
Pusat perbelanjaan pagi itu sudah ramai saat waktu baru saja menunjukan pukul delapan pagi. Gadis itu mendorong trolinya dengan belanjaan yang sudah banyak di sana. Naina mengingat semalam saat dirinya kelaparan dan rupanya bahan makan di dapur sudah harus diperbarui karena nyaris habis.
Naina menghentikan langkah saat merasakan sakit di kakinya. Ia lupa jika luka lecet pada kakinya belum mendapatkan pengobatan apapun. Naina menghela napas, lantas melanjutkan langkah menuju kasir saat semua bahan makanan yang dibutuhkan sudah berhasil ia dapatkan.
Dua kantong plastik besar berisi belanjaan menghiasi kedua tangan Naina yang baru saja keluar dari supermarket. Ia melangkahkan kakinya hendak menghentikan taksi untuk segera pulang ke rumah dan membereskan pekerjaannya.
Tapi lagi-lagi lecet dikakinya tidak bisa diajaknya berkompromi, spontan Naina terduduk saat perih di sana kian menjadi saat dipaksanya melangkahkan kaki, beberapa barang belanjaannya berceceran di bawah. Sementara ia sendiri meringis menahan sakit.
Gadis itu kian meringis saat melihat kakinya yang membengkak, hingga sebah tangan tiba-tiba saja menyentuh kakinya. Tentu saja Naina terkejut dan segera menghindar. Tapi begitu matanya bersitatap dengan orang yang melakukan tindakan tersebut, Naina mematung sesaat.
"Mas Rival ...," lirihnya yang kemudian menyadarkan diri dan mengalihkan tatapannya dari Rival.
"Iya, ini saya." sahut pria itu yang kemudian kembali melihat kondisi kaki Naina, kali ini Naina tidak bisa menghindar, ia membiarkan saja Rival.
"Sebentar, kamu tunggu di sini." sahut pria itu setelah melihat kondisi kaki Naina, Rival kemudian beranjak, tapi sebelumnya ia sempat membereskan barang belanjaan Naina yang berantakan. Naina hanya menatap kepergian Rival yang berjalan menuju sebuah apotek di depan supermarket, tak lama pria itu kembali dengan sebuah plastik putih berisi obat dan sebuah salep.
"Biar saya lihat kaki kamu." pinta Rival, setengah ragu, Naina menggerakan kakinya ke arah Rival sehingga pria itu meraihnya dan melihat dengan baik luka memar di sana.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanyanya sembari mengoleskan salep pada bagian memar di kaki Naina.
Naina tak menyahut, membuat Rival mengangkat pandangannya sehingga pandangan mereka bertemu. Rival kembali fokus pada kaki Nain dan tak menanyakan apapun lagi.
Begitu usai mengobati kaki gadis itu, Rival menyerahkan plastik bawaannya dari apotek pada Naina. "Jangan lupa obatnya diminum, salepnya dipakai saat mau tidur nanti." pesan Rival yang segera Naina respond dengan anggukan.
"Biar sekalian saya antarkan pulang–"
"Tidak usah ...," Naina menyela cepat dengan sebuah penolakan.
Naina mengingat pesan yang Ethan sampaikan saat mereka di Maladewa jika ia tidak perlu terlalu dekat dengan Rival agar rahasia mereka tetap aman. Menolak ajakan Rival mungkin membuatnya bertindak sesuai perintah suaminya.
"Tidak usah?" Kening Rival berkerut mendengar penolakan Naina.
"Saya bisa naik taksi." sahut gadis itu yang kemudian dengan cepat segera duduk. Rival mendesah, ia mengambil plastik belanjaan Naina kemudian memasukannya ke dalam mobil. Tentu saja hal itu membuat si empu membulatkan mata tak percaya.
"Mas Rival!"
"Mas, apa yang Mas Rival lakuin?"
"Saya sedang bantu kamu." pria itu menyahut dengan gelagat santai yang tampak menyebalkan di mata Naina.
"Ayo, pulang dengan saya Naina. Maka kamu akan aman."
"Cih."
"Atau kamu mau saya gendong."
Naina segera melangkahkan kakinya menuju mobil pria itu saat ancang-ancang Rival mulai melangkahkan kakinya ke arah Naina. Mungkin pria itu akan benar-benar menggendong Naina andai wanita itu tetap berdiam di tempatnya.
Rival tersenyum melihat Naina yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Sepertinya, cara terbaik untuk membujuk gadis itu adalah dengan memaksanya.
Rival buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan segera menghidupkan mesin mobil, melajukan mobilnya dan meninggalkan pusat perbelanjaan dengan Naina yang duduk manis di sampingnya.
Gadis itu hanya diam sepanjang perjalanan. Beberapa kali Rival menoleh padanya namun Naina tampak tidak perduli. Padahal Rival sangat merindukan gadis itu. Ia senang karena asisten rumah tanggaanya tidak ada di rumah sehingga sang mama menyuruhnya untuk mengantarkan pakaian kotor ke laundry yang tak jauh dari supermarket.
Sampai takdir kemudian mempertemukannya dengan Naina yang tengah kesakitan di depan supermarket. Takdir baik sepertinya tengah berpihak pada Rival saat ini. Ia merasa sedih tak kunjung bertemu dengan Naina sejak pulang ke tanah air. Bahkan terakhir, gadis itu tidak bisa dihubungi sejak semalam.
"Saya coba menghubungi kamu. Tapi hapndhone kamu tidak aktif." Rival membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Kamu sengaja menghindari saya?"
"Karena saya mengganggu kamu?"
"Shhh!" Naina yang merasa terganggu atas tuduhan pria itu berdesis dan menoleh pada Rival. Pria itu spontan diam.
"Mas Rival gak bisa tanya baik-baik?" sambar Naina, tampak kesal.
"Hp saya rusak dan ketinggalan di Bandara!" jawabnya singkat. Tapi hal itu berhasil menarik perhatian Rival bahkan Naina pun baru menyadari apa yang sudah ia katakan sehingga ia mengutuki dirinya sendiri.
"Bandara?" tanya pria itu, laju mobilnya memelan dan pria itu tampak penasaran.
"Kamu habis ngapain di Bandara?"
"Enggak, maksud saya di kampung."
"Kampung?" tanya Rival lagi dengan kerutan yang kian menjadi di dahinya.
"Iya, di kampung halaman saya." Naina memperjelas jawaban yang diberikannya.
"Memangnya kamu ke sana?"
Naina mengangguk. "Berapa hari?"
"Tiga hari."
"Bukannya kamu ke rumah saudara kamu di luar kota?"
"Kata siapa? Saya nggak punya keluarga di luar kota!"
Rival terdiam, menyadari jika ada kejanggalan. Melihat reaksi Rival, Naina terdiam dan tampak salah tingkah seolah tertangkap basah. Ia memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya ke arah lain dan tidak berbicara lagi, sedangkan Rival kembali fokus menyetir.
***
Zoya sudah berharap-harap cemas ketika ia dengan Ethan sudah duduk cukup lama menunggu kedatangan Edrin namun pria itu tak kunjung menampakan batang hidungnya. Zoya tahu jika saat ini Ethan di sampingnya tengah mati-matian menahan kesal.
Bukan saja Edrin yang menyia-nyiakan waktu Ethan, tapi pria itu juga seolah sedang mempermainkan suaminya dan tak menghargai waktu. Kilatan mata Ethan membuat Zoya hanya bisa diam dan bersabar, berharap Edrin segera muncul di hadapan mereka atau pria itu akan membuat Ethan marah dan mempersulit mereka nantinya.
Zoya baru bisa bernapas lega saat Edrin muncul di pintu masuk diikuti oleh manajernya. Terlihat sempat ada percakapan di antara mereka hingga kemudian manajer Edrin mundur dan kembali keluar. Sedangkan Edrin melanjutkan langkahnya memasuki restoran dan berjalan ke arah meja Ethan dan Zoya dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.
Jika Zoya merasa apa yang pria itu lakukan adalah sebuah bentuk sopan santun, maka Ethan tidak demikian, ia justru merasa jika Edrin tengah meremehkannya dengan senyuman itu. Ethan sangat tidak suka melihatnya.
"Silakan duduk." sahut Zoya pada pria itu begitu Edrin tiba di meja mereka. Edrin menganggukan kepalanya lantas duduk.
"Terimakasih Zoya."
Bahkan Ethan tidak suka mendengar orang lain memanggil namanya, terlebih orang itu adalah Edrin. Ethan tidak suka.
"Hay Pak Ethan." dan sapaan pria itu padanya memperjelas semuanya jika pria itu memang tengah meremehkannya. Di bawah meja, Zoya menggenggam tangan suaminya, membuat Ethan menghela napas guna menahan amarahnya. Ia sudah berjanji pada Zoya jika ia akan menahan dirinya dan tidak akan membuat keributan apapun.
"Pelayan." pria itu justru memanggil pelayan, membuat wanita dengan postur tinggi itu menghampiri meja mereka.
"Pesan apapun yang kamu mau." sahutnya pada Edrin. Edrin tersenyum miring.
"Saya tidak menginginkannya!"
"Saya sudah sarapan."
__ADS_1
Ethan mendesah, nyaris kehilangan kesabarannya seandainya Zoya tidak ada di sampingnya.
"Biar saya aja yang pesan Mbak." Zoya mengambil alih buku menu yang semula diserahkan pada Edrin. Edrin menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan menatap Zoya yang tengah membaca buku menu dengan tangan yang terlipat di dadanya.
Ethan berdecih melihat tingkah menyebalkan Edrin. Bagaimana mungkin pria itu dengan leluasa terus menatap Zoya tanpa sungkan sekalipun wanita itu sedang bersama dengan suaminya?
Bagaimana mungkin Ethan akan membiarkan istrinya bermain peran demgan pria itu dan melakukan beberapa adegan yang pastinya akan membuat api cemburu di dada Ethan berkobar.
"Jaga matamu!" desis Ethan. Edrin sempat menaikan alisnya, lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sementara Ethan menatap pria itu dengan tatapan sengit. Seolah siap menerkam Edrin.
Zoya yang sudah memesan makan dan membiarkan pelayan berlalu untuk membawakan pesanannya menatap dua pria itu bergantian.
"Alangkah baiknya kalau masalah kalian cepat diselesaikan." Zoya angkat bicara.
"Aku nggak merasa punya masalah dengan suami kamu." jawab Edrin, Ethan tersenyum smirk.
"Dengarkan saya baik-baik Edrin." Ethan to the point tanpa memedulikan apa yang Edrin katakan sebelumnya.
"Saya tidak setuju atas partispiasi kamu dalam film baru istri saya." Ethan menekan kata istri dalam kalimatnya dengan harapan Edrin akan sadar diri dan tidak perlu melakukan usaha apapun untuk mendekati Zoya.
"Partisipasi? Kosakata itu terdengar tidak menyenangkan."
"Apapun itu saya tidak perduli. Intinya saya tidak suka melihat kamu satu frame dengan istri saya."
"Apa saat ini Pak Ethan sedang menggunakan otoritas sebagai pemimpin gedung agensi yang menaungi Zoya?"
"Saya berbicara di sini sebagai suami Zoya!" tegas Ethan, Edrin mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh lantas hanya mengangguk pasrah.
"Dengan sangat, saya meminta kepada kamu untuk tidak melakukan pendekatan bentuk apapun pada istri saya!" sahut Ethan dengan tegas.
"Itu nggak masuk akal. Kita jadi pemeran utama dalam film kami. Mustahil untuk tidak melakukan pendekatan." sangkal Edrin.
"Di luar waktu syuting!" Ethan menyela dengan cepat. Lagi-lagi Edrin hanya mengangkat bahu acuh.
"Apa anda takut Zoya mengkhianati anda? Tampaknya anda sangat posesif dan obsesif sekali."
"Saya tidak perduli apapun tanggapan kamu. Tapi seharusnya kamu tahu batasan. Kamu tidak mungkin terlibat skandal dengan istri orang bukan?" Ethan melayangkan tatapan yang begitu meremehkan.
"Saya tahu kamu aktor hebat yang profesional, jadi kamu tidak akan melakukan hal rendahan."
"Itu pujian?"
"Anggap seperti itu jika kamu ingin!"
Edrin terdiam, menatap Ethan tak percaya. Suami dari rekan kerjanya tersebut benar-benar ajaib. Sulit dipercaya jika Zoya mampu hidup dengan manusia sepertinya.
"Pembicaraan kita selesai. Saya harap kamu mengerti. Saya dengar kamu cukup cerdas, jadi saya cukup menjelaskannya sekali." sahut Ethan yang terdengar sangat tidak menyenangkan di telinga Edrin.
"Aku bahkan belum ditraktir minum." pria itu menolak untuk diusir.
"Saya sudah menawarkannya diawal tapi kamu menolak dengan arogan. Tidak ada kesempatan kedua."
"Saya bisa membayarnya sendiri!"
"Silakan, kamu boleh pergi." Ethan mengusir secara halus. Edrin berdecih. Ia menarik satu sudut bibirnya meremehkan Ethan, Zoya tampak menatapnya penuh permintaan maaf.
Sekarang Edrin semakin bertanya-tanya. Bagaimana bisa selama ini Zoya hidup bersama dengan pria macam Ethan?
__ADS_1
TBC
Hmm, Edrin nggak tahu sih, gimana bucinnya Ethan ke Zoya.