Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
EXTRA PART (8)


__ADS_3

Awalnya Agyan melarang Freya untuk ikut, tapi wanita itu keras kepala dan bersikukuh untuk tetap menjemput Arasy. Agyan khawatir dengan kondisi sang istri, tapi Freya berkata jika ia baik-baik saja.


Sementara Grrycia dengan Anna menjaga Ethan di rumah.


Freya dengan yang lain memusatkan tatapannya pada sebuah mobil yang melaju menghampiri mereka. Kemudian berhenti, sang pengemudi turun, di susul oleh satu anak buahnya.


Agyan mengepalkan tangannya. Andai ia tidak perlu mencemaskan kondisi putrinya, mungkin ia sudah menghajar dua penculik itu habis-habisan.


"Kalian tidak membawa polisi, kan?" tanya salah satu dari mereka.


Agyan menggeleng. Ia hanya mengangkat sebuah koper berisi uang di tangannya. "Serahkan uang itu!"


Agyan melangkah, tapi Braga dan Andreas menahannya. Agyan menoleh pada sang papi. Andreas maju satu langkah berada di depan Agyan.


Dua pria berbeda generasi itu memang cukup curiga dengan gerak-gerik dua penculik itu.


"Saya ingin melihat cucu saya sebelum menyerahkan uang ini,"


"Dia berada di dalam mobil."


"Saya ingin melihat,"


"Dia sama anak buah gue, serahin duitnya kalo mau anak itu selamet!" ancamnya yang membuat Freya menggeleng spontan.


"Pih," Agyan tidak mengerti dengan Andreas yang justru menggelengkan kepalanya.


"Di mana cucu saya?" Andreas melangkah mendekat.


Bos penculik itu tampak mulai khawatir. "Dia, dia di dalam!"


Andreas menoleh pada Morgan. Morgan mengangguk, merogoh ponsel dan menekan sebuah angka. Hanya berselang beberapa detik, terdengar sirine polisi dan sebuah helikopter berada di udara yang membuat para penculik itu kalang kabut dan hendak melarikan diri. Braga dan Morgan gerak cepat untuk menahannya.


Agyan memang sudah menyiapkan hal ini jika nanti mendapatkan situasi yang tidak menguntungkan atau bahkan mendapat ancaman. Bagaimana pun, ia tidak bisa membiarkan para penculik itu lolos begitu saja.


Terjadi sedikit perkelahian di sana. Andreas melangkah mendekat pada mobil si penculik. Ia tidak menemukan Arasy di sana, Andreas menarik si kepala plontos, memberi bogem mentahnya pada pria jahat itu.


"Di mana cucu saya?"


"Dia—dia kabur, Pak."


"Kami juga tidak tau dia lari ke mana!"


Freya yang mendengar hal itu tak kuasa menahan air matanya. Ia menggeleng, kemana putrinya?


Agyan menghembuskan nafasnya dengan putus asa. Ia melangkah menghampiri Freya dan segera memeluk istrinya. Warry menghampiri seorang polisi untuk segera memproses tiga penjahat itu yang ternyata adalah seorang buronan.


Sementara itu, di sebuah pemakaman. langkah Arasy mulai meleok tak tentu arah. Ia baru menyadari jika dirinya sudah sangat jauh berlari. Dan ia baru sadar jika luka bakar di punggung tangan kirinya memang ada.

__ADS_1


Luka itu tampak melepuh menyerupai sebuah bintang. Beruntung, luka bakar tersebut terlihat kecil, sehingga tidak akan terlihat buruk meski lukanya akan membekas nanti.


Arasy menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon. Ia perlu beristirahat sejenak, mengumpulkan kekuatan meski merasa sangat lapar.


"Kesedihan hilang. Penderitaan hilang. Kebahagiaan datang."


"Kesedihan hilang. Penderitaan hilang. Kebahagiaan datang."


"Kesedihan hilang. Penderitaan hilang. Kebahagiaan datang."


Arasy terdiam, ia menoleh ke belakangnya. Di sana, seorang pria tengah berjongkok pada sebuah nisan dan terus mengungkapkan kalimat yang sama.


"Kesedihan hilang. Penderitaan hilang. Kebahagiaan datang."


"Kesedihan hilang. Penderitaan hilang. Kebahagiaan datang."


Arasy bangkit. Ia mulai melangkah mendekati pria yang sepertinya lima tahun lebih tua darinya. Arasy ikut berjongkok di sana, ia melihat tulisan pada nisan tersebut. Isyana Darmakencana.


"Kesedihan hilang. Penderitaan hilang. Kebahagiaan datang." ungkap Arasy bersamaan dengan pria itu. Pria itu menoleh dan menatapnya penuh heran.


"Hay, Arasy. Aku artis, seharusnya hari ini aku melakukan pemotretan kalau saja aku tidak diculik. Kamu pernah melihatku di tv?" tanyanya. Pria di hadapannya menggeleng.


"Kenapa kamu berantakan?" pria iru ragu jika Arasy adalah seorang artis. Melihat penampilannya yang sangat berantakan. Rambutnya yang diikat satu sudah tak tentu. Baju sekolah yang dipakainya sangat kotor, begitu juga wajahnya yang kusam.


"Aku diculik," Arasy menyahut dengan wajah yang memucat. Ia ingat jika ia harus pulang dan segera bertemu dengan orangtuanya.


"Aku mohon."


Arasy sangat memelas, sedangkan pria di hadapannya hanya memperhatikan. Ia melihat luka di tangan Arasy. "Tidak sakit?" tanya pria itu dengan wajah meringis. Arasy tak kalah meringis. "Sangat sakit."


"Tolong aku. Aku tidak ingin para penculik itu menemukanku. Aku mohon, selamatkan aku." pintanya. Ia dapat menilai, jika pria di hadapannya adalah orang berada. Terlihat dari pakaian yang dikenakannya.


Juga dua orang berjas hitam yang saat ini berjalan ke arah mereka. "Tuan muda, sudah waktunya untuk pulang." salah satu dari mereka berbicara dengan sopan.


Pria itu mengangguk. Ia bangkit, tapi Arasy menahan tangannya dengan raut wajah memohon. Sedangkan pria berjas hitam tadi mendekat dan melepas tangan Arasy saat melihat raut tidak senang dari Tuan mudanya.


"Tolong." pinta Arasy lagi. Pria yang sudah melangkah itu menoleh.


"Paman, apa Paman tau dia siapa? Dia bilang dia adalah seorang artis." tanyanya dengan nada dingin.


Pria yang dipanggil paman itu tampak mengeluarkan ponselnya dan menelusuri pencarian dengan kata kunci Arasy. Ia menatap Tuan mudaanya dan mengangguk.


"Dia cucu Tuan Zeinn Andreas."


Pria itu mengangguk, ia berbalik dan mengulurkan tangannya pada Arasy. Arasy menengadah setengah tak percaya. Tapi ia buru-buru menerima uluran tangan pria tampan itu.


"Aku akan menolongmu karena kamu tidak berbohong." ungkapnya. Arasy mengangguk.

__ADS_1


"Bangunlah."


"Tidak bisa, kakiku lemas."


Pria itu menggeleng pelan, sementara tangannya masih menggenggam tangan Arasy. "Aku tidak bisa menggendongmu."


Pria berjas hitam di samping pria tampan itu tersenyum. "Biar saya yang menggendong nona Arasy."


Arasy tersenyum, matanya mulai meredup sampai pegangan tangannya dari si pria tampan terlepas dan ia jatuh pinsan.


*


*


Perlahan Arasy membuka matanya. Ia berada di brankar dorong dan akan dibawa ke IGD. Ia melihat pria tampan yang mengikuti brankarnya. Rupanya pria tampan yang ia temui di pemakaman bukanlah mimpi. Pria itu benar-benar penolong untuknya.


Brankar berhenti di depan IGD.


"Tuan Muda, Tuan Vinsen menyuruh anda untuk segera pulang." seorang pria dengan jas hitam yang terus mendampingi pria tampan itu berujar sopan.


"Saya sudah menghubungi Tuan Andreas dan memberitahukan cucunya berada di sini."


Pria tampan di samping Arasy mengangguk samar. Kemudian menoleh pada Arasy. Arasy melihat jari tangannya, terdapat sebuah cincin di sana, ia mengambil dan mengulurkannya pada pria tampan itu.


"Aku tidak mau." ia spontan menolak bahkan sebelum Arasy mengatakan apapun.


"Sebagai ucapan terimakasihku."


"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkannya."


"Tapi aku ingin memberikannya, kamu harus menerima ini."


"Aku tidak suka dipaksa."


"Aku tidak suka ditolak."


Arasy menarik tangan pria itu dan memasangkan cincin tersebut pada jari kelingkingnya, karena akan kekecilan jika Arasy memasangkannya pada jari lain. "Kamu boleh mengembalikannya jika kita bertemu lagi."


"Aku juga berharap kamu memberiku kenang-kenangan." ungkap Arasy yang membuat pria itu mengerutkan kening. Bukankah tadi Arasy bilang jika ia memberikannya sebagai ucapan terimakasih?


Lalu, kenapa gadis itu juga meminta sesuatu darinya?


"Tsk, bocah."


Arasy hanya tersenyum, perlahan ia menutup matanya. Seorang dokter datang dan dua suster yang mendorong brankar Arasy segera membawanya masuk ke IGD.


Pria tampan itu hanya menatap Arasy. Ia kemudian menatap cincin yang melingkar di jari kelingkingnya. Ia menggeleng samar dan membuka cincin tersebut.

__ADS_1


__ADS_2