Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tidak Ada Izin


__ADS_3

"Ada apa Naina?" tanya Ethan saat ia mendengar suara Naina yang berteriak dan membuatnya harus mengakhiri panggilan dengan Zoya.


"Ada–ada kecoa, Mas." sahutnya dengan mata waspada, di tangannya terdapat sebuah sapu guna mengusir dan menangkis sang serangga.


"Di mana?" Ethan melangkah mendekat pada gadis itu dan mengambil alih sapu dari tangan Naina. Matanya tengah mencari serangga yang Naina sebutkan tadi.


"Mungkin sudah nggak ada. Aman sekarang." Ethan menenangkan agar Naina tidak perlu khawatir. Naina mengangguk setuju, mengekor di belakang Ethan dengan tangan yang memegang ujung kaos yang pria itu kenakan.


"Lagian heran, kemarin-kemarin tidak ada kecoa." sahut Ethan setelah ia duduk di tepi tempat tidur. Naina hanya diam, tapi demi Tuhan ia sama sekali tidak berbohong jika dirinya memang melihat kecoa, karena terkejut, ia spontan berteriak dan kemudian berusaha mengusirnya.


Ethan menoleh pada Naina yang hanya terdiam, ia menarik tangan gadis itu agar Naina juga duduk. "Kecoanya sudah tidak ada. Kamu tidak perlu khawatir." sahut Ethan lagi meyakinkan gadis itu agar Naina tidak mencemaskannya.


"Sekarang kamu tidur!" perintah Ethan kemudian, Naina mengangguk. Lantas beranjak dan memposisikan dirinya. Sedangkan Ethan berjalan ke arah sakelar dan mematikan lampu utama. Membuat ruang kamar mereka menjadi temaram karena hanya lampu standing yang dibiarkan masih menyala.


Setelahnya, Ethan hendak beranjak keluar. Pria itu sudah membuka pintu, namun sebelum kakinya melangkah meninggalkan kamar, Naina sudah lebih dulu memanggilnya.


"Mas Ethan,"


"Ada apa? Lampunya tidak boleh dimatikan?" tanya Ethan melihat reaksi sang istri.


"Mas Ethan mau kemana?" tanya Naina, Ethan menoleh keluar kamar.


"Saya tidak akan kemana-mana." sahut Ethan yang kemudian menutup dan mengunci pintu kamar lantas berjalan ke arah Naina dan ikut berbaring di atas tempat tidur. Sepertinya, untuk beberapa saat ia tidak bisa meninggalkan Naina.


"Kamu tidur!"


Naina menoleh pada Ethan, ia mengangguk dan mulai memejamkan mata. Ethan tetap berada di sana untuk menemani istrinya. Tapi lama kelamaan, matanya juga ikut mengantuk sehingga ia pun tertidur di samping gadis itu.


Ethan bangun tepat saat waktu menunjukan pukul dua dini hari waktu setempat, membuat niatannya yang akan kembali menghubungi Zoya urung karena istrinya itu pasti sudah tidur.


Ethan mendesah, ia menaruh lengannya pada dahi dan kembali memejamkan mata, menyambung tidurnya.


"Night Zoya,"


***


Dua pengantin baru yang katanya sedang berbulan madu itu tampak menikmati dua hari terakhir mereka di Maladewa. Baik Naina maupun Ethan bertekad untuk membuat bulan madu mereka berkesan meski dengan cara sederhana. Seperti menikmati sarapan di atap gedung hotel dengan matahari pagi dan makan siang di tepi pantai.


Tidak ada hal romantis apapun yang terjadi, semuanya tampak hanya kesederhanaan. Sesederhana saat Ethan merangkul bahu Naina agar gadis itu tidak tersenggol orang lain ketika mereka berada di keramaian, atau sesederhana saat Ethan membawakan sepatu Naina usai mereka menikmati sunset di tepi pantai.


Sesederhana itu, bahkan dengan hal sederhana tersebut dapat membuat perasaan Naina menghangat dan berdebar hebat, membuat senyum manis penuh pancaran bahagia terus menghiasi wajah cantiknya.


Hingga ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi, ia melihat Ethan yang tengah duduk di tepi tempat tidur dengan tangan yang terkepal seolah menahan amarah.


Pemandangan mengerikan itu membuat Naina dengan ragu melangkah ke arah suaminya, begitu tiba di hadapan pria itu, Naina tak sengaja menangkap pemandangan menakjubkan saat melihat foto Zoya tengah bersama dengan seorang aktor pria, di antara keduanya ada seorang pria paruh baya.


Naina mengalihkan tatapannya kembali pada Ethan. Sekarang ia tahu alasan di balik wajah datar Ethan yang tampak menahan amarah.


Tak lama, sebuah panggilan maasuk di ponsel Ethan membuat benda pipih itu bergetar. Ethan segera meraih ponselnya dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Ada pesawat yang akan berangkat setengah jam dari sekarang, saya sudah pesankan tiketnya untuk Pak Ethan dan istri." terdengar suara seorang pria di ujung sana.


"Tidak ada yang lebih cepat?"


"Itu yang paling cepat Pak."


"Baikalah, saya ke Bandara sekarang. Terimakasih." Ethan memutus sambungan secara sepihak. Lantas dengan buru-buru beranjak dari duduknya.


"Bandara." Naina berucap lirih setelah mendengar pembicaraan Ethan dengan orang di ujung telpon.


"Mas Ethan mau kemana?" tanya Naina, setengah panik melihat pria itu membuka lemari dan memasukan pakaiannya ke dalam koper.


"Kita pulang sekarang!"


Naina mematung di tempatnya atas jawaban Ethan. Ia sadar jika bagi Ethan, Zoya jauh lebih penting dari apapun, terlebih dari dirinya. Pria itu pasti sengaja pulang cepat setelah melihat foto Zoya dengan Edrin Nicolas sekalipun mereka masih memiliki satu hari untuk menikmati keindahan pulau Maladewa.


Ethan dengan Naina menerima dua buah tiket yang sudah disiapkan salah seorang staf bandara yang Ethan kenal. Ethan meminta bantuannya tanpa berpikir dua kali mengenai pemesanan tiket. Yang ada di dalam kepalanya hanya satu hal. Pulang.


Langkah lebar Ethan saat akan memasuki pesawat membuat Naina cukup kewalahan mengejar pria itu, Naina tidak mungkin meninggalkan dirinya tertinggal di belakang oleh Ethan. Pria itu tidak akan perduli ataupun mencarinya andai ia terlepas dari jangkauan pria itu.


Naina mulai kewalahan ketika kakinya terasa sakit oleh sepatu yang dikenakannya. Ia mengatur napasnya sebentar dan melihat jika ia sudah kehilangan jejak Ethan. Naina mulai panik, ia melihat sekeliling dan tak mendapati Ethan di tengah kerumunan manusia.


"Mas Ethan," lirihnya. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan sang suami, namun nihil. Naina tak mendapatkan apapun.


Ia mulai benar-benar panik, andai ia benar-benar tertinggal dan Ethan tak mencarinya, maka tamat sudah riwayat hidupnya.


Naina menenangkan diri, ia mencari ponselnya dan berniat menghubungi Ethan dengan panik yang masih menguasai dirinya. Terlebih saat ponselnya terjatuh dari tangannya.


Dengan gerakan cepat Naina buru-buru meraihnya, namun malang tak bisa dihindari saat sebuah rombongan pria berkulit putih melewatinya dan salah satu dari mereka tanpa sadar menginjak ponsel Naina.


Naina menatap ponselnya dengan pasrah, harapan satu-satunya dimana layar pada benda canggih itu terlihat mengalami keretakan yang cukup parah. Naina mendesah, hidupnya benar-benar tamat. Yang bisa dilakukannya hanya menangis. Ia menangis tersedu-sedu memanggil nama Ethan.

__ADS_1


"Mas Ethan ...,"


"Mas Ethan–aku mau pulang–"


Sampai sebuah tangan besar merangkul bahu Naina dan membantu gadis itu untuk berdiri, bahkan sebelum Naina dapat melihat wajah pria tersebut, ia sudah lebih dulu ditarik masuk ke dalam pesawat.


Naina hanya diam dengan mata sembab saat ia sudah duduk di samping Ethan di kursi pesawat. Ia tak berani menatap pria itu. Ia pikir, Ethan tidak akan datang mencari dan hanya akan membiarkannya tertinggal. Rupanya Naina salah besar.


"Kita hampir ketinggalan pesawat." tegur Ethan. Jujur ia kesal saat tiba-tiba saja Naina menghilang di belakangnya saat ia tengah buru-buru mengejar waktu. Namun mengingat jika ia berjalan dengan langkah lebarnya tanpa memerdulikan gadis itu karena merasa kesal, membuat Ethan tidak bisa memungkiri jika hal itu adalah kesalahannya.


Ethan mendesah, melihat gadis itu yang tampak memprihatinkan. Naina pasti sangat panik tadi. Ethan meraih tangan Naina dan menggenggamnya guna menenangkan gadis itu.


"Maafkan saya, seharusnya saya tidak egois." Ethan menurunkan egonya, Naina tak menyahut, tapi ia terisak begitu mengingat kembali jika ia hampir tertinggal oleh pria itu. Naina tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya andai ia benar-benar harus tinggal di sana tanpa ada orang yang dikenalinya.


Ethan menyandarkan kepala gadis itu ke bahunya, menenangkan gadis itu agar tidur dengan nyaman saja di bahunya. Setelah beberapa waktu, deruan napas Naina terdengar tenang, gadis itu sudah tertidur.


Sementara gadis itu jatuh dalam dunia mimpinya, Ethan mendesah. Membayangkan lagi postingan yang tengah beredar di jagat media sosial.


Bagaimana mungkin Zoya tak memberitahunya jika lawan main wanita itu dalam film terbarunya adalah Edrin Nicolas? Tahu jika pria itu ikut membintangi film tersebut, Ethan bersumpaj jika ia tidak akan mengizinkan Zoya mengambil peran apapun dalam filmnya.


Sepanjang perjalanan menuju tanah air, Ethan terus dihantui bayangan mengenai Edrin yang pernah menantangnya untuk menarik perhatian Zoya. Hal itu sangat mengganggu dirinya.


"Jangan ganggu istri saya!" Ethan masih ingat dengan baik hari dimana ia dengan sengaja menemani Zoya di lokasi pemotretan karena wanita itu terlibat kerjasama dengan Edrin Nicolas.


"Kamu takut aku rebut Zoya?"


"Sekali pun aku nggak ada niatan seperti itu, tapi kayaknya asik juga kalau –"


"Jangan macam - macam!"


"Cuma satu macam!"


Kali ini Ethan juga tersenyum miring. "Kalau begitu sillakan coba."


"Kamu memberiku kesempatan?" Edrin menaikan alisnya.


"Rebut Zoya jika kamu bisa!"


"Kayaknya Zoya bakal jatuh hati sama aku."


"In your dream!"


***


"Sejak rapat tadi kamu hanya memikirkan hal tidak penting itu?"


"Hal tidak penting?" Ethan tidak terima dengan perkataan Rachel. "Menurut Momy tidak penting seandainya Zoya meninggalkanku?"


"Kamu meragukan Zoya?"


"Edrin Nicolas?" Rachel kemudian bertanya begitu mengingat nama pria yang Ethan sebutkan tadi. Ethan menatap Rachel, ia kemudian menganggukan kepala mengiyakan.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyanya lagi.


"Edrin tertarik pada Zoya?"


"Sepertinya begitu."


"Kalau begitu jangan biarkan mereka memiliki project kerja sama."


"Karena saat mereka sering menghabiskan waktu bersama, segala hal bisa saja terjadi bukan?"


Ethan mengepalkan tangannya mengingat apa yang pernah Rachel katakan padanya mengenai kemungkinan Edrin yang menyukai Zoya.


Setibanya di Bandara, kedatangan Ethan mendapat sambutan dari Randy yang memang diminta oleh pria itu untuk datang menjemputnya dan Naina.


"Pak–"


"Kamu antar Naina pulang ke rumah. Aku ada urusan sebentar, di mana kunci mobilnya?" sambar Ethan dengan cepat bahkan saat Randy baru saja akan menyapanya. Bagai terhipnotis saat melihat raut menyeramkan Ethan, Randy tahu ada yang tidak beres sehingga dengan cepat ia segera menyerahkan kunci mobil perusahaan pada Ethan.


Ia dengan Naina hanya menatap kepergian Ethan yang dengan cepat melangkah menuju pintu keluar Bandara, menembus kerumunan orang-orang di tengah malam.


"Ada masalah?" tanya Randy kemudian pada Naina yang hanya terdiam, Naina mengangguk samar. Membuat Randy mendesah, seharusnya ia sudah mengira hal itu karena Ethan pulang lebih cepat dripada sebarusnya, pasti ada masalah.


"Biar saya antarkan kamu ke rumah." Randy mengingat jika Ethan memberinya tugas untuk mengantarkan Naina pulang, ia menarik koper milik Naina sekaligus koper milik Ethan yang pria itu tinggalkan begitu saja. Ia berjalan dengan Naina setelah sebelumnya memesan taksi online.


****


Ethan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sang bunda dimana Zoya bermalam di sana atas ajakan Freya. Waktu yang seharusnya pria itu tempuh selama satu jam untuk sampai di rumah orang tuanya dua puluh menit lebih cepat daripada seharusnya.


Tanpa permisi, ia segera membuka pintu rumah dan melangkah masuk, Bi Jumi yang baru saja akan mengunci pintu karena waktu sudah larut malam tampak terkejut melihat kedatangan Ethan yang tiba-tiba tanpa aba-aba apapun. Atau sapaan dengan senyum tipis seperti biasanya.

__ADS_1


Kilatan mata pria itu membuat Bi Jumi kicep dan tak berani bertanya apapun, terlebih saat langkah kaki Ethan dengan cepat berlalu menuju ruang utama dimana ia menemukan sang ayah dan bundanya tengah berbincang mesra di sana.


Dua orang itu tampak terkejut melihat kedatangan Ethan. "Ethan–"


"Zoya di mana Bun?" tanya Ethan dengan nada tak ramah. Freya dan Agyan saling bertukar pandang dengan tatapan tak mengerti melihat raut wajah putranya.


Saat mendapati kedua orang tuanya tak menjawab apapun, Ethan lebih memilih menapaki anak tangga untuk segera menemui Zoya di kamar. Wanita itu sudah pasti berada di sana.


Langkah lebar Ethan mengantarkan pria itu menuju kamarnya di mana sang istri berada di sana. Ethan segera membuka pintu begitu ia tiba. Sangat kebetulan saat Zoya berada di sana dan baru saja kembali ke kamar setelah dari balkon.


Ethan dapat melihat raut keterkejutan istrinya saat melihatnya berada di kamar, berada di hadapan wanita itu.


"Ethan," Zoya masih dengan raut terkejutnya. Wanita itu memaku di tempat ketika Ethan menutup pintu dan menguncinya. Lantas berjalan mendekat pada Zoya.


"Kamu–" Zoya tampak gugup saat Ethan berdiri dengan jarak hanya beberapa centi meter darinya. Terlebih, saat Ethan merengkuh pinggangnya dan meraih bibir Zoya.


"Bukannya kamu baru pulang besok?" tanya Zoya begitu Ethan menciptakan jarak di antara mereka.


"Kenapa? Kamu tidak senang kalau saya pulang?" tanya Ethan dengan tatapan tak terbaca. Wanita di hadapannya menggelengkan kepala dan membuat Ethan hanya menatapnya. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh Zoya


Wajah yang dilihatnya justru kian mengingatkan Ethan pada doto wanita itu yang bersama dengan Edrin dan seorang sutradara film. Ethan benar-benar tak bisa menyembunyikan kecemburuannya.


"Bukan gitu, aku cuma pengen tau alasan kamu pulang sehari lebih cepet, ada apa–"


Ethan menerbitkan senyum smirk saat wanita itu menjeda kalimatnya. Zoya pasti sudah menyadari alasan kenapa ia pulang cepat selain karena merindukan wanita itu.


"Edrin Nicolas."


"Apa maksud kamu tidak memberitahu hal itu pada saya?"


"A–aku, aku mau bilang ke kamu tapi waktunya belum sempet." Zoya menyahut dengan tenang meski wanita itu tak dapat menyembunyikan raut paniknya.


"Kamu tahu sendiri, 'kan Zoya–" Ethan melangkah kian mendekat dan membuat Zoya mengambil langkah mundur.


"Saya tidak akan memberi kamu izin untuk berada dalam satu frame dengan pria itu!" sahut tegas Ethan. Ia menaruh tangannya di samping kepala Zoya yang sudah mentok bersandar pada pintu kaca balkon.


"Than–" Ethan tampak tak menghiraukan. Ia menatap Zoya bagai menelanjangi wanita itu. Disaat-saat seperti ini, Zoya selalu merasa risih akan setiap kilatan yang Ethan berikan.


"Kita obrolin ini baik-baik, okay." bujuk Zoya, menahan dada pria itu agar tak menghimpitnya atau Zoya tidak akan bisa bernapas nanti.


Namun sekali lagi, Ethan tampak tidak perduli. Ia justru menyerang Zoya tanpa bisa wanita itu cegah, menelusuri setiap inci permukaan kulit wajah dan leher Zoya. Menciptakan jejak merah pada tulang selangkanya dengan tangan yang mengembara sesuka hatinya.


Sampai ketukan pada pintu kamar menghentikan aktivitas pria itu. Pria itu mengembuskan napasnya kesal, menatap Zoya sebentar lantas berjalan ke arah pintu.


Wajah Freya dengan Agyan muncul saat Ethan membuka pintu, namun tak membiarkan orang tuanya masuk atau bahkan melihat keadaan kamar sedikitpun meski Freya berusaha mengintip ke dalam.


Ethan memilih keluar dan menutup rapat-rapat pintu kamarnya. "Ada apa, Ayah, Bunda?" tanyanya setelah ia berada di luar kamar dan berdiri saling berhadapan dengan Agyan dan Freya.


"Kamu ada apa? Jangan bilang kamu sama Zoya lagi ribut." sahut Freya. Ethan segera menggelengkan kepalanya.


Freya mengerutkan kening, menilik apakah ada yang salah atau tidak dengan putranya. Karena beberapa waktu yang lalu. Freya melihat raut wajah putranya yang sangat menyeramkan dengan kilatan amarah di matanya.


"Tidak ada hal buruk yang terjadi Bunda." sahut Ethan meyakinkan. Tetapi raut wajah Freya tampak meragukan putranya.


"Apa aku bilang, Ethan cuma kangen sama Zoya. Dia kan baru pulang dari luar kota." Agyan angkat bicara untuk membuat istrinya percaya. Ethan mengangguk membenarkan apa yang sang ayah katakan


"Kamu nggak bohong kan?" selidik Freya lagi. Ethan mengangguk penuh keyakinan.


"Zoya lagi ngapain di dalem?" tanya Freya kemudian. Agyan mendesah, tahu jika pertanyaan istrinya mengganggu putra mereka sehingga ia segera menggandeng sang istri untuk berlalu dari sana.


"Ayo, kita turun dan biarin mereka bersenang-senang!" sahut Agyan sembari menyeret sang istri meninggalkan Ethan.


Ethan mendesah setelah kedua orang tuanya berlalu. Ia lantas kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Zoya yang sudah berdiri di balik pintu.


Ethan berdecih melihat wanita itu sudah melepas cardigan sleep waernya dan tampak seksi dengan rambut setengah berantakan.


Tetapi Ethan tak ingin terkecoh begitu saja oleh pesona istrinya. Sehingga ia akan membahas utama yang membuat ia pulang cepat.


"Ingat kata-kata saya, saya tidak akan membiarkan kamu izin–"


Ethan tak kuasa melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba saja Zoya mengalungkan tangan di lehernya dengan sensual. "Kita selesaikan yang ini dulu, baru bahas hal itu. Gimana?" jari tangan lentik wanita itu menari di atas dada Ethan. Membuat Ethan nyaris kehilangan kendali diri.


"Hmm?"


Sekali lagi, Ethan berdecih dan mengalihkan perhatiannya dari Zoya. Tapi tak sampai dua detik setelahnya, Ethan kembali melayangkan aksinya pada wanita yang selalu ia rindukan selama menikmati liburannya di Maladewa.


Wanita yang ia rindukan setiap detiknya di Maladewa. Ethan tak pernah luput dari mengingat wanita itu.


"Zoya, i miss so much!"


TBC

__ADS_1


Zoya said : Yang penting aman dulu deh, hehe (lol).


__ADS_2