
Beberapa kali Ethan melirik wanita yang tengah tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuh. Ethan tersenyum kecil, ia sedang membaca buku dengan posisi bersandar pada kepala ranjang.
Sejak di restoran hotel tadi, Zoya sama sekali tidak mau memperlihatkan wajahnya pada Ethan. Bahkan wanita itu tidak menghabiskan makananya karena malu. Zoya berlalu lebih dulu ke dalam kamar dan menyelimuti dirinya sendiri.
Ethan sudah beberapa kali bilang untuk wanita itu agar tidak perlu malu dan bersikap biasa saja. Tapi Zoya sama sekali tidak mendengarkan. Yang akhirnya membuat Ethan membiarkan saja wanita itu. Ia lanjut membaca buku, kacamata baca bertengger manis di hidungnya.
Sementara Zoya bertahan hidup di bawah selimut yang membuatnya kepanasan dan kehabisan pasokan oksigen. Ia sangat malu pada Ethan bahkan tidak berani untuk menunjukan wajahnya pada pria itu.
"Zoya, kalau kamu kepanasan, sudahlah!" beritahu Ethan setelah sepuluh menit berlalu Sejak terakhir kali membujuk wanita itu.
"Zoya," Ethan mencoba menarik selimut tapi Zoya menahannya dengan kuat. "Kamu nggak perlu malu," sambungnya agar wanita itu menurut.
"Gampang buat kamu ngomong kaya gitu," menyahut di bawah selimut dengan nada merajuk. "Yang tau cuma saya doang, Zoya."
"Iya. Aku juga malunya cuma sama kamu doang." nada bicara wanita itu terdengar putus asa. Sementara Ethan terkekeh geli, menarik selimut wanita itu perlahan. Kali ini Zoya tidak menahan, tapi wanita itu enggan menoleh padanya, justru menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Zoya, hey. Lihat saya!"
Zoya tidak bergeming. Ingin berpura-pura pinsan saja tapi ia takut tertawa dan semakin mempermalukan dirinya di depan Ethan.
"Zoya,"
"Zoya," Ethan memanggil wanita itu dengan lembut. Zoya pasrah, menurunkan tangannya dan perlahan membalikan tubuh pada Ethan. Menatap malu pada pria yang tengah mengukir senyum itu.
"Kenapa kamu harus malu?" tanya Ethan. Tapi wanita itu tak menyahut. "Kamu nggak ngelakuin kesalahan apapun, Zoya. Saya nggak masalah kamu berantakain kamar hotel."
"Saya nggak masalah kamu sentuh semua barang-barang saya."
"Semua milik saya, apapun itu juga jadi milik kamu."
Dalam waktu seperkian detik, Zoya merasakan ada desiran aneh menelisik hatinya. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perut Zoya. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang tanpa bisa ia tahan. Sensasi yang baru-baru ini ia rasakan saat bersama Ethan.
Lagi, Zoya mempertanyakan.
Ethan. Kenapa pria dingin itu begitu manis dan penuh kejutan?
"Tidurlah, kamu harus beristirahat." Menarik selimut untuk menutup tubuh Zoya. Kemudian ia pun membaringkan dirinya di samping wanita itu setelah mematikan lampu dengan remote yang ia ambil dari laci tempat tidur.
"Ethan,"
Baru memejamkan mata, Ethan menoleh saat Zoya memanggilnya. Membuat Ethan menoleh ke samping menatap istrinya dalam cahaya temaram. "Terimakasih,"
Hanya terimakasih, tapi membuat Ethan sejenak membeku dengan perasaan tak karuan. "Selamat malam," sambungnya. "Hmm," Ethan menyahut dengan gumaman, setelahnya Zoya memejamkan mata. Perasaannya melega seolah beban berat terhempas dari dadanya.
Sedangkan Ethan terdiam, kemudian mendesah pelan. Ia sudah pernah bilang, jika wanita adalah kaum yang meresahkan.
"Ethan," wanita itu kembali memanggil.
__ADS_1
"Hmm?"
"Kacamata kamu nggak dibuka?"
**
Zoya melegut minuman yang baru saja Adhel berikan padanya ketika break syuting. Adhel langsung menyalakan kipas portabel dan mengarahkannya ke wajah Zoya yang tampak kepanasan.
Lokasi syuting hari ini tepat di sebuah tanah lapang. Zoya beberapa kali kehilangan konsentrasi karena kehilangan fokus. Panas hari ini begitu terik, padahal semalam hujan turun dengan sangat deras.
"Siap-siap, bentar lagi kamu re-take."
"Re-take?" Zoya mendesah.
"Kamu beberapa kali ngelakuin kesalahan. Kenapa nggak fokus, sih?"
Selin menaruh naskah dipangkuan Zoya. Wanita yang sudah memejamkan matanya itu hanya mengangguk.
"Jangan lupa juga abis ini kamu ada photoshoot sama Edrin Nicolas." Selin mengingatkan. Edrin Nicolas adalah lawan main Zoya dalam film yang saat ini dibintanginya sekaligus aktor yang sedang naik daun karena berhasil memainkan perannya dengan baik dalam sebuah film bergenre action yang berhasil menembus sepuluh besar box office.
"Hmm," Zoya hanya menggumam dengan mata terpejam.
"Pak Ethan bilang semua barang-barang kamu udah dipindahin ke rumah baru kalian." kali ini Zoya membuka matanya. "Ethan yang hubungin Mbak Selin?" tiba-tiba Zoya excited.
"Pak Randy, atas nama Pak Ethan." Selin menyahut datar.
"Oww,"
Sementara itu, di tempat lain. Di sebuah restoran bergaya klasik dengan banyak pengunjung di jam makan siang. Ethan tengah menikmati makan siangnya bersama sang bunda yang tiba-tiba saja datang ke agensinya.
"Boleh, dong, kalau Bunda main ke rumah baru kamu sama Zoya nanti." sahut Freya. Jujur ia merasa sangat kesal Ethan akan pindah dengan Zoya tanpa memberitahunya. Freya mengetahui kepindahan putranya dari Arasy yang akhirnya membuat Freya menemui Ethan secara langsung karena putranya itu sulit dihubungi.
"Enggak perlu, Bun. Lagian Ethan sama Zoya juga jarang ada di rumah." tolak Ethan dengan lembut.
"Ya pas kalian nanti ada di rumah." Freya bersikeras. Sedangkan putranya hanya asik menikmati makanan. Membuat Freya mengerucutkan bibir karena tidak diperdulikan.
Putranya memang sangat sulit sekali dibujuk. Sulit untuk mendapatkan izin dari Ethan jika menginginkan sesuatu hal yang sifatnya berhubungan dengan ketenangan pria itu.
"Bunda nggak perlu repot,"
"Bunda nggak repot Ethan. Bunda pengen liat anak sama menantu, Bunda. Emang nggak boleh?"
"Zoya nggak butuh itu, Bun." masih mempertahankan ego agar Freya tidak perlu akrab dengan Zoya.
"Kamu tau dari mana kalau Zoya nggak butuh perhatian Bunda?"
Ethan diam, memilih melanjutkan makan tanpa mendengarkan ocehan sang Bunda. Ia tau Freya kesal karena dirinya tidak memberitahu mengenai kepindahannya dengan Zoya hari ini.
__ADS_1
Ethan tau Arasy mengadu hal macam-macam yang membuat Freya sampai datang ke perusahaannya. Ethan memang bercerita pada Arasy karena sang adik yang terus menanyakan di mana Ethan akan tinggal.
"Sekarang Zoya di mana?" tanya Freya kemudian. "Enggak tau, Bun." menyahut santai tanpa beban.
"Ethan, kamu suaminya!"
"Manajernya jauh lebih tau mengenai Zoya daripada Ethan,"
Jangankan orang lain, bahkan bundanya sendiri pun tidak habis pikir dengan Ethan. Freya menatap sang putra yang memasang wajah santai, sama seperti biasanya di mana semua orang tau bagaimana wajah pria itu yang minim ekspresi.
"Telpon Zoya sekarang, Bunda mau ngomong."
"Zoya lagi syuting, Bun."
Freya mendesah. "Itu kamu tau!"
"Zoya bilang semalem."
"Yaudah, sekarang telpon Zoya!"
"Lagi syuting, Bun."
"Siapa tau udah beres, coba aja." Freya memaksa, membuat Ethan tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mendesah pasrah. Merogoh ponsel dari balik saku jasnya dan mendial nomor Zoya. Menyerahkan ponselnya pada Freya begitu panggilan dengan Zoya sudah tersambung
"Ethan ke toilet sebentar," pamit Ethan, beranjak dari duduk sembari mengancingkan jasnya. Freya mengangguk, tampaknya panggilan dengan Zoya sudah terhubung.
"Hallo, Zoya. Ini Bunda,"
"Ohh, Bunda." terdengar suara Zoya di ujung sana.
"Iya. Ini Bunda lagi makan sama Ethan."
"Kata Ethan kamu udah mulai syuting. Gimana, udah beres?"
"Udah Bun, ini lagi istirahat."
**
Ethan melangkah ke arah westafel, melewati seorang pria yang tengah berbicara melalui sambungan telpon. Bukan tanpa alasan ia memperhatikan pria itu dalam pantulan cermin, sementara tangannya ia biarkan basah dialiri air.
"Iya, Sayang. Ayah akan pulang beberapa hari lagi."
"Ayah, 'kan sudah pulang kemarin. Apa kamu sangat rindu pada Ayah?"
"Ayah juga merindukan kamu."
"Secepatnya Ayah akan segera pulang."
__ADS_1
Satu sudut bibir Ethan terangkat bersamaan dengan tubuh pria itu yang berbalik. Bibirnya tampak berucap pelan. "Fahry," sedangkan pria itu berlalu begitu saja, tidak meanyadari kehadiran Ethan di sana.
TBC