
"Selamat pagi."
Zoya mengerjapkan mata, melihat suaminya yang tampak sudah rapi dengan stelan formal. Wanita itu membalikan tubuh untuk memunggungi Ethan, menarik selimut guna menutupi tubuhnya.
"Kamu tidak ada acara hari ini?" tanya Ethan. Zoya menurunkan selimutnya perlahan, menoleh pada Ethan yang sedang menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
"Syuting iklan jam sepuluh pagi. Kamu kalau mau ke agensi berangkat aja, aku biar dijemput Mbak Selin."
Zoya mengubah posisinya menjadi duduk. Merapikan rambut dan turun dari atas tempat tidur sambil memperbaiki gaun tidurnya yang berantakan karena ulah Ethan. Ia berjalan begitu saja ke arah kamar mandi, Ethan yang sejak tadi memperhatikan wanita itu hanya tersenyum dengan kepala yang menggeleng pelan.
Tak lama wanita itu keluar sambil mengelap wajahnya yang basah. Berjalan ke arah meja rias di mana Ethan masih berdiri di sana. "Kamu udah sarapan?" tanyanya. Menyisir rambut dan mendongak pada Ethan.
"Hmm."
Zoya mengangguk. "Sana berangkat, nunggu apa lagi?" heran Zoya mendapati pria itu yang masih berdiri di sana. Dalam hati Ethan berdecak kesal pada Zoya yang tidak peka. Seharusnya wanita itu memberinya sekedar kecupan di pipi.
"Saya berangkat."
"Hmm."
Ethan melangkah lunglai meninggalkan Zoya yang tak memberi ucapan selamat tinggal atau melakukan apapun. "Ethan," sampai panggilan wanita itu membuat langkah kaki Ethan terhenti, pria itu tersenyum gembira dan berbalik dengan senyuman, berharap Zoya mengabulkan apa yang diam-diam Ethan inginkan.
"Kenapa?"
"Dasi kamu norak!"
Alis Ethan bertaut, lantas menilik dasinya kemudian menatap Zoya dengan sorot mata kesal. Harapannya pupus seketika, sedangkan Zoya tersenyum dan mendekat pada pria itu, menilik penampilan sang suami.
"Mmm, sebentar!" Zoya beranjak ke arah walk in closet. Membuka sebuah laci di mana koleksi dasi Ethan berada di sana, mengambil sebuah dasi polos berwarna navy dengan bahan satin dan juga dasi berwarna hitam.
Kembali pada Ethan sambil menentang kedua dasi itu di hadapan sang suami. "Kamu suka yang mana?" tanya Zoya, Ethan memperhatikan dua dasi di tangan sang istri.
"Saya suka apapun yang akan kamu pilih." jujur Ethan, wanita itu tersenyum penuh arti. menaruh dasi hitam itu di atas meja, dengan cekatan tangannya melepas dasi yang Ethan kenakan, kemudian memasangkan dasi pilihannya.
"Karena kemeja kamu polos dan kamu pake jas warna abu, navy cocok buat kamu." Zoya mulai memakaikan dasi pilihannya untuk pria itu. Ethan tersenyum, ternyata daripada kecupan nyatanya apa yang saat ini Zoya lakukan terasa jauh lebih berarti.
Zoya merapikan dasi yang sudah dipasangnya. Menepuk kedua dada Ethan dan tersenyum. "Kalau gini, 'kan ganteng."
Ethan tersenyum, menyentuh dasi itu dan mengangguk. "Saya berangkat." Zoya mengangguk, baru pria itu akan beranjak lagi-lagi panggilan wanita itu menginterupsinya.
"Ethan."
Ethan menoleh, wanita itu menunjuk keningnya yang membuat Ethan terheran. Sampai kemudian kedua sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Ia mendekat, meraih pinggang wanita itu dan mendaratkan kecupan di dahi Zoya sedikit lebih lama.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu ikut ke agensi saja?" saran Ethan setelahnya, rasanya enggan meninggalkan sang istri sendirian di rumah. Zoya terdiam, berpikir sebentar.
"Suruh manajer kamu untuk menjemput ke agensi saja." bujuknya.
Akhirnya Zoya mengangguk. "Kalau gitu aku mandi dulu, kamu tunggu di bawah." setelahnya Zoya bergegas ke arah kamar mandi. Ethan memutuskan untuk keluar dari kamar dan akan menunggu wanita itu di lantai bawah.
**
Kedatangan kedua orang itu ke agensi mendapat tatapan penuh arti dari orang orang seisi gedung. Mereka tersenyum melihat pasangan serasi itu berjalan bersama dan terlihat sesekali mengobrol.
"Aku batalin kontrak kerja samaku sama perusahaan Silver." sahut Zoya, berjalan dengan Ethan ke arah lift.
"Kenapa?"
"Enggak tau, Mbak Selin nggak bilang detailnya. Pasti ada yang minta macem-macem," Zoya menggerutu dengan bibir yang mengerucut. Ethan yang melihatnya hanya tersenyum. Sampai pintu lift di depan mereka terbuka, bersamaan dengan ponsel Zoya yang berdering.
Zoya merogoh ponsel dari tasnya, menggeser ikon hijau setelah membaca id penelpon. Fokus mengobrol dengan Selin, sedangkan Ethan menekan tombol lift, matanya mengarah pada seorang anak kecil yang tengah dikejar oleh seorang pria berpakaian rapi. Mereka juga tampak akan memakai lift yang sama dengan Ethan.
Tapi langkah kaki pria itu terhenti saat melihat jika ada Zoya di dalam lift. Beruntung wanita itu tidak melihatnya, dan begitu Zoya mengangkat pandangan, Ethan menghalangi Zoya dengan menyudutkan tubuh wanita itu ke sudut lift bersamaan dengan pintu lift yang tertutup.
"Ethan, kenapa?" heran Zoya saat panggilan telponnya dengan Selin sudah berakhir.
"Tidak ada apa-apa."
"Anye, kita tunggu sebentar Sayang."
"Ayaah,"
"Sebentar, nak." gadis kecil itu akhirnya menurut. Diam dalam gendongan sang ayah.
"Fahry," Pria yang sedang menggendong gadis kecil itu menoleh. Mendapati Direktur Utama AE RCH. "Selamat pagi Bu Rachel." Fahry menyapa dengan spoan. Rachel tersenyum, ia sempat menyapa Anye dan mencubit pelan pipi gadis kecil itu.
"Datang kemari untuk menemui Selin, atau Anggun?"
Fahry mengernyitkan dahi saat nama Selin disebut, ia kira tidak pernah ada yang menyadari kehadirannya jika sedang berkunjung ke agensi tersebut.
"Saya pernah melihat kamu mendatangi Selin." sambung Rachel agar pria itu tidak heran dengan apa yang ditanyakaannya.
"Oh, iya Bu. Ada sedikit urusan."
"Dan sekarang akan menemui Anggun, Anye ingin memberinya hadiah."
"Oh, manisnya. Kalau begitu silakan, sepertinya Anye sudah tidak sabar." Rachel dapat melihat raut merajuk gadis kecil itu yang tampak menggemaskan. Fahry mengangguk, pamit pada Rachel dan berlalu dari sana.
__ADS_1
"Ayo, Ayah."
"Iya Sayang, sabar. Kita akan segera menemui Mama."
**
Zoya menghempaskan tubuhnya ke sofa begitu memasuki ruangan sang suami. Sedangkan Ethan berlalu menuju kursi kebesarannya. Zoya tersenyum mengingat perdebatannya dengan Ethan ketika mereka menghadapi kasus skandal keduanya.
Untuk pertama kalinya bagi Zoya ia merasa sangat kesal pada Ethan diawal kmunikasi mereka. Ternyata sudah hampir satu bulan setelah kejadian memilukan itu dalam hidup Zoya ..., dan mungkin juga Ethan.
Rencana bulan madu yang sudah Ethan susun dibatalkan sesuai kesepakatan antara ia dengan Zoya, jika Ethan harus mendapatkan persetujuan Zoya untuk melakukannya. Dan Zoya belum siap akan hal itu sehingga Ethan memilih mengalah.
Hubungan Ethan dengan Zoya semakin membaik, Ethan sudah bersiap untuk kembali menyusun rencana bulan madunya dengan Zoya nanti.
Tapi, bukan itu yang sedang Ethan pikirkan sekarang, melainkan Fahry. Jadi ternyata pria itu suami dari Anggun? Dan Anye adalah anak mereka?
Mata Ethan mengarah pada Zoya yang sedang bermain ponsel. Ethan menyangga dagu dengan jari jemari tangan yang terpaut.
Seberapa jauh Fahry dan Selin membohongi Zoya? Tanda tanya besar bersarang di kepala Ethan.
"Zoya, saya pesankan sarapan?" tawar Ethan, memilih buka suara juga mengingat sang istri, yang belum memakan apapun pagi ini, karena wanita itu menolak sarapan di rumah dan kali ini pun sama, kepalanya menggeleng dengan cepat menolak tawaran Ethan.
"Kamu belum sarapan." Ethan mencemaskan wanita itu.
"Aku nggak laper."
"Saya perhatikan akhir-akhir ini kamu jarang makan." Ethan bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri wanita itu, duduk di samping Zoya.
"Enggak ngerti, aku sering mual. Kayaknya salah makan deh,"
"Kalau gitu kita periksa ke dokter."
"No!"
"Zoy,"
"Aku nggak setuju!" tolak Zoya.
"Aku nggak papa, kamu tenang aja. Nggak perlu cemas, okey." sambungnya meyakinkan.
Ethan pasrah, meraih tangan wanita itu dan membuat atensi Zoya yang semula fokus layar ponsel teralihkan pada wajah Ethan.
"Jangan sampai sakit."
__ADS_1
TBC