Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Because I Love You


__ADS_3

"Menikah?"


"Kenapa Ethan nggak bilang ke Lexa?"


"Kenapa Momy gak cegah?"


"Sayang, Ethan itu mau menikah. Momy tidak mungkin mencegah, hmm?"


Wanita berambut pirang itu mendesah dan bersandar pada bahu sofa. Rachel hanya menatapnya dengan senyum tipis. Putrinya baru saja mendarat di Indo setelah empat tahun ini menempuh perguruan tingginya di luar negri.


"Sekarang Ethan di mana?"


"Fitting baju pengantin dengan calon istrinya."


Alexa lagi-lagi mendesah, ia bangkit begitu saja. "Pinjamkan kunci mobil Momy, aku perlu bertemu Ethan sekarang."


"Kamu baru saja tiba, setidaknya istirahatlah dulu. Biar nanti Ethan yang kemari,"


"Ayolah, Sayang. Ethan juga punya kehidupannya sendiri." bujuk Rachel pada putri tunggalnya


"Seharusnya dia memberitahuku jika akan menikah!"


"Lupakan hal itu, bagaimana keadaan Daddy?" memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Memangnya apa? Daddy bilang dia sudah seperti duda karena Momy terlalu betah tinggal di sini."


**


Selesai melakukan fitting, Ethan mengajak Zoya untuk makan siang. Mereka mendatangi sebuah restoran seafood yang tak terlalu banyak pengunjung dan duduk pada meja dekat dengan jendela kaca.


Zoya hanya diam disela-sela mereka menunggu pesanan. Ethan terus memperhatikannya, akhir-akhir ini mereka sering bertemu, namun nyaris tidak pernah berinteraksi kecuali di hadapan kamera para media.


"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Ethan berbasa-basi. Hal yang sebelumnya selalu ia hindari.


"Tidak baik." Zoya menyahut jujur. Membuat tatapan Ethan semakin memusat padanya.


"Bagaimana mungkin saya dapat tidur dengan nyenyak saat di hadapkan pada situasi sekarang?"


"Situasi macam apa?"


"Menikah sama Bapak!"


"Saya pikir itu tidaklah buruk!"


"Iya, itu menurut Bapak!"


Obrolan terjeda begitu dua pelayan mengantarkan pesanan. Menata makanan di atas meja, Zoya mengalihkan tatapannya ke arah lain sedangkan Ethan tampak terus menatapnya.


Membuat Zoya tidak nyaman bahkan saat menikmati makan. Tapi ia tidak bilang karena tidak ingin berdebat dengan Ethan. Dirinya tidak akan menang melawan pria itu. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah makan dan setelah itu pulang.


"Kamu tidak bisa makan pelan-pelan?" Ethan yang sedari tadi memperhatikan menegur wanita itu yang tampak buru-buru. Zoya mengangkat pandangannya. Menatap Ethan dengan penuh ancaman. "Pak Ethan tidak bisa jika makan saja dan tidak perlu menatap saya?" kesalnya dengan tatapan pasrah setelahnya.

__ADS_1


"Sepertinya media harus tau sikapmu yang ini!"


"Lalu Pak Ethan akan memberitahukannya pada mereka?"


"Saya terlalu sibuk untuk melakukannya!" Melanjutkan makan dan tak lagi mengganggu Zoya. Zoya memutar bola mata dan melanjutkan makan pula.


Zoya tidak tau, jika setelahnya Ethan kembali memperhatikan, satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.


**


"Ethan,"


Ethan yang akan ke ruangannya menoleh saat seorang wanita dengan postur tubuh yang tinggi dan kurus berjalan ke arahnya. Ia menilik dan kemudian menyadari satu hal jika mereka saling mengenal.


Alexa dengan begitu saja berhambur memeluk Ethan dengan erat. Ethan hanya diam tanpa membalas pelukan wanita itu. Selain Arasy yang mengganggu hari-harinya, Alexa adalah orang kedua yang berlaku sama padanya.


"Kapan kamu tiba?" tanya Ethan setelah Alexa mengurai pelukan. Lantas ia melangkah memasuki ruangannya, Alexa mengekor di belakang dan duduk pada singgasana Ethan mendahului sang pemilik ruangan.


Ethan hanya berdiri di sebrang mejanya. "Aku tiba tiga jam yang lalu, kamu tadi pergi ke mana?"


"Butik."


"For what?"


"Fitting baju pengantin!"


Alexa mendesah, menatap kesal pada Ethan yang berkata jujur apa adanya. Ia mengira setidaknya pria itu akan sedikit berbohong untuk menjaga perasaannya. Nyatanya Ethan tidaklah berubah meski sedikit saja.


"Iya."


"Kukira kamu akan menikahiku," Alexa melipat tangan di dadanya. Ethan menatap wanita itu, berlalu melewati Alexa dan duduk di kursinya.


"Jangan berbicara sembarangan, aku akan bekerja. Kamu silakan keluar dan kita akan berbicara nanti."


"Aku tetap ingin di sini. Bagaimana jika kita makan siang?"


"Aku baru saja kembali dari makan siang setelah fitting baju pengantin." Ethan menyahut sambil menyalakan komputernya. Alexa memutar bola mata. Sepertinya sampai kapan pun ia memang tidak akan pernah mendapatkan Ethan.


Pria itu sangat sulit sekali tersentuh. Ethan seperti bara api yang tidak dapat diraih dengan tangan.


"Aku akan menunggumu selesai bekerja, setelah itu kita makan. Oke?"


Ethan mengangguk, sekali lagi Alexa mendesah. Lantas berjalan keluar dari ruangan Ethan. Meninggalkan pria itu sendirian.


Ethan menggelengkan kepala dan memijit pelipis begitu Alexa keluar. Sepertinya kehidupan Ethan akan sedikit terganggu dengan kedatangan wanita itu.


Sementara di tempat lain, Zoya hanya mematung begitu sampai di apartementnya. Di mana Fahry berdiri di depan pintu apartement dengan senyum tipis.


"Fahry?"


"Hello Baby?"

__ADS_1


Zoya tersenyum di tempat, sedangkan Fahry melangkah dan berhambur memeluknya. Mendekap Zoya dengan erat dan mendaratkan bibirnya di puncak kepala wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan selama satu minggu ini?" tanya Zoya tanpa mengurai pelukan. Tapi ia menuntut jawaban, Fahry hanya menghela napas kemudian mengurai pelukan mereka.


"Bisa aku masuk ke apartementmu? Aku haus," pintanya dengan senyum yang menampilkan lesung di pipi kanannya. Zoya menekuk wajah, tapi kemudian mengangguk dan memasukan password apartement. Fahry berjalan di belakangnya sambil memegang kedua pundak Zoya.


"Selin tidak ada di sini?" tanyanya begitu masuk.


"Mbak Selin ada beberapa urusan dan ia pergi keluar."


Fahry mengangguk, duduk pada sofa di ruang utama sedangkan Zoya mengambil kaleng minuman pada lemari pendingin. Menyerahkannya pada Fahry kemudian ia juga duduk di samping pria itu.


Sementara Fahry melegut minuman dingin, Zoya memperhatikan, ia merindukan Fahry. Pria yang selama satu tahun ini berhasil membuatnya jatuh hati setiap hari. Pria yang sering menghilang dan muncul secara tiba-tiba.


"Ada apa? Kamu merindukanku?" Fahry tiba-tiba saja menoleh dan membuat Zoya membulatkan mata, kemudian memundurkan wajah saat tubuh Fahry condong ke arahnya.


"Hal apa saja yang terjadi ketika aku pergi?" tanyanya. Kali ini Zoya mematung, mengingat sebuah kejadian buruk telah menimpanya dan mengancam hubungan mereka.


Bagaimana cara ia akan mengatakannya pada Fahry? Bagaimana perasaan Fahry menerima hal ini?


"Kamu benar akan menikah dengan CEO dari agensimu?"


Kali ini Zoya menutup mulut tak percaya mendengar pertanyaan Fahry. Sedangkan pria itu tersenyum dan menyelipkan rambut Zoya ke belakang telinga. Membuat Zoya merasa tidak enak dibuatnya.


"Kamu tau?" tanyanya setengah terkejut.


"Tentu saja, pacarku aktris terkenal. Aku sudah melihat semua pemberitaannya."


"Maafin aku," wajah Zoya tampak penuh sesal. Fahry mengelus satu sisi wajah Zoya, mendekat dan mendaratkan bibir pada kening wanita itu. Zoya memejamkan mata, merasakan kehangatan yang Fahry berikan.


Hal-hal tidak terduga selalu Fahry berikan. Pria yang tidak pernah banyak menuntut apapun padanya, bahkan bertahan dengan Zoya untuk tetap merahasiakan hubungan mereka dari media.


"Kamu nggak marah?"


"Marah buat apa?"


"Aku tau kamu nggak ngelakuin hal apapun."


Wajah Zoya berubah sendu, ia menunduk dan Fahry mengangkat dagu Zoya agar tatapan mereka bertemu.


"Aku bakal nikah." ungkap Zoya, setengah hati. "Kamu tetap nggak marah Fahry?"


"Apa ada cara lain selain menikah?" Fahry balik bertanya. Zoya menggeleng sedih, Fahry justru membawa Zoya pada dekapannya.


"Aku tau nggak ada cara lain. Kalau menikah saatu-satunya cara, aku dukung kamu."


"Fahry,"


"Itu karena aku mencintai kamu, Zoya."


TBC

__ADS_1


__ADS_2