
Freya mengayun-ayunkan kakinya yang menjuntai pada ujung sofa. Ia menatap layar ponselnya antara bimbang dan enggan untuk menghubungi Agyan. Hari sudah siang, tapi niatnya untuk makan siang urung begitu ia mengingat Agyan.
Apa suaminya itu sudah makan? Atau dia sedang kepanasan?
Rasanya kepala Freya ingin pecah memikirkannya. Tapi pada akhirnya, ia menggeser layar ponsel dan membuka jendela obrolannya dengan Agyan.
Ibu jarinya dengan lincah mengetikan sesuatu di sana. Menekan send dan meletakan ponsel di perutnya.
Tak lama, karena setelahnya Freya beranjak. Ia merapihkan diri dan pergi keluar. Rasanya ia butuh menenangkan diri. Tidak menghentikan taksi atau pun angkot, Freya berjalan kaki, sesekali tangannya ia angkat menutupi sebagian wajah demi menghindari teriknya sengatan sang surya.
Freya tidak tau akan ke mana, tapi ia sudah berjalan cukup jauh sekali, sampai langkah kakinya berhenti di sebuah kedai yang sudah sekian lama tidak dikunjunginya.
Perlahan Freya melangkah masuk pada pintu kedai yang terbuka, ia mengedarkan pandangan. Tidak banyak pengunjung, hanya ada beberapa muda-mudi yang duduk berdampingan dengan pasangannya.
"Mau pesan apa, Mbak?" salah seorang pelayan berusia remaja menghampiri meja Freya. Freya tersenyum, mengambil selebaran kertas menu dan memesan minuman.
Setelah pelayan itu pergi, Freya hanya mengotak-atik ponsel, membuka jendela obrolannya dengan Agyan barangkali ia sudah membalas pesan.
Raut wajahnya berubah murung saat dua centang biru terpapang nyata dalam sudut kanan ponselnya. Agyan sudah membaca pesan darinya tapi tak kunjung memberikan balasan.
"Kamu marah?!" ia bertanya pada dirinya sendiri. Hanya diam, bahkan saat pelayan kedai mengantarkan minuman, Freya tak kunjung menyentuh minumannya tersebut.
Sementara dari pintu masuk, terlihat seorang pria tampan tengah berjalan memasuki kedai, ia menyipitkan mata saat melihat seseorang yang dikenalinya. Sementara gadis yang ia perhatikan tampak tidak sadar, gadis itu melamun.
Pria itu adalah Braga, ia akan menemani Warry untuk bertemu dengan kliennya di salah satu private room di kedai pepo ini. Braga melangkah menghampiri Freya yang sedari tadi ia perhatikan, kemudian Braga duduk begitu saja.
"Frey," trlegurnya sambil melambaikan tangan di depan wajah Freya yang tengah melamun. Gadis itu sedikit terlonjak saat melihat kehadiran Braga yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
"Braga,"
Braga tersenyum. "Ngelamun?"
Freya balas tersenyum dan menggeleng kecil. "Kamu sendiri, Agyan mana?" tanyanya lagi, mengedarkan pandangan ke sekitar, siapa tau Agyan sedang ke arah toilet.
"Aku sendiri," gadis itu menyahut dan membuat tatapan Braga kembali mengarah padanya setelah hasil pengamatannya mendapatkan jawaban dari Freya, jika Agyan tidak bersama dengan gadis itu.
"Dia lagi nyari kerja." sambungnya, Braga mengangguk-anggukan kepala.
"Kamu sendiri ngapain, nggak kerja?" tanya Freya. Ia menyadari jika jam makan siang kantor sudah berakhir, harusnya Braga berada di perusahaan.
"Ini lagi kerja. Aku nemenin Papi kamu ketemu sama kliennya, Papi kamu suruh aku duluan. Mungkin sebentar lagi—" kalimat Braga terpptong begitu beberapa pria berpakaian rapih memasuki kedai, di antaranya ada Warry yang langsung mengarahkan pandangannya pada Freya, gadis itu hanya diam.
Mendadak kepalanya berkecamuk.
Apa kabar kedua orangtuanya? Apa kabar maminya yang sekarang sudah jarang menelpon?
"Mereka datang." Braga bangkit menyambut kedatangan Warry dan beberapa kliennya.
Perlahan Freya juga bangkit.
"Braga, kamu ajak mereka masuk. Saya ingin berbicara sebentar dengan Freya.” Titah Warry. Braga mengangguk, mengajak klien Warry untuk berlalu lebih dulu menuju privat room yang sudah mereka pesan, sebelum pergi, ia menoleh sekilas pada Freya, ada perasaan tidak tega di hatinya meski ia tau Freya bahagia bersama dengan Agyan.
Sementara Warry hanya berdiri saling berhadapan dengan Freya. Meja bundar menjadi pembatas di antara mereka.
Dengan bahasa isyarat, keduanya kemudian duduk. Warry membuka kancing jasnya dengan helaan nafas berat, kemudian menatap putrinya.
"Bagaimana?" tanyanya, satu pertanyaan singkat yang akan banyak mengandung jawaban.
Freya hanya diam meski ia tau maksud pertanyaan Warry.
"Kamu tidak menyesal memilih hidup bersama dengan suami kamu?" Warry memperjelas pertanyaannya.
__ADS_1
"Dia belum mendapat pekerjaan dan kalian selalu kesusahan."
Freya tersenyum, tangannya memutar sedotan yang berada pada minuman miliknya.
"Freya nggak menyesal, Freya bahagia sama Agyan."
"Kalau Papi berpikir Freya dengan Agyan kesusahan. Papi salah, Freya sama Agyan selali merasa cukup dengan apa yang kami punya."
"Freya juga yakin, sebentar lagi Agyan pasti dapat kerjaan."
Warry terdiam. Ia menatap Freya yang begitu meyakinkan. Ia mendukung penuh dan menjaga martabat suaminya.
"Mami apa kabar?" tanya Freya setelah merasa Warry tidak akan membahas hal tentang rumah tangganya lagi.
"Mami baik." Warry menyahut singkat. Freya hanya mengangguk, baginya, yang terpenting adalah kabar. Setelah mengetahui kabar jika Anna baik-baik saja, maka perasaan Freya merasa tenang.
"Papi akan memulai meeting." Warry bangkit, berjalan melewati Freya, tapi ketika tubuhnya sejajar dengan putrinya tersebut, Warry menoleh. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala Freya.
"Semoga kamu selalu bahagia, jaga diri baik-baik dan jaga calon cucu Papi."
"Sampaikan salam Papi untuk Agyan."
Warry berlalu, bersamaan dengan air mata Frrya yang tiba-tiba jatuh di pipi mulusnya. Hatinya tiba-tiba saja merasa rapuh dengan apa yang baru saja ia dengar.
Seketika Freya merasa menyesal, ketika di masa lalu, ia pernah amat keras kepala dan membenci Warry. Padahal ia tau, bagaimana Warry begitu mencintainya.
*
*
Hari sudah hampir malam saat Agyan bingung harus melangkahkan kakinya ke mana. Jam pulang kantor sudah berlalu sejak dua jam yang lalu, tidak mungkin baginya untuk datang melamar pekerjaan.
Baru Agyan menaiki motor dan bersiap untuk menghidupkan mesin motor, sebuah mobil yang ia kenal tiba-tiba saja berhenti di hadapannya. Agyan menyipitkan mata karena silau dari lampu mobil, dan ia melihat seorang pria keluar dari pintu kemudi.
Mobil yang berhenti di depan Agyan tadi adalah mobil milik Braga, dan pria itu mengajak Agyan pada tempat mereka sekarang berada. Sebelumnya, Braga juga sempat membeli beberapa botol minuman untuk mereka.
"Tadi siang gue ketemu sama Freya," sahut Braga setelah melegut minumannya. Agyan menoleh dengan bibir yang masih menempel pada bibir kaleng.
Sementara Braga hanya menatap ke depannya tanpa mau bertatapan dengan Agyan.
"Kalian ribut?" tanyanya, kali ini ia menoleh pada Agyan, mempertemukan tatapannya dengan Agyan yang membuat pria itu justru menghindari tatapan mata Braga.
"Kalian ribut, Gyan?" Braga bertanya lagi. Agyan melegut sedikit minumannya, kemudian menyahut. "Cuma sedikit,"
Sesaat hening di antara mereka. Hanya lalu lalang kendaraan yang terdengar. Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Agyan yakin, Freya sedang menunggunya di rumah untuk makan malam.
Pesan yang Freya kirim padanya belum sempat ia balas karena batrai yang habis. Semalam Agyan lupa menchargernya. Gadis itu pasti cemas. Agyan tau bagaimana Freya. sekalipun sedang marah padanya, gadis itu selalu memperlakukannya dengan baik.
"Gue tau Freya bahagia sama loe," Braga kembali buka suara. Membuyarkan lamunan Agyan.
"Iya."
"Loe beruntung."
Agyan mengangguk samar. "Jangan buat dia kecewa,"
Kali ini Agyan terkekeh geli, menoleh pada Braga yang menatapnya sedari tadi. Mungkin terpesona.
"Gue suaminya, loe gak perlu kasih nasihat kaya gitu. Gue tau gimana cara bikin Freya bahagia, dan gue tau di mana batasan gue biar nggak buat dia kecewa." panjang lebar Agyan.
Braga mengangguk, mengiyakan. Memangnya ia siapa sampai harus memberitahukan hal itu pada Agyan.
__ADS_1
"Gue boleh nebak kalo sebenernya loe ada perasaan ke istri gue?" tanya Agyan, kalimat terakhirnya seolah menegaskan pada Braga, jika Freya adalah miliknya.
"Iya."
Agyan memicingkan mata dengan penuh keterkejutan. Pantas saja Braga tidak menolak saat Warry memintanya untuk menikahi Freya.
"Sejak kapan?"
"Waktu kita masih SMA!"
Selama itu? Bahkan sepanjang Freya menjalin hubungan dengannya.
"Sampe sekarang?" pancing Agyan. Jika Braga mengatakan iya, maka ia akan memberikan bogem mentahnya pada Braga.
"Udah enggak sejak kalian nikah."
Baiklah, Agyan menepati janji. Ia tidak akan menghajar Braga.
"Jadi, loe udah suka Freya saat dia baru pindah ke Ghalapagos?"
Braga mengangguk. Mengingat bagaimana dulu ia menyukai Freya saat gadis itu baru saja bergabung dengan mereka saat Agyan berhasil mendekatinya.
Mengingat bagaimana ternyata apartemen Agyan dengan Freya berdekatan dan mereka sering bersama bahkan ketika gadis itu masih berpacaran dengan Arjun Sagara.
Mengingat bagaimana saat Freya menghadangnya di parkiran Ghalapagos, menemaninya ke potocopy depan sekolah dan berbicara mengenai Agyan.
Dari sana, Braga tentu sadar jika Freya menyukai Agyan. Begitu juga Agyan, sampai kemudian mereka berpacaran dan Braga hanya memendam perasaan mendalam.
Ketika Agyan pergi jauh untuk melanjutkan pendidikannya. Braga banyak menghabiskan waktu dengan Freya, sebagian hatinya berharap Freya dapat nyaman dengannya dan berpaling dari Agyan.
Nyatanya, hal itu tidak mudah karena Freya sangat mencintai Agyan. Dan Braga hanya bisa mendukung hubungan keduanya meski mereka tidak mengantongi restu dari orangtua mereka.
Agyan bangkit, menatap Braga dengan senyum miring. Braga juga bangkit, seketika ia kembali terduduk dengan posisi tidak menguntungkan setelah mendapat pukulan keras dari Agyan pada rahang kirinya.
"Jadi loe pernah ada niat buat rebut Freya dari gue?" tanya Agyan dengan santai. Braga mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Ia mengangguk dan tertawa.
"Iya. Tapi gue tau itu gak mungkin, Freya cuma sayang sama loe."
Agyan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tanpa ia duga jika Braga membalasnya dengan posisi luka yang sama. Agyan melihat ibu jarinya yang berdarah setelah mengusap ujuung bibirnya.
"Itu pukulan karna loe udah seenaknya nidurin Freya sebelum kalian nikah."
Agyan terkekeh. "Bukan cuma gue yang dapet enak!"
Braga berdecih. "Brengsek!"
Agyan tersenyum, kemudian menggandeng Braga dan tertawa bersama. "Yang penting gue yang jadi suaminya."
Braga mengangguk. Membenarkan apa yang dikatakan Agyan, Agyan memang pantas mendapatkannya. Mendapatkan Freya, menjadi suami dari gadis itu dan menjadi ayah dari calon anak yang sedang dikandung Freya.
TBC
Sebenernya, apa yang Freya sama Agyan lalui sekarang itu bukan konflik. Tapi perjalanan dari konflik yang udah terjadi dan akan mendapat penyelesaian saat ending.
Aku menyiapkan dua konsep menuju ending.
Pertama, perjalanan suka duka mereka, terselip sebuah kejadian tak terduga yang mengharuskan AgyanFreya kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Kedua, perjalanan hidup mereka yang menghadirkan sesuatu untuk mengakhiri cerita.
Aku masih bingung mau pake yang mana, mau pake yang pertama, tapi takut kalian keburu pada bosen. Mau pake yang ke dua, kemungkinan hanya butuh beberapa chapter lagi untuk Tamat:")
__ADS_1
Semoga kalian tetap setia🤗❤