Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
My Beloved Wife


__ADS_3

My Beloved Wife, film terbaru yang akan dibintangi Zoya dengan Edrin adalah sebuah kisah pasangan kekasih yang menikah tanpa restu dari kedua orang tua masing-masing.


Tokoh Rain yang diperankan Zoya adalah sosok wanita penuh kasih yang berhati lembut, wanita yang dapat melakukam apa saja untuk mempertahankan rumah tangganya, seperti namanya, ia juga sangat menyukai hujan.


Sementara tokoh Angkasa yang diperankan oleh Edrin adalah sosok pria tinggi tampan yang sangat mencintai istrinya. Pria yang sangat menjunjung tinggi kehormatan sang istri


Keduanya sama-sama berasal dari keluarga berada dimana perusahaan mereka bersaing di dunia bisnis dan menjadi rival sehingga kedua orang tua masing masing menentang hubungan Rain dan Angkasa.


Namun, cinta yang Rain dan Angkasa miliki tak dapat menggoyakan hal tersebut. Keduanya menikah dan hidup semampu yang mereka bisa.


Perjalanan hidup Rain dan Angkasa berjalan tidak mudah saat keduanya bertahan hidup sederhana tanpa fasilitas apapun yang berasal dari keluarga. Suka duka Rain dan Angkasa lewati dalam pernikahan mereka.


Pekerjaan yang sulit didapat karena setiap perusahaan seringkali menolaknya membuat Angkasa frustrasi, ia yakin jika orang tuanya dan orang tua Rain-lah yang ada di balik semua ini.


Dalam masa-masa sulitnya, keduanya tetap saling menguatkan. Menentang keinginan orang tua masing-masing yang menyuruh mereka untuk berpisah.


Pada suatu hari, sebuah kecelakaan yang dialami Rain membuat wanita itu koma, membuat rumah tangganya dengan Angkasa goyah saat orang tua Rain datang dan meminta Angkasa menandatangani sebuah surat perjanjian yang berisi hal jika orang tua Rain akan membiayai seluruh biaya Rumah Sakit asalkan Angkasa mau menceraikan Rain.


Tentu saja hal itu tidak bisa Angkasa lakukan. Setelah perjuangan panjangnya yang penuh liku dengan Rain, ia tidak mungkin menceraikan wanita itu. Ia tidak mungkin hidup tanpa wanita tercintanya.


Tapi, ia juga tidak mungkin membiarkan istrinya sekarat di ranjang Rimah Sakit sedangkan ia tidak bisa berbuat apa-apa, orang tuanya sendiri menolak untuk membantunya dan tidak ada yang bisa Angkasa lakukan.


Sehingga pada akhirnya dengan berat hati ia menandatangani surat perjanjian yang ditawarkan orang tua Rain, Angkasa menceraikan dan meninggalkan wanita itu demi keselamatannya.


Lima bulan setelahnya, Rain yang sudah sadar dari komanya mempertanyakan keberadaan sang suami yang tidak terlihat di ruangannya saat ia berhasil untuk bertahan hidup.


Tetapi kenyataan pahit menghampiri Rain saat orang tuanya memberitahukan jika Angkasa sudah menceraikannya sejak wanita itu dinyatakan koma. Awalnya Rain tidak percaya, namun begitu melihat surat gugatan cerai yang sudah sang suami tandatangani, ia benar-benar tak dapat mengelak dari takdirnya.


Tapi setelah melalui pertimbangan gang cukjp matang. Rain tidak ingin percaya hal tersebut, ia yakin ika ada yang tidak beres. Tapi Angkasa yang tidak pernah menghubungi dan mengunjunginya membuatnya putus asa dan percaya, jika pria itu memang sudah mencanpakannya.


Sementara di luaran sana, Angkasa yang menolak kembali bersama dengan orang tuanya bertahan hidup dengan menjadi seorang photograper lepas.


Ia melakukan pemotretan apa saja sesuai lokasi yang diinginkan klientnya. Butuh waktu lama untuknya dikenali banyak orang hingga ia bebar-benar memiliki banyak klien. Dengan keahliannya di bidang tersebut, dalam waktu dua bulan ia mampu membeli sebuah ruko yang disulapnya menjadi sebuah studio foto.


Dalam waktu lima bulan, bisnisnya berjalan dengan hasil memauskan, ia mendapat banyak keuntungan.


Ia merekrut seorang wanita sebagai asisten dan juga pengarah gaya. Gadis muda bernama Selia.


Dari setiap waktu yang ia jalani selama berbulan-bulan dengan berbagai kegiatan yang dia lakukan, faktanya waktu tetap tidak bisa membuatnya melupakan bayang-bayang Rain.


Angkasa seringkali menyempatkan waktunya untuk melihat Rain di Rumah Sakit. Hingga pada suatu hari, hidupnya bagai dibangkitkan lagi saat mengetahuii jika wanita itu sudah sadar dari komanya.


Ia bahagia, sangat bahagia sekalipun tidak bisa berdiri di samping wanita tercintanya.


Waktu demi waktu, setelah habis satu bulan penuh dan Rain benar-benar pulih. Gairah tetap tak kembali pada wanita itu, Rain bagai kehilangan semangat hidupnya, karena hidupnya adalah Angkasa, ketika pria itu pergi, hidupnya tidak ada. Ia tidak benar-benar hidup setelah Angkasa meninggalkannya.


Hingga kedua orang tua wanita itu menjalankan rencana awalnya untuk menikahkan Rain dengan orang pilihannya. Saat itu Rain tak menolak, ia hanya bisa pasrah sekalipun hanya air mata yang tampak di hari bahagianya.


Ketika tangan calon pengantin prianya sudah berjabat tangan dengan penghulu, dengan heroiknya Angkasa datang mencegah pernikahan terjadi.


Mata Rain kali ini kian dibanjiri krystal bening. Enam bulan lamanya ia tidak bertemu dengan pria itu dan kini mereka bertemu lagi, Rain seakan berada dalam dunia mimpi yang indah, sangat indah. Ia tahu Angkasa akan kembali padanya.


Tapi orang tua Rain tentu saja tidak senang dengan hal itu sehingga ia menyuruh para anak buahnya untuk menghabisi Angkasa bahkan di hadapan Rain.


Terjadi pertarungan hebat di lokasi acara pernikahan Rain dimana Angkasa diserang oleh lebih dari sepuluh anak buah orang tua Rain. Pria itu jago bela diri, namun ia tetap tidak bisa melindungi wajah dan badannya dari pukulan orang-orang tersebut.

__ADS_1


Rain menyaksikan hal itu dengan raut tak terbaca, tapi jelas saja ia mengkhawatirkan Angkasa. Terlebih saat Angkasa sudah babak belur karena mendapat serangan bertubi-tubi.


Saat Angkasa benar-benar kehilangan sisa tenaganya dan anak buah orang tua Rain berhasil menahan Angkasa, dengan gerakan cepat, Rain meraih sebuah gelas berisi air putih di sampingnya dan menjatuhkannya dengan sangat keras pada permukaan lantai hingga gelas tersebut pecah. Lantas setelahnya Rain mengambil pecahan paling besar dan mendekatkan pecahan tersebut ke lehernya.


Tentu saja tindakan wanita membuat semua orang yang berada di sana berteriak histeris, terutama orang tua Rain, sementara pengantin pria nya tidak bisa menghentikan wanita itu.


"Jangan mendekat!" teriak Rain saat orang tuanya dan calon pengantinnya hendak mendekat untuk mencegahnya.


"Sayang, jangan lakukan ini Sayang. Mama mohon." orang tua Rain sudah menangis, tak bisa membayangkan bagaimana jika Rain benar-benar nekad menyakiti dirinya sendiri.


Mama Rain kian histeris saat dengan nekad Rain benar-benar menggores sedikit lehernya. Membuat darah segar mengucur dari sana.


"JANGAN SAKITI ANGKASA!" teriaknya dengan keras dan air mata yang mengalir deras, membuat darah segar kian muncul di leher wanita itu.


"Sayang,"


"Mama dan Papa harus memberiku dan Angkasa restu untuk kembali bersama." pintanya dengan penuh permohonan.


"Tidak Rain!"


"Tidak akan!" Papa Rain menentang keras permohonan putrinya, menggores hati Rain dengan begitu dalam. Bahkan saat keadaan tengah membahayakan nyawa Rain pun orang tuanya masih tetap meninggikan egonya.


"Kalau begitu, Papa akan kehilangan milik Papa yang paling berharga." sahut Rain itu seraya memperdalam goresan pada lehernya. Zoya mengucapkannya dengan dramatis


Ethan mengerutkan kening saat sang istri yang merebahkan kepala di perutnya menangis setelah membaca naskah untuk filmnya yang diberikan Arfat melalui Selin. "Kamu nangis?" tanya Ethan, menatap wanita itu.


"Sedih banget Than, kasian Rain sama Angkasa." sahutnya, Ethan setengah tertawa, menghapus air mata wanita itu. Tapi ia juga memang merasa sedih, kisah cinta dua orang itu tampak penuh aral dan menyedihkan.


Zoya diam menatap lembaran naskah yang berada di tangannya. Rasanya ia begitu emosional dan tidak sabar untuk segera memainkan karakter Rain dalam filmnya nanti.


"Tapi Sayang,"


"Hmm?"


"Angkasa sama Rain gimana?"


"Orang tuanya memberi izin atau?"


"Rain hidup atau tidak? Rain dan Angkasa, apakah akhirnya mereka bersama?" tanya Ethan bertubi-tubi dan tampak tidak sabaran.


"Hmm," Zoya berpikir. Sedangkan Ethan mengerutkan keningnya menatap wanita itu.


"Nanti aja aku baca lagi."


"Oh, iya. Katanya kamu mau nganterin obat sama hp baru Naina. Sana buruan, nanti dia keburu tidur kesannya kamu ganggu kalo kemaleman." sahut wanita itu mengalihkan topik.


"Atau mau kamu saja?" tawar Ethan.


"Hmm, nggak." Zoya segera menolak seraya menggelengkan kepala. "Atau kamu mau ikut?"


"Enggak." wanita itu masih konsisten menolak. "Aku gak mau nanti Naina ngerasa nggak enak kalau aku ikut."


"Lagian kamu juga sebentar doang, 'kan?"


Ethan mengangguk. "Yasudah, kalau gitu saya ke kamar Naina sebentar." pamit pria itu seraya mengusap puncak kepala Zoya. Zoya mengangguk, melambaikan tangan saat pria itu meninggalkan kamar. Ia lantas melanjutkan aktivitasnya membaca naskah sambil menunggu Ethan kembali.

__ADS_1


***


Lampu utama rumah sudah dimatikan. Hanya lampu dapur yang dibiarkan menyala. Ethan berjalan menuju kamar Naina, begitu tiba di depan pintu ia segera mengetuk.


"Naina, ini saya."


Pintu terbuka, menampilkan Naina dengan piama berwarna merah muda miliknya. "Mas Ethan, ada apa?" gadis itu menahan pintu dan hanya memberi sedikit celah untuk dirinya sendiri.


"Boleh saya masuk?"


"Hmm?" Naina tampak terkejut. Ia hanya bisa pasrah saat Ethan menerobos masuk bahkan sebelum Naina memberinya izin.


Pria itu nengedarkan pandangan ke arah lain, mengamati kamar Naina, persis seperti yang pernah dilakukannya saat menginap di kamar gadis itu. Tidak ada yang berubah, semua tampak sama. Naina yang sudah berdiri di hadapan Ethan hanya menaikan alis saat pria itu menyerahkan sebuah papet bag padanya.


"Ini apa Mas?"


"Hp baru buat kamu." Ethan menyahut cepat.


Naina tampak tersenyum sungkan. Ia merasa tidak enak karena Ethan melakukan hal tersebut. "Seharusnya Mas Ethan tidak perlu–"


"Tidak masalah, hp kamu memang sudah saatnya ganti." kali ini Naina tampak hanya bisa tersenyum saat Ethan menyelanya dengan cepat. "Terimakasih kalau gitu."


Ethan mengangguk. "Coba saya lihat kaki kamu." pinta pria itu kemudian.


"Itu, euuu."


Ethan menyentuh kedua bahu Naina dan menuntun Naina untuk segera duduk di tepi tempat tidur, sementara Ethan menekuk satu kakinya di lantai dan menaruh kaki gadis itu pada pahanya. "Biar saya lihat."


"Ta–tapi Mas." tentu saja Naina merasa canggung. Rasanya sangat lancang menaruh kakinya di atas paha pria itu. Tapi Ethan terlihat tidak mempermasalahkannya, ia mengambil sebuha salep dari plastik yang dibawanya dan mengoleskannya di sekitar kaki Naina yang bengkak.


Tapi sebelum melakukan hal tersebut, Ethan sempat mengernyitkan dahi. Kemudian menatap Naina karena ternyata kaki gadis itu sudah di olesi salep. Naina hanya mengigit bibir bawahnya. Ethan kemudian bangkit dan melihat jika terdapat beberapa obat dan juga salep di meja gadis itu.


Ethan kembali menatap Naina penuh sesal. "Maafkan saya," ucapnya. Naina menggelengkan kepala.


"Mas Ethan nggak salah apa-apa."


"Kaki kamu terluka karena saya. Saya terlambat menangani itu dan membuat kamu harus pergi ke apotek sendiri."


"Kamu bahkan sempat belanja kebutuhan makanan." Ethan mendesah, ia benar-benar merasa gagal. Setidaknya untuk menjadi orang yang bertanggung jawab untuk Naina.


"Enggak masalah Mas, itu bukan hal besar. Jangan berlebihan." Naina menenangkan agar Ethan tak perlu merasa bersalah. Justru Naina yang seharusnya merasa bersalah karena siang tadi ia harus bertemu dengan Rival dan bahkan diantarkan pulang oleh pria itu.


Ia harap, Ethan tidak akan marah.


TBC


Cukup sekian untuk kali ini. Awalnya aku mau ngetik banyak tapi ada beberapa kendala. Terutama gempa yang terjadi tadi sore sekitar pukul 16.05 dengan kekuatan 6,7SR 120KM Barat Daya Lebak Banten.


Aku orang Banten😭


Habis gempa tremor, panik, lemes. Ditambah mati lampu selama 3 jam. Pokoknya takut banget, langsung keinget kalau banyak dosa.


Kita banyak berdoa, istighfar sama dzikir saja yah, ini berupa teguran dari Allah.


Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2