
Kedatangan Ethan pagi ini ke perusahaan mendapat sambutan yang jauh lebih hangat dari biasanya. Di mana terutama para staf wanita memandang lekat padanya, saling berbisik dan tersenyum.
Membayangkan betapa beruntung seorang Zoya Hardiswara menikah dengan Zeinn Ethan, pria tampan berwajah dingin dan memikat dengan aura arogantnya. Membayangkan betapa beruntung Zoya dapat tidur di atas ranjang yang sama dan bangun pagi berada dalam dekapan Ethan.
Setiap wanita memimpikan hal tersebut dengan Ethan. Namun takdir berkata lain di mana hanya seorang Zoya yang mampu bersanding di samping Ethan.
Ethan melangkahkan kakinya dengan santai menuju ruangannya. Orang acuh sepertinya tidak akan menyadari perubahan sikap orang lain terhadap dirinya. Berjalan seperti biasanya dan duduk pada kursi kebesarannya begitu ia sampai di ruang CEO.
Bersamaan dengan tangannya yang menyalakan komputer, ponsel di balik saku jas Ethan berdering, beberapa detik setelahnya ia mengambil ponsel dan mengangkat panggilan.
"Ethan!" orang di ujung sana berteriak kesal.
"Hmm," Ethan menyahut dengan gumaman enggan. Mengapit ponsel dengan pundaknya, sementara tangannya berkutat dengan keyboard komputer.
"Bagaimana pernikahan kamu? Apakah berjalan lancar? Aku harap ada kendala dan kalian gak jadi nikah!" Alexa mengutuki dengan berapi-api. Meski pada kenyataannya ia tau jika pernikahan Ethan berjalan lancar tanpa hambatan.
"Kamu tidak lihat media sosial? Pernikahanku dengan Zoya Hardiswara berjalan dengan sangat lancar." Ethan menyahut santai seperti biasanya.
"Hell! Itu bukan kabar baik untukku!"
"Maaf untuk itu,"
Terdengar Alexa mendesah. Ethan bangkit setelah mematikan komputernya, berjalan ke arah pintu keluar dengan langkah lebar.
"Kamu tahu, Ethan. Aku membencimu!"
"Ya, aku tau. Kalau begitu aku tutup telponnya!" Ethan memutus sambungan telpon begitu saja, sebelumnya ia sempat mendengar umpatan Alexa begitu mendengar ucapan Ethan.
Sebelum sampai di pintu ruangannya, pintu tersebut lebih dulu terbuka. Randy muncul di sana dan menundukan kepala.
"Gimana rumah yang aku pesan?"
"Sudah deal dan beres, kamu mau melihatnya?"
"Tentu saja. Persiapkan semuanya, aku dengan Zoya akan secepatnya pindah. Kami tidak mungkin terus tinggal di hotel." sahut Ethan, berjalan keluar diikuti oleh Randy yang sebelumnya mengangguk atas perintah yang Ethan berikan.
Keduanya menuju parkiran, masuk ke mobil dengan Randy yang menyetir. Ethan duduk di bangku belakang, mengambil ponsel dari balik saku jas dan menatap kontak Zoya di sana. Berniat menghubungi wanita itu untuk menyuruhnya bersiap karena Ethan akan menjemputnya.
Tapi urung Ethan lakukan. Biar saja Zoya tidak tau. "Kita ke hotel lebih dulu," suara Ethan menginterupsi Randy, pria yang sudah menyalakan mesin mobil itu mengangguk. Mulai melajukan mobil meninggalkan basemant perusahaan.
Sementara itu, Zoya yang berada di kamar hotel Ethan hanya merebahkan tubuhnya. Kardus sereal memenuhi meja dengan 2 mangkuk berisi sereal yang masing-masing tersisa sedikit.
Wanita itu sedang melamun sekarang, kepalanya memikirkan apa yang terjadi dengan hubungannya dan Fahry yang tiba-tiba saja harus berakhir.
"Seharusnya aku bisa pertahanin hubungan aku sama Fahry. Seharusnya kita nggak putus, seharusnya Fahry yang nikahin aku."
"Seharusnya aku nggak usah ketemu sama Pak Ethan apalagi masuk ke kamar hotel ini. Seharusnya–"
Pintu yang tiba-tiba saja terbuka membuat Zoya menolehkan kepala tanpa merubah posisi tubuhnya. Sementara Ethan yang baru saja masuk terdiam menatap wanita itu. Begitu juga Randy. Bagaimana tidak, dress berwarna putih yang Zoya kenakan tersingkap ke atas, memperlihatkan paha mulusnya dengan sangat jelas.
Ethan mengusap kening dengan bingung. menggigit bibir bawahnya dan menoleh pada Randy yang masih berdiri di sana."Maaf, Pak. Saya permisi," Randy yang mengerti segera berlalu keluar kamar. Ethan menutup pintu, berjalan ke arah wanita itu.
Ethan sempat menggelengkan kepala melihat meja yang tampak berantakan. Selin sempat memberitahunya jika Zoya adalah penggila Sereal.
"Kenapa pulang cepet?" tanya Zoya, ia mengubah posisinya menjadi duduk. Memperbaiki dress yang ia kenakan.
"Bersiap-siaplah. Saya akan mengajak kamu ke suatu tempat."
Zoya menoleh tanpa minat, moodnya sedang sangat kacau mengingat hubungannya dengan Fahry yang usai karena Ethan. Karena skandalnya dengan Ethan.
"Ethan," panggil Zoya. Pria itu menoleh dan mengangkat alisnya.
"Hmm?"
"Kamu nggak penasaran sama orang yang udah jebak kita?"
"Maksud kamu?"
"Ya, seperti yang kita tau kalau kita ini dijebak. Ada orang yang sengaja ngelakuin hal ini."
"Bersiap-siaplah, saya tunggu kamu di luar!" Ethan terlihat enggan membahasnya. Ia berlalu begitu saja dari hadapan Zoya, sedangkan wanita itu mengerucutkan bibir. Memilih menggapai ponsel dan melangkah menyusu Ethan tanpa membereskan meja yang berantakan.
__ADS_1
Ia juga tidak perlu bersiap-siap karena dirinya sudah rapi. "Kita akan ke mana?" tanyanya begitu mensejajarkan langkah dengan Ethan. Ethan menoleh sebentar, kemudian mengalihkan tatapannya kembali ke depan dengan kaki yang terus melangkah.
"Ke suatu tempat." ia menyahut setelah beberapa saat.
"Sshh, wajar aku tau kamu sosok pria misterius. Tapi tunggu!" Zoya dengan spontan menghentikan langkah. Membuat Ethan juga berhenti mengikutinya.
"Ada apa?" heran Ethan setengah kesal. "Kamu gak berniat buang aku, 'kan?"
Ethan mengernyitkan dahi melihat ekspresi waspada Zoya, ia mendaratkan telapak tangannya di puncak kepala wanita itu. Membuat Zoya diam membeku terutama saat melihat senyum Ethan terukir sempurna bahkan sampai memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Pemandangan sangat langka yang nyaris mustahil untuk orang lain lihat. "Tidak akan, saya tidak akan repot-repot untuk membuang kamu."
"Ayo,"
Ethan menggapai tangan wanita itu, menggenggamnya dan keduanya berjalan menuju mobil di mana Randy sudah menunggu mereka. Tak lagi banyak bertanya, Zoya hanya diam dan duduk dengan tenang. Ia masih terhipnotis dengan kejadian tadi.
Perlahan menoleh pada Ethan yang duduk di sampingnya. Randy sudah melajukan mobil membelah jalanan Ibu Kota. Tidak ada obrolan yang terjadi, untuk menetralisir keheningan yang ada dan menghibur diri sendiri, Zoya menyalakan ponsel. Memilih berselancar di dunia maya dan ia melihat foto dinya dengan Ethan pada salah satu portal berita online.
Wajah Zoya terheran, memperhatikan foto tersebut yang diambil beberapa menit lalu. di mana Ethan mengusap kepala dan menggapai tangannya. Zoya menoleh ke arah hotel yang sudah tertinggal jauh, lantas kembali menatap ponselnya. Tingkah laku wanita itu membuat Ethan menatapnya heran.
"Ada apa?" Pria itu memilih untuk bertanya.
"Kayanya hotel kamu udah bener-bener nggak aman, deh."
Ethan meraih ponsel Zoya melihat potret mereka berdua yang tampaknya selalu diawasi media, baik Ethan maupun Zoya tidak boleh salah melangkah. Apalagi membuat media curiga jika sesungguhnya tidak ada cinta di antara mereka. Semua hanya sandiwara, terutama bagi Zoya.
Setelahnya Ethan hanya menghela napas dan tak berkomentar apapun. Sementara Zoya juga hanya terdiam sampai mobil yang Randy kemudikan memasuki sebuah gerbang, mereka tiba di sebuah pelataran rumah dua lantai dengan chat berwarna green tosca.
"Ethan, ini rumah siapa?" tanya Zoya sebelum keluar dari mobil.
"Ini rumah kita, hotel sudah tidak aman. Saya tidak nyaman jika terus diikuti media." Ethan menyahut seperlunya, kemudian turun lebih dulu meninggalkan Zoya.
Wanita itu menatap rumah dengan aksen dua pilar dan balkon yang luas di lantai dua. Perlahan Zoya turun dengan mata yang terus mengamati rumah mewah tersebut. Randy dengan Ethan sudah berada di pintu masuk.
Sedangkan pandangan Zoya mengedar, tubuhnya berbalik melihat gerbang yang menjulang tinggi dengan post satpam di dekatnya. Pelataran rumah yang luas dengan lantai marmer dan sebuah patung air mancur berbentuk kucing raksasa.
"Zoya," Ethan yang memanggilnya membuat ia melangkah menghampiri pria itu untuk melihat isi rumah.
Wanita itu hanya tersenyum melihat ruang utama rumah yang megah dengan interior mewah. Memang bukan pertamakali Zoya melihat rumah mewah, hanya saja ia merasa berbeda karena Ethan mengatakan jika ini adalah rumah mereka. Barangkali Zoya sejenak lupa pada Fahry.
Sepertinya Ethan sudah mempersiapkan masa depannya dengan sebaik mungkin. Namun malang, justru pria itu harus menikahi Zoya, setidaknya itulah yang ada di kepala Zoya saat ini.
"Ini kamar kita?" tanya Zoya saat pria itu membawanya ke kamar utama di lantai dua. Zoya bisa menebaknya sebagai kamar utama karena ukurannya yang luas.
Ethan mengangguk menjawab pertanyaan Zoya. Ia merasa ada yang berdesir di hatinya saat Zoya mengatakan 'kita'.
"Harus banget, yah, kita satu kamar?"
"Aku liat di lantai bawah ada tiga kamar, dan di ujung kamar ini juga masih ada kamar lain!"
"Jangan macam-macam!" belum apa-apa Ethan sudah mengancam. Ethan tampak membuka jas yang dikenakannya, membuat Zoya merasa jika keadaan mendadak canggung di luar kendalinya.
"Oh, iya, Ethan." memilih berbicara untuk menetralisir kecanggungan yang tercipta, ia berdiri di samping Ethan, bersandar pada meja rias.
"Ada apa?"
"Gini, karena sebelumnya kamu menolak syarat ketiga, jadi gimana kalau syaratnya aku ganti?" Ethan hanya diam, tapi Zoya yakin pria itu setuju Zoya mengemukakan pendapatnya.
"Syaratnya, manajer sama asisten aku tinggal di sini sama kita, gimana?" Zoya tersenyum, idenya sangat briliant. Mengingat rumah ini terlalu besar untuk hanya ditinggali dua orang, dan lagi rumah akan sangat sepi karena Ethan ini hanyalah patung, Zoya pasti akan sangat kesepian.
Ethan diam, usul wanita itu tidak buruk. Pikiannya sama dengan Zoya, rumah mereka terlalu besar untuk hanya ditinggali berdua. Tapi bukan hal itu yang membuat satu sudut bibir Ethan terangkat.
"Jadi kamu setuju?" tanya Ethan tiba-tiba, membuat Zoya mengernyitkan dahi tidak mengerti. Harusnya ia yang mengajukan pertanyaan tersebut.
"Maksud kamu?"
"Kamu setuju ada sex di antara kita?" Zoya tidak mengerti mengapa Ethan bisa sesantai itu membahas hal mengenai kegiatan tersebut. Zoya yakin dirinya orang pertama yang mengetahui sisi mesum dari seorang Zeinn Ethan Maheswari.
"Kamu perlu mengatakannnya secara terbuka gitu, yah?"
"Kenapa? Kita suami istri, dan hanya ada kita di sini."
__ADS_1
Zoya hanya mampu tersenyum hambar. Berharap Ethan hanya main-main dengan perkataannya. "Zoya,"
"Hmm," meringis saat jaraknya dengan Ethan nyaris terkikis. "Zoya." Ethan sudah menumpu tangannya pada meja, membuat Zoya berada dalam kungkungan tubuh pria itu, Zoya perlahan memundurkan kepala.
"Pak Ethan!" tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsi, dua orang yang berada di dalam kamar itu spontan menoleh pada pintu kamar yang terbuka. Randy tersenyum bodoh di ambang pintu karena memergoki kedua majikannya sedang dalam posisi yang sulit dijelaskan.
Zoya dan Ethan bertukar pandang, menyadari jika posisi keduanya sangat awkward. Lantas Ethan mundur perlahan. "Ada apa?" bertanya pada Randy yang tadi memanggilnya, membiarkan Zoya bernapas lega, wanita itu menganggap Randy sudah menyelamatkan hidupnya.
"Tidak papa, hanya akan memberitahu jika sudah selesai kita bisa kembali ke perusahaan." sahut Randy dengan senyum sopan.
"Selesai apa? Memang apa yang saya lakukan?" Ethan bertanya sewot mengingat posisinya dengan Zoya tadi. Wanita itu mengernyit melihat reaksi Ethan yang berlebihan.
"Maksud saya selesai melihat-lihat isi rumah. Memang maksud Pak Ethan selesai apa?" Randy bertanya ambigu, membuat Ethan menggaruk tengkuk kemudian menggeleng.
"Kalau begitu saya permisi," Randy berlalu dengan senyum jahil, menutup pintu dan meninggalkan dua orang itu di dalam kamar.
Ethan masih berdiri di sana, barangkali ia malu pada Zoya karena sudah salah memahami pertanyaan Randy, padahal tadi ia sudah sangat keren menggertak wanita itu.
Tingkah Ethan tersebut menarik perhatian Zoya, wanita itu melangkah mendekat. Berniat untuk menggoda Ethan
"Kamu mikirin apa?" tanyanya dengan senyum jahil. "Ethan,"
"Bukan urusan kamu!" Berlalu mengambil jasnya dan menyampirkannya pada tangan, bersiap untuk pergi.
"Ethan," Zoya memanggil suaminya dengan nada menggoda. Ethan berbalik, membuat langkah kaki Zoya terhenti menatap pria itu.
"Saya setuju syarat ketiga yang kamu ajukan!" sahut Ethan, mengedipkan matanya dan berbalik untuk kembali melanjutkan langkah. Zoya tersenyum penuh kemenangan, setengah berlari dan kemudian mensejajarkan langkahnya dengan Ethan
"Kamu yakin nggak keberatan?" Zoya memastikan. Ethan menganggukan kepala tanpa minat.
"Oh, yah. Besok aku mulai syuting lagi, pulangnya malem."
"Kamu udah janji buat nggak ngerecokin karier aku."
"Okey?" menatap Ethan tanpa memperhatikan langkahnya menuruni anak tangga. Ethan mengangguk, Zoya mempercepat langkahnya. Nasib baik tidak selalu berpihak padanya saat kakinya tergelincir, Zoya hilang keseimbangan, membuat Ethan dengan cepat menarik belakang dress wanita itu, tubuh Zoya hanya condong ke depan, ia tidak jatuh karena Ethan menahannya. Namun naas, pria itu tidak romantis.
"Ett–thhaaan."
Zoya terbatuk-batuk, ia tercekik karena Ethan menarik drees belakangnya tepat di bagian tengkuk, membuat leher Zoya tercekik.
"Zoya, kamu tidak papa?"
"Enggak–Ta–pi–ini–kecekik wooy!"
Ethan spontan melepas dress wanita itu saat Zoya belum menyeimbangkan tubuhnya, ia hampir terjatuh dan membuat Ethan dengan cepat menyelamatkan wanita itu. Kali ini menarik bagian lengan dress Zoya dan membuatnya sobek dalam ukuran yang besar.
Ethan buru-buru meraih pinggang Zoya. Wanita itu dengan cepat menutup bagian depan drees karena hampir memperlihatkan dadanya. Ethan memalingkan wajah dengan tangan yang masih menahan pinggang wanita itu, jarak keduanya sangat berdekatan.
Zoya melayangkan tatapan tajam pada Ethan dengan napas memburu. "Minggir ah!" mendorong tubuh Ethan, membuat pria itu menatapnya heran.
"Kamu harusnya bilang makasih!"
"Makasih? Setelah aku kecekik dan kamu buat pakaian aku robek?"
"Kamu gimana, sih, nggak romantis banget. Enggak pernah nonton drama, yah?"
"Harusnya sejak awal pinggang aku yang ditarik!"
Ethan menatap wanita itu heran, menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Kamu gimana, sih, kok bisa-bisanya hampir. celaka dua kali dan ngerepotin orang? Nggak bilang makasih pula!" Ethan ikut kesal.
"Artis gitu, yah?" tanyanya kemudian. Zoya hanya diam dengan wajah ditekuk. Menyilangkan tangannya untuk menutupi tubuh. Ethan memutar bola matanya kesal, melepas jasnya dengan kasar dan menyampirkannya ke tubuh Zoya, setelahnya berlalu begitu saja.
Sementara Zoya mematung, perlahan ia mengangkat wajah dan menatap punggung Ethan yang berjalan menjauh darinya.
"Fahry," lirih Zoya. Merasakan jika dirinya dejavu. Hal seperti ini pernah terjadi pada Zoya saat pertemuan pertamanya dengan Fahry dua tahun lalu.
TBC
Note : Beberapa episode awal sedikit, and aku melakukan reedit. Mohon dibaca ulang, di sana sedikit dijelaskan latar belakang kehidupan Zoya dalam meniti karier, pertemuannya dengan Selin dan juga Fahry.
Maybe, agak telat sih, yah. Tapi baca aja deh, hehe. Terimakasih❤
__ADS_1