Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kunci Rumah


__ADS_3

Naina benar-benar belum bisa percaya, jika orang yang saat ini duduk di sampingnya menuju rumah adalah suaminya. Sudah sah menjadi suami Naina. Ethan–pria itu. Pria yang ia kagumi karena sangat mencintai istrinya.


Ada debaran hebat di dadanya mengingat hal tersebut. Sekalipun Ethan tampak tak menghiraukan kehadirannya sama sekali. Pria itu terus menatap keluar kaca jendela mobil.


Naina mengalihkan tatapannya ke depan, Selin dengan Randy di depan sana juga hanya terdiam. Naina tahu mereka pasti merasa canggung.


Zoya sudah pulang lebih dulu membawa mobil sendiri. Ethan sempat melarang dan mengajak wanita itu untuk pulang bersama saja. Tapi Zoya tidak mendengarkan permintaan Ethan.


"Pak Ethan, Zoya udah reservasi tempat buat makan siang." beritahu Selin meski dengan penuh keraguan. Ia ingat pesan Zoya sebelum wanita itu pulang lebih dulu.


"Tempatnya aman." sambung wanita itu, barangkali Ethan khawatir akan atensi orang-orang nanti. Ia tak berani menoleh ke belakang. Ethan mengalihkan tatapannya ke depan dengan sorot datar. Naina memperhatikan pria itu. Rasanya ia tahu isi kepala Ethan sehingga dirinya angkat bicara.


"Tidak perlu Mbak Selin. Kita langsung pulang aja." tolaknya. Ia tidak enak pada Ethan, toh juga dirinya tidak akan nyaman menikmati makan siang di sebuah restoran dengan memakai kebaya. Orang-orang pasti akan heran saat melihatnya, lebih parahanya lagi, Naina khawatir orang-orang akan bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi saat melihat Ethan nanti. Terlebih mereka sedang tidak bersama dengan Zoya.


Sekalipun Selin bilang jika tempatnya aman, rasanya sulit dipercaya mengingat setiap orang pasti dapat mengenali Ethan dengan mudah.


"Bagaimana kalau jalan-jalan?" tawar Selin yang membuat Ethan geram tentu saja. Pria itu memilih untuk diam dan kembali menatap keluar kaca jendela mobil, dengan jelas menolak penawaran Selin dan membuat Naina merasa yakin.


Sang suami di sampingnya tampak memberi aba-aba agar ia tak lagi berbicara atau memberikan penawaran apapun pada Ethan.


Selin menurut dan diam. Ia melakukannya bukan tanpa alasan. Karena hal tersebut adalah keinginan Zoya dan Selin hanya berusaha untuk menyampaikannya. Setelahnya, hening terus melanda empat orang yang berada di dalam mobil tersebut.


Ethan enggan berbicara sedangkan Selin dan Randy juga hanya diam, berbeda dengan Naina yang memang tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Ia hanya duduk dengan tenang menikmati perjalanan pulang menuju ke rumah.


Naina menatap jari manisnya dimana sebuah cincin melingkar di sana, rasanya masih seperti mimpi mengingat dirinya sekarang sudah sah menjadi seorang istri, mungkin semua akan terasa menyenangkan– andai Naina bertemu dengan orang yang tepat–bukan Ethan.


***


Sementara di dalam rumahnya, Zoya yang sudah tiba sejak setengah jam yang lalu di rumah segera membereskan tempat tidur untuk pengantin baru yang sedang dalam perjalanan pulang itu.


Zoya mengganti sprei tempat tidur, merapikan kamar dengan sebaik-baiknya karena nanti Naina dengan Ethan akan menghabiskan malam pertama mereka di sana.


Setelah di rasa jika semuanya beres. Zoya menghela napas lega. Mengukir senyum tipis, hingga beberapa detik berikutnya, senyum itu perlahan sirna. Ia menatap seisi kamar. Kamarnya dengan Ethan, sekarang ia harus berbagi kamar dengan wanita lain.


Tidak rela? Tentu saja. Siapa memangnya wanita yang mau suaminya dan ruang kamarnya dibagi dengan wanita lain? Tidak ada.


Zoya membayangkan lagi di dalam kepalanya. Lika-liku yang ia dengan Ethan jalani sudah membuatnya sekuat ini, ia sudah terlanjur melangkah dan membuat keputusan. Maka jalan satu-satunya adalah bertahan dan terus berjalan.


Begitu mendengar deru mesin mobil, Zoya berjalan ke arah pintu kaca balkon dan membuka gorden. Ia mengernyit mendapati mobil Randy memasuki pelataran rumah, Zoya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan, baru pukul dua siang. Bukankah seharusnyaa mereka sedang makan di restoran yang sudah Zoya reservasi?


Bebetapa detik selanjutnya, Zoya segera keluar dari kamar. Menapaki satu persatu anak tangga dan membuka pintu. "Kok udah pulang?" tanyanya dengan heran pada empat orang yang baru saja keluar dari mobil tersebut.


"Kita nggak jadi makan siang di restoran." Selin yang menyahut. Zoya diam sejenak, menatap sang suami yang tampak kusut. Ia akhirnya mengerti dan menganggukan kepala.

__ADS_1


"Yasudah, masuk. Kita makan siang di sini aja." ajak Zoya pada keempatnya yang langsung diiyakan dengan anggukan kepala oleh mereka.


"Kalau gitu biar saya cepet-cepet masak." Naina menyahut lantas dengan cepat masuk ke dalam rumah sembari menyeret gaun yang dikenakannya. Selin dengan Randy juga mengangguk, kemudian berjalan bergandengan masuk ke dalam rumah.


Tinggalah hanya ada Ethan dengan Zoya di teras rumah. Dua orang itu hanya saling terdiam dengan mata yang saling bertatapan. Cukup lama tenggelam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai beberapa detik selanjutnya Zoya mengukir senyum tipis, lantas meraih tangan Ethan.


"Kamu hebat," pujinya sambil mengusap tangan pria itu dalam genggamannya, Ethan balas menggenggam tangan Zoya, pria itu hanya mengela hapas. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya.


Tapi kemudian, pria itu berjalan memasuki rumah dengan menarik Zoya. Tidak, bahkan bukan hanya masuk ke dalam rumah. Tapi sampai ke dalam kamar.


"Aku harus bantu Naina masak." beritahu Zoya begitu tiba di dalam kamar. Tapi Ethan tak menghiraukan, pria itu melepas jas dan dasi yang ia kenakan, membuangnya ke sembarang arah.


"Lebih penting mana? Saya sebagai suami kamu, atau bahan makanan di dapur?" pria itu melontarkan pertanyaan tak masuk akal sampai membuat Zoya mengerutkan keningnya.


"Dua-duanya penting." wanita itu menyahut singkat.


"Kamu harus memilih salah satu."


Zoya tergelak mendengarnya. Apakah sang suami sedang berusaha mencairkan suasana yang terasa begitu kaku? Membiarkan sejenak pikirannya tenang dari kejadian dan hal yang sulit dipercaya?


"Aku pilih bahan makanan. Karena kalau aku pilih kamu, nanti kita nggak makan." sahut Zoya, logis. Ethan mengerutkan kening.


"Kamu lebih memilih bahan makan daripada saya?" tanya pria itu yang kemudian melingkarkan tangan di pinggang Zoya. Zoya mengangguk bangga sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya.


Jarum jam terus berjalan berganti detik ketika Ethan sudah mendaratkan bibirnya di bibir Zoya, dengan satu tangan yang mengusap punggung Zoya lembut, kemudian menurunkan resleting dress yang wanita itu kenakan.


Zoya tidak ingin melakukannya sekarang. Terlebih mereka memiliki tamu di lantai bawah. Tapi sepertinya Ethan tidak dapat ditolak, sehingga yang Zoya lakukan hanya pasrah ketika tangan pria itu menuntun tangannya untuk melepas kancing kemeja yang pria itu kenakan.


***


Usai mengganti kebayanya dengan pakaian biasa, Naina mulai bergelut dengan bahan makanan di dapur. Selin membantunya, Naina sudah melarang, karena wanita itu masih dalam keadaan ngidam, pasti Selin akan merasa mual saat nanti mencium aroma masakan.


"Enggak apa-apa saya biasa tahan." wanita itu menyahut ketika Naina melarangnya untuk membantu gadis itu memasak.


"Kamu nggak perlu khawatir, Naina." sambungnya sambil terus mengupas bawang ketika melihat raut tidak tega Naina. Naina akhirnya hanya bisa pasrah dan melanjutkan aktivitasnya untuk cepat memasak agar mereka segera makan siang.


Setelah semua masakan sudah matang dan tersaji di meja makan, tentunya tiga orang itu bertanya-tanya heran mengenai keberadaan Zoya dengan Ethan. Dua anak manusia itu tak kunjung menampakan batang hidungnya.


Membuat Randy berpikir macam-macam. Tapi segera pria itu tepis pikiran kotornya. Tidak mungkin bukan jika mereka melakukannya di siang bolong begini?


Sementara Selin hanya menatap Naina yang tampaknya juga terheran-heran pada dua orang itu.


Tapi tidak, Naina tidak heran. Ia kenal Ethan dengan Zoya, ia tahu. Rasanya tidak aneh sekalipun dua orang itu memang tengah menghabiskan siang berdua di atas tempat tidur. Naina tersenyum tipis mengingat hal itu, ia punya hak apa untuk cemburu?

__ADS_1


Statusnya sebagai istri Ethan tak akan berpengaruh apapun. Baik kepada dirinya maupun kepada Zoya, karena Naina hanyalah istri secara kontrak Ethan yang akan mengandung anak paria itu kemudian bercerai setelah melahirkan. Berbeda dengan Zoya yang notabenenya adalah belahan jiwa pria itu. Seluruh dunia tahu mengenai hal tersebut.


Sementara di dalam kamarnya, Ethan hanya memejamkan mata sekalipun Zoya sudah berkali-kali membujuknya untuk mandi dan makan siang bersama di lantai bawah, semua orang pasti sudah menunggu mereka.


"Ethan, ayo dong."


Bujuk Zoya lagi, pria itu tetap memejamkan mata. Zoya tau pria itu tidak benar-benar tidur, bahkan Zoya melihat Ethan yang menatapnya ketika ia bergantia pakaian tadi.


"Terserah, deh, aku mau ke lantai bawah." pasrah Zoya, lelah membujuk suaminya. Ia lantas berlalu setelah sebelumnya sempat menghela napas panjang begitu melihat tempat tidur yang berantakan. Ia sudah menyiapkannya untuk Ethan dengan Naina namun justru Ethan membuatnya berantakan dengan dirinya. Sepertinya Zoya harus mengganti seprainya lagi.


Ethan membuka matanya ketika pintu kamar tertutup. Zoya benar-benar berlalu meninggalkannya, pria itu mengusap wajah, lantas beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan rasa malas luar biasa.


Ia menatap pantulan wajahnya dari cermin. Lantas menghela napas, ketika tangannya hendak menyalakan shower, Ethan menyadari cincin pernikahannya dengan Naina. Ia menatap cincin tersebut, rasanya masih sulit dipercaya jika dirinya kini memiliki dua orang istri.


Ethan menggelengkan kepalanya pelan. Lantas melepas cincin tersebut dan menyimpannya di pinggir wastafel.


Usai membersihkan diri, pria itu berganti pakaian dan akan bergabung dengan yang lain untuk makan siang, sebelumnya ia sempat mengambil cincin pernikahannya dengan Zoya lantas mengenakannya. Kemudian mengambil sesuatu dan berlalu.


Makan siang sudah berlangsung ketika Ethan tiba di sana. Semua mata tertuju pada pria itu, tetapi Ethan segera duduk. Randy menggeleng pelan, rupanya pikiran kotornya benar, hal itu terbukti dengan rambut basah Ethan.


Melihat sang suami yang memerhatikan Ethan, di bawah sana kaki Selin menyenggol kaki suaminya. Membuat pria itu mengalihkan pandangan pada Selin, Selin memicingkan mata dan membuat Randy kembali melanjutkan makannya, mengabaikan Ethan dan juga pikiran kotornya.


Sementara Zoya menyendokan nasi dan beberapa lauk untuk ptia itu. Makan siang berlangsung penuh keheningan, hanya suara denting sendok dan garpu dengan piring yang terdengar begitu nyaring saling bersahut-sahutan.


Sampai kemudian Ethan menyodorkan sesuatu ke hadapan Naina, membuat gadis itu menatapnya dengan mulut yang mengunyah pelan.


"Ini kunci rumah yang saya janjikan sebagai mahar. Jaraknya lumayan jauh, kamu bisa melihatnya kapanpun kamu mau."


"Semua perlengkapan rumah sudah ada, semuanya sudah lengkap." beritahu pria itu ketika Naina tampak terheran-heran. Naina yang mengerti mengangguk-anggukan kepala.


"Makasih Pak."


"Tidak perlu berterimakasih, itu hak milik kamu."


Naina mengangguk samar untuk kali ini, ia tersenyum saat bersitatap dengan Zoya yang juga menatapnya sambil tersenyum.


Apakah lebih baik Naina tinggal saja di rumahnya? Mungkin akan lebih baik karena ia tidak perlu bertemu dengan Ethan dan Zoya setiap waktu.


Ia mendesah, menatap jari tangan Ethan di mana sebuah cincin melingkar di sana. Lantas menatap Zoya di mana cincin yang wanita itu kenakan sama dengan milik Ethan.


Naina harus sering-sering mengingatkan dirinya sendiri agar sadar diri ketika melihat Zoya dengan Ethan.


TBC

__ADS_1


Follow ig-ku eva_yuliaaan_04


__ADS_2