Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Ikut Ke Lokasi Syuting


__ADS_3

Pada akhirnya, demi Rain. Orang tuanya memberi restu dan membiarkan Rain kembali kepada Angkasa, membina rumah tangga dengan pria itu. Begitu juga orang tua Angkasa yang membiarkan putranya bertahan dengan wanita yang dicintainya.


Angkasa dengan Rain menempati rumah yang lebih layak dari sebelumnya setelah orang tua mereka mengembalikan fasilitas yang sebelumnya disita karena kekeras–kepalaan mereka untuk bersama –sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah tanpa restu dari kedua orang tua mereka.


Tetapi Angkasa dan Rain hanya mengambil apa yang mereka butuhkan. Tidak ada mobil atau kredit card, keduanya melanjutkan perjalanan dari nol. Angkasa tetap fokus melanjutkan usaha studio fotonya dengan dukungan sang istri disela-sela kesibukannya yang diberikan otoritas penuh untuk menjalankan perusahaan orang tuanya.


Dua tahun perjalanan pernikahan mereka berjalan tanpa hambatan besar kecuali hanya masalah-masalah ringan yang justru membuat bumbu pernikahan lebih sempurna, hingga setelah perjalanan yang cukup lama itu. Baik Rain maupun Angkasa sama-sama sudah menginginkan kehadiran anggota baru di keluarga mereka.


Fakta jika Rain mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan setelah mengalami kecelakaan membuat wanita itu terpuruk dan meminta suaminya untuk menikahi perempuan lain. Wanita yang menjadi pilihannya adalah orang yang membantu Angkasa di studio foto.


Di dalam hidupnya, Rain tak pernah menyangka, jika kebahagiaannya yang sempurna membuatnya harus mengorbankan hal paling berharga dalam hidupnya. Angkasa.


Pada akhirnya ia harus berbagi suami dengan orang lain karena kekurangan yang ada pada dirinya.


Zoya menghela napas setelah menyimpan lembar naskahnya ke atas meja rias. Ia menatap dirinya pada pantulan cermin, mengukir senyumnya semanis mungkin.


Zoya merasa kian yakin dengan tokoh Rain dan karakter yang akan diperankan olehnya mengingat perjalan hidupnya dan tokoh fiksi itu nyaris sama.


Zoya dengan Rain sama-sama tidak bisa memiliki anak dan meminta suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain yang lingkup hidupnya tak jauh dari mereka.


"Sayang,"


Panggilan itu membuat Zoya membalikan tubuhnya dan bangkit dari duduk, melihat Ethan yang baru saja memasuki kamar.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Zoya yang membuat Ethan mengerutkan kening.


"Malam ini kamu harus tidur di kamar Naina." wanita itu berbicara dengan suara pelan, Ethan duduk di kursi yang sebelumnya Zoya duduki. Pria itu meraih pinggang Zoya dan membenamkan wajahnya di perut wanita itu.


Zoya tak berbicara, hanya mengusap kepala pria itu dengan lembut. "Saya tidur di sini saja, lagipula kamu juga tahu sendiri bagaimana keadaan Naina saat ini."


"Tidak ada alasan untuk saya tidur di kamarnya." sahut pria itu dengan nada penuh permohonan. Zoya hanya diam, reaksi yang membuat Ethan mendongakan pandangan dan mempertemukan tatapan mereka.


Melihat tatapan memelas sang suami, Zoya akhirnya hanya mengangguk pasrah. Ethan tersenyum, kembali membenamkan wajahnya di perut Zoya. Sedangkan Zoya kembali mengusap rambut pria itu, hingga ia mengingat satu hal mengenai rahasia pernikahan Naina dan Ethan yang diketahui oleh Rachel. Etntahlah bagaimana wanita itu mengetahuinya.

__ADS_1


"Ethan,"


"Hmm."


"Kamu bilang Momy Rachel tahu hubungan kamu sama Naina."


Ethan mengurai pelukan, ia kembali mendongak dan menatap Zoya lantas menganggukan kepala. "Iya,"


"Enggak papa?" tanya Zoya, khawatir.


"Saya percaya Momy Rachel."


"Aku juga percaya, tapi kalau makin banyak orang yang tahu pernikahan kamu sama Naina, aku takut rahasianya bocor ke media."


"Kamu jangan khawatir Sayang. Nggak akan terjadi. Kamu nggak perlu mikirin itu, yah." Ethan menenangkan, Zoya hanya mampu mengangguk pasrah.


"Lebih baik, kamu bacakan saya naskah Rain dan Angkasa." sambung pria itu setelah matanya menangkap lembaran naskah yang berada di atas meja rias. Mengingat jika beberapa hari yang lalu ia sudah mendengar naskah bagian awal saat Zoya membacakanya untuknya.


Sementara di ruangan lain dalam rumah tersebut, Naina yang tengah berbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sampai leher hanya terdiam. Matanya fokus menatap plafon kamar dalam cahaya temaram. Lampi kamar sudah ia matikan.


Karena sejujurnya, ia ingin tidur lebih cpat dari biasanya, namun hambatan justru datang.


Kepalanya masih sibuk mikirkan apa yang siang tadi terjadi di dalam gedung bioskop. Ia masih memikirkan apa yamg Rival katakan mengenai keinginan pria itu untuk membawa Naina pada keluarganya.


Meskipun pria itu tidak secara spesifik menyatakan cinta untuknya, tapi Naina tau jika arah pembicaraan pria itu mengarah ke sana. Gadis itu mengusap wajahnya dengan kasar. Debaran di hatinya terus-menerus terjadi saat mengingat bagaimana tangan Rival erat menggenggamnya.


Atau bagaimana tatapan pria itu lekat menatapnya. Sangat menenggelamkan bahkan saat ini membuat kekacauan di dalam hati Naina. Sensasinya lebih hebat dari bagainana Ethan membuat perasaannya berdebar.


Semakin Naina membayangkannya, kilasan wajah pria itu kian menghantui dirinya. Bagaimana pria itu tersenyum. Bagaimana pria itu dengan wajah polosnya saat menyusulnya ke kampung halamannya dengan alasan tak masuk akal.


Gadis itu mendesah, berusaha untuk memejamkan matanya dan mengusir Rival dari kepalanya.


Andai ia bisa melakukannya. Mungkin Naina sudah dapat tidur sejak dua jam yang lalu.

__ADS_1


****


"Kamu nggak perlu ikut." cegah Zoya saat Ethan sudah bersiap dan akan ikut dengannya ke lokasi syuting. Ini adalah hari pertama Zoya melakukan syuting film terbarunya dengan Edrin Nicholas.


Postingan tangannya yang sedang memegang buku dan Zoya unggah disosial medianya dibanjiri ribuan komentar dari para penggemarnya yang memberinya semangat dan dukungan untuk project film yang sedang ia kerjakan.


Zoya memang jarang aktif di sosial media kecuali sedang mengerjakan project film atau membintangi sinetron. Biasanya, Selin yang mengurus semua akun sosial medianya kecuali whatsApp.


"Sayang, saya janji tidak akan membuat kekacauan. Saya hanya ingin melihat proses syuting hari pertama kamu. Itu saja, yah." pinta pria itu dengan penuh permohonan.


Zoya menatap sang suami, melihat tatapan pria itu yang lagi-lagi mampu meluluhkannya, wanita itu hanya mendesah pasrah.


"Janji jangan bikin masalah?" Zoya menatap pria itu dengan tatapan tajam.


"Iya, saya janji." pria itu tampak meyakinkan.


"Sekalian memastikan jika Edrin Nicolas itu tidak akan macam-macam sama istri saya!" sambungnya seraya melenggang keluar dari kamar. Zoya hanya mendesah, mengikiti langkah sang suami untuk turun ke lantai bawah.


Di sana Naina sudah bersiap menunggu Zoya dengan Ethan. Setelah sarapan bersama, mereka ke Bandara di mana tempat tersebut menjadi lokasi pertemuan pertama antara Angkasa dengan Rain.


"Kamu cukup ngeliat proses syuting tanpa protes sedikitpun!" sahut Zoya sang suami yang tengah fokus mengendalikan gagang stir.


"Kalo bisa kamu datang sebentar aja abis itu buru-buru ke perusahaan." sambungnya setengah ragu, membuat Ethan spontan menoleh ke arahnya dengan alis bertaut. Sedangkan Zoya merasa yakin jika dibalik kacamata hitamnya, mata pria itu pasti tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Aku nggak mau sampe Sutradara atau kru filnya canggung kalau ada kamu." Zoya berkata lebih spesifik agar siaminya mengerti jika priia itu adalah perusak suasana bahkannhanya dengan berdiam tanpa bicara. Karena tatapan elang pria benar benar berhasil membuat semua orang merasa seperti diperhatikan dan tidak tenang.


Grlerak-gerik pria itu benar benar membuat semua orang hati hati dalam melakukam tindakan.


"Tidak bisa seperti itu, mereka harus profesional." Ethan menyahut tak mau tahu dengan nada yang terdengar cukup menjengkelkan. Seharusnya ia tidak perlu dijadikan alasan.


Membuat Zoya akhirnya hanya diam, sekilas wanita itu menoleh ke belakang, menatap Naina yang tengah duduk di sana. Gadis itu hanya mengangkat bahu, ia pun merasa pusing mendengar ocehan Ethan yang tak mau disalahkan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2