Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Meminta Izin


__ADS_3

Agyan duduk di sofa ruang tv rumahnya, ia mendesah berat. Membuka dua kancing teratas kemeja dan mengendurkan dasinya yang sudah berantakan. Beberapa map cokelat berada di sampingnya dengan tidak berguna.


Freya muncul dari arah dapur dengan segelas air putih untuk suaminya, menyodorkannya pada Agyan, kemudian duduk di samping pria itu dan merapihkan rambut Agyan yang sedikit berantakan.


"Ditloak lagi?" tanya Freya. Agyan yang sudah menghabiskan segelas air putih mengangguk tak berdaya.


"Sabar, yah." Freya memberikan senyum terbaiknya menyemangati Agyan. Agyan menggapai tangan Freya dan mengecupnya.


"Makasih, yah."


"Aku bakal selalu dukung kamu, kamu jangan nyerah, yah. Semangat terus,"


Agyan mengangguk samar, beberapa hari ini, sudah banyak perusahaan yang didatanginya untuk melamar kerja. Namun nihil, setiap perusahaan menolaknya dengan alasan yang sama. Karena ia anak seorang pengusaha besar dan tidak mungkin ditempatkan dalam posisi biasa.


"Kamu putra keluarga Zeinn, 'kan?" pertanyaan yang selalu Agyan dapatkan saat ia melakukan lamaran.


"Iya, Pak."


"Tidak ada posisi yang layak untuk orang besar seperti kamu."


"Tapi saya butuh pekerjaan, Pak. Tidak papa ditempatkan di mana saja."


"Maaf, tapi tidak bisa. Tidak ada lowongan."


"Saya nggak papa jadi cleaning service, Pak."


"Maaf, tidak bisa."


Agyan, tau. Pandangan semua orang pasti menghormatinya yang berasal dari keluarga kaya pemilik perusahaan fashion terbesar. Mereka semua beranggapan jika dirinya tidak pantas memiliki tempat biasa di perusahaan yang didatanginya.


Padahal, Agyan tidak begitu. Ia tidak masalah ditempatkan di mana pun selama pekerjaan tersebut halal untuk menafkahi keluarga kecilnya.


Namun sayang, keberuntungan tampak belum berpihak padanya yang ingin memulai karirnya dari nol. Terlepas dari semua itu, Agyan harus merasa beruntung karena ada Freya di rumah.


Orang pertama yang mendukung dan menyemangatinya saat ia pulang. Orang yang dalam sekejap saja mampu mengusir rasa lelahnya setelah seharian bertempur dengan pahitnya kehidupan.


"Mau makan nggak, aku udah masak."


Agyan mengangguk, beranjak dan menggandeng Freya menuju meja makan. Keduanya makan dengan tenang diiringi bincangan ringan yang rasanya tidak pernah membosankan.


Ini hari minggu, Agyan mendapat telpon dari Morgan untuk datang ke bengkel modifikasinya. Kawannya itu tidak berbicara detail mengenai keperluannya, tapi Agyan menurut saja dan bersiap.


"Yakin nggak ikut?' tanya Agyan saat Freya tengah mengancingkan kemeja Agyan, istrinya itu masih mengenakan pakaian rumahan setelah mereka selesai sarapan.


"Aku belum mandi, nanti lama."


"Nggak bakal, Yang."


Freya hanya diam, ia sudah selesai mengancingkan kemeja Agyan dan beranjak mengambil sisir. "Aku nggak usah ikut, di rumah aja. Panas juga,"


"Yaudah," Agyan menyahut cuek, mengambil sisir dari tangan Freya dan menyisir rambutnya sendiri. Freya hanya memperhatikannya.


"Aku berangkat," serunya setelah selesai, berlalu begitu saja dari hadapan Freya dengan acuh. Freya mendesah, sepertinya Agyan melupakan satu hal.


Freya membalik tubuhnya, Agyan muncul dari arah pintu menghampirinya. "Ada yang ketinggalan?" tanya Freya, ia menilik penampilan Agyan barangkali ada sesuatu yang lupa untuk suaminya itu kenakan.


"Ada," Agyan mendekat, mencium kening Freya, membuat gadis yang baru akan berbicara itu menelan kembali kalimatnya saat mendapati perlakuan manis Agyan.


Agyan melepas ciumannya dan tersenyum.


"Aku pergi dulu, yah." ungkapnya setelah mengusap permukaan perut Freya. Freya mengangguk dan melambaikan tangan. Mengusap permukaan perutnya dan tersenyum sendiri.


Setelah selesai mandi dan merapihkan diri, Freya hanya duduk di ruang tv. Tv ia biarkan menyala dengan tayangan yang tidak dapat menarik perhatiannya

__ADS_1


Karena sepenuhnya perhatiannya sudah teralihkan pada sebuah e-mail masuk di ponselnya. Tawaran untuk menghadiri acara peragaan busana sebagai model yang akan memakai hasil design dari desainer ternama.


Freya hanya menggigit ujung kukunya mempertimbangkan antara ia ikut atau tidak karena ia akan disewa mahal untuk itu.


Tapi, apa Agyan akan memberinya izin untuk berjalan di catlwalk sedangkan dirinya sedang hamil.


Bersamaan dengan itu, ponsel Freya berdering, panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.


"Hallo," sapa Freya setelah menggeser ikon hijau.


"Ini Freya?"


"Iya. Saya,"


"Saya Tari, kamu ingat?"


"Tari Amaliya."


"Tari Amaliya, menejer ...., model dari agensi .., Bright Star?" tanya Freya dengan sedikit ragu. Tapi ia mengingat nama itu, Mbak Nadien pernah mengenalkannya saat ia masih duduk di bangku SMA.


"Iya, betul. Saya mau menawari kamu untuk acara peragaan busana tahunan, minggu depan, kamu bersedia?"


"Saya yang tadi e-mail kamu."


Freya ber-oh ria. Modelling memanglah dunianya, meski ia sudah berjanji pada Agyan tidak akan lagi berada dalam dunia tersebut setelah menikah dengan Agyan.


Tapi, dalam keadaan saat ini. Freya perlu membantu Agyan dan juga membantu pemasukan keuangan mereka.


"Kalau kamu bersedia juga, saya ingin mengajak kamu kembali di dunia model. Saya dengar kamu tidak memperpanjang kontrak dengan agensi lama kamu." sahutnya lagi yang membuat Freya tergiur dan juga bingung.


"Bagaimana, Freya?"


"Saya boleh minta waktu untuk mempertimbangkannya, Mbak?"


"Boleh, tentu saja. Hubungi saya jika kamu bersedia,"


Panggilan berakhir dan Freya hanya terdiam mempertimbangkannya. Ia akan meminta izin pada Agyan nanti.


*


*


"Loe bercanda, 'kan?" tanya Agyan dengan tatapan tak percaya.


"Gue serius, Gyan. Gila aja kalo gue becanda."


Agyan hanya diam memperhatikan sebuah motor trail berwarna hijau yang baru saja Morgan katakan jika motor tersebut untuknya. Agyan tidak tau maksud Morgan, hanya saja, dalam situasinya saat ini, rasanya ia seperti perlu dikasihani untuk menerima motor tersebut.


Agyan tau, jika Morgan pasti merasa kasihan padanya karena sering naik ojeg atau berjalan kaki.


"Nggak usah nolak, lah, Gyan." Morgan menepuk bahu Agyan. Agyan hanya menoleh dengan tenang.


"Gue gak perlu ini, Gan."


"Gue kasih ini khusus buat loe. Anggap aja hadiah pernikahan loe sama Freya." bujuk Morgan yang tidak ingin pemberiannya ditolak.


"Loe udah kasih kado,"


"Ini beda lagi, Gyan."


Agyan diam, kemudian berkata. "Gue gak perlu dikasihanin. Gue tau hidup gue sekarang susah, bahkan gue belum punya kerjaan tapi—"


"Hahaha."

__ADS_1


Agyan mengerutkan kening saat Morgan justru menertawakannya. Ia hanya memperhatikan sampai pria itu berhenti tertawa. "Loe mikir gue kasian sama loe?" tanyanya sambil menepuk-nepuk bahu Agyan.


"Gak usah ngarep, mana mau gue kasian sama loe!" sahutnya meremehkan Agyan. Tapi sungguh, perasaannya tidak demikian. Morgan hanya ingin Agyan menerima pemberiannya.


Karena jujur, Morgan seringkali tidak tega saat melihat Agyan berjalan kaki ataupun menaiki ojeg. Apalagi Morgan mengetahui bagaimana pengalam pertama Agyan yang menyedihkan saat naik angkot.


"Gyan. Gini deh, kalo loe tetep gak mau terima motor ini. Coba loe pikir-pikir, gimana Freya—"


"—Sering naik ojeg, angkot. Loe nggak kasian, perlu gue ingetin kalo dia lagi hamil anak loe?" Morgan memanipulasi. Kali ini Agyan diam dan mempertimbangkannya. Apa yang dikatakan Morgan memang benar. Harusnya Agyan memikirkan keadaan istrinya.


"Gimana?" tanya Morgan setelah beberapa saat. Agyan mengangguk.


"Nah, ini baru mantep." sahut Morgan sambil mengangkat kedua jempolnya. Merasa puas karena akhirnya Agyan mau menerima pemberiannya.


"Thank's, yah, Gan. Gimana pun, loe emang sahabat gue." sahut Agyan, kali ini giliran ia yang menepuk bahu Morgan.


"Jadi tadinya gue bukan sahabat loe?" candanya, lantas keduanya hanya tertawa.


Agyan perlu merasa beruntung di kelilingi para sahabat baik yang banyak menawarkan bantuan padanya. Tapi Agyan tidak bisa menerima bantuan dari orang-orang terdekatnya, ia takut gagal membuktikan pada Andreas jika ia bisa dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri untuk menghidupi keluarga kecilnya.


Kepulangan Agyan di sambut heran oleh Freya karena suaminya itu membawa sebuah motor. Pikiran liarnya berkelana, jangan sampai Agyan membeli motor saat keungan mereka sedang begitu kritis. Apalagi sampai harus mempunyai hutang, Freya tidak mau.


"Gyan, kamu—"


"Enggak Sayang," Agyan yang sudah tau kemana arah pikiran istrinya lantas menyela dengan cepat. Ia mencium kening Freya, sementara Freya sibuk mengamati kuda besi tersebut.


"Hadiah dari Morgan, katanya buat dia." sahut Agyan menjelaskan.


Freya tertawa. "Kalo nanti anaknya cewek gimana dong, tomboy?" giliran Agyan yang tertawa. "Hmmm, nanti kita minta Morgan buat beliin mobil," sahutnya sambil menggandeng Freya masuk ke dalam rumah.


"Jangan dong."


"Kenapa?!"


"Malu!"


*


*


Malam sudah larut, Agyan memain-mainkan gelang benang yang dikenakan Freya, sementara gadis yang merebahkan kepalanya di dada telanjang sebelah kanan Agyan hanya diam.


Freya diam bukan tanpa alasan, ia sedang menyiapkan kalimat yang tepat untuk meminta izin pada Agyan agar diperbolehkan menghadiri acara peragaan busana dan melakukan pemotretan.


"Yang,"


"Kamu tidur?" tanya Agyan saat lama Freya tidak bersuara.


"Enggak,"


"Belum ngantuk?"


Freya menggeleng samar. Kemudian ia menghentikan tangan Agyan yang memainkan gelangnya. "Gyan, ada yang mau aku omongin." sahutnya.


Agyan mengganti posisinya, miring ke kanan dan mengalihkan kepala Freya pada lengannya. Sementata tangan yang lainnya memeluk tubuh istrinya itu. Ia sudah memejamkan mata.


"Besok aja, aku ngantuk." sahutnya tanpa bisa dibantah.


Freya hanya diam memperhatikan mata terpejam Agyan. "Tidur Sayang, kamu butuh istirahat." sahut Agyan sadar jika Freya memperhatikannya.


"Kamu bikin cape, sih."


Agyan tersenyum dengan mata terpejam. Ia memanjakan Freya, bahkan sangat. Wajar jika membuatnya sedikit lelah saat akan tidur.

__ADS_1


"Nice dream, My Wife!"


TBC


__ADS_2