Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Laksana Kutub Selatan


__ADS_3

Di sebuah ruang kamar dengan nuansa soft blue grey, Ethan menyandarkan punggungnya ke belakang kursi yang ia duduki. Dasi yang sudah ia lepas dibiarkan tetap melingkar di lehernya dengan dua kancing bagian atas yang terbuka.


Wajahnya terlihat begitu lelah, dengan rambut yang sudah mulai lepek. Menghela napas, Ethan lantas meraih sebotol air putih yang berada di atas meja di hadapannya. Melegutnya guna menghilangkan rasa haus dan setelahnya mengguyurkan sebagian air pada rambutnya. Membuat ia merasa sedikit segar kala air membasahi kepalanya, sebagian mengalir ke leher, meninggalkan jejak basah di sana, juga membuat lantai yang ia pijak sedikit basah.


Sementara Arasy yang baru saja menerobos masuk ke kamar pria itu menggelengkan kepala melihat kelakuan sang kakak.


"Basah, Ethan. Astaga," sahutnya, kemudian duduk di tepi ranjang menghadap pada Ethan yang masih nyaman di posisinya. Ethan menatap kembarannya dengan pasrah, menoleh pada pintu yang terbuka. Ia lupa untuk mengunci pintu, juga melupakan satu hal jika hari ini Arasy tidak memiliki jadwal keluar sehingga besar kemungkinan untuk ia mendapatkan gangguan.


"Gimana pre weddingnya?"


"Lancar?" Arasy mencoba berbasa-basi. Ethan mengangguk enggan, membuat Arasy mengerucutkan bibir. Jika sikap Arasy sehangat mentari pagi, maka Ethan laksana bekuan es di kutub selatan. Dingin, tidak mudah tersentuh dan tidak akan mampu membuat siapapun merasakan kehangatan darinya.


Persis seperti apa yang sering Grrycia sang grandma katakakan padanya. Jika Ethan mewarisi sifat Zeinn Andreas, grandfa mereka.


Sekali pun Arasy juga memiliki sifat yang cuek. Tapi ia tidak super cold seperti Ethan.


Ethan bangkit, mengambil sebuah handuk berwarna biru dari almari dan menggosok rambutnya yang basah. "Mau ngapain?" tanya Ethan tiba-tiba, membuat Arasy menoleh padanya.


"Apaan?" Arasy balik bertanya karena tidak mengerti.


"Kamu mau apa ke sini?"


"Masuk kamar kakak sendiri, tuh, harus banget, yah. Punya alesan?" sewot Arasy dengan kesal. Ethan tidak memperdulikan, ia membuka satu persatu kancing kemejanya, melepas kemeja tersebut dan melemparnya ke atas tempat tidur. Membiarkan Arasy yang masih berada di sana melihatnya dalam keadaan shirtless.


"Uuww, makin hot aja, Than." godanya seraya menyentuh dada Ethan, pria itu berdecak dan menyingkir, menghindari sentuhan Arasy.


"Cewek-cewek kalo ngeliat kamu kaya gini, kira-kira pada ngapain, yah?" Arasy semakin gencar menggoda Ethan. Sementara pria itu tampak tidak menghiraukan, menganggap seolah Arasy adalah makhluk tidak terlihat di dalam kamarnya.


"Teriak? Ah, udah mainstream banget."


"Oww, atau minta ditidurin kali, yah. Yang anti mainstream." Kali ini Ethan menoleh, berdecak mendengar kalimat tanpa filter Arasy tadi.


"Sshh, kamu keseringan syuting film dewasa, makannya kaya gitu. Pikirannya kotor!"


"Apaan, enak aja!" Arasy tidak terima.


"Buktinya, kamu yang nggak pernah syuting film dewasa aja malah udah dewasa banget." Arasy menaikan alis saat mata sang kakak mengarah tajam padanya. Ethan tau pembicaraan kembarannya menjurus pada skandal antara Ethan dengan Zoya Hardiswara.

__ADS_1


"Keluar!" Ethan menunjuk pintu keluar dengan dagunya. Arasy tak gentar, justru semakin gencar menggoda sang kakak. Merogoh ponsel dari saku celana dan mengarahkan kamera pada Ethan. Mengambil beberapa foto pria itu.


Ethan yang merasa jika Arasy melakukan hal macam-macam lantas menoleh kesal. "Arasy,"


Arasy tau jika sang kakak tidak suka ada orang yang mengambil gambarnya. Tapi Arasy tak menghiraukan. Ia tetap gencar mengambil foto Ethan.


"Hapus nggak?" Ethan mengancam.


"Zoya harus liat, nih."


"Arasy!"


"Zoya harus tau kalau suaminya itu super seksi."


Mata Ethan membulat begitu melihat Arasy terlihat serius dengan tindakannya. Wanita itu menunjukan jendela obrolannya dengan Zoya dan benar-benar mengirim beberapa foto dirinya pada Zoya.


"Kita liat reaksi calon kakak iparku nanti."


Ethan hendak mengejar Arasy, tapi sang adik sudah berlari keluar. Ethan hanya melangkah pelan, berniat mengambil ponsel wanita itu.


"Bunda, Bunda ..., Ethan mau bunuh Arasy masa." adu Arasy dengan dustanya.


Ethan yang baru saja keluar dari kamar menghentikan langkah saat melihat sang bunda dalam dekapan Arasy. "Bunda," Ethan tampak terkejut.


"Ethan." Mata Freya membulat melihat dada telanjang Ethan. Pria itu segera berbalik dan masuk ke kamarnya. Dengan penuh decakan kesal pada Arasy, ia menutup dan mengunci pintu kamarnya.


"Waw, ternyata Bunda punya anak yang hot." decak Freya bersamaan dengan pintu kamar putranya yang tertutup rapat. Arasy tersenyum, melihat ponsel di mana foto Ethan yang ia kirim pada Zoya sudah dilihat oleh wanita itu.


"Bunda, suruh Arasy hapus foto!" Ethan berteriak dari dalam kamarnya.


"Arasy!" nada datar Freya yang memanggil wanita itu membuat Arasy perlahan mengurai pelukan. Tersenyum kikuk pada Freya yang dengan tajam menatapnya.


"Arasy, berenti godain kakak kamu. Kalian udah bukan anak kecil lagi,"


"Bunda, sebentar lagi Ethan bakal nikah. Setelah itu aku gak bakal goda-godain dia lagi, aahh." Arasy mengerucutkan bibir. Freya mengacak puncak kepala putrinya.


"Yaudah, yaudah, mana coba. Bunda mau lihat," pinta Freya, membuat Arasy tersenyum bersemangat dan menunjukan hasil jepretannya tadi pada Freya.

__ADS_1


"Nih, Bun. Sebagian udah dikirim ke Zoya." Arasy menggulir layar ponsel.


"Waw."


"Bundaaa." Ethan yang kesal berteriak dari dalam kamarnya. Sedangkan Freya dan Arasy diam-diam tertawa dan menjauh dari kamar pria itu.


**


Zoya yang baru saja keluar dari kamarnya melangkah gontai ke arah tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah menyelesaikan sesi pemotretan dengan Ethan untuk sampul majalah bisnis, juga sekalian foto pre wedding mereka.


Hal itu biasa ia lakukan, tapi tubuhnya bereaksi berlebihan. Terutama mengingat bagaimana Ethan saat mereka melakukan sesi pemotretan.


Pria itu terlalu banyak mengatur dan terlihat enggan melakukannya. Zoya mendesah mengingatnya, mengeringkan rambut dengan hairdryer. Tak lama ponselnya beberapa kali berbunyi, membuat Zoya meraih ponsel karena beberapa pesan masuk.


Dahinya mengernyit melihat nama Arasy pada notifikasi. Tidak biasanya wanita itu mengirim pesan atau menghubunginya kecuali mereka sedang terlibat project yang sama.


Kerutan di dahi Zoya semakin mendalam begitu membuka jendela obrolannya dengan Arasy. Mulutnya sedikit terbuka melihat apa yang ia dapat. Sekitar lima foto ia dapatkan dari Arasy yang mengirim foto Ethan tanpa mengenakan baju.


"Owww, no, no, no."


Mata Zoya mengerjap beberapa kali setelah melihatnya. Napasnya berantakan dan ia benar-benar speechless. Menggelengkan kepala, Zoya memilih untuk melempar ponsel ke arah tempat tidur.


Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Meringis mengingat apa yang sudah dilihatnya tadi. Tiba-tiba saja otaknya membayangkan bagaimana foto shirtless Ethan tadi. Membuatnya tidak bisa berpikiran jernih sekarang.


"Enggak"


"Enggak"


"Enggak"


"Enggak"


Zoya menepis isi kepalanya. Meski tak dapat ia hindari, jika apa yang ingin dilupakannya justru terus berputar dalam ingatan. Terutama ketika mengingat penolakan Ethan atas syarat yang Zoya ajukan.


Zoya memegangi kepalanya, menunduk dan memejamkan mata. Pikiran kotor sedang bersarang di kepalanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2