
Ethan menginjakan kakinya di ruang rapat di mana ia langsung mendapat tatapan penuh citra fierce dari Rachel yang sedang berbicara dengan proyektor yang tengah menyala. Pria itu hanya mengedikan bahu, lantas duduk di kursinya dan mengangguk samar pada Rachel agar meneruskan presentasinya.
Belum satu menit ia duduk di antara orang - orang yang sudah sejak dua puluh menit lalu melaksanakan rapat, Ethan sudah merasa bosan. Ia tak memerhatikan jalannya rapat sehingga begitu rapat usai, Rachel memanggil agar ia datang ke ruangan perempuan itu.
"Kamu sudah bosan bekerja, Tuan Muda Zeinn?" kesal Rachel begitu pria tampan itu mendudukan dirinya di sofa sudut ruangan Rachel.
"Mom, apakah mungkin Zoya menyukai Edrin?" pria itu bertanya dengan gelagat santai, tak perduli apa yang tadi Rachel katakan, semuanya menghilang di udara. Sedangkan Rachel mengerutkan kening, menatap pria tampan itu tak percaya.
"Sejak rapat tadi kamu hanya memikirkan hal tidak penting itu?"
"Hal tidak penting?" Ethan tidak terima dengan perkataan Rachel. "Menurut Momy tidak penting seandainya Zoya meninggalkanku?"
"Kamu meragukan Zoya?"
Kali ini Ethan terdiam, membuat Rachel yang melihat hal itu lantas menghela napas. Melipat tangan di dada dan kembali menatap Ethan.
Rasanya menggelikan, mengingat jika pria tak berperasaan itu sekarang sudah memiliki istri, sangat mencintai istrinya dan bahkan begitu takut kehilangan.
"Edrin Nicolas?" Rachel kemudian bertanya begitu mengingat nama pria yang Ethan sebutkan tadi. Ethan menatap Rachel, ia kemudian menganggukan kepala mengiyakan.
Rachel juga menganggukan kepala, ia mendudukan dirinya di sofa yang lain berhadapan dengan pria itu. "Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanyanya lagi.
"Edrin tertarik pada Zoya?"
"Sepertinya begitu."
"Kalau begitu jangan biarkan mereka memiliki project kerja sama." pesannya singkat. Ethan menatap Rachel.
"Karena saat mereka sering menghabiskan waktu bersama, segala hal bisa saja terjadi bukan?"
Ethan lagi - lagi hanya bisa diam. Sementara kepalanya mempertimbangkan. Apa yang Rachel katakan sepenuhnya benar, itulah kenapa ia tidak suka Zoya terlibat dalam project apa pun dengan Edrin. Terutama setelah kejadian beberapa saat lalu saat pria itu menantanginya untuk menarik perhatian Zoya.
**
"Aku buru - buru."
"Cuma makan, Zoy. Sebentar," bujuk Edrin agar wanita itu mau makan siang dengannya begitu proses pemotretan mereka usai.
"Masalahnya aku nggak laper."
"Ke restoran nggak harus makan kok, Zoy. Lagian kamu nggak ada jadwal pemotretan lagi, 'kan hari ini?" Edrin benar - benar tak memberi peluang baginya untuk menolak, dan tak ada yang bisa menolongnya terutama ketika Selin menggeleng pelan. Membenarkan Edrin jika Zoya memang tak memiliki jadwal lain lagi hari ini.
Sehingga yang Zoya lakukan kemudian mengangguk pasrah. Ia gidak bisa menolak ajakan Edrin yang memgatasnamakan jika ajakannya srbatas ajakan biasa sebagai rekan kerja. Terutama banyak orang - orang di sana, akan terkesan tidak sopan jika Zoya bersikukuh menolak dan membuat keributan karena mereka berdebat.
"Kamu aktris baru?" Naina yang sebatas mengerti jika Edrin barangkali menyukai Zoya atas insiden yang sedang terjadi cukup dikejutkan oleh kedatangan seseorang.
"Saya?" ia menunjuk dirinya sendiri. Pria di hadapannya mengangguk.
"Oh, bukan. Saya asisten Mbak Zoya." sahutnya sopan. Prolia dengan kemeja biru tua itu mengangguk - anggukan kepala.
"Aku kira aktris, kamu cantik."
"Oh, yah, perkenalkan, saya Kevin." pria itu tersenyum hangat seraya mengulurkan tangannya.
"Oh, Naina." wanita itu meraih uliran tangan Kevin dengan gerak mata waspada. Bagaimanapun, ia hanya seorang gadis kampung yang tidak boleh terlena begitu sajabl dengan pesona anak jakarta. Terutama, penampilan Kevin tampak bukan orang biasa, terlihat dari pakaian, sepatu dan jam tangan mewah yang dikenakannya.
Setidaknya, Naina tau harga barang - barang tersebut tidaklah murah.
"Naina." panggilan Zoya membuat wanita itu menoleh, lantas ia berpamitan pada Kevin. Baru akan melangkah. pria itu menahan pergelangan tangannya. "Boleh pinjam hp kamu sebentar?" tanya pria itu penuh harap.
"Untuk apa, yah?"
"Aku kesini nyari hp ku yang hilang."
"Boleh minta tolong, 'kan?" Naina terdiam, entah mengapa ekspresi wajah Kevin membuatnya tak bisa menolak sehingga akhirnya ia menyerahkan ponselnya pada pria itu.
Kevin menerimanya dengan tersenyum, ia lantas mengotak - atik ponsel Naina yang tidak memakai password. Tak lama, ia menempelkan benda pipih itu di telinga, selang beberapa detik suara dering ponsel yang berada di balik saku jasnya membuat Naina mengerutkan kening.
__ADS_1
Kevin juga tampak terkejut. Tentu saja ekspresi yang dibuat - buat. "Oh," sahutnya seraya merogoh ponselnya dari balik saku jas. "Ternyata di sini," sambungnya seraya menunjukan ponselnya pada Naina, lantas menyerahkan ponsel milik gadis itu.
"Terimakasih," ia tersenyum manis.
"Sekalian aku save nomor kamu, yah." sahutnya, mengetikan sesuatu pada ponselnya. Naina hanya mampu menggeleng samar, tidak jauh dari dugaannya jika anak jakarta memang sesuai dengan yang diceritakan orang - orang di kampungnya yang pernah menginjakan kaki di jakarta. Sebagai gadis kampung yang polos, ia memilih menganggukan kepala, kemudian benar - benar berlalu dari hadapan Kevin.
Kevin menatap kepergian gadis itu dengan tersenyum, saat seorang pria berpakaian hitam menghampirinya, ia menyerahkan ponselnya. "Cari tahu siapa wanita itu!"
**
Zoya
Hubby, aku makan siang sama Edrin.
Zoya
Sorry, aku ga bisa nolak.
Zoya menatap layar ponsel di mana jendela obrolannya dengan Ethan dan chat yang ia kirim pada suaminya itu masih ceklis satu. Artinya Ethan belum memegang ponsel apalagi memeriksa chat darinya.
Wanita itu mendesah, mengaduk minumannya dengan sedotan, kemudian tersenyum tipis pada Edrin yang mengukir senyum setelah mengunyah makanannya. Zoya tidak mengerti alasan mengapa Edrin mengajaknya makan, ah memaksanya, sepertinya kata itu yang jauh lebih tepat.
Sekali pun sesekali pria itu pernah melakukannya, namun Edrin tidak akan memaksa jika satu kali mendapat penolakan, tidak seperti yang beberapa saat lalu pria itu lakukan. Benar - benar memaksanya.
"Kamu tidak ambil film untuk syuting nanti?" Edrin tiba - tiba bertanya.
"Film –" kepala Zoya berpikir, kemudian ia menggeleng.
"Ethan gak kasih izin." sahutnya begitu mengingat film yang Ethan maksud. Rupanya Edrin bergabung dengan film tersebut, pikir Zoya. Wajar saja jika Ethan pernah menanyakan hal tersebut.
"Sayang banget, padahal filmnya bagus." ujar Edrin, pria itu menggigit sendoknya. Zoya akui Edrin memang tampan, tapi jika pria itu melakukan hal tersebut untuk menarik perhatiannya maka Zoya tidak akan terpengaruh. Ethan - nya jauh lebih tersegalanya.
"Zoy ...,"
"Hmm?"
"Mas Edrin suka sama Mbak Zoya, yah?" tanya Naina pada Selin yang sejak tadi terus memerhatikan keduanya. Ia yang duduk dengan Selin di meja terpisah dari Zoya dan Edrin merasa penasaran dengan apa yang tengah dua orang itu bicarakan.
Saat Selin tak kunjung menjawab pertanyaannya, Naina pasrah, mengedarkan pandangan ke arah lain. Restoran yang kosong membuatnya merasa jenuh. Tidak seharusnya Edrin mem - booking restoran ini selama satu jam dan membuatnya terasa mencekam.
"Waktunya berapa menit lagi?" Selin bertanya dengan tiba - tiba, Naina yang tersadar lantas meraih ponselnya.
"Sekitar dua puluh menit lagi, Mbak." sahutnya. Selin mengangguk, setidaknya setelah dua puluh menit ia harus memisahkan Edrin dari Zoya. Ia mengambil gelas minumannya dengan mata menatap dua orang di meja lain yang justru sekarang asik berbincang itu. Zoya terkena sihir? Selin sama sekali tidak mengerti, padahal jika Ethan melihat hal tersebut, wanita itu akan diamuk oleh suaminya.
"Pak Ethan nggak akan marah kalau tau Mbak Zoya sama Mas Edrin makan bareng?" tanya Naina lagi, penasaran. Jika reaksi Ethan saat tau Zoya akan melakukan pemotreran dengan Edrin sudah sebegitu murka, apa jadinya jika Ethan melihat pemandangan tersebut?
"Bukan marah." sahut Selin, Naina mengerutkan kening.
"Tapi ngamuk!"
**
Ethan menghela napas begitu kakinya melangkah memasuki rumah, membuat Zoya yang berjalan untuk membuka pintu saat mendengar deru mesin mobil mematung melihat pria itu.
"Saya dengar kamu makan siang dengan pria itu." sahutnya, melewati Zoya begitu saja sambil membuka dasi yang dikenakannya. Tanpa ciuman di kening, atau pelukan hangat seperti biasa? Sepertinya Zoya harus bertepuk tangan.
Ia membalikan tubuh dan mengikuti pria itu yang sudah menerima segelas air putih dari Naina. Zoya hanya diam, begitu juga Ethan dengan dasi yang kemudian ia taruh pada salah satu sandaran kursi meja makan. Tersampir begitu saja, padahal dasi tersebut adalah hadiah dari Zoya beberapa bulan lalu.
"Aku udah kirim kamu chat, tapi kamu nggak baca. Aku gak bisa nolak karna saat itu banyak orang." terang Zoya.
"Lagi pula aku gak punya alesan buat nolak." sambungnya.
"Bilang kalau kamu sudah bersuami." pria itu menyahut tanpa mau menatap wanita itu.
"Siapa yang perduli sama hal itu, Ethan?" nada bicara Zoya naik satu oktaf. Ethan mengangguk - anggukan kepala entah apa maksudnya.
Keduanya hanya saling terdiam. Naina yang sedang menata menu makan malam di meja makan tampak canggung, tapi mau tak mau ia harus tetap melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Marah?" tanya Zoya saat pria itu tak kunjung bicara. Diam seperti biasanya jika sedang marah.
"Aku cuma makan. Lagian ada Mbak Selin di sana, Naina juga ada. Kamu tanya Naina aja aku ngapain sama Edrin!" kesalnya.
"Kamu kalau cemburu, tuh, berlebihan tau nggak sih. Bikin nggak nyaman, aku ini istri kamu, bukan budak!"
Zoya akhirnya memilih berlalu pergi. Naina yang akan memanggil untuk menyuruh makan malam mengurungkan niatnya begitu melihat Ethan yang tampak terdiam. Membuatnya menjadi serba salah.
"Makan malam sekarang Pak?" tanya Naina ragu, tapi pada akhirnya ia mengigit bibir bawah guna menyadari jika dirinya sedang bertanya diwaktu yang tidak tepat.
"Wanita kalau sedang marah, biarkan saja dulu. Kalau dibujuk dan diganggu, justru kemarahannya akan memuncak."
"Begitu kelihatan tenang, baru disamperin, dirayu. Nanti pasti luluh," akhirnya ia memilih mengatakan hal tersebut guna membuat Ethan tenang. Faktanya pria itu sekarang memperhatikannya demi memahami apa yang dikatakannya barusan.
"Wanita itu memang sulit dipahami, yah?" sepertinya akan lebih baik bertanya pada wanita. Daripada Randy, bagaimanapun Naina pasti mengerti masalah memahami wanita.
"Tidak sulit kok, Pak. Mereka cuma harus dituruti. Kalau dicemburui, ia lebih suka pasangannya merajuk manja daripada marah - marah."
"Mm –" gadis itu tampak ragu.
"M, seperti Bapak tadi."
"Memang saya marah - marah?" Ethan bertanya tidak terima dengan dahi berkerut.
"Kedengarannya begitu, Pak." Naina menyahut pelan, kemudian menundukan kepalanya.
Ethan tersenyum, tak lama kepalanya menggeleng pelan. Ia menatap Naina sebentar hingga ponsel yang berdering mengalihkan perhatian keduanya.
Naina segera mengambil ponselnya yang ia letakan di meja pantry. Ia terdiam begitu mendapati nomor baru. Tapi beberapa detik berikutnya ia sadar siapa pemilik nomor baru itu dan siapa sang penelpon.
"Siapa?" spontan ia menoleh pada Ethan yang bertanya. Ia menggelengkan kepala.
"Bukan siapa - siapa, Pak." Naina menyahut setelah dering telpon berakhir.
Tapi tak lama, benda pipih itu kembali berdering. "Pacar kamu?" tanya heran Ethan. Bagaimanapun, Naina gadis muda yang bisa saja sedang ribut dengan pacarnya. Seperti yang sekilas sering ia dengar saat masih duduk di bangku SMA.
"Angkat saja, bicarakan semuanya baik - baik." sahut Ethan, lantas bangkit dan berlalu meninggalkan gadis itu agar berbicara dengan orang yang menelponnya.
Naina menatap punggung Ethan yang menjauh. "Saya gak punya pacar." lirihnya menyahuti apa yang Ethan katakan tadi. Karena ponsel yang lagi - lagi berdering, Naina akhirnya menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Hallo,"
"Hay, Naina. Ini Kevin,"
**
Zoya buru - buru naik ke atas tempat tidur saat mendengar derap langkah Ethan yang akan memasuki kamar. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika Ethan merasa bersalah dan meminta maaf. Ia tidak akan langsung memaafkan pria itu, biar saja Ethan habis - habisan merayunya. Zoya harus memberi pria itu pelajaran.
Zoya terdiam saat Ethan dengan begitu saja berlalu ke arah kamar mandi tanpa mengidahkannya. Wanita itu menghela napas, ia akan menunggu setelah pria itu keluar dari kamar mandi.
Kali ini, Zoya mulai menaikan selimut ke leher, matanya mulai mengantuk. Hatinya begitu kesal melihat Ethan yang tampak sibuk dengan laptopnya. Usai mandi, pria itu keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Makan malam tanpanya dan bahkan tak menawarinya makan? Oh, Zoya tak percaya Ethan sampai hati melakukannya.
Begitu kembali ke kamar justru pria itu sibuk dengan laptopnya. Sama sekali tidak perduli dengan Zoya yang hatinya sudah terluka karena kecemburuannya.
Bahkan hingga ia tertidur, Ethan tak kunjung mendatanginya dan meminta maaf. Sementara Ethan sedang melakukan apa yang Naina sarankan untuk tidak membujuk Zoya lebih dulu. Membiarkan wanita itu tenang beberapa waktu.
Ethan melihat arloji di pergelangan tangan. Waktu yang sudah larut membuat ia menutup laptop. Kemudian berjalan ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Zoya. Miring menghadap wanita itu
Tangannya tergerak mengelus satu sisi wajah Zoya dengan ibu jari yang mengusap bibir wanita itu. Terkadang, Ethan tidak begitu paham alasan kenapa ia marah dan cemburu berlebihan terhadap orang yang dekat dengan istrinya sekali pun manejer wanita itu.
"Zoya, maafkan saya." lirihnya, lantas mengecup kening Zoya, wanita itu menggumam, matanya sempat terbuka dan melihat Ethan yang tengah menatapnya.
Tak banyak bicara, Zoya melanjutkan tidur karena kantuknya, dengan tangan yang kemudian memeluk pria itu.
Sedangkan dalam hati membatin.
"Liat aja, nanti!"
__ADS_1
TBC