
Ethan menautkan jari-jemarinya, menumpunya di atas meja dengan tatapan yang mengarah lurus pada lawan bicara di hadapannya. Fahry tampak menghela napas, kemudian menyesap coffee miliknya yang mulai dingin. Setelahnya ia kembali meletakan gelas di atas meja, balik menatap Ethan.
"Bagaimana keadaan Zoya?" tanyanya pada pria acuh tak acuh itu. Fahry tau kekacauan seperti apa yang terjadi, hal itu pasti sangat mengguncang perasaan, berikut juga psikis Zoya.
Ethan yang diberi pertanyaan hanya diam, ia menghela napas panjang dengan pikiran yang menerka-nerka, ia merasa tidak nyaman mendengar Fahry yang tampak menghkawatirkan keadaan istrinya.
"Tidak perlu mengkhawatirkan Zoya, dia baik-baik saja." sahut Ethan, acuh. Zoya miliknya, Fahry hanya bagian dari masa lalu Zoya yang harus ditinggalkan.
Fahry mengangguk-anggukan kepala. Ethan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Setelah Randy berhasil menghubungi Fahry dan membuat janji temu, pagi ini Ethan menemui pria itu di sebuah kafe yang sudah Randy tetapkan sebagai lokasi pertemuan.
"Lalu apa yang kamu mau saya lakukan?" tanya Fahry, ia sudah jelas tau alasan suami dari Zoya Hardiswara itu memintanya bertemu.
"Sederhana. Kamu juga pasti mengetahuinya." Ethan menyahut ambigu. Membuat Fahry terdiam dan berpikir sebentar. "Kamu ingin saya bicara di hadapan media?" tebaknya. Ethan menaikan alis dengan satu sudut bibir yang terngkat. Membenarkan tebakan Fahry yang tepat sasaran.
Fahry menghela napas dalam, menyandarkan punggungnya ke belakang. "Bukankah tidak sulit? Pria sejati harus mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Kamu tau jika Zoya adalah korban bukan?"
"Kamu sudah membuat nama baiknya tercoreng." kali ini Ethan menakan nada bicaranya.
"Sebelum itu nama baik Zoya juga pernah tercoreng karena skandalnya dengan kamu." Fahry bagai balik menyerang Ethan dengan senyum smirk yang terbit di bibirnya.
"Itu kecelakaan." Ethan menyahut tanpa beban.
"Dan kamu juga terlibat!" sambungnya. Mengalihkan tatapannya ke arah lain dan juga menyandarkan punggung ke belakang. Menatap lalu lalang kendaraan melalui pintu masuk kaca transparan.
Ethan hanya ingin masalah ini cepat selesai dan ia kembali dengan Zoya. Kembali saling berdampingan tanpa ada beban apapun seperti yang sekarang sedang terjadi. Ethan melegut segelas air putih pesanannya, matanya masih enggan bersitatap dengan Fahry sampai pria itu kembali bersuara.
"Sepertinya kamu sangat mencintai Zoya," Ethan menoleh, kemudian tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala.
"Kalau saya tidak mencintai Zoya, untuk apa saya menikahinya? Karena skandal? Reputasi perusahaan?" Ethan tertawa singkat.
"Kemudian saya mengorbankan hidup saya dengan pernikahan seolah tidak ada cara lain?"
Lagi, Ethan tertawa yang membuat Fahry memicingkan mata dan mencoba sebaik mungkin mencerna apa yang pria itu maksudkan.
"Sayangnya ini dunia nyata, seseorang tidak mungkin akan dengan mudah mengorbankan hidupnya untuk menikah dengan orang yang tidak dicintai hanya karena alasan klise!" sambung Ethan. Kali ini wajah pria itu tampak lebih serius dari sebelumnya.
"Maksud kamu?" Fahry memutuskan untuk bertanya.
Ethan menghela napas. Hendak menjawab tapi Fahry sudah lebih dulu kembali bersuara. "Kamu sudah jatuh cinta pada Zoya sebelum skandal itu terjadi?"
__ADS_1
"Bahkan jauh sebelum skandal itu!" Ethan meluruskan. Membuat Fahry tampak tidak mengerti situasi.
"Jika bukan Zoya, saya mungkin tidak akan menikahinya. Saya dapat dengan mudah menyuap media untuk tidak memprovokasi berita."
"Artinya kamu menjebak Zoya?"
"Saya yang terjebak dengan Zoya. Kemudian kami beruntung karena dibersamakan." Ethan menyahut santai. Fahry mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan senyum yang tak dapat diartikan.
Selang beberapa detik, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Ethan yang terus menatapnya. "Bagaimana jika saya katakan kami pernah tidur bersama?"
Ethan mengerutkan kening, pertanyaan Fahry ambigu, tapi Ethan sudah tau pasti kemana arah pembicaraan Fahry kali ini. Randy yang memang berada di sana tepat di belakang Ethan ikut mengerutkan kening mendengar perkataan Fahry.
"Maksud saya, saya dengan Zoya. Mmm, bagaimana jika saya katakan saya dengan Zoya sering menghabiskan malam bersama?" Fahry memperjelas maksud perkataannya.
"Kamu berharap saya akan bereaksi seperti apa?" Ethan justru tersenyum.
"Memang apa perduli saya tentang hal itu? Kamu cukup datang ke gedung AE RCH besok pagi, saya sudah menyiapkan semuanya dan kamu hanya tinggal berbicara." Ethan bangkit dari duduknya. Ia tak ingin berlama-lama berada di sana dengan pria yang pernah Zoya cintai, juga pria yang berhasil membuat Zoya terluka.
"Bagaimana jika saya tidak datang?"
Ethan menahan langkah, menatap Fahry yang memicingkan mata. "Jangan berani untuk tidak datang!"
"Anggap begitu!" Ethan benar-benar pergi dari sana diikuti oleh Randy, meninggalkan Fahry yang diam menatap pungung Ethan yang kian menjauh. Sedangkan Ethan yang sudah berada di luar kafe berdecih.
"Sering menghabiskan malam bersama, cih." Ethan membuka kancing jas yang dikenakannya saat Randy membukakan pintu mobil. Randy yang mendengar gerutuan pria itu tersenyum kecil.
"Dia pikir aku bodoh?" seolah bertanya pada Randy yang sudah duduk di balik kemudi sedang mengenakan seatbeltnya.
"Aku tau pasti saat pertama kali melakukannya dengan Zoya. Itu benar-benar kali pertama untuk Zoya." sahutnya lagi dengan wajah yang tampak kesal, Randy mendehem, rasanya Ethan sudah keterlaluan membicarakan hal itu di hadapannya yang belum beristri. Tapi pria itu tampak tidak perduli ia hanya, menyandarkan punggungnya ke belakang dengan tangan terlipat di dada, Randy tersenyum.
"Pertamakali juga buat kamu, 'kan Than?" Ethan memutar bola mata, mengendurkan das yang membuatnya tampak berantakani dan mengalihkan tatapanya keluar kaca jendela mobil. Tak menghiraukan pertanyaan Randy barusan.
**
Zoya tidak berniat membiarkan Selin memasuki apartementnya. Bodyguard yang berjaga di depan pintu masuk juga sudah menghadang, tapi pada akhirnya Zoya memberi wanita itu kesempatan untuk berbicara karena Selin memohon padanya dan Zoya tidak bisa abai begitu saja.
Zoya hanyalah manusia biasa, setidaknya ia harus memberikan Selin satu kesempatan.
Ini adalah menit ke lima dua wnita itu hanya saling terdiam di sofa ruang utama apartement Zoya. Zoya tidak memiliki sesuatu untuk dibicarakan, sedangkan Selin tampak sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara.
__ADS_1
"Zoy."
Zoya tak merespon, meski sekedar mengalihkan tatapannya pada Selin pun tak ia lakukan. Tapi Selin tau wanita itu mendengarkan.
"Sebelumnya Mbak minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu." Selin memulai selagi Zoya masih memberinya kesempatan.
"Mbak tau Mbak salah, tapi kamu juga harus tau saat itu Mbak nggak ada pilihan, Zoy. Mbak nggak mau bikin kamu sedih, hal itu juga akan berdampak pada karier kamu." Selin mengutarakan apa yang selama ini ia pendam.
"Terus gimana sama sekarang? Apa semuanya masih baik-baik aja?" tanya Zoya penuh tuntutan.
"Aku? Reputasiku? Karierku? Perasaanku? Apa semuanya baik-baik aja Mbak?"
"Mbak bisa bilang itu pelan pelan ke aku. Aku pasti ngerti kok,"
"Kamu sangat mencintai Fahry. Dulu, semuanya nggak akan semudah apa yang kamu bilang sekarang, Zoy." Selin berusaha membuat Zoya untuk mengerti.
"Ini demi kebaikan kamu." suara wanita itu melemah.
"Enggak ada yang namanya bohong buat kebaikan, Mbak!"
"Mbak gak mau kamu kecewa dan rerluka." Selin tau tidak ada bedanya dengan sekarang. Zoya tetap terluka dan merasakan kecewa, tapi setidaknya sejarang jauh lebuh baik karena wanita itu memiliku Ethan sebagai sandaran. Selin yakin Zoya akan baik-baik saja.
Zoya menoleh pada Selin yang tak lagi bicara. "Aku sempet denger pembicaraan Mbak sama Fahry di studio pemotretan saat itu. Jadi kalian berencana buat jebak aku?"
Selin tampak terkejut, menatap Zoya dengan gerakan mata gelisah. Namun sesaat kemudian, Selin mengangguk perlahan dengan mata terpejam. Zoya menatap Selin tidak percaya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia berharap Selin mengatakan tidak, tapi pasa kenyataannya, Selin memang pernah merencanakan hal seperti itu untuknya.
"Dengerin Mbak Zoy–"
"Apa menurut Mbak Selin Mbak gak kelewatan?"
"Kenapa Mbak jahat sama aku? Aku punya salah apa ke Mbak?" kini air mata Zoya mengalir deras. Selin mendekat dan menggenggam tangan Zoya. "Maafin Mbak, Mbak salah."
"Cuma hal itu yang bisa dilakuin supaya kamu bebas dari Fahry, dengan begitu kalian akan terpaksa berpisah. Maafin Mbak, nggak ada cara lain Zoy."
"Mbak sayang sama kamu, kamu tau sendiri kamu udah Mbak anggap seperti adik Mbak Sendiri. Mbak nggak mau kamu bertahan lama lama sama Fahry."
"Mbak juga gak mau kamu jadi orang ketiga dalam pernikahan Fahry sama Mbak Anggun."
Zoya menutup wajah dengan telapak tangan, menangis tersedu, mengingat fakta yang membuat hatinya amat terluka. Selin merengkuh tubuh Zoya, memeluknya sebagai bentuk peduli untuk menenangkan wanita itu.Selin tidak menyangkal jika dirinya salah, ia mengakui semuanya. Dan ia hanya ingin pengampunan Zoya.
__ADS_1
TBC