Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
He is My Husband


__ADS_3

"Kamu segitu aja payah banget." gerutu Zoya saat Ethan mengeluh sakit pinggang marena insiden dengan Naina di teras tadi. Ethan hanya meringis mendengar ocehan sang istri yang sedang mencari obat gosok untuknya.


"Payah, nih, Ethan." sahutnya lagi begitu sudah menemukan apa yang ia cari. Lantas duduk di belakang Ethan, menyingkap kaos yang suaminya kenakan dan mengoleskan obat gosok merk terkenal pada bagian yang Ethan keluhkan sakit.


"Jangan banyak - banyak, Yang." pria itu menahan tangan Zoya sebelum tangan mungil itu menyentuh bagian pinggangnya yang sakit.


"Nanti panas." sambungnya. Zoya menghela napas. "Iya, ini juga enggak." Zoya menyahut, membat Ethan melepaskan cekalan tangannya. Wanita itu mulai mengoleskan obat gosok dengan mata yang menatap punggung mulus pria itu. Sampai Ethan yang bersuara membuatnya mengangkat pandangan, tanpa ia sadar jika pria itu menoleh sehingga tatapan keduanya bertemu, atau barangkali sejak tadi pria itu memang terus menatapnya.


"Kamu tau gimana rasanya tiba - tiba ketimpah beban berat tanpa persiapan?" tanyanya begitu Zoya selesai mengoleskan obat gosok. Wanita itu duduk sedikit menjauh saat Ethan menurunkan kaosnya dan berbalik untuk berhadapan dengan Zoya.


Pun dengan apa yang tadi Ethan katakan, ia hanya mampu diam.


"Itu yang udah saya rasain, dan rasanya sakit. Naina itu berat." sambung Ethan saat mendapati istrinya tak menyahut.


"Badan segitu kecilnya berat? Banci banget!"


Ethan berdecak mendengar ucapan istrinya. "Berat, Zoy. Lebih berat dari kamu!"


"Emang aku berat?" wanita itu sedikit sewot. Percayalah, wanita memang sensitif jika berhubungan dengan berat badan.


Ethan menilik tubuh wanita itu yang lebih berisi dari Naina. "Mm, sedikit!"


"Ethan!"


Ethan tertawa saat wanita itu memukul dadanya beberapa kali. Zoya ingin memukul pria itu secara membabi buta, namun tangan Ethan dengan gerakan cepat menahannya.


"Udah, ah. Kamu ngeselin!" sahut Zoya hendak beranjak namun Ethan tak kunjung melepaskan tangannya. Matanya menatap pria itu pasrah. Ethan hanya menaikan alisnya dengan iseng. Sosok Ethan yang hanya bisa dilihat oleh Zoya.


"Awas, ah. Aku mau ngambil hp." kesalnya. Hp? Damn. Ethan mengingat pesan dari Edrin tadi siang. Dengan raut tak kalah pasrah dari wajah memohon Zoya sebelumnya, Ethan melepaskan tangan wanita itu. Membiarkan istrinya beranjak menuju nakas di mana ponselnya berada di sana bersanding dengan ponsel milik Ethan.


Zoya melangkah santai dan mengambil ponselnya. Setelahnya kembali pada Ethan. Tapi mata wanita itu menyipit saat mendapati sebuah pesan dari nomor baru yang sudah dibuka. Matanya mengarah pada sang suami, karena seratus persen Zoya yakin Ethan yang mengotak - atik ponselnya.


"Ini –"


"Edrin." sela Ethan dengan cepa. Zoya hanya mengangguk - anggukan kepala, ia pun sudah dapat menebak. Ethan yang melihat wanita itu tampak santai lantas memutar bola mata.


"Kamu izin ke saya buat nerima tawaran film itu karena lawan mainnya Edrin?" tanya Ethan begitu wanita itu duduk kembali di tempatnya tadi.


Di telinga Zoya yang sudah sangat hafal adat tabiat pria itu. Apa yang tadi Ethan katakan terdengar seolah bukan pertanyaan melainkan tuduhan.


Zoya menaruh ponselnya di tas tempat tidur, kemudian menggelengkan kepala.


"Bohong!" sahut cepat Ethan dengan sorot tak percaya. Istrinya kurang meyakinkan.


"Terserah!" pasrah Zoya.

__ADS_1


Zoya beranjak namun tangan Ethan menahan, sehingga membuat wanita itu hanya mematung. Jangan sampai ada perang dunia ke tiga.


"Aku gak tau apa apa. Mbak Selin, tuh, cuma kasih naskah dan tanya ke aku mau apa enggak." terang Zoya setengah dongkol.


"Aku mau. Tapi, karena aku inget keinginan kamu biar kita cepet punya baby dan aku gak boleh terlalu kelelahan, alu tanya dulu ke kamu."


"Abis itu kamu langsung marah - marah karena salah paham." panjang lebar Zoya, sengaja menceritakannya dengan detail agar suaminya merasa tersinggung.


Meski pada kenyataannya, sepeeti biasa pria itu selalu menawan dengan wajah tanpa disa.


"Aku sama sekali gak tau apa - apa. Lagian aku juga gak pernah komuninkasi sama Edrin setelah syuting kita selesai." sambungnya memberi pengertian pada sang suami yang maha posesif dan cemburuan.


"Siapa tau Edrin baru ikut casting dan meraaa pecaya diri bakal menang. Makannya dia ngehubungin aku." sahut Zoya lagi karena tatapan Ethan yang sudah sangat mengintimidasi.


Wanita itu mendesah, napasnya sudah sangat memburu dan berantakan karena ulah Ethan. Ia menatap pria ith pasrah.


"Kamu kalau cemburu, tuh, kebiasaan deh. Keterlaluan!" kesal Zoyan akhirnya.


"Itu karena saya tulus cinta sama kamu. Sampai kapan pun, saya gak akan bisa jatuh cinta sama wanita lain agi. Seandainya kamu berpaling, saya udah gak bakal buka hati untuk wanita mana pun."


"Karena saya cukup cuma satu."


"Dan saya gak akan biarin kamu berpaling dari saya!"


"BOHONG!" desis Zoya. Ehan mengernyit mendengar tuduhan wanita itu.


"Siapa?Kapan?"


"Dua jam yang lalu, di lantai bawah pas liat Naina!" sorot mata wanita itu memancarkan rasa kesal yang sungguh - sungguh. Karena jujur ia merasa cemburu dengan hal itu. Wajah kesal Zoya kian keruh saat sang suami justru menertawakannya.


"Apa, sih?" Zoya kian kesal karena ditertawakan. Ethan meraih dagu wanita itu begitu tawanya berhasil ia redakan. Terhitung berapa kali Zoya mencemburuinya selama mereka menikah. Sedangkan Ethan adalah pencemburu.


Dan akan merornya setiap waktu jika sedang merasa begitu.


"I m just kidding baby." uhar Ethan.


"Dan gak lucu. Karena kenyataannya Naina emang cantik." Zoya kian kesal.


"Yang secantik kamu. Memang ada?" Ethan mendekatkan wajahnya. Zoya terdiam, merasa tersipu sekaligus tak ingin menunjukannya pada pria itu jika dirinya tengah menahan senyum. Ethan menatap Zoy lekat - lekat.


"Jadi maksudnya apa, tuh?" Zoya membahas mengenai pernyataan Ethan pada pujiannya terhadap Naina.


"Biar kamu cemburu. Seperti yang saya rasa saat menbaca pesan dari Edrin."


"Astaga Ethan." Zoya memukul - mukul dada Ethan. Pria itu hanya tertawa dengan perlakuan istrinya.

__ADS_1


Sebenarnya siapa di sini yang kekanak - kanakan? Ethan atau Zoya? Maybe keduamya.


Keesokan paginya, seperti yang sudah dijanjikan kemarin sebelum pulang Jika Selin akan datang untuk mengajari Naina apa - apa saja tugasnya sebagai asisten Zoya. Sedangkan wanita itu sendiri memiliki acara dengan Ethan.


"Ke rumah Bunda dulu, baru ke Rumah Sakit." bahkan keduanya belum mandi saat berdebat mengenai tempat mana yang akan lebih dulu dikunjungi. Zoya menyuapkan sereal ke mulutnya setelah mengutarakan gagasannya yang cenderung memaksabdang suami.


"Sayang, lebih baik ke Rumah Sakit dulu."


"Ethan,"


"Coba, deh, nurut sama suami." sahut Ethan. Wanita itu mengerucutkan bibirnya, mengaduk - aduk serealnya yang sisa sedikit.


"Kita ke Rumah Sakit dulu, pulangnya ke rumah Bunda dan kamu bisa ngobrol sepuasnya sama Bunda, okey?" Ethan mengusap puncak kepala Zoya lembut, tak kalah lembut dari nada bicaranya. Wanita itu mengangguk pasrah, Ethan memang benar. Ke Rumah Sakit lebih dulu untuk melihat anak kedua dari general manejer AE RCH, jauh lebih baik dan ringan, kemudian barulah mengunjungi rumah Freya.


"Iya, deh."


"Nah, pinter." sahut Ethan. Membuat wanita itu mendelik kesal, namun tak berapa lama matanya membulat saat bibir Ethan mendarat sekilas di atas bibirnya.


"Heh!" Zoya memukul pelan suaminya, lantas menutup mulut dan menatap Selin dengan Nain yang duduk di sofa ruang utama, barangkali mereka melihat kelakuan Ethan tadi. Karena faktanya, jaraknya sangat dekat dengan posisi mereka saat ini.


"Mereka tidak lihat." sahut Ethan. Tapi wanita itu tampak keberatan.


"Kamu, tuh, yah." reaksi wanita itu justru membuat Ethan kian gencar menggodanya. Ia meraih tubuh Zoya dan mendorongnya pada tembok yang memisahkan antara ruang utama dengan meja makan.


"Zoy–" Selin dan Naina hanya saling menatap saat mereka persis melihat Ethan yang mendorong tubuh Zoya setelah mendekapnya.


Selin tersenyum melihat reaksi Naina yang terlihat awkward. Gadis itu pasti belum terbiasa dengan pemandangan yang sering dilihatnya.


Ia belum terbiasa dengan Ethan yang selalu tidak tau tempat ketika bermesraan dengan Zoya.


"Udah, nggak papa. Kamu harus terbiasa ngeliat mereka." sahut Selin, Naina mengalihkan tatapan padanya. ia mengangguk samar dan kaku dengan senyuman.


Benar, ia memang sudah harus terbiasa melihat hal - hal semacam itu yang terjadi antara majikannya. Ah, bahkan Naina nyaris sudah terbiasa. Karena tak jarang ia melihat Ethan yang mencium bibir Zoya ketika pulsng bekerja ssat keduanya tak pulang bersama, atau ketika Ethan sedang iseng mengganggu dan menggoda Zoya.


Naina menggeleng pelan, menepis segala hal mengenai dua orang tersebut. Ia kembali fokus dengan apa yang tengah Selin terangkan.


Kesimpulannya, ia adalah pembantu Zoya yang harus melayani wanita itu. Menyiapkan segala kebutuhan Zoya saat akan syuting atau pemotretan. Membawakan tas atau barang bawaan Zoya. Merapikan rambut dan pakian wanita itu. Dan tidak membiarkan ada sedikit pun kesalahan pada penampilan Zoya. Naina menghela napas, tersenyum dengan semangat empat lima, ia yakin bisa melakukannya.


Zoya mendesah pasrah, merasakan bibirnya yang seolah tebal setelah Ethan mengakhirinya. Ia menatap punggung pria itu yang berjalan ke arah pantry. Wanita itu melangkah menyusul sembari merapikan pakian bagian atasnya yang Ethan buat berantakan.


Bibirnya berdesis pelan saat pria itu menatapnya dengan alis terangkat, sedangkan bibirnya bersentuhan dengan bibir gelas, air dalam gelas tersebut mengalir ke mulutnya, Untuk kali ini, Zoya menggeleng dengan senyuman saat melihat adam's apple pria itu yang naik turun ketika menelan air.


Untuk yang entah keberapa puluh atsu rautus kali. Zoya harus mengakui jika pesona suaminya memang tak terbantahkan.


"He is my husband."

__ADS_1


TBC


__ADS_2