
"Emang kamu bisa masak?" tanya Ethan, memperhatikan wanita itu yang tengah serius menyajikan makanan untuk mereka.
Zoya menoleh dan kemudian tersenyum. "Enggak, sih, ini pertama kalinya aku masak." pengakuan wanita itu membuat Ethan menggelengkan kepala dengan senyuman.
Ia mengedarkan pandangan melihat setiap sudut apartement Zoya. Sekarang apartrment itu sudah terang karena Zoya mengizinkannya untuk menyalakan lampu.
Setelah kejadian tadi, beruntung Zoya menjadi tenang. Dan dengan cepat terlihat kembali baik-baik saja.
Ethan berjalan ke arah bingai foto kecil di samping televisi. foto Zoya saat masih remaja. Wanita itu mengenakan seragam SMA dan tengah tersenyum sambil memegangi buket bunga di hari kelulusan sekolah.
Ethan tersenyum mengusap foto tersebut, sampai panggilan Zoya membuatnya menghampiri wanita itu yang sudah menyajikan hasil masakannya.
"Sepiring nasi goreng spesial untuk Ethan."
Sahut Zoya menyambut kedatangan Ethan ke meja makan. Pria itu melihat hasil masakan Zoya, tidak buruk hanya terlihat sebagian nasi berwarna hitam.
"Agak gosong, tadi apinya lupa dikecilin pas nyari kecap." ucap Zoya yang melihat arah tatapan Ethan. Ethan mengangguk, menyendokan nasi goreng ke mulutnya saat Zoya mempersilakan.
Wanita itu berharap-harap cemas menanti penilaian Ethan. Zoya sudah lama meninggalkan dapur untuk memasak, ia lebih sering membeli makan di luar bahkan ketika sang ibu masih hidup. Kemudian setelahnya, sang manajer yang terlalu baik merawat Zoya demgan baik pula, selama tujuh tahun setelah sang ibu meninggal Zoya hampir tidak pernah lagi memasak bahkan untuk dirinya sendiri.
Dan ini kali pertama ia memasak setelah sekian lama. Bukan tidak bisa, hanya belum kembali terbiasa.
"Gimana?"
Ekpresi Ethan masam, membuat Zoya meringis. "Enggak enak, yah?"
"Iya, eu–" Ethan berucap tanpa sadar.
Zoya mengerucutkan bibirnya. Ia tau Ethan tidak pandai berbohong. "Kamu nggak bisa, yah, kalau pura-pura aja bilang masakan aku enak?" ucap Zoya kesal.
"Kalau saya sakit perut, gimana?"
"Enggak mungkinlah!"
"Kalau saya bilang nasi gorengnya enak, kamu pasti suruh abisin." Ethan yakin dengan hal itu.
Zoya diam. "Kalau gitu kita delivery aja," sambung Ethan, bersiap mengeluarkan ponsel dari saku celana tapi Zoya menahannya. "Jangan, kasian nanti yang nganterinnya harus naik tangga darurat–" seketika mata Zoya membulat mengingat hal itu.
"Jangan bilang–" ia menatap Ethan, pria tampan itu mengangguk, tau isi kepala istrinya.
__ADS_1
"Saya naik tangga darurat, lapar dan butuh makan." wajah Ethan memelas, membuat Zoya memasang wajah iba pada suaminya. Zoya menghampiri pria itu, mengusap puncak kepala Ethan. "Kasiaan," ucapnya dengan santai, tanpa ia sadar jika apa yang sudah ia lakukan meresahkan perasaan Ethan.
Mata Ethan lekat menatap wanita itu, sedangkan yang ditatap hanya memberikaan tatapan biasa dengan tangan yang masih mengusap puncak kepalanya. Membuat Ethan menarik tangan Zoya dan membuat wanita itu menubruk tubuh Ethan, tangannya berada di dada Ethan sedangkan wajah keduanya berdekatan dengan hanya berjarak sekitar lima centi meter.
Hanya saling terdiam dengan mata yang bertatapan lekat. Zoya merasakan napas Ethan menerpa wajahnya, yang bisa ia perkirakan jika napasnya pun pasti menerpa wajah pria itu.
"Kita delivery aja," Zoya segera bangkit dari tubuh Ethan dan mengutarakan sarannya. Ethan tampak mengusap kening.
"Kamu bilang kasian sama kurirnya harus naik tangga darurat." sahut Ethan. "Tapi kamu bilang kamu lapar," jawab Zoya cepat.
Ethan tersenyum. "Kamu nggak bisa kasih makan yang lain?" tanya Ethan dengan tatapan awkward. Zoya terpaku, melihat tubuhnya sendiri dan justru membuat Ethan tertawa.
"Bukan itu." beritahunya yang membuat Zoya tersenyum hambar. Salah tingkah, lagi-lagi ia mempermalukan dirinya sendiri di depan Ethan.
Beberapa waktu setelahnya, dua manusia itu menikmati camilan sambil menonton tv. Hal yang sangat Zoya sesali ketika memilih film. Kenapa ia harus memilih semi romantis tanpa di sadarinya? Film barat yang membuatnya banyak menghabiskan air untuk meredakan rasa nervousnya. Sebab ia bungung harus melakukan hal apa setiap kali adegan mesra itu berlangsung.
Sementara Ethan menonton dengan tenang, tangannya terlipat di dada dengan tatapan yang sejak tadi fokus pada layar besar di depannya.
"Kita sudah sama-sama dewasa dan membutuhkannya. Kenapa harus menahan diri?"
"Kita sudah sah sebagai pasangan suami istri!"
Zoya meraih botol minumnya saat pemeran pria mengatakan hak tersebut pada pemeran wanita setelah mereka berciuman panas dengan posisi sang pria berada di atas tubuh sang wanita.
"Seharusnya sebagai istri kamu mengerti hal itu untuk menyerahkan diri pada suamimu."
"Uhuk!" Zoya menyemburkan semua air yang diminumnya, membuat Ethan spontan menoleh padanya setelah mengecilkan volume tv.
"Kamu tidak apa-apa?" Ethan berniat menyentuh wanita itu namun dengan cepat Zoya bangkit menghindarinya, batuknya sudah reda. "Aku ngantuk, aku tidur duluan, yah." pamitnya, berlalu dengan cepat dari hadapan Ethan.
Sumpah demi apapun jika ia tidak akan tahan berlama-lama di sana menyaksikan tayangan yang mengotori matanya ..., dan bersama dengan Ethan? Sepanjang hidup di muka bumi Zoya sekali pun tidak pernah membayangkannya.
Ethan hanya menatap kepergian wanita itu, kemudian melihat layar tv di mana adegan panas sedang terjadi di sana. Ethan buru-buru mematikan tv dan mengambil botol air bekas Zoya, melegutnya hingga habis. Bisa-bisanya ia menonton film tersebut dengan Zoya.
Melihat arloji di pergelangan tangan, Ethan memilih melangkah menaiki tangga yang hanya beberapa undakan saja menuju ke kamar Zoya.
Sedangkan di dalam kamarnya, Zoya membarumingkan diri, memegang selimut dengan kuat. Masih mengutuki kejadian awkward tadi di lantai dasar apartementnya. Sampai tak lama, ia mendengar suara pintu yang terbuka, erat-erat Zoya memejamkan mata.
Zoya merasa sekelilingnya gelap, ia membuka mata dan sadar jika Ethan mematikan lampu. Membuat pikiran Zoya justru mengarah pada film yang mereka tonton tadi. Di mana lampu kamar dimatikan, kemudian sang pria mendekat pada sang wanita.
__ADS_1
Persis, seperti yang Ethan lakukan sekarang. Pria itu mendekat ke tempat tidur dan mendaratkan tubuhnya di sana, hendak berbaring tapi urung dilakukannya saat melihat kaki Zoya tidak tertutupi selimut.
Kemudian sang pria menarik sang wanita dan menciumnya dengan paksa, kemudian meminta haknya sebagai seorang suami. Zoya menggelengkan kepala mengingat hal tersebut.
Ethan meraih pelan selimut untuk menutupi kaki Zoya, tapi tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat pada hidungnya disusul teriakan Zoya.
"Aku belum siap!"
"Aw,"
Ethan memegang hidung mancungnya yang baru saja mendapat pukulan tidak sengaja dari Zoya yang secara refleks bergerak.
"Ethan," Zoya terpaku.
"Saya cuma mau selimutin kaki kamu." sahut Ethan sembari menahan sakit. Seperti biasa Zoya menatap wajah bersalah dan mendekat pada Ethan.
"Aku kira kamu mau ngapa-ngapain." sahut Zoya, ikut memegang hidung pria itu. "Sakit?" Zoya bertanya dengan polos. "Sedikit,"
"Maaf, yah."
"Hmm,"
Zoya mengusap-usap hidung Ethan. Sedangkan Ethan hanya terdiam merasakan sentuhan wanita itu.
"Perlu dikompres nggak?" tanya Zoya tidak enak.
"Gak perlu, sudah mendingan. Kamu tidur saja,"
"Beneran udah nggak papa?" tanya Zoya untuk memastikan. Ethan mengangguk dalam gelap, memegang hidungnya saat Zoya sudah berbaring. Perlahan Ethan juga membaringan tubuhnya di samping wanita itu. Menutup tubuh sampai batas dada, perlahan memejamkan mata, tubuhnya sangat lelah setelah mencari Zoya kemana-mana dan harus menaiki tangga darurat untuk menemui wanita itu.
Perjuangannya benar-benar tidak main-main untuk memastikan keadaan sang istri.
Sementara itu, Zoya yang semula terpejam tampak membuka matanya. Menoleh kesamping di mana suaminya yang tampan memekamkan mata. Zoya tersenyum, mengingat perlakuan manis Ethan padanya hari ini.
Tanpa Zoya kira, jika Ethan adalah sosok pria yang baik dan hangat. Ia bahkan mampu menenangkan Zoya hanya dengan sebuah pelukan. Banyak sisi yang tidak orang lain ketahui mengenai Ethan. Pria yang misteris dan memiliki sedikit ekspresi serta kehilangan rasa empati.
Tetapi dengannya, Ethan berbeda. Ethan menunjukan segala sisi yang ia punya. Membuat Zoya tanpa sadar nyaman dan seperti memiliki sandaran, membuar Zoya merasa aman.
Zoya memiringkan tubuhnya menghadap Ethan, tangannya tergerak mengusap satu sisi wajah Ethan. "Terimakasih banyak Ethan," mengusap pelan hidung Ethan. "Selamat tidur, night." Kemudian berbalik dan tidur dengan posisi membelakangi pria itu.
__ADS_1
Sementara Ethan membuka matanya dengan tatapan mengantuk, tersenyum mendengar apa yang tadi Zoya katakan dan kemudian kembali memejamkan mata.
TBC