Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Ethan dengan Randy kembali ke agensi hampir pukul tiga sore. Rachel yang memang terus menghubungi mereka memberi kabar jika para staf perusahaan akan mengadakan makan malam bersama.


"Kamu akan ikut bukan?" tanya Rachel. Karena biasanya Ethan sulit sekali bergabung, sesekali bergabung tapi ia akan pulang lebih awal.


Kali ini Ethan mengangguk, sepertinya ia harus ikut. Mengingat terakhir kali dirinya tidak ikut makan malam bersama dan mengecewakan yang lain.


"Sekalian kamu ajak istri kamu." sahut Rachel lagi. Ethan yang sedang merapikan beberapa berkas di mejanya mendongak. Mempertemukan tatapannya dengan Rachel.


"Momy denger-denger, kamu menginap di hotel semalam. Kalian bertengkar?"


Mata Ethan mengarah pada Randy. Skretarisnya itu menggeleng samar. Menolak tudugan Ethan, jika bukan dirinya yang memberi tahu Rachel mengenai hal ini.


Ethan menggeleng pelan setelahnya. "Berarti kamu harus mengajak Zoya bukan?"


"Zoya juga ada acara makan malam sama tim produksi, Mom." Ethan menyahut enggan.


Rachel mengangkat kedua bahunya acuh. Pertama mungkin apa yang Ethan katakan adalah benar, kedua sekali pun tidak benar Ethan memang akan bersikeras menolak perintah Rachel.


"Yasudah kalau begitu." Setelahnya Rachel berpamit, keluar dari ruangan Ethan dengan santai.


"Bagaimana jadwal Zoya yang aku minta?" tanya Ethan pada Randy. Randy berjalan ke arahnya. Membantu Ethan mencari di tumpukan berkas dan menyerahkannya pada Ethan saat sudah ia temukan.


"Ini jadwal Zoya untuk beberapa hari ke depan. Tidak terlalu padat tapi lumayan," sahut Randy yang sudah membaca detailnya satu jam yang lalu saat Ethan memerintahkan.


"Bagaimana jika untuk pemotretan dengan Edrin Nicolas ditunda?" Ethan menatap Skretarisnya meminta jawaban.


"Tidak bisa, Than." Randy menyahut dengan cepat.


"Bukankan baru kemarin mereka melakukan sesi pemotretan?!" kesal Ethan sembari terus membaca apa yang tertera dalam selembar berkas itu.


"Ya tapi itu beda."


"Ini pemotretan untuk episode terakhir." Randy menerangkan.


"Kalau begitu batalkan syuting iklan dengan dua perusahaan yang sudah mengontrak Zoya."


"Than, kalau nanti Zoya ngamuk gimana?" tanya.Randy tidak habis pikir, sedangkan Ethan terlihat santai dan tampak tidak mempertimbangkan perintahnya pada Randy tadi.


"Sabarlah satu minggu lagi!" imbuhnya meyakinkan Ethan.


Ethan bangkit dari duduknya, menaruh kertas tersebut di atas meja. "Kalau gitu kamu urus semuanya. Kabari aku setelah semuanya beres!" berlalu begitu saja, keluar dari ruangannya. Sedangkan Randy berdecak.


"Aissh!" setengah kesal pada Ethan yang seringkali bertingkah seenaknya.


Mengambil kertas yang Ethan tinggalkan dan membacanya. Memikirkan sekiranya kerja sama Zoya dengan perusahaan mana yang harus dibatalkan agar wanita itu tidak terlalu sibuk.


"Pak Ethan,"


Ethan yang semula melangkah lebar untuk keluar dari gedung menoleh saat seseorang memanggilnya. Ia berbalik, melihat seorang wanita yang berjalalan ke arahnya.


"Bu Anggun."


Wanita yang dipanggil Anggun itu tersenyum. Dia adalah seorang aktris senior yang bahkan dipercaya oleh AE RCH untuk memiliki jabatan di agensi. Perempuan multitalenta itu ditunjuk sebagai Direktur Kreatif AE RCH Ent. Selain itu, Anggun juga dipercaya untuk melakukan konseling kesehatan kepada para aktris dan aktor muda agar mental mereka yang mudah bergejolak bisa teratasi dengan baik.


Beberapa minggu ini, Anggun sibuk mengurus beberapa aktris yang melakukan syuting di luar kota dan luar negri. Itulah sebabnya ia jarang terlihat di agensi.


"Apa kabar?" tanyanya pada Ethan dengan ramah. Ethan tersenyum tipis. "Baik,"


"Selamat atas pernikahan Pak Ethan, maaf tidak datang." sahutnya, menampilkan senyum manis pada Ethan.


Perlu diketahui, jika Anggun adalah seorang wanita yang sudah menikah, bahkan sudah memiliki seorang putri berusia empat tahun.


"Pak Ethan akan ikut acara makan malam perusahaan?" tanyanya lagi. Ethan mengangguk.


Sampai suara ponsel Anggun yang berdering menjeda obrolan keduanya.


"Putriku," Mengangkat telpon di hadapan Ethan.


"Dia ada di sini?" tanya Ethan. Karena setaunya, putri Anggun tinggal dengan orang tua suaminya.


"Beberapa hari yang lalu saya menjemputnya dan mengajaknya kemari."


"Saya permisi untuk mengangkat telpon," pamitnya, berlalu meninggalkan Ethan sedangkan pria itu hanya mengangguk samar. Ia lantas melanjutkan langkah untuk pergi ke starbucks yang letaknya berhadapan dengan gedung agensi.

__ADS_1


"Zoy, Skretaris Ibu Rachel kirim pesan katanya kamu ikut makan sama para staf agensi." beritahu Selin. Mereka yang bersiap akan pulang terutama Zoya yang ingin segera mengistirahatkan tubuhnya menoleh pada Selin. Selin mengangguk meyakinkan.


"Zoya juga diundang?" tiba-tiba manajer Edrin bertanya dan membuat dua orang itu menoleh. "Iya Mbak, barusan dapat kabar dari Skretaris Ibu Rachel." Selin yang menyahut.


"Sama, Edrin juga."


"Kalau gitu bareng aja. Aku juga bawa mobil sendiri." Edrin menawarkan diri, ia sudah menentang kunci mobilnya.


"Gimana?" bertanya pada Zoya.


"Aku sama Mbak Selin aja."


"Enggak papa Zoy, kamu sama Edrin. Biar saya yang sama Mbak Selin." manejer Edrin buka suara. Zoya menatap Selin, meminta saran dari manajernya. "Mbak terserah kamu." Selin tidak dapat memutuskan, yang akhirnya membuat Zoya mengiyakan ajakan Edrin, tidak enak sudah membuat pria itu menunggu jawabannya dalam waktu yang lama.


Setelahnya Zoya dan Edrin berangkat lebih dulu dengan mobil sport dua pintu berwarna gold milik Edrin. Membelah jalanan ibu kota menuju restoran tempat mereka akan bergabung dengan orang-orang dari agensi yang mengundang untuk makan bersama.


"Ini restorannya?" tanya Zoya saat mereka sudah sampai di sebuah restoran bergaya Prancis yang tampak ramai. Edrin mengangguk sambil membuka seatbeltnya.


"Manajer aku bilang ini tempatnya." Edrin turun dan membukakan pintu mobil untuk Zoya. Zoya turun dari mobil setelah mengucapkan terimakasih. Ia mengedarkan pandangan sampai matanya mengarah pada sebuah mobil yang sangat akrab dengannga. Zoya tau itu mobil Ethan yang artinya pria itu juga ada di dalam restoran.


"Kita langsung masuk." ajak Edrin, mempersilakan Zoya untuk berjalan lebih dulu. Zoya melangkah dan memasuki restoran bersama Edrin.


Suasana di dalam restoran tampak ramai. Zoya dapat melihat wajah orang-orang dari agensinya. Yang membuatnya bisa menebak jika restoran ini sudah di booking atas nama AE RCH, karena Zoya hampir tidak melihat orang lain di sana.


Zoya tidak mengenal semua staf atau pun para jajaran tinggi agensinya, hanya saja Zoya dapat melihat jika mereka berbeda dari orang-orang biasa.


"Oh, itu dua bintang kita." suara Rachel membuat tatapan orang-orang mengarah pada pintu masuk di mana Edrin dan Zoya berada di sana. Kedatangan mereka di sambut hangat, Rachel mempersilakannya bergabung di meja sang Direktur Utama AE RCH. Edrin dengan Zoya melangkah dan duduk di kursi yang sengaja sudah disiapkaan untuk mereka.


"Bagaimana Zoya, syuting kamu hari ini?" basa-basi Rachel, Zoya hanya tersenyum. Kemudian menyahut. "Lancar, Bu. Jauh lebih baik." perkataan wanita itu membuat Ethan yang duduk di hadapannya menatap wanita itu sekilas.


"Saya dengar menjelang tamat film kalian konsisten berada di rating satu, hebat." pujinya yang hanya ditanggapi senyuman dan ucapan terimakasih dari dua orang itu.


"Makan malam kalian sama tim produksi. Bagaimana?" tanya Rachel lagi. kali ini mbuat tatapan Ethan mengarah pada Rachel. Rachel tampak sengaja menanyakan hal tersebut.


"Enggak ada acara makan malam, Bu."


"Oh, yah. Ada yang bilang katanya kalian ada acara makan malam sama tim produksi dan tidak bisa datang kemari."


Sementara atensi Zoya teralihkan pada seorang anak kecil yang tiba-tiba saja duduk di kursi tepat di samping Zoya, disusul oleh seorang wanita yang Zoya tau adalah salah satu jajaran tinggi bagian AE RCH. Anggun, Zoya mengenalnya.


"Hay, Tante." gadis kecil berusia empat tahun itu menyapa Zoya, Zoya tersenyum menatapnya.


"Hay," mengusap puncak kepala gadis kecil itu.


"Zoya," Anggun menyapa wanita itu.


"Hay, Mbak."


"Apa kabar?"


"Baik." Zoya menyahut manis.


"Ini–" Zoya mengarahkan matanya pada anak kecil itu.


"Hmm, putriku. Anye." Anggun mengerti dan memperkenakkan putrinya.


"Hay Anye, Zoya." Zoya menyapa, kemudian memperkenalkan diri. Terlihat akrab dengan gadis kecil itu. Rachel, berikut Edrin dan Anggun tersenyum melihatnya. Begitu juga Ethan yang saat ini justru menyandarkan punggungnya ke belakang dan melihat Zoya lekat-lekat dengan tangan yang tersilang di dada.


"Zoya, kamu dengan Ethan bagaimana. Kalian tidak berencana untuk segera memiliki anak?" Rachel bertanya tiba-tiba, membuat Zoya menatap suaminya dan tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus. Edrin juga sempat menatap Zoya dan Ethan secara bergantian.


"Atau kamu ingin fokus pada karier terlebih dahulu?" sambungnya, Anggun tersenyum mendengar hal itu sambil sesekali menyuapi anaknya makan.


Sedangkan Zoya yang diberi pertanyaan seperti itu membeku, justru kepalanya mengingat apa yang pernah tetjadi pada ia dan Ethan tempo hari.


Dan anak? Sedikit pun Zoya belum memikirkannya terutama memiliki anak dengan Ethan. Sama sekali tidak terlintas di kepala Zoya.


Sementara Ethan menunggu jawaban wanita itu, sampai tak lama Zoya buka suara. "Mm, saya sama Ethan belum mikirin hal itu. Lagi pula, kami baru saja menikah dan saya masih memiliki beberapa kontrak yang tidak mungkin dibatalkan begitu saja hanya karena perihal anak." Zoya mengutarakan apa yang ada di kepalanya.


Hanya karena perihal anak? Ethan membuang muka. Zoya berpikir seolah hal itu tidak penting.


"Aku setuju, kamu masih sangat muda dan perjalanan kariermu juga masih sangat panjang." Edrin angkat bicara. Rachel mengangguk-anggukan kepala.


"Kamu benar, karier kamu juga penting." sahut Rachel kemudian. Zoya mengangguk dengan senyuman. Melihat Anye yang sibuk makan sampai gadis kecil itu tidak sengaja menyenggol gelas dan membuat isi gelas itu tumpah membasahi dress yang Zoya kenakan.

__ADS_1


Terjadi sedikit kegaduhan karena Anggun yang spontan berteriak karena terkejut. Ethan juga spontan menegakan duduknya. "Astaga Zoya, maaf sekali." sahut Anggun, tidak enak hati. Zoya mengusap bagian dressnya yang basah.


"Nggak papa Mbak, nggak papa."


"Enggak papa, silakan dilanjutkan. Maaf," Zoya meminta maaf pada yang lain karena sudah membuat kegadugan. Edrin meraih tisu dan hendak menyentuh paha Zoya untuk membantu wanita itu, Zoya menahan dengan cepat.


"Nggak usah. Aku ke toilet aja. Permisi "


"Maaf, yah Zoya." sekali lagi Anggun meminta maaf, Zoya hanya tersenyum kemudian berlalu ke arah kamar mandi. Ethan bangkit dengan begitu saja, tanpa berpamitan ia berlalu ke arah yang sama dengan Zoya.


Zoya membasahi tangannya dan mengusap bagian dressnya yang terasa lengket. Sepertinya setelah ini ia akan langsung pulang saja. Zoya tidak akan tahan berlama-lama dengan rasa lengket di bajunya.


Mendesah, Zoya menatap pantulan dirinya dalam cermin. Membasahi lehernya agar merasa segar dan kemudian merapikan tatanan rambutnya. Sampai seseorang yang muncul dari pantulam cermin tepat di belakangnya membuat ia dengan cepat membalikan badan.


"Ada apa kemari?" tanya Zoya. Ethan melenggang begitu saja tanpa mengidahkan pertanyaan Zoya, mencuci tangannya pada wastafel.


"Ini toilet wanita!" seru Zoya lagi barangkali Ethan salah masuk. Pada kenyataannya pria itu sadar. Dan ia sengaja masuk karena tau Zoya ada di sana.


"Saya sudah mengatur rencana bulan madu kita." tiba-tiba Ethan berbicara dan membuat Zoya terheran.


"Maksud kamu?"


Ethan membalikan tubuhnya, menatap Zoya yang terlihat begitu terkejut atas perkataannya. Ethan sudah memikirkan hal ini dengan matang. Kemarin ia sempat memikirkannya dan juga mempertimbangkan kesiapan Zoya saat Randy menawarinya.


Namun Zoya sendirilah yang menolak rencana pertama Ethan atas makan malam romantis mereka yang harus gagal. Sehingga Ethan akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengambil pilihan tersebut.


"Kita belum pernah bahas ini."


"Maka dari itu kita bahas sekarang." Ethan terlihat serius, membuat Zoya kesal dan frustrasi diwaktu bersamaan.


"Jangan main-main, oke." Zoya mencoba santai dan tidak terpancing emosi.


"Kapan saya bersikap main-main?"


Oh, yah. Zoya baru mengingat jika ia memang tidak akan menang berbicara dengan seorang Zeinn Ethan. Dan pria itu memang tidak pernah bermain-main.


"Kamu harus tau, aku sibuk. Satu minggu ke depan jadwal aku padet dan enggak ada bulan madu-bulan madu. Kamu tau kan kalo karier aku itu penting?!"


"Itu sebabnya saya atur Randy untuk membatalkan beberapa kontrak kerja sama kamu."


"Dan apa yang lebih penting dari membuat anak?"


"Kamu gila?" Zoya berteriak.


"Saya udah bilang saya nggak suka kamu menaikan nada bicara di depan saya."


Mati matian Zoya menahan gejolak di dadanya untuk tidak sampai kehilangan kendali diri. Sekarang ia semakin sadar jika Ethan memanglah setan.


Tidak mudah dikenali. Tidak mudah dimengerti. Tidak mudah ditebak. Jauh dari dugaan dan sangat menutup diri, begitulah Ethan yang Zoya tau sekarang.


Dan mungkin masih banyak lagi sifat yang belum pria itu tunjukan di depan Zoya.


"Ethan, kita udah sepakat buat kamu nggak ikut campur apapun mengenai karier aku!"


"Dari awal saya sudah bilang untuk tidak ada kontrak perjanjian, syarat atau kesepakatan apapun. Karena semua tidak berarti apa-apa ketika saya sudah jatuh cinta!"


Zoya mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak tau apa yang harus dilakukannya, juga tidak mengerti dengan pola pikir suaminya yang sangat memaksakan diri.


"Selesaikan syuting terakhir kamu dan setelah itu kita berangkat." ucap Ethan, final.


TBC.


Zoya gak sadar diri!


Zoya jangan jual mahal, lah!


😭😭😭😭😭


Ayolah guys, di sini Zoya bukan enggak sadar diri atau so jual mahal. Tapi karena emang kenyataannya dia belum ada perasaan cinta gituloh sama Ethan.


Jangan suruh Ethan buat cuek apalgi marah dan ngemusuhin Zoya. Zoya juga butuh pembuktian, biarinlah Ethan berjuang buat nunjukin perasaannya sama Zoya sampe nanti Zoyanya sadar.


OkeyπŸ™ƒ

__ADS_1


__ADS_2