Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Ruang Rahasia


__ADS_3

Zoya sarapan dengan Freya yang memang menunggunya untuk sarapan bersama, Arasy sudah lebih dulu keluar dari rumah untuk acara syutingnya. Freya juga mengatakan jika ia akan mengantarkan Zoya ke tempat pemotretan dan ia akan ke rumah Amdreas dan Grrycia. Jelas saja Zoya tidak bisa menolak tawaran mama mertuanya tersebut.


Sepanjang perjalanan dengan Freya yang menyetir, Zoya hanya menatap keluar kaca jendela mobil. Ia jadi ingin mengetahui, apa yang sedang Ethan lakukan di dalam pesawat saat ini.


"Kamu bisa nyetir?" tanya Freya yang membuat tatapan Zoya teralihkan padanya.


"Bisa Bun, tapi jarang dipake." jawab Zoya. mengingat jika dirinya memang sangat jarang sekali menyetir mobil. Ia lebih sering memakai jasa supir atau juga mengandalkan manajernya.


"Kenapa?"


"Enggak papa, Zoya lebih sering diantar jemput sama manjer atau supir, Bunda. Apalagi Ethan ngelarang Zoya nyetir sendiri." jawaban Zoya membuat Freya menoleh padanya. "Perhatian banget suami kamu," celetuknya. Zoya hanya tersenyum membalas perkataan Freya yang sedikit menggodanya.


Sedangkan itu, di tempat lain, begitu Zoya memberitahu agar Selin tidak perlu menjemputnya akhirnya membuat wanita itu mampir di BreadTalk untuk sarapan. Antrian tampak panjang di dalam, yang akhirnya membuat Selin memilih menunggu saja di dalam mobilnya, setidaknya sampai antrian sedikit berkurang.


Menyalakan musik, Selin akan bersantai sebentar, Zoya juga sudah menghubungi jika wanita itu akan sampai dalam waktu setengah jam ke lokasi pemotretan.


Asik dengan dunianya sendiri. Sampai kemudian Selin menangkap sosok mahluk yang tampak kebingungan di depan toko roti. Selin memperhatikannya, sampai ia sadar jika dirinya mengenal sosok tesebut. Selin memilih turun dan menghampiri Anye yang terlihat kebingungan sendirian.


"Anye," sapanya, memastikan jika yang ia lihat adalah Anye. Putri dari Fahry dan Anggun. gadis kecil itu menoleh, tampak memperhatikan Selin dengan seksama. Selin merendahkan tubuhnya agar jaungkauan pandangan gadis kecil itu sampai padanya.


"Tante Selin." Selin memperkenalkan diri. Membuat Anye tampak menganggukan kepala.


"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Selin, mengusap rambut Anye yang tergerai bebas sepinggang.


"Tadi Anye sama Ayah,"


"Hmm, terus, Ayah kamu kemana?"


"Anye mau makan muffin." sahutnya, menunjuk pintu masuk BreadTalk. Selin mengangguk, mengusap hidung Anye dengan gemas. "Kalau begitu makan dengan Tante, mau?" tawar Selin. Tanpa menunggu lama Anye mengangguk antusias, lantas masuk dengan Selin untuk membeli apa yang diinginkannya.


Sementara Fahry terlihat kebingungan mencari keberadaan putrinya yang tiba-tiba menghilang. Padahal ia hanya meninggalkannya sebentar ketika mengantre untuk membayar satu kantong plastik camilan dan susu milik Anye di supermarket.


"Anye," Fahry mendesah, bersandar gusar pada body mobil sampai satu pesan masuk membuatnya merogoh ponsel dari saku celana. Keningnya membentuk beberapa lipatan saat sebuah nomor mengiriminya foto Anye yamg sedang melahap muffin. Fahry mengangguk, langkah kakinya dengan cepat menuju BreadTalk yang tak jauh dari tempat Fahry saat ini.

__ADS_1


"Gimana, enak?" tanya Selin melihat Anye yang begitu lahap menikmati muffinya.


Anye mengangguk dengan raut bahagia. Mulutnya tampak penuh, Selin yang melihatnya hanya tertawa, mengambil tisue dan mengelap bibir Anye.


Fahry yang baru saja sampai mengatur napasnya. Tak lama senyumnya terukir dengan perasaan lega karena sudah dapat menemukam putrinya. Fahry melangkah menghampiri Anye, gadis kecil itu tersenyum menyambut kedatangan Fahry.


"Kenapa kamu pergi gak izin dulu ke Ayah?"


"Jangan seperti itu lagi, yah. Jangan hilang dan jangamln buat Ayah cemas." pesan Fahry.


Anye hanya mengangguk-anggukan kepala, masih asik melahap muffinnya. Fahry mengusap puncak kepala Anye, lega karena akhirnya menemukan putri kesayangannya dalam keadaan yang baik-baik saja. Sedangkan Selin yang melihat hal itu tersenyum, Fahry terlihat lebih dewasa saat berhadapan dengan Anye.


"Lin, makasih yah, udah kabarin kalau Anye sama kamu."


Selin mengangguk. "Bukan masalah besar, lagian aku nggak sengaja ngeliat Anye. Aku kira pernah ngeliat dia." sahut Selin, menatap Anye yang asik dengan dunianya sendiri.


"Kamu pernah nunjukin fotonya, dan kemaren juga aku ketemu sama Mbak Anggun di acara makan malam staf AE RCH pas mau jemput Zoya, dan dia sama Anye." sambungnya yang membuat Fahry menganggukan kepala.


"Hubungan kamu sama Mbak Anggun. gimana?" Selin tanpa sungkan bertanya, Fahry sering berbagi cerita dengannya.


"Anye tau?" mata Selin beralih pada gadis kecil itu. Fahry menggelengkan kepala. "Anye gak boleh sampe tau."


"Rencana aku mau ngajak Anggun sama Anye liburan." sambung Fahry tiba-tiba. Selin menatapnya. "Aku harap, dengan ngabisin quality time sama Anggun, hubungan kami akan kembali baik baik aja." lanjut Fahry dengan senyum yanh dipaksakan.


"Aku setuju, kamu emang perlu ngelakuin hal itu. Aku harap semuanya kembali berjalan normal."


"Kamu nggak perlu khawatirin Zoya. Dia baik-baik aja,"


Fahry terdiam, tersenyum tipis kemudian menganggukan kepalanya. Selin membalas senyumam pria itu, lantas bangkit setelah mengambil ponselnya yamg semula ia letakan di atas meja. "Aku duluan," pamitnya pada Fahry, tangannya menggapai puncak kepala Anye, mengusapnya lembut.


"Anye, kalau begitu Tante duluan, yah."


"Terimakasih, Tante." Selin mengangguk dengan senyum yang terukir. Sedangkan Fahry bangkit saat wanita itu hendak beranjak pergi.

__ADS_1


"Biar aku yang bayar." Bersiap mengambil dompet dari saku belakang celana, tapi Selin mencegah dengan cepat.


"Enggak perlu, aku juga tadi sekalian sarapan. Aku duluan." Berlalu seraya melambaikam tangan, meninggalkan dua orang itu di sana.


**


Sementara di tempat lain, Zoya tampak sudah bosan berada di rumah mertuanya hanya sendirian. Freya belum pulang dari rumah Grrycia, sedangkan Arasy belum pulang dari lokasi syuting.


Melirik jam yang sudah menunjukan pukul delapan malam, Zoya menyalakan televisi guna mengusir rasa bosan yang dirasakannya. Freya sempat mengajak Zoya agar menyusulnya saja, tapi Zoya menolak dengan sopan. Ia merasa tubuhnya lelah setelah seharian bekerja.


Zoya mendesah. Ponselnya masih belum mendapat notif apapun dari Ethan. Membuat Zoya merasa jika dirinya menunggu terlalu lama.


Pintu rumah yang terbuka membuat Zoya dengan cepat membalikan badan. Melihat siapa orang yang datang. Adik iparnya nyengir, memamerkan deretan giginya yang putih dan melangkah menghampiri Zoya.


"Bosen, yah?" wanita itu seolah dapat menebak apa yang Zoya rasakan di rumah sendirian.


"Lumayanlah."


"Pulang jam berapa?" Arasy mengempaskan tubuhnya di sofa. Memakan salad buah milik Zoya yang ada di sana.


"Udah sejak dua jam yang lalu." Zoya menyahut dan ikut duduk di samping Arasy. Mulut Arasy tampak membentuk huruf O.


"Mau aku tunjukin sesuatu nggak?" tanya Arasy dengan raut berbinar setelah terdiam cukup lama. Zoya menoleh dengan penasaran, tapi ia hanya mengerutkan kening. "Kunci rumah kalian ada di kamu nggak?"


"Iya, aku simpen."


"Perfect. Kita berangkat sekarang,"


"Kemana?"


"Ikut aja. Kunci rumah bawa!" Arasy berangkat begitu saja meninggalkan Zoya. Sedangkan Zoya masih bingung, tapi ia mengikuti saja. Setengah berlari ke kamar Ethan untuk mengambil kunci rumah kemudian menyusul Arasy.


Zoya tidak mengerti alasan mengapa Arasy mengajaknya ke rumah baru ia dan Ethan. Wanita itu bilang jika ada sesuatu yang akan ia tunjukan dan Zoya harus mengetahuinya dengan segera.

__ADS_1


TBC


__ADS_2