
Naina hanya menatap pantulan wajahnya di cermin usai ia membersihkan diri begitu selesai makan malam sendiri. Ethan dengan Zoya tengah menghadiri acara makan malam tim yang diselenggarakan profuser project film Zoya sebelum mereka menikmati waktu istirahat selama tiga hari setelah satu bulan syuting di luar kota.
Naina melihat jam dinding yang ada di dalam kamarnya. Jarum pendek jam menunjuk angka sepuluh, ia sesaat terdiam karena mengingat kedua majikannya belum tiba di rumah. Naina meraih ponsel dan menatap layar ponselnya, berniat menghubungi Zoya dan bertanya kapan wanita itu akan pulang. Tetapi sebelum hal itu ia lakukan, ponselnya sudah lebih dulu menylala disusul sebuah nada dering panggilan masuk.
"Hallo, Mbak Zoya. Kalian udah dalam perjalanan pulang?" Naina bertanya dengan nada penuh antusias setelah menggessr ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Euu, malam ini saya sama Ethan nggak pulang. Jadi kamu nggak perlu nunggu, kunci pintu dan langsung tidur, yah?"
Senyum di bibir gadis itu perlahan luntur usai mendengar suara Zoya di ujung sana dan apa yang dikatakannya. Berganti dengan senyum miris yang ia terbitkan.
"Kamu udah makan malam?" Zoya bertanya dan menyadarkannya dari lamunan kemudian.
"Euu, udah Mbak."
"Yaudah kalah gitu, besok saya sama Ethan pulang, yah."
Naina mengangguk samar sekalipun Zoya tak dapat melihat dirinya, tak lama setelah itu panggilan terputus. Naina menaruh ponsel pada bantalnya, ia hanya duduk diam di sana selama beberapa menit. Ia lupa jika satu minggu ke depan atau mungkin lebih, adalah jatah tidur Ethan dengan Zoya.
Sebagai istri dari pria itu. Naina ingin mendapat perhatianya dari Ethan, dan sebagai wanita yang nantinya akan pria itu buang, ia membutuhkan Rival sebagai sandaran, pun hatinya nyaman dengan pria itu, jauh lebih daripada Ethan.
***
Alexa meninggalkan meja dan berjalan ke arah pintu keluar restoran ketika permainan masih berlangsung di meja tersebut, Edrin memilih mengikuti langkah wanita itu sekalipun Alexa sudah melarangnya.
"Alexa,"
Edrin menghentikan langkah kaki wanita itu saat mereka sudah berada di teras restoran. Alexa terpaksa berbalik pada pria yang belakangan selalu menempel padanya itu.
"Ada apa? Aku ada urusan jadi harus pergi duluan." beritahu Alexa bahkan sebelum pria itu bertanya dan merepotkannya.
"Kemana?"
Alexa mendesah, meneruskan langkahnya menuju mobil tanpa menjawab pertanyaan Edrin. Edrin terus mengikuti langkah kaki wanita itu. "Ada urusan penting, aku harus ketemu seseorang." Alexa menyahut setelah beberapa saat seraya membuka pintu mobil. tapi wanita itu tak kunjung masuk, terlebuh saat Edrin menahan pintu mobilnya.
Pria itu berdesis, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Apa aku boleh tahu siapa orang yang akan kamu temuin?" tanya pria itu penuh harap diakhiri senyum manisnya dengan mata menyipit menatap Alexa.
Aexa balas tersenyum, kemudian mengusap lengan pria itu dan menyahut. "Tidak boleh." Alexa menyingkirkan tangan Edrin yang menahan pintu mobilnya lantas masuk. duduk pada kursi kendali dan mulai menghidupkan mesin mobil.
__ADS_1
Saat mobil wanita itu melaju meninggalknan pelataran restoran, Edrin hanya menatapnya penuh pasrah. Awalnya, malam ini.ia ingin ikut kemanapun wanita itu pergi setelah besok mereka tak memiliki alasan untuk bertemu karena harus beristirahat.
Tapi rupanya, apa yang ia inginkan tak sama dengan Alexa. Wanita itu memang seringkali dingin menghadapinya.
Namun begitu, sedingin apapun sikap Alexa padanya ia tetap senang. Aepertinya tipe ideal Edrin sekarang berubah. Apapun, tapi mengarah pada Alexa. Apapun yang ada pada diri Alexa, bahkan sikap dinginnya, Edrin suka.
***
Mobil yang Alexa kemudikan berhenti di sebuah kafe outdoor setelah kurang lebih lima belas menit ia mengemudukan mobilnya menyusuri jalanan menuju tempat yang sudah ia dan orang yang akan ditemuinya sepakati.
Alexa segera turun dari mobil dan mencari sosok orang yang akan ditemuinya. Sampai ketika ia yakin jika orang yang duduk pada meja di bawah pohon adalah orang yang sudah membuat janji dengannya, maka Alexa melangkah ke arahnya.
"Hay," sapanya, membuat wanita yang tengah memainkan ponselnya itu menengadah. Sekilas Alexa melihat jika wanita itu tengah melihat vidio adegan Edrin dan Zoya yang bocor ke media dan membaca komentar dengan senyum yang tak bisa dibaca.
"Alexa?" ia bertanya guna memastikan wanita di hadapannya benar orang yang memiliki janji temu dengannya. Alexa mengangguk, wanita itu lantas bangkit dan mengulurkan tangannya.
"Hay, Somi."
**
Beberapa helai pakaian berserakan di lantai, suasana ruang kamar dengan nuansa serba putih itu tampak sudah terang benderang begitu cahaya matahari pagi menembus kaca jendela kamar, menembus tirai putih di dalam ruangan tersebut.
Zoya mengusap satu sisi wajah Ethan dan berakhir dengan mendaratkan kecupan disetiap inci permukaan wajah pria itu. Hal tersebut tentu saja membangunkan Ethan, pria itu membuka mata saat Zoya akan mendaratkan kecupan di bibirnya. Melihat suaminya yang membuka mata, Zoya tentu saja berhenti, justru matanya terpaku pada mata sayu khas bangun tidur Ethan.
Ethan menepis tatapan mereka. Lantas mengalihkan tatapannya ke bibir Zoya. "Kenapa tidak jadi?" tanyanya ketika wanita itu hanya mematung dan tak melanjutkan apa yang akan dilakukannya. "Euu," Zoya mendadak gugup dan hanya mampu tersenyum canggung. Tatapan Ethan adalah kelemahan baginya.
Ethan juga tersenyum. "Kalau begitu biar saya tidur lagi." sahit pria itu yang kemudian kembali memejamkan mata. Zoya hanya tersenyum menatap suaminya yang tengah berakting, wanita itu justru tidak kunjung melakukan sesuatu hal yang suaminya harapkan. Merasa menunggu cukup lama, Ethan lantas membuka matanya dan menatap sang istri.
"Enggak ah, aku malu." sahut wanita itu yang kemudian menyingkir dan menjauh dari Ethan, Ethan merubah posisinya miring sembari menyangga kepalanya dan dengan cepat menarik tangan Zoya yang akan beranjak dari tempat tidur.
"Mau kemana?"
"Mau mandi."
"Nanti saja."
"Tapi–"
__ADS_1
"Kemari!" Ethan menepuk bantal di dekatnya dan meminta wanita itu agar kembali berbaring. "Hari ini saya cuti kerja, kamu juga libur bukan?" tanyanya, Zoya mengangguk, setelah brberapa saat ia memenuhi keinginan sang suami dan tidur satu bantal dengan Ethan dalam posisi terlentang, sedangkan pria itu masih dalam posisi terlentangnya menghadap Zoya.
"Belakangan ini kita jarang menghabiskan waktu bersama. Kamu sibuk dengan syuting film kamu dan saya juga sibuk mengurus agensi."
"Hari ini, saya ingin menghabiskan banyak waktu sama kamu tanpa kebisingan dunia luar, tanpa orang lain dan tanpa ada yang mengganggu."
"Kita tetap di sini, yah." panjang lebar pria itu seraya menelusupkan wajahnya di ceruk leher Zoya dengan tangan yang melingkari perut wanita itu.
Zoya hanya mematung dalam posisi seperti itu, sampai ia merasakan napas hangat Ethan menerpa kulit lehernya, pria itu kembali tidur dan membuat Zoya melakukan hal yang sama.
Sepertinya, waktu seharian akan dua orang itu gunakan dengan hanya berbaring di atas tempat tidur.
***
"Setelah syuting fim ini selesai nanti, kamu mau saya ajak berlibur kemana?" Ethan bertanya ketika mereka dalam perjalanan pulang menuju ke rumah waktu sore hari di bawah langit jingga Jakarta yangcl cerah, indah dan tampak memesona.
"Mm, kamu mau ajak aku liburan?"
"Hmm, setidaknya saya ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan kamu dan jauh dari orang-orang."
"Seharian ini kita ngelakuin hal itu." Zoya menyahut begitu mengingat jika seharian mereka hanya berbaring di atas tempat tidur dan bangun saat petugas hotel mengantarkan sarapan dan makan siang.
Ethan yang tengah menyetir menoleh dengan senyuman pada Zoya. "Saya tahu, tapi itu berbeda. Kamu ingin liburan kemana?"
"Katakan pada saya tempat yang ingin kamu datangi."
"Mm," Zoya menaruh telunjuknya di dagu guna berpikir.
"Lambordia." sahutnya setelah beberapa saat dengan seri di wajahnya.
Ethan mengerutkan kening. "Italia." sambungnya.
Ia menggeliat membayangkan jika masih banyak tantangan yang menanti di depannya untuk menyekesaikan filmnya. Tak lama, ia mengukir senyum khas dirinya, menyemangati diri sendiri. "Pokoknya, begitu syuting film selesai. Aku pengen ke sana nanti."
Ethan hanya menatap wanita itu setelah Zoya menjawab apa yang sesuai dengan keinginannya, tak lama pria itu menganggukkan kepala. "Iya, Zoya. Nanti kita kesana."
TBC
__ADS_1
Ini Lombardia yah, bukan Cappadocia wkwk