Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Pilihan Untuk Rival


__ADS_3

"Gimana - gimana?" tanya heboh Zoya dengan segelas susu di tangannya begitu ia kembali ke dalam kamar, segera duduk pada sofa tepat di samping sang suami yang tengah berbalas pesan dengan Randy mengenai kencan pertamanya dengan Selin di gedung bioskop.


Ethan menoleh pada istrinya, menunjukan layar ponsel di mana Randy dengan Selin tampak tengah menikmati waktu berdua di sebuah ruang karaoke. Tampaknya keduanya akan menghabiskan waktu dengan sebaik - baiknya hingga parat sampai pagi.


"Cepet juga mereka." decaknya.


"Langsung ke pelaminan, nggak, tuh?" tanya Zoya setelah melegut segelas susunya hingga tandas. Ethan hanya tersenyum.


"Kenapa? Kamu mau ngebiayain pernikahan mereka?" tanya sang suami, Zoya segera menggeleng.


"Nggaklah, tapi aku pasti kasih kado terbaik buat Mbak Selin."


"Apa?"


"Keponakan yang lucu." sahut wanita itu seraya mengusap perutnya yang sontak saja membuat Ethan tertawa melihat tingkah sang istri. Pria itu merentangkan tangan yang dalam hitungan detik membuat Zoya meraihnya dan berhambur pada peluakan sang suami bersamaan dengan ponsel Ethan yang berdering. Ia merangkul sang istri, saat ternyata ada panggilan vidio dari Freya.


"Bunda," beritahunya pada Zoya yang menaikan alis, gestur bertanya.


"Cepet angkat!" titah Zoya, Ethan segera menggeser ikon hijau yang langsung menampilkan potret bundanya, tampak berjalan keluar dari kamar.


"Kamu lagi di mana?" tanyanya pada sang putra. Ethan mengarahkan ponsel pada orang di sampingnya. Agar sang bunda tau jika ia tengah berada di rumah dan sedang dengan istri - nya.


"Bunda." Zoya menyapa dan melambai - lambaikan tangan pada mama mertuanya.


"Hey, apa kabar Sayang?" sapa Freya, sama riangnya dengan Zoya.


"Baik Bunda. Bunda gimana?"


"Hmm, baik juga."


"Ayah di mana, Bun.?" tanyanya, Freya yang tampak sudah duduk mengarahkan kamera pada orang di sampingnya sehingga Ethan dan Zoya mampu melihat Agyan yang tengah berkutat dengan laptopnya.


"Hay, Zoy." sekilas pria dengan kacamata anti radiasi itu menyapa sang menantu.


"Hay, Yah."


"Sibuk cari nafkah, Zoy." sontak Zoya tertawa mendengar apa yang mama mertuanya katakan, tampaknya Agyan tak terganggu dengan apa yang istrinya katakan, ia hanya mengusap puncak kepala sang istri kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Bunda izin, yah," kali ini Zoya mengernyit mendengar apa yang Freya katakan, ia menoleh pada Ethan sekilas. Pria itu hanya mengerutkan kening, sama tak mengertinya dengan apa yang Freya maksud.


"Bunda mau marahain suami kamu." sesaat Zoya terdiam, tapi begitu mengingat sesuatu hal ia menoleh pada sang suami. Tampaknya, pria itu kali ini sudah peka, ia memberi isyarat pada Zoya agar mengutarakan persetujuaannya atas apa yang Freya minta. Tanpa ragu, wanita itu mengangguk pada sang mama mertua. Mempersilakan Freya untuk memarahi suaminya. Ia menyerahkan ponsel sepenuhnya pada Ethan, tapi dirinya masih setia di samping sang suami.


"Hari ini kamu pulang cepat dari kantor?" nada bicara Freya sudah berbeda, Ethan segera mengangguk bahkan tanpa mempertimbangkannya atau memiliki niatan berbohong. Karena ia cukup yakin Freya bertanya buka karena tidak tau, tapi sesungguhnya sang bunda sudah mengetahuinya.


"Kamu menolak ke ruangan Momy Rachel dan menolak dia mendatangi ruangan kamu?" tanya Freya lagi. Sama seperti sebelumnya, Ethan segera mengangguk. Sedangkan Zoya tersenyum melihat raut penurut sang suami yang tengah diintrogasi oleh bundanya.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?"


"Ethan tau Momy Rachel hanya mau marah - marah. Itu kenapa Ethan tidak ingin bertemu." jujurnya tanpa basa - basi.


"Apa menurut kamu keputusan kamu itu sudah tepat?"


"Sangat tepat karena Ethan yakin Ethan mengambil jalan yang benar."


Terlihat Freya mendesah meladeni putranya. Meski apa yang Ethan katakan benar adanya, namun sekali pun demikian, tidak seharusnya pria itu menolak bertemu dengan Rachel yang akan menasihatinya.


"Tadi siang Momy kamu marahin Ayah. Katanya Ayah kurang tegas sama kamu,"


"Kamu udah buat kerugian besar di agensi. Kamu tau, 'kan?"


"Iya, Ethan tau." jawabnya singkat. Membuat Freya bingung dengan apalagi yang harus ia katakan. Setelahnya Freya mendesah pasrah, memijat pelipis dan menatap putranya.


"Bunda tau apa yang kamu lakuin itu nggak sepenuhnya salah. Tapi lain kali, kamu komunikasi dulu sama yang lain. Minta pendapat orang lain. Musyawarah dulu, habis itu baru nentuin keputusan."


"Jangan menurut final kamu aja. Orang lain juga berhak ikut andil dan tau apa alasan kamu, jangan ngerugiin orang, Than."


"Iya Bunda, Ethan mengerti." sahutnya patuh.


"Janji!" bisik Zoya agar pria itu mau mengatakannya. Ethan berucap pasrah. "Ethan janji kedepannya tidak akan seperti itu lagi."


"Bagus kalau begitu." sahut Freya, kali ini wanita itu bernapas lega.


"Ethan udah bilang bakal ada acara pengajian di rumah Nenek Shanty, 'kan Sayang?"


"Iya, udah Bun."


"Nanti kita nginep, di sana, yah. Kamu jarang ketemu Nenek Shanty, 'kan?"


"Cuma ketemu pas nikahan sama beberapa bulan lalu aja Bunda. Itu pun pas nikahan ketemunya cuma sebentar." terutama saat itu rasanya Zoya hanya sekedar menikah terpaksa dengan Ethan. Tak perduli dengan keberadaan keluarga Ethan siapa pun itu.


"Iya. Karena beliau udah tua, nggak kuat lama - lama duduk apalagi berdiri. Makannya, kita nanti nginep di sana."


"Iya, siap Bunda." Zoya tampak bersemangat.


"Bunda, tutup, yah. Suami kamu jangan bosen - bosen dikasih tau. Biar nggak keseringan ambil keputusan seenaknya." titah Freya, Zoya hanya mengangguk - anggukan kepala, melambaikan tangan pada sang bunda sebelum kemudian panggilan vidio berakhir. Setelahnya, ia menaruh ponsel sang suami di atas meja. Pria itu menatapnya pasrah setelah tadi dimarahi oleh sang bunda. Zoya hanya tersenyum, tangannya mengusap puncak kepala sang suami.


"Aku dukung keputusan kamu." Ethan tersenyum mendengar hal itu. "Tapi aku setuju sama apa yang Bunda bilang. Kalau ada apa - apa tuh, runding dulu sama yang lain. Jangan ambil keputusan seenaknya aja. Okey?"


**


Sesuai dengan pesan Rayn pagi tadi sebelum pria itu berangkat bekerja, di mana ketika ia pulang ia akan berbicara dengan putra sulungnya. Rival Afgara Zeinn.

__ADS_1


Sehingga begitu makan malam usai, pria berkulit putih itu segera ke ruang kerja sang papa, sebelumnya ia juga sempat mendapat dukungan dari si bungsu. Zeinn Davika Adelia.


"Panggil Davika kalau Mas di apa - apain sama Papa." titahnya.


"Emang Mas mau diapain sama Papa?" tanya Rival dengan dahi berkerut.


"Mau diasingkan ke pulau terpencil." Rafa yang belum menyelesaikan makan malamnya menyahut dari arah meja makan, Rival menoleh kesal, lantas mengalihkan tatapan pada Davika. Gadis kecilnya itu mengangguk - anggukan kepala, membenarkan apa yang kakak keduanya katakan.


"Mama bilang kalau Mas nakal dan masih keluyuran. Mau dikirim ke luar negri."


"Kan Mas tinggalnya sering di luar negri."


"Iya, tapi naik pesawat. Kali ini bakal disuruh jalan kaki."


"Mau, ke Swiss jalan kaki? Ihhh, kalau Davika, sih, enggak. Serem. Nanti kakinya lecet - lecet." sahutnya yang kemudian bergegas pergi, memeluk kaki Vina yang sedang membereskan meja makan.


Rival menggeleng kecil melihat Davika, sebenarnya adiknya itu memberi semangat atau tengah menakut - nakutinya?


Lamunan pria itu buyar begitu Rayn memasuki ruangan. Duduk di sofa yang bersebrangan dengannya. Rival menegakan duduk dan menatap sang papa.


"Bagaimana kalau kamu bergabung aja ke perusahaan?" tawar Rayn yang langsung to the point.


"Mama benar, kamu sudah dewasa, Mas. Udah saatnya serius sama kehidupan kamu."


"Aku selalu serius, Pah."


"Serius dalam sesuatu hal yang nggak mendewasakan kamu. Kamu lihat Ethan, atau teman - temanmu. Mereka sudah berkeluarga."


"Pah–"


"Mas, Papa nggak menyuruh kamu untuk buru - buru menikah. Hal itu memang tidak mudah, tertutama ketika kamu belum dapat pasangan atau kriteria yang cocok sama kamu." panjang lebar Rayn dengan suara lembut. Nada bicara yang selalu membuat anak - anaknya mengerti dengan apa yang ia sampaikan.


"Tapi selama ini, kamu nggak mencari, 'kan?"


"Selama ini kamu sibuk dengan dunia kamu sendiri." panjang lebar Rayn. Rival hanya diam, mendengarkan dengan setia. Di usianya yang sebentar lagi menginjak tiga puluh tahun, di mana orang -orang yang bahkan lebih muda darinya sudah mempunyai istri bahkan ada yang sudah memiliki anak dua. Ia sendiri justru belum memiliki sedikit pun keinginan dan hasrat untuk menikah.


Bukan tidak normal atau memiliki nazar untuk tidak berkeluarga. Hanya saja, benar apa yang sang papa katakan. Ia terlalu sibuk dan asik dengan dunianya tanpa perduli dunia sekitar, tanpa perduli dengan wanita disekelilingnya yang barangkali salah satunya adalah jodoh yang sudah Tuhan tetap kan untuknya.


Rival terlalu ragu untuk membangun sebuah rumah tangga. Rival terlalu canggung jika ada orang lain masuk dalam kehidupannya. Yah, ia terlalu sulit menerima orang asing. Terutama setelah pengkhiantan sang kekasih. Cinta pertama dan terakhirnya yang kemudian membuatnya gagal paham dengan cinta.


"Bagaimana?"


Rival mengalihkan perhatian pada Rayn yang kemudian bertanya dan membuyarkan lamunannya.


"Bergabung di perusahaan atau segera mencari pasangan dan menikah?" tanyanya. Bukankah pilihan yang sangat mudah? Yah, andai saja pertanyaan tersebut tidak ditujukan padanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2