Sampai kemudian Anggun tiba dan memberitahukan jika sarapan mereka sudah siap.
"Anye-nya mana?" tanya Anggun dengan heran.
"Ngambil bola."
"Biar aku cari dia." Fahry beranjak, sedangkan Anggun mengangguk dan menunggu anak juga suaminya. Sampai saat mereka tak kunjung tiba. Anggun berinisiatif untuk menyusul.
Sedangkan Fahry masih mematung menatap Zoya di sana. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Tidak ingin terlihat bagai pengecut sungguhan, akhirnya Fahry meneruskan langkahnya dan berdiri di hadapan Zoya, sebelumnya ia berjongkok di hadapan putrinya.
Anye yang polos dan tidak tau apa-apa menatap sang ayah dengan raut heran. "Kamu kembali ke vila, yah, Mama lagi nunggu buat sarapan. Nanti Ayah nyusul." Mengusap kepala sang putri dengan lembut. Anye menurut, mengbil bola dari tangan Zoya kemudian beranjak meninggalkan dua orang itu.
Selin dengan Ethan masih berdiri memperhatikan. Sampai kemudian mereka melihat Fahry mendekat pada Zoya dan Zoya melayangkan tamparan dengan sangat keras di pipi Fahry.
Selin spontan menutup mulutnya karena terkejut melihat hal itu.
Sementara Zoya dibingungkan oleh pikirannya. Tanda tanya melayang dalam jumlah tidak terbatas di kepalanya. Bagaimana bisa jika ternyata Fahry memiliki seorang anak?
Anye? Yang artinya Fahry adalah suami dari Anggun. Bagaimana mungkin selama ini Zoya terripu dan tidak mencurigakan hal apa pun? Lalu, hubungan Selin dengan Fahry, hubungan seperti apa yang sebenarnya mereka miliki di belakang Zoya?
Langkah Fahry mendekat pada Zoya, dengan kesaadaran penuh, Zoya mendaratkan tamparannya dengan sangat keras di sana. Zoya tau itu sakit, tapi tidak akan pernah sebanding dengan apa yang dirasakan olehnya.
"Anye, Ayah di mana?" tanya Anggun begitu berpapasan dengan putrinya yang hanya berjalan sendirian.
"Ayah di sana, sama Tante Zoya."
”Tante Zoya?" heran Anggun.
Anye mengangguk. "Anye tunggu di sini. Biar Mama ke Ayah sebentar, yah?"
Anak penurut itu mengangguk, Anggun tersenyum bangga kemudian melanjutkan langkahnya untuk menyusul Fahry. Sampai ia melihat sang suami dan apa yang dikatakan Anye memang benar, jika ada Zoya di sana. Tapi kelihatannya dua orang itu tampak sedang bersitegang, Anggun yang hendak melanjutkan langkah urung begitu Zoya menampar suaminya dengan keras. Anggun menutup mulut tidak percaya, juga tidak mengerti situasi yang sedang terjadi.
"Zoy,"
"Puas? Puas kamu karena udah tipu aku selama ini?" air mata Zoya masih tertahan, sedangkan Fahry masih memegangi pipinya yang terasa kebas karena tamparan Zoya yang keras.
"Zoy, aku bisa jelasih."
"Aku bisa ceritain semuanya. Aku sama sekali nggak berniat untuk tipu kamu!" Fahry berusaha membuat wanita itu untuk mengerti. Tapi Zoya tampak tidak perduli, ia tidak mau mendengarkan.
"Ini alesan kenapa kamu sering ngilang? Karena kamu punya keluarga! Iya?"
"Ini alasan kenapa dengan mudahnya, kamu biarin aku nikah sama orang lain, iya?" Zoya histeris, kali ini air matanya tumpah tak tertahan. Fahry hanya menatapnya dengan rasa bersalah.
"Kenapa Fahry?"
"Kenapa kamu ngelakuin ini semua sama aku?"
"Kenapa kamu tega?"
Zoya menyeka air matanya dengan kasar. Sedangkan Fahry hanya menunjukan raut bersalahnya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Zoya tidak tau jika hal sebesar ini yang Fahry sembunyikan darinya. Yang membuat Zoya lebih terpukul, ia sudah menjadi orang ketiga di antara Fahry dengan Anggun.
Hal yang membuat Zoya merasa sangat terpukul adalah mengetahui fakta jika selama ini ia menjalin hubungan dengan suami orang lain. Dan Fahry tanpa mencurigakan sudah berhasil menipu Zoya dengan topeng yang dipakainya.
"Aku bisa jelasin!" suara Fahry terdengar lirih. Zoya menggelengkan kepalanya, enggan mendengar apapun yang keluar dari mulut Fahry.
"Selama ini aku sangat mempercayai kamu Fahry. Selama ini aku selalu mencoba memahami kamu!"
"Tapi apa balasan kamu?"
"Zoy," Fahry menggapai tangan Zoya tapi wanita itu segera menepisnya. "Jangan pernah berani lagi nunjukin wajah kamu di hadapan aku!" Zoya melangkah pergi tapi Fahry menghadang. "Please Zoy, dengerin aku sekali aja?!"
"Aku tau aku salah. Aku udah bohong, tapi rasa sayang aku ke kamu tulus, Zoy. Tolong percaya." Fahry memohon. Ia memang tidak mungkin untuk mengemis agar mereka kembali bersama. Tapi setidaknya Zoya harus percaya jika cinta Fahry untuknya selama mereka berpacaraan tulus tanpa dusta dan rekayasa.
"Aku gak mau denger apa-apa dari kamu!" Mendorong tubuh Fahry yang menghalangi jalannya. Zoya berjalan cepat untuk kembali ke vila dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.
__ADS_1
Sedangkan tanpa mereka tau. Jika satu orang sudah memperhatikan sejak lama dengan sebuah kamera di tangannya dan sudah berhasil mengambil gambar pertengkaran yang terjadi antara aktris cantik itu dengan seorang pria.
Selin menghampiri Zoya yang terus menyeka air matanya. "Zoya,"
"Minggir!"
Selin menahan bahu Zoya. "Aku bilang minggir?"
"Mbak Selin tau ini semua, 'kan?" tatapan wanita itu menajam.
"Zoy, Mbak bisa jelasin!"
Zoya menatap remeh, menepis tangan Selin dan berlalu begitu saja. Bahkan melewati Ethan tanpa sepatah kata pun.
Sedangkan Anggun berharap apa yang didengarnya hanyalah mimpi. Bagaimana bisa jika ternyata selama ini Fahry bermain belakang? Dengan orang yang Anggun kenal?
Fahry tampak terkejut melihat kehadiran Anggun, tapi ia siap dengan kemungkinan apa pun. Wanita itu melangkah kearahnya. memberikan tatapan nanar dengan air mata yang berlinang.
"Bilang sama aku kalau yang barusan aku denger utu nggak bener!"
"Bilang sama aku ini semua nggak bener Fahry!" air mata Anggun sudah mengalir deras. Fahry di hadapannya hanya diam, membuat Anggun menarik kerah baju Fahry agar pria itu berbicara dan menatapnya. Setidaknya biarkan Anggun melihat mata pria itu dan mengetahui jawabannya.
"Fahry."
Fahry mengangkat pandangannya. Mempertemukan matanya dengan mata Anggun, sampai kemudian air mata Anggun jatuh lebih deras begitu pria itu mengangguk.
Perlahan Anggun melepas cengkramannya dari kerah baju Fahry. Ia mundur beberapa langkah. "Jadi kamu benar-benar selingkuh dari aku Fahry?"
"Berapa lama?" tanyanya dengan nada rendah.
"Berapa lama!" kali ini Anggun berteriak.
Fahry tidak menyahut. Membiarkan tubuh Anggun luruh setelah mengetahui pengkhianatan yang ia lakukan selama lebih dari satu tahun.
"Kamu nggak tanya, alasan apa yang ngebuat aku ngelakuin ini semua?" Fahry balik bertanya dengan mata memerah. Ia sudah tau resiko apa yang akan ia hadapi saat menjalin hubungan dengan Zoya Hardiswara, dan hal yang dulu selalu dikhawatirkannya, kini terjadi di depan matanya.
"Aku tau tindakan aku salah. Tapi kamu juga tidak selalu benar Anggun, maaf."
**
"Zoy buka pintunya, Zoy."
"Mbak bisa jelasin semuanya, kamu harus dengerin Mbak."
"Mbak tau Mbak salah, tapi Mbak ngelakuin itu semua demi kamu, Zoy."
"Mbak mohon kita omongin ini baik-baik, yah."
Zoya berusaha untuk mengabaikan bujukan Selin di luar sana. Air matanya masih mengalir deras. Bukan karena masih ada cinta di hatinya untuk Fahry.
Tapi karena Zoya merasa terluka sudah dikhianati dan dibohongi selama ini. Bahkan, orang terdekatnya sekali pun tidak mencegah untuk hal ini agar tidak terjadi. Atau setidaknya memberitahukannya sebuah kebenaran agar Zoya tidak merasa dibodohi oleh Fahry.
Siapa pun orang yang berada di posisi seperti Zoya akan merasakan hal yang sama. Sekarang, ia membenci dirinya yang mudah tertipu, membenci Fahry yang sudah menipu dan membobonginya selama ini, juga tidak suka Selin yang membantu Fahry menutupi hal ini darinya.
Berkali-kali Zoya menyeka air mata yang tak kunjung berhenti. Ketukan di pintu kamar masih terjadi dan Selin masih berusaha untuk membujuknya. Dengan mata sembab dan pipi yang basah, Zoya mengambil ponselnya mendial nomor sang asisten. Dalam dering pertama panggilan sudah terhubung.
"Hallo, Mbak Zoya. Gimana liburannya?" Adhel bertanya dengan nada girang di ujung sana.
"Pasti asik. Oh, iya, Mbak. Makasih, yah, berkat Mbak Zoya kafe Adhel rame pengunjung."
Zoya memejamkan mata sekilas. "Kamu bisa kirim jemputan?"
"Ya?" Adhel bagai terkejut dan heran.
"Kirim mobil untuk saya! Secepatnya, yah."
Zoya memutus sambungan telpon. Lagi, menyeka air mata yang terus mengalir. Zoya masih belum mempercayai hal ini. Selin, adalah yang paling membuatnya sakit hati karena merahasiakan hal ini.
Di luar sana, Selin tampak sudah menyerah uuntuk membujuk Zoya. Ia tau wanita itu tidak akan suka di paksa, tapi setidaknya Selin tidak ingin Zoya kecewa padanya.
__ADS_1
"Bagaimana? Zoya mau membuka pintu?" tanya Ethan yang baru saja kembali dari luar.
Selin menggelengkan kepala. "Kalau sedang benar-benar marah. Zoya memang tidak mudah dibujuk, bahkan enggan bertemu siapa pun."
Ethan diam, tampak sedang memikirkan sesuatu hal. Tak lama, ia memilih untuk duduk pada salah satu sofa. Ethan akan membiarkan wanita itu.untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Selang satu jam setelahnya, Zoya keluar dari kamar dengan mata sembab. Berjalan menapaki anak tangga dengan cepat. Ethan dan Selin yang sudah menunggunya sejak lama lantas bangkit untuk menghampiri wanita itu, tapi Zoya tampak tidak menghiraukan siapa pun.
"Zoy," Ethan menahan pergelangan tangan wanita itu saat mereka berada di teras vila. Zoya hanya diam, tidak bersuara atau sekedar menoleh pada suaminya. Tak lama, sebuah mobil menepi di pelataran vila. Ethan menoleh pada Selin dengan gestur bertanya sedangkan Selin hanya menggelengkan kepala.
Seorang sopir keluar dari sana. "Mari Ibu Zoya."
Zoya berusaha menepis tangan Ethan namun pria itu tampak kuat menggenggamnya. "Biarin aku sendiri!"
"Saya nggak bisa biarin kamu sendiri!"
Kali ini Zoya menoleh. "Sejak awal aku udah sering bilang. Aku nggak suka dipaksa!"
"Lepas!"
"Kamu pulang sama saya!"
Zoya memaksa tangan Ethan agar melepas cekalannya, sampai akhirnya pria itu mengalah dan membiarkan saja Zoya mengikiti kemauanya sendiri.
"Jangan ikutin aku!" ancamnya sebelum masuk ke mobil. Sopir yang menjemputnya membukakan pintu mobil, sedangkan Ethan hanya diam menatap mobil itu yang pergi membawa istrinya.
"Pak." Selin juga tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bunyi notif di ponsel membuatnya melihat benda canggih itu.
"Celaka." Selin tampak panik setelah melihat ponsel.
"Ada apa?" tanya Ethan melihat raut panik Selin. Selin menunjukan ponselnya, Ethan mendesah. Ia merogoh ponsel dan mendial nomor seseorang.
"Kita bersiap untuk pulang." sahutnya pada Selin. Selin mengangguk, bergegas ke dalam vila untuk mengambil beberapa barangnya, Ethan menyusul, tak lama ia kembali dengan sports jacket berwarna biru tua. Segera masuk kedalam mobil, disusul oleh Selin.
Keduanya tampak cemas dan panik, terutama Zoya tidak mau mengangkat telponnya. Berkali kali Selin menghubungi tapi Zoya tidak merespond.
Sementara Ethan tampak mengenakan handsfree berwarna putih, tak lama ia berbicara dengan seseorang sedangkan tangannya fokus pada gagang stir.
"Bagaimana?"
"Tidak bisa dihentikan Pak, artikel tersebut sudah tersebar dan banyak dibaca serta dibagikan."
"Kami sedang berusaha untuk menghentikannya. Tapi sekali lagi terjadi masalah. Server mendadak eror dan perbaikannya akan memakan waktu yang lama."
Ethan diam, melepas handsflireenya. Sementata bibirnya berdecak pelan. "Percuma saja memiliki orang orang dari Perusahaan IT terkenal jika menghentikan penyebaran artikel saja tidak becus!" pria itu tampak kesal.
Selin memejamkan matanya sekilas. "Berita ini sedang diperbincangkan Pak, Zoya Hardiswara ada di urutan pertama dalam mesin pencarian."
"Aisshh!"
**
Memiliki Kekasih Lain. Hubungan Pernikahan CEO AE RCH Dengan Zoya Hardiswara Hanya Sandiwara?
Zoya mengalihkan tatapannya keluar jendela setelah membaca headline artikel pada beberapa portal berita daring. Berikut juga beberapa komentar yang mempermasalahkan hubungan pernikahan Zoya dengan Ethan.
Zoya tidak ingin memikirkannya, apapun itu. Ia hanya ingin pulang dan menghabiskan waktu sendirian.
TBC
Kalian pikir kalo Fahry sama Zoya ketemu semua bakalan baik-baik aja? Will not😎
Zoya kok begini? Harusnya yaudah, sih, kan ada Ethan!
Kenapa bego dan malah marah sama semua orang coba?
Ya intinya coba aja kalau kamu yang ada di posisi Zoya!
Jangan judge, ya🙃
__ADS_1
Apalagi judge authornya wkwk