Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sudah Terlambat


__ADS_3

Pagi yang cerah, Matahari sudah menampakan cahayanya. Airin tengah menjemur Pakaian di belakang rumah. Sementara itu Dewi dan Rahmat tengah duduk duduk di teras depan, sambil mengajak Syfa bercanda dan bermain. Tampak sekali bayi kecil itu senang dan bahagia. Seakan mengerti kalau Atuk neneknya sangat menyayanginya.


"Assalamu'alaikum.." terdengar ucapan salam.


"Wa'alaikumsalam.." Jawab Dewi dan Rahmat hampir barengan. Mereka menoleh ke arah suara itu dan ternyata Maminya Syahdan. Dewi mulai tak senang melihat kedatangan tamunya itu. Entah apa lagi yang ingin dicarinya kesini.


"Maaf kalau pagi pagi saya sudah bertamu. Ada hal yang harus saya sampaikan pada Airin sekeluarga. Saya minta maaf kalau saya mengganggu waktunya." Ujar Rahma Mami Syahdan.


"Ada perlu apa lagi Nyonya kesini. Apa masih bekum cukup hinaan yang kami terima." Ujar Dewi menahan emosinya. Rahmat suaminya mencoba untuk menenangkannya.


"Silahkan masuk Bu, kita bicara di dalam saja." Ujar Rahmat Ayah Airin.


"Pak,,," Dewi tak suka dengan sikap suaminya, dia tidak ingin lagi ada urusan dengan Maminya Syahdan. Rahmat hanya tersenyum, dan tetap mempersilahkan Rahma untuk masu kedalam. Dewi pun hanya bisa terpaksa untuk ikut masuk, sambil menggendong Syfa.


"Ada apa ya Bu, hal penting apa yang ingin Ibu sampaikan." Ujar Rahmat, setelah mereka semuanya duduk.


Tak lama Airin pun keluar dari belakang. Karena dia mendengar sepertinya ada tamu. Airin pun terkejut melihat siapa yang datang. Tapi dia tetap tenang dan ikut bergabung duduk disana.


"Begini, Bapak dan Ibuk juga Airin. Maksud kedatangan saya kesini. Saya ingin minta maaf kepada Airin sekeluarga. Saya menyesal karena telah menyakiti kalian semua. Saya benar benar minta maaf. " Rahma pun megutarakan maksud kedatangannnya.


Dia benar benar ingi meminta maaf. Dan berharap kalau Airin mau menjadi Istri Syahdan. Karena sekarang dia sadar, Airin adalah kebahagiaan Syahdan.


Airin dan Ibunya pun berpandangan, mereka pun melirik ke arah Rahmat. Rahmat pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Bu Rahma. Kami sekeluarga sudah melupakan semua yang pernah terjadi kemaren. " Jawab Rahmat.


"Alhamdulillah... Saya lega mendengarnya. Saya bisa tenang sekarang." Ucap Rahma.

__ADS_1


"Airin, kamu nggak benci kan sama Tante." Tanya Rahma pada Airin.


"Saya tidak pernah membenci Tante. Apalagi Tante adalah Maminya mas Syahdan. Mas Syahdan sudah sangat banyak membantu saya dan Syfa. " Ujar Airin tersenyum.


Meskipun hatinya masih sedih karna cintanya dengan Syahdan harus berakhir sebelum dimulai. Tapi dia tak mampu untuk membenci siapa pun.


"Terimakasih Airin. terima kasih. Syahdan benar, kamu adalah wanita yang sangat baik. Tak Taksalah Taksalahjika Syahdan jatuh hati padamu. Tante harap kamu bisa menerima Syahdan. " Kata Rahma penuh harap.


"Apa maksud anda." Tanya Dewi. Dia sudah menduga kalau kedatangan Rahma bukan hanya sekedar minta maaf saja.


"Jeng Dewi, saya benar benar minta maaf atas kekasaran saya kemaren kemaren. Saya sangat berharap jika kesalahan saya tidak dikaitkan dengan hubungan Syahdan dan Airin." Kata Rahma.


"Maaf, hubungan apa ya. Syahdan dan Airin tidak ada hubungan apa apa, selain sebatas pengacara dan klien." Ujar Dewi.


"Jeng, saya yakin. Kita sudah sama sama tau. Kalau diantara Syahdan dan Airin ada menyimpan rasa yang sama. Saya sangat berharap, Perasaan mereka berdua bisa terwujud. Saya berharap Jeng Dewi dan Suami mau menerima Syahdan sebagaai menantu. Suami untuk Airin." Ucap Rahma sambil tersenyum Dia merasa sangat yakin kalau Airin akan menerima Syahdan. Dan Syahdan anaknya tidak akan marah lagi padanya.


"Maaf Bu Rahma. Apakah ini berarti Ibu melamar putri kami ?" Tanya Ayah Airin memastikan.


"Iya Pak, saya ingin melamar Airin untuk Syahdan. Dan saya yakin Airin bersedia. Benar kan Airin." Jawab Rahma percaya diri. Sambil dia menatap Airin.


"Maaf, Ibu sudah terlambat." Ujar Dewi tiba tiba.


"Maksudnya jeng, telambat bagaimana ?" Tanya Rahma bingung.


"Ya, Lamaran Ibu sudah terlambat. Bukankah dulu itu saya sudah bilang, kalau Airin akan segera menikah. Dan besok adalah hari lamarannya. dilanjut hari Jum'atnya Akad nikah., jadi Lamaran dari pihak Ibu sudah terlambat." Ujar Dewi menjelaskan.


Wajah Rahma pias, terkejut. Dia mengira kemaren itu Dewi tidak serius mengatakan kalau Airin akan menikah. Karena Syhadan dan Airin yang saling cinta, Rahma yakin Lamarannya akan diterima.

__ADS_1


"Nggak mungkin Jeng, Jeng Dewi bercanda kan. " Sahut Rahma lemas.


"Untuk apa saya bercanda, inilah kenyataannya. Kalau tinggal menghitung hari Airin akan menjadi istri orang lain." Ujar Dewi. Dia merasa sedikit puas melihat perubahaan wajah Rahma. Kemaren kemaren dengan angkuhnya dia merendahkan anaknya. Bahkan sampai datang membawa wanita lain yang akan menjadi calon menantunya. Sekarang dia malah datang mau melamar Airin.


"Airin, ini benar nak. Bukan kah kamu mencintai Syahdan. Tolong Airin, kalau ini semua karena kesalahan tante. Tante mohon maafkan tante. Tolong jangan menolak Syahdan. Dia sangat mencintai kamu Airin. Dia belum pernah jatuh cinta seumur hidupnya. Kamulah cinta pertamanya. Tante mohon Airin, tolong terima Syahdan." Rahma memohon sambil menangis. Dia berharap Airin akan berubah fikiran. Dia tidak ingin Syahdan semakin patah hati dan terluka.


"Maafkan saya Tante Rahma. Semuanya sudah diputuskan. Saya tidak bisa membatalkannya begtu saja." Uar Airin. Suara sudah mulai serak, menahan tangis.


"Airin, Tante tau kamu terpaksa kan. Kamu mencintai Syahdan. Tante tau itu. Katakan, siapa calon suami kamu itu. Tante akan menemuinya. Biar Tante yang bicara dengan keluarganya. Kamu tidak mencintainya Airin. Kamu tidak akan bahagia nanti. Karena kamu mencintai Syahdan. Tante mohon Airin." Rahma masih saja memohon mohon dan menangis.


"Sudah, hentikan Bu Rahma. Jangan ganggu hidup anakku lagi. Lebih baik Ibu pergi." Dewi bersuara. Dia tak ingin airmata Rahma menggoyahkan Airin, sehingga nekad membatalkan semuanya.


Dewi berdiri dan menarik tangan Rahma untuk membawanya keluar rumah. Rahma berusaha menolak. Sambil menangsi dia masih memohon.


"Jeng, saya mohon jeng Dewi. Tolong jangan nikahkan Airin dengan orang lain. Airin dan Syahdan saling mencintai Jeng. Saya mohon. Tolong pertimbangkan lagi Jeng." Ujar Rahma.


Dewi tak bergeming, dia tetap membawa Rahma keluar dari rumahnya. Sampai di halaman baru dilepaskannya tangan Rahma.


"Jeng, saya mohon Jeng. Demi kebahagian Airin dan Syfa. Jangan nikahkan Airin Jeng. " Rahma masih terus memohon.


"Cukup, apa anda tidak sadar juga ya. Semua ini karena anda sendiri. Dari awal anda sudah tau kalau Syahdan putra anda mencintai anakku. Tapi apa, anda malah menghina dan merendahkan anakku terus. Anda fikir, mentang mentang kami miskin maka pantas untuk dihina. Bukan kah Anda sendiri Bu Rahma yang mengatakan. Kalau anakku Airin tidak sebanding dengan Putra Anda." Dewi pun meluahkan kemarahannya. Kekesalan hati yang telah lama ditahannya karena hinaan Rahma.


"Saya minta maaf Jeng, saya tau saya salah. Saya akan lakukan apa saja. Asalkan Kalian mau memaafkan saya." Ucap Rahma dengan tangisannya.


"Kami sudah memaafkan Anda Bu Rahma. Dan sekrang saya minta tinggalkan rumah kami. " Ujar dewi. Dan kemudian meninggalkan Rahma sendirian diluar. Dia bergegas masuk ke dalam rumah. Dan mengunci pintu.


Ayah Airin hanya bisa terdiam. Dia juga tidak tau harus bicara apa. Airin juga diam tak bersuara. Suara tangisan Syfa menyadarkannya. Perlahan Airin bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah kamarnya sambil menggendong Syfa. Dewi pun hanya diam mematung masih berdiri bersender dipintu.1

__ADS_1


__ADS_2