Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kabar Duka


__ADS_3

Pekerjaan yang dirasanya kian hari kian banyak dan seolah tidak pernah ada habisnya bebar-benar membuat Ethan kewalahan. Ia pulang tepat pukul tujuh malam dengan badan lesu karena sudah nyatis tak lagi bertenaga.


"Mas Ethan mau dibikinkan minuman hangat?" Naina yang menyambut kepulangannya bertanya. Spontan pria itu menghindar saat Naina hendak meraih jasnya untuk dibuka. Naina yang heran menahan tangannya di udara.


"Mbak Zoya bilang, selama Mbak Zoya di sana. aku yang ngurus Mas Ethan. Termasuk juga ngurus pakaian Mas Ethan." beritahu gadis itu, Etgan tahu, pun Zoya juga sudah memberitahukannya mengenai hal itu. Ia hanya refleks karena Naina yang melakukannya, bukan Zoya. Ethan merasa tidak biasa.


"Ohh," Ethan pasrah, Naina melanjutkan niatnya dan melepas jas yang melekat di tubuh pria itu. Rasanya asing dan menyenangkan bagi Naina melakukan ha tersebut. Ia merasa menjadi istri sungguhan. Ternyata rasanya seperti ini melayani kepulangan suami dati tempat kerja.


Mungkin perasaan Zoya saat sedang melakukannya sama dengan perasaan Naina saat ini.


Gadis itu mematung saat ternyata Ethan tengah menatapnya. Membuatnya spontan memupus senyum di bibirnya begitu Ethan menepis tatapan mereka.


"Rival ada menghubungi kamu?" tanya Ethan. Naina menggelengkan kepala, berdusta pada suaminya karena pada kenyataannya, Rival begitu sering menghubunginya. Dan sesekali Naina merespond bahkan berbicara lama dengan pria itu.


"Bagus kalau gitu." sahutnya, Naina tak bereaksi. "Kalau gitu Mas Ethan mandi, nanti kita makan malam sama-sama." Naina mengalihkan topik, Ethan menganggukan kepala, melanjutkan langkah menapaki anak tangga menuju lantai dua dan meninggalkan Naina.


Sementara Naina berlalu ke arah dapur membawa jas pria itu untuk disimpannya di mesin cuci. Tetapi sebelum meletakannya di sana, Naina lebih dulu mendekap jas pria itu, mencium aroma tubuh Ethan yang tertinggal di sana, aromanya begitu kuat dan melekat.


Tak bisa Naina sangka, jika akan semenyenangkan ini melakukannya, ketika pertama kali ia menyentuh pakaian pria itu.


Setidaknya, sekedar memeluk jas Ethan tak membuatnya canggung, tak membuat dadanya berdebar hebat.


Naina menikmati makan malam berdua dengan Ethan untuk yang pertama kalinya. Suara denting sendok dan piring adalah yang paling mendominasi. Dua orang itu sama-sama hanya saling terdiam. Ethan lebih banyak menunduk dan menekuri makananya. Sementara Naina sesekali menatap pria itu dengan kepala yang berpikir keras untuk menciptakan topik obrolan.


Namun sampai makanan Ethan nyaris habis, Naina yak menemukan apapun untuk jadi bahan pembicaraan bersama sang suami. Ada, tapi ia tidak yakin Ethan akan mau membahasnya, pun ia merasa ragu membicarakan hal tersebut dengan Ethan.


"Mas–"


"Malam ini saya tidur di kamar atas, yah." pria itu lebih dulu berbicara, bagai meminta izin. Tak ada pilihan lain selain mengangguk bagi Naina.


"Saya masih punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di ruang perpustakaan. Mungkin akan tidur larut malam." sambungnya. Meraih segelas air putih yang sudah Naina sediakan dan melegutnya hingga tak tersisa.


"Mas Ethan jangan terlalu diforsir tubuhnya. Tadi siang kan juga seharian cuma kerja." gadis itu berpesan, Ethan hanya memerhatikan.


"Mbak Zoya nggak akan suka kalau tahu hal ini." Naina mencebikan bibir, ia harus membawa-bawa nama Zoya karena Ethan tidak mungkin mau mendengarkannya.


Ethan tersenyum menatap gadis itu. "Kalau begitu jangan beritahu Zoya."


"Saya percaya sama kamu."


Naina balik menatap pria itu dengan dahi berkerut. "Saya harus menyelesaikan pekerjaannya sekarang juga. Besok pagi, semua sudah harus selesai. Saya tidak punya banyak waktu kecuali malan ini." pria itu menjelaskan, Naina hanya mengangguk-anggukan kepala, ia tak pernah tahu jika Ethan sesibuk itu.


"Mas Ethan mau dibikinin apa? Camilan, susu, teh, kopi atau–"


"Tidak usah. Saya tidak butuh apapun," pria itu menyahut cepat dan beranjak dari duduknya. "Setelah makan malam kamu tidur, jangan bergadang." sambungnya tanpa tahu jika Naina sedikit kecewa karena tawarannya ditolak spontan oleh pria itu.


Ethan berlalu dari meja makan, meninggalkan dapur dimana Naina masih duduk di sana dengan makanan yang masih tersisa di piringnya.


Naina mendesah. Ia ingin membahas perihal anak dengan pria itu, namun Ethan tampak tidak perduli, atau bahkan mungkin pria itu lupa, jika alasan mereka menikah adalah karena perihal anak.


***


Ethan membawa laptop serta beberapa berkas penting yang dibutuhkannya menuju ruang perpustakaan. Hal pertama yang pria itu lakukan bukanlah segera mengerjakan pekerjaannya agar segera beres karena ia tengah mengejar deadline, tetapi ia membuka lebih dulu pesan yang Zoya kirimkan.


Ia tersenyum sebelum akhirnya tanpa sengaja justru membuka aplikasi instagram dan melihat postingan yang Zoya kirimkan beberapa menit yang lalu. Bagai melempar umpan, postingan itu segera dikerumuni dan banyak mendapatkan love serta komentar.


Ethan melihat slide demi slide foto dimana beberapa foto hanya menampilkan Edrin dengan Zoya yang tengah menikmati waktu malam di puncak. Hal itu membuat fans mereka kian menggila dalam mendukung keduanya seolah Zoya tak memiliki pasangan di dunia nyata.

__ADS_1


Keterlaluan!


Etjan berdecih, memutuskan untuk menelpon wanita itu dan mendengar suaranya. Atau jika wanita itu tidak sibuk, Ethan ingin mengalihkan perhatian Zoya agar tak banyak menghabiskan waktunya dengan Edrin Nicaolas.


Pada dering ketiga, barulah panggilan terhubung, perasaan Ethan menghangat dengan cepat kala suara Zoya menembus indera pendengarannya. Bahkan belum satu kali dua puluh empat jam wanita itu jauh darinya, rasanya Ethan sudah sangat rindu pada Zoya. Seolah Zoya sudah meninggalkannya dalam waktu yang sangat lama.


"Hallo," suara lembut wanita itu menyapa halus di indera pendengaran Ethan. Senyum pria itu terukir sekalipun hatinya masih terbakar mengingat foto-foto yang dilihatnya tadi.


"Hay, sudah makan malam?" Ethan meraih bolpoin dan memutar-mutarnya.


"Belum, ini yang lain lagi gelar acara bbq karena syuting baru di mulai besok."


"Kamu udah makan?" wanita itu balik bertanya.


"Sudah, Naina memasakan saya banyak makanan." Ethan menyahut mengingat beberapa menu masakan yang Naina buatkan untuknya.


"Di sana bagaimana?" tanya Ethan kemudian. Zoya belum menceritakan apapun mengenai tempatnya berada saat ini.


"Di sini dingin." Ethan seketika tergelak mendengar nada bicara wanita itu yang tampak menggodanya. "Apa maksud kamu, kamu sedang membutuhkan saya sekarang?"


"Kayaknya iya." kali ini giliran Zoya yang tertawa di ujung sana.


Setelahnya adalah hening di antara mereka. Ethan meletakan bolpoin yang semula dimainkannya dan memilih untuk menyandarkan punggung pada sandaran kursi putar yang didudukinya, satu tangannya ia lipat di dada.


"Gimana kerjaan kamu hari ini, acara di agensi lancar?" terdengar Zoya kembali bertanya.


"Kerjaan saya hari ini banyak. Acara di agensi berjalan lancar, hari pertama pembukaan pendaftaraan secara ofline, agensi kebanjiran calon bintang." Ethan mendesah mengingat bagaimana sibuknya ia siang tadi. Bahkan lelahnya masih terasa sampai detik ini.


"Zoya," panggil Ethan saat istrinya hanya diam. Di balik telpon, Ethan mendengar tawa menggelegar orang-orang, dan yang paling tertangkap jelas oleh indera pendengaran Ethan yang tajam adalah suara Edrin.


Artinya pria itu berada di sekitar Zoya saat ini.


"Saya cemburu setelah melihat postingan instagram kamu. Kamu jadi terlalu sering sama Edrin nanti." jujur Ethan dengan suara lembut. Ia tidak ingin mengajak wanita itu berdebat dan membuat Zoya tidak fokus saat syuting nanti.


Sebisa mungkin Ethan tak boleh menyinggung perasaan Zoya. Jangan sampai karena kecemburuannya, ia dengan Zoya harus bertengkar dalam keadaan berjauhan seperti sekarang.


"Itu alasan kamu langsung nelpon aku?" Zoya bertanya bagai curiga.


"Sebelum itu juga saya sudah berniat untuk menghubungi kamu." demi apapun Ethan memang sudah berniat untuk menghubungi istrinya tersebut.


"Mbak Selin yang posting, kamu kan tau sendiri, kalau ada project film atau sinetron, Mbak Selin rajin bagiin kegiatan aku ke banyak orang."


"Iya, saya tahu."


"Hmm."


Lagi-lagi setelahnya dua orang itu hanya saling terdiam. Suara napas masing-masing adalah jenis suara yang paling mendominasi saat ini melalui sambungan telpon. Hingga beberapa saat kemudian, setelah cukup lama berpikir dalam diamnya, ia akhirnya tahu apa yang paling dirinya inginkan saat ini.


"Zoya."


"Iya?"


"Saya kesana sekarang, yah. Boleh?"


Ethan tidak mendapat respon apapun, orang di ujung sana hanya diam. Entahlah istrinya itu sedang berpikir keras atau justru terheran-heran atas permintaannya.


"Zoya,"

__ADS_1


"Ethan, kamu boleh datang ke sini. Tapi bukan sekarang." sahut wanita itu yang membuat Ethan mendesah. Artinya ia tak bisa mendatangi Zoya saat ini.


Padahal, sekalipun Zoya memberinya izin, Ethan belum tentu dapat melakukannya. Mengingat jika waktu sudah malam dan tubuhnya begitu lelah. Tapi Ethan cukup yakin, jika Zoya-nya akan mampu mengusir rasa lelah dalam dirinya.


"Oh, iya. Aku belum cerita ke kamu gimana tempat aku nginep selama beberapa hari ke depan." Zoya justru mengalihkan topik pembicaraan. Ethan mendengarkan dengan senang hati dan pasrah.


Ia menjadi pendengar yang baik saat sang istri bercerita mengenai keadaan villa, berapa kamar yang dimiliki vila itu dan bagaimana indahnya pemandangan di sana.


"Nanti aku kitim foto-fotonya ke kamu, yah. Kamu harus lihat." sahutnya penuh semangat, dengan penuh antudias, Ethan mengiyakan dan tersenyum mendengarkan wanita itu yang terus bercerita.


Ethan tidak tahu berapa lama ia berbicara dengan Zoya. Tapi yang pasti, ia mengakhiri panggilannya dengan wanita itu saat waktu sudah begitu larut malam, bahkan matanya sudah sangat mengantuk dan ia pun menguap berkali-kali ketika istrinya bercerita ke sana kemari.


***


Syuting hari pertama berjalan dengan lancar sekalipun ada hambatan karena tiba-tiba saja turun hujan deras menerjang dan membuat tim menjeda waktu syuting sampai hujan reda nanti. Beruntung, hujan segera reda setelah mengguyur kawasan itu selama setengah jam.


Lokasi syuting di alam terbuka tak jauh dari lokasi penginapan, sehingga saat syuting usai. Zoya segera kembali ke penginapan bersama Selin dan juga sebagian tm yang sudah selesai berbenah, merapikan peralatannya.


Wanita itu segera tiba di villa dan dengan cepat, membersihkan diri sebelum kemudian bersitirahat dengan tenang sembari membaca script-nya dan mengirimkan beberapa foto kegiatannya hari ini pada sang suami.


Bersamaan dengan itu, hujan deras kembali mengguyur kawasan puncak. Hujan terjadi diiringi suara petir yang menyambar-ngambar dan angin yang cukup kencang. Zoya mengintip kaca jendela dimana rombongan lain baru saja tiba di pelataran villa. Mereka menembus hujan demi sampai di teras.


Wanita itu kembali duduk di tepi tempat tidur dan membaca naskah miliknya. Sampai samar-samar ia mendengar suara keributan dari luar kamar.


"Saya harus pulang sekarang juga Pak."


"Iya, saya tahu. Tapi saat ini cuaca sedang tidak bagus, bahaya jika kamu pulang sekarang." suara Irpan tampak menahan salah satu krunya.


"Rumah saya tidak jauh dari sini Pak, saya hapal rute aman." kru dari Departemen Suara itu tampak bersikeras. Mau tak mau, hal itu membuat Zoya memilih untuk keluar dari kamarnya dan melihat tim yang sudah berkumpul di aula vila.


Sebagian dari mereka masih dengan tampang kucelnya karena baru saja tiba, termasuk juga Edrin dan Alexa.


"Pak, istri saya mau melahirkan. Saya harus ada di sana. Ini anak pertama saya, seenggaknya biarkan saya ke sana sekarang. Besok, saya janji saya akan kembali." pintanya dengan sangat memohon.


Semua orang di aula vila hanya saling terdiam, keputusan ada di Irpan saat ini. Di satu sisi. mereka mengerti keinginan kru tersebut yang ingin menemani persalinan sang istri dan menyambut kedatangan anak pertamanya.


Tapi di sisi lain, keadaan tampak tak memungkinkan karena cuaca ekstrim, ditambah hari yang sudah mulai gelap dan akan membahayakan pengendara.


"Saya mohon Pak." pria itu tak bisa menunggu lebih lama lagi. Sehingga Irpan dan Arfat tak bisa menahannya.


"Pakai mobil saya aja." Alexa menawarkan kunci mobil miliknya.


"Terimakasih Mbak Alexa." raut wajah pria itu tampak semringah karena sudah mendapatkan izin untuk pulang. Irpan menawarkannya untuk ditemani oleh salah satu kru yang lain, namun pria itu menokak dan mengatakan akan pulang sendiri kemudian kembali lagi pada pagi hari nanti.


Arfat yang sempat berlalu meninggalkan kerumunan kembali dan tampak menggandeng kru yang meminta pulang tersebut, Zoya sempat melihat Arfat menyerahkan sebuah amplop cokelat dan mengakhirinya dengan tepukan di bahu pria itu.


Para tim membubarkana diri dari sana, sebagian ada yang mengambil camilan dan bersantai menonton tv, sementara yang lain ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah Irpan memberi pengumumaan jika syuting untuk malam ini ditunda karena cuaca yang tidak memungkinakn mereka untuk melakukan kegiatan.


Zoya melihat Edrin dan Alexa yang berjalan menuju dapur secara beriringan seolah keduanya adalah kawan akrab. Zoya tidak tahu kapan keduanya bisa sedekat itu. Tapi yang pasti, kali ini Alexa dan Edrin tidak membuat kekacauan saat di lokasi syuting sebagaimana yang pernah terjadi.


***


Sementara di jalanan curam dengan medan terjal, dan licin yang terjadi karena hujan deras, juga suara petir yang menyambar-nyambar dan angin yang bertiup kencang, kru dari tim My Beloved Wife itu berjuang demi mendampingi sang istri yang saat ini tengah bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati mereka.


Malam itu, ketika kru dari Departemen Suara tersebut mengatakan jika ia akan kembali pada pagi hari, pria itu menepati janji. Namun, ia datang hanya tinggal nama karena pria itu mengalami sebuah kecelakaan. Dimana mobil yang tengah dikemudikannya tertimpa sebuah pohon besar yang tumpang ketika angin kencang menerjang.


Kabar itu menjadi duka bagi semua anggota tim.

__ADS_1


TBC


__ADS_2