
Alexa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang begitu mereka star dari titik pemberangkatan. Iring-iringan beberapa mobil sedan dan dua pick-up berukuran besar berisi segala macam properti itu memenuhi jalanan. Zoya hanya berdua dengan Alexa sementara Selin ikut dengan manajer Edrin.
Suasana yang hening karena tak ada obrolan yang terjadi di antara dua orang itu membuat Zoya berinisiatif untuk memutar musik dari head unit audio car. Hujan rintik-tintik di luar dan membasahi kaca jendela justru membuat Zoya betah melihatnya.
Seketika, hatinya merindukan sang suami meski baru satu jam ia melakukan perjalanan, bahkan Ethan sudah mengiriminya pesan. Alexa yang tengah menyetir hanya menoleh usai melepas kacamata hitamnya karena beberapa saat tadi cuaca sangatlah panas.
"Kalau kamu udah pegel biar aku gantiin nyetir." sahut Zoya mengingat jika wanita itu sudah cukup lama menyetir.
"Sans aja, belum pegel." Alexa menyahut santai, Zoya mengangguk samar, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya ke luar kaca jendela.
"Kamu nggak papa ninggalin Ethan sama asisten rumah tangga kalian?" Alexa membuka percakapan, sesekali ia melihat hati-hati jalanan di depannya karena hujan deras yang mengguyur dan cukup mengganggu penglihatannya.
"Yes, i know mereka suami istri, but ..," kali ini Alexa menoleh pada wanita di sampingnya. Mobil berhenti saat traffic lights berwarna merah.
Zoya menegakan duduknya dan memfokuskan pandangannya ke depan, sementara telinganya bersiap mendengar apa yang akan Alexa katakan. "But, mereka cuma menikah karena kesepakatan, right?"
"Hanya hitam di atas putih bukan?" tanya wanita itu.
"Jadi?" Zoya bertanya dengan nada malas. Topik tersebut adalah hal yang paling malas ia bahas. Mungkin seharusnya Alexa tidak perlu mengetahui hal ini.
"Selama kurang lebih satu bulan kamu bakal ninggalin Ethan. Kamu yakin nggak akan ada hal apapun di antara mereka?"
"Seharusnya syarat menikah di antara mereka jangan sampai ada cinta, bukan?"
"Aku percaya Ethan." Zoya tak ingin terpengaruh apalagi sampai tidak memercayai suaminya. Ia sudah meyakinkan diri untuk hal tersebut jika Ethan tidak akan membagi cintanya dan pria itu sudah membuktikannya. Tidak ada alasan bagi Zoya untuk mencurigai sang suami.
"Bahkan Angkasa saja nggak bisa mencintai Rain seutuhnya." sahut wanita itu yang kemudian menoleh sesaat pada Zoya lantas melajukan mobilnya saat traffic lights sudah menunjukan warna hijau.
Zoya hanya terdiam hingga Alexa kembali berbicara. "Kamu sudah baca naskah sampai selesai, 'kan?" Zoya tak merespond, tapi yang pasti, ia sudah membaca seluruh naskah dan mengetahui akhir dari hubungan cinta Angkasa dengan Rain.
"Kamu pernah denger kutipan seperti ini 'Waktu dapat merubah segalanya, termasuk juga perasaan'."
Zoya masih hanya diam. Diam-diam pula membenarkan apa yang Aleclxa katakan jika waktu memang dapat merubah segalanya. Ia sudah membuktikannya sendiri bagaimana perasaannya terhadap Ethan.
Betapa Zoya sangat mencintai Ethan saat ini, padahal dulu, pria itu adalah orang asing yang memaksa untuk masuk dan menjadi bagian dalam hidup Zoya. Padahal dulu pernikahan keduanya terjadi secara paksa.
Namun seiring berjalannya waktu, semua berubah. Banyak hal yang berubah, banyak hal yang ia lalui dengan Ethan hingga menemukan cintanya untuk pria itu yang begitu dalam.
"Aku nggak berniat merusak mood kamu. Aku cuma mengingatkan kalau kamu harus berhati-hati, bukan nggak mungkin jika Ethan akan memiliki perasaan pada asisten rumah tangga kalian jika mereka sering menghabiskan waktu bersama." panjang lebar Alexa mengakhiri percakapan mereka. Sampai pada detik itu Zoya masih tak merespond.
Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu saat ia mendapati Ethan di kamar Naina dan mencium kening gadis itu. Rasanya perasaan Zoya tak karuan mengingat hal tersebut.
****
Zoya dengan tim tiba di sebuah vila berukuran besar dengan halaman luas di kawasan puncak setelah melalui tiga jam perjalanan. Zoya segera beristirahat di kamar utama dengan Selin, Alexa, dan juga manajer Edrin. Sementara Edrin sendiri menempati kamar di sebelahnya dengan beberapa pemeran laki-laki.
Vila dengan tampialan dua pilar berukuran besar di bagin depan itu memiliki lima kamar tidur. Vila tersebut adalah vila keluarga milik Irpan, sutradara film mereka. Sebagian orang memilih ruang utama untuk menjadi tempat tidur, sedangkan sebagian lagi membuat tenda di luar vila dengan alasan ingin menikmati pekerjaan seolah mereka sedang berkemah di masa liburan.
Semua berkumpul di halaman belakang vila dekat kolam renang untuk menikmati makan siang. Sekaligus briefing untuk syuting yang akan mulai dilaksanakan besok selama enam hari ke depan. Jika acara berjalan lancar, maka minggu depan mereka sudah harus meninggalkan vila dan meluncur ke kota selanjutnyam
Setelahnya istirahat beberapa hari begitu pulang ke Jakarta dan melanjutkan lagi syuting di Ibu Kota. Kemudian, langkah akhir adalah luar negri untuk bagian akhir film.
Semua anggota tim tentunya berharap yang terbaik dan syuting film berjalan lancar sampai dengan selesai nanti.
Arfat dan Irpan berpesan, jika yang paling penting adalah kerja sama antar tim. Kekompakan dan juga dukungan untuk saling mensuport satu sama lain. Hal itu akan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan selesai dengan hasil yang tidak akann mengecewakan.
Arfat juga meminta masukan para kru dari berbagai departemen dan juga dari para pemain. Sekiranya hal apa yang kirang dan apa saja yang mesti diaperbaiki agar semua berjalan dengan kerjasama yang terjalin satu sama lain tanpa ada perasaan mengganjal di hati masing-masing.
***
Pemandangan puncak begitu indah pada sore hari, Zoya duduk pada kursi panjang di pinggir kolam renang sementara yang lain asik menikmati acara bbq.
__ADS_1
Zoya mendapati semua orang tengah asik dengan dunianya. Ia juga melihat Edrin dan Alexa yang tampak kompak menata meja, entah dua orang itu melakukannya secara sadar atau tidak jika mereka tengah bekerja sama.
"Hey, ngelamun aja." teguran Selin membuat wanita itu menoleh. lantas Selin duduk di sampingnya sembari membawakan beberapa tusuk sosis yang sudah matang dan juga jagung. Zoya mengambilnya setelah sebelumnya mengucapkan terima masih. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang tengah berpesta.
Sedangkan pikirannya dihantui oleh apa yang Alexa katakan saat mereka dalam perjalanan menuju kemari. Bohong jika hal itu tidak menggannggu pikiran Zoya sekalipun tak dapat menggoyahkan kepercayaannya untuk sang suami.
"Mbak,"
"Hmm?"
"Menurut Mbak, mungkin nggak kalau seandinya suami aku tertarik sama cewek selain aku?" tanya Zoya dengan nada setengah ragu. Rasanya sangat aneh mengajukan pertanyaan seperti barusan kepada Selin.
Selin yang ditanyai hanya diam. Menatap Zoya seolah tahu isi kepala wanita itu. "Maksud kamu Naina?" tanyanya, tepat sasaran karena setelahnya Zoya menganggukan kepala. Selin juga mengangguk-anggukan kepala, mengerti.
"Kamu mulai ngeraguin suami kamu?" Selin justru bertanya, Zoya menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tak meragukan Ethan, ia hanya takut. Takut jika waktu membuat perasaan pria itu padanya berubah. Ia khawatir jika waktu dapat membuat perasaan Ethan padanya memudar.
"Aku tiba-tiba keinget Rain sama Angkasa aja."
"Itu kan cuma cerita rekaan Zoy."
"Tapi banyak yang menulis cerita atas dasar kisah nyata, Mbak."
"Mbak tahu, tapi kamu sama Pak Ethan nggak akan ngikutin jejak Angkasa sama Rain, atau yang lain." Selin menepuk bahu Zoya dengan tatapan mata seolah meminta agar Zoya tak perlu memikirkan hal tersebut.
Zoya tak mengatakan apapun lagi, ia hanya duduk manis menikmati sosisnya seraya kembali mengamati orang-orang yang masih sibuk dengan dunianya.
"Udah, segini aja. Nanti yang mau tinggal ambil, kalau mau satu orang satu poring nggak akan kebagian!" Alexa menggerutu saat Edrin mengaturnya, padahal dalam perkara seperti saat ini, Alexa adalah yang paling tahu dan bisa mengatur daripada pria itu.
Edrin hanya mendengkus, tangannya yang semula memegang garpu lantas melepaskannya begitu saja di atas meja hingga menciptakan bunyi yang cukup nyaring.
Tapi seolah sudah terbiasa atas kelakuan dua orang itu, para kru tampak tak bereaksi sama sekali dengan hal itu..
Begitu Edrin tiba, salah seorang di antara mereka berlalu sehingga Edrin dapat dengan leluasa mengambil tempatnya.
"Udah mateng?" tanya salah satu dari mereka.
"Udah,"
"Wah, enak, nih. Minta, yah."
"Nanti dulu! Gunggu semuanya mateng baru makan sama-sama." orang yang tengah mengipasi angkat bicara. Tidak terima.
"Itu Zoya udah makan!"
"Biasalah, nepotisme! Kesayangan produser kita dia mah!"
"Aku bisa denger yaah." Zoya sedikit berteriak dan membuat mereka meminta pengampunan seraya tertawa. Wanita itu hanya mencebikan bibir dan tersenyum setelahnya karena tahu jika mereka hanya bercanda.
Alexa lanjut menata meja sendiri dibantu oleh manajer dan asisten Edrin, juga beberapa kru wanita. Sampai saat semuanya hampir beres, ia berlalu untuk ke kamar mandi karena ingin buang air kecil.
Alexa memasuki vila, tempat yang luas itu begitu sepi saat semua orang berada di luar. Ia hanya mendengar suara seseorang yang tampaknya tengah berbicara melalui sambungan telpon di ruang tv. Alexa mengabaikannya dan berlalu melanjutkan langkah menuju kamar utama satu di mana kamar tersebut memiliki kamar mandi.
***
Postingan yang Selin unggah di akun instagran pribadi milik Zoya saat mereka tengah menikmati pesta bbq mengundang atensi banyak pihak terutama para fans Zoya. Zoya membaca komentar mereka sekilas-sekilas, melihat respon mereka pada beberapa fotonya dengan Edrin.
Tampaknya fans Zoya dan Edrin sangat ingin mereka bersama.
Seandainya Zoya belum nikah, pasti dia bakalan pacaran sama Edrin.
Zoya sama Edrin cocok. Coba aja kalau di real lifenya juga punya hubungan spesial.
__ADS_1
Mereka cocok. Serasi.
Zoya hanya menggeleng takjub melihat komentar-komentar seperti itu. Sama halnya dengan Edrin yang juga hanya terkekeh maklum. Sedangkan Alexa berdecih, ia cukup heran kenapa para fans seringkali terkesan menuntut para idolanya.
Selin menyerahkan ponsel pada saat panggilan masuk dari Ethan membuat ponsel tersebut berdering. Zoya meraih ponsel dan pamit pada yang kain untuk mengangkat telpon.
Jujur sejak tadi, Zoya sudah menunggu telpon dari suaminya mengingat pria itu belum merespond chat yang ia kirim pada Ethan yang berisi pemberitahuan untuk pria itu jika ia sudah sampai dengan selamat di tempat tujuan.
"Hallo," sapa Zoya dengan senyum tertahan.
"Hay, sudah makan malam?"
"Belum ini yang lain lagi gelar acara bbq karena syuting baru di mulai besok."
"Kamu udah makan?"
"Sudah, Naina memasakan saya banyak makanan." sahut pria itu, Zoya hanya tersenyum mendengarnya.
"Di sana bagaimana?" tanya Ethan kemudian. Zoya tersenyum.
"Di sini dingin." Zoya berbicara dengan nada menggoda. Ethan sempat tergelak di ujung sana. "Apa maksud kamu, kamu sedang membutuhkan saya sekarang?"
"Kayaknya iya." kali ini giliran Zoya yang tertawa.
Setelahnya adalah hening di antara mereka. Zoya mendekap tubuhnya, ia tidak bohong saat mengatakan jika di sana memang dingin. Padahal ia sudah mengenakan pakaian hangat yang tebal.
"Gimana kerjaan kamu hari ini, acara di agensi lancar?"
"Kerjaan saya hari ini banyak. Acara di agensi berjalan lancar, hari pertama pembukaan pendaftaraan secara ofline, agensi kebanjiran calon bintang." sahut pria itu yang membuat Zoya tersenyum meski Ethan tak dapat melihatnya.
"Zoya,"
"Hmm?"
"Saya cemburu setelah melihat postingan instagram kamu. Kamu jadi terlalu sering sama Edrin nanti." sahut pria itu, suaranya pelan dan ia tampak sangat teliti dalam menentukan kata yang diplihnya dalam berbicara pada Zoya.
Zoya tahu, hal tersebut pria itu lakaukan agar keduanya tidak terlibat perdebatan. Mengingat jarak mereka yang jauh, perdebatan tentu adalah hal yang harus keduanya hindari.
"Itu alasan kamu langsung nelpon aku?"
"Sebelum itu juga saya sudah berniat untuk menghubungi kamu."
Zoya hanya tersenyum mendengarnya. Suara Ethan yang terdengar lembut menembus indera pendengarannya membuatnya merinduka pria itu.
"Mbak Selin yang posting, kamu kan tau sendiri, kalau ada project film atau sinetron, Mbak Selin rajin bagiin kegiatan aku ke banyak orang." tentunya hal itu dilakukan untuk mempromosikan film yang dibintanginya agar diketahui banyak orang dan mendapat banyak dukungan.
"Iya, saya tahu."
"Hmm."
Lagi-lagi setelahnya dua orang itu hanya saling terdiam. Suara napas masing-masing adalah jenis suara yang paling mendominasi saat ini melalui sambungan telpon. Hingga beberapa saat kemudian, Zoya mendengar pria itu memanggil namanya.
"Zoya."
"Iya?"
"Saya kesana sekarang, yah. Boleh?"
TBC
Belum juga satu kali dua puluh empat jam, Mas. Hmm
__ADS_1