Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Miss Each Other


__ADS_3

Semua bagai mimpi bagi seorang Zoya Hardiswara. Seolah apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini tidaklah nyata. Permainan takdir sebegitu hebat menjungkirbalikan keadaan. Menguak sebuah fakta yang bahkan tidak pernah terpikirkan sedikit pun oleh Zoya.


Bagaimana bisa jika ternyata Arasy yang ada di belakang ini semua sedangkan Zoya mendengar jelas apa yang Selin dengan Fahry bicarakan.


Dan bagaimana bisa jika ternyata Ethan sudah mencintai dirinya sejak lama. Benar-benar sulit dipercaya, semalaman Zoya hampir tidak bisa tidur karena memikirkannya. Bayangan Ethan selalu muncul dalam benaknya kala ia memejamkan mata.


Satu demi satu kejadian yang terjadi antara ia dan Ethan beeputar di kepala Zoya. bagaimana pria itu selalu memperlakukannya dengan baik meski secara tidak langsung Zoya sudah merusak masa depan pria itu. Ternyata alasannya karena Ethan sudah mencintainya sejak lama, hal yang wajar jika Ethan tidak keberataan dengan pernikahan yang terjadi di antara mereka. Sedangkan Zoya ....


Zoya tidak mengerti perasaannya, hanya saja Zoya mengakui satu hal. Ethan sudah berhasil membuatnya merindukan pria itu. Merindukan dalam jumlah yang tidak terbatas.


Pagi ini, Zoya memulai aktivitasnya tanpa semangat. Ini adalah hari ketiga di mana Ethan berada di Amerika, dan tidak memberi kabar apapun padanya. Bahkan sekedar mengirimkan pesan singkat untuk mengingatkannya makan pun tidak pria itu lakukan.


Sepertinya Ethan memang benar-benar sengaja membuatnya tersiksa merindukan pria itu. Zoya menapaki anak tangga satu persatu. Ia mendengar Freya yang sedang berbicara di balik telpon, Zoya dapat menebak jika ia berbicara dengan Agyan. Membuat Zoya iri karena dirinya tidak dikabari.


Sepertinya pekerjaan Ethan jauh lebih penting dari Zoya sendiri. Lesu, Zoya mendudukan dirinya pada salah satu kursi di meja makan. Seperti yang sudah-sudah jika ia akan sarapan berdua dengan Freya.


Ponsel yang Zoya genggam berdering, dengan wajah berbinar ia segera melihat layar ponsel, berharap jika telpon tersebut dari Ethan. Ia segera menggeser ikon hijau dengan lesu setelah membaca id penelpon.


"Kenapa Dhel?" tanyanya pada sang asisten yang tiba-tiba menelpon saat Zoya sedang berharap mendapat telpon dari orang lain.


"Mbak Zoya mau dijemput atau dianter sama Ibu Freya?"


"Kamu, 'kan tau beberapa hari ini aku tinggal di rumah orang tua Ethan dan setiap pagi Bunda Freya yang anterin. Kenapa mesti tanya, sih?" Zoya emosi. Asistennya hanya meringis mendengar suara kesal Zoya.


"Maaf Mbak, saya disuruh Mbak Selin soalnya, Mbak Selin nggan dateng ke lokasi."


"Hmm,"


"Terus katanya ...,"


"Apa lagi?" Zoya berusaha untuk sabar.


"Makan yang cukup, biar Mbak Zoya fokus, jangan kaya kemarin." Adhel terdengar ragu mengatakannya. Zoya mendesah, penampilannya kemarin memanglah buruk karen dirinya tidak bisa fokus, bahkan membuat syuting diundur dan dilanjutkan hari ini. Zoya yakin jika Selin kena semprot pihak produser karena kesalahan yang Zoya lakukan.


"Iya!" menyahut singkat berharap panggilan menyebalkan ini segera berakhir.


"Satu lagi Mbak!" Adhel berteriak saat Zoya berniat menjauhkan ponsel dari telinga dan akan mutus sambungan.


"Apa lagi?"


"Pihak produser iklan kali ini juga ngirim sereal banyak banget."


Zoya memijat pelipis. "Terserah, buat kamu aja!" rasanya ia mual membayangkan sereal.


"Semua Mbak? Ini banyak banget, yang kemarin aja masih banyak, lho."


"TERSERAH!"


"Kalau gitu kamu buka usaha kecil-kecilan lah, kafe khusus sereal, gituh." usul Zoya dengan asal.


"Saya tutup telponnya!"


"Makas–"


Zoya menutup sambungan sepihak, menaruh ponselnya dengan kesal ke arah meja. "Zoy?" sampai panggilan Freya membuat Zoya menoleh, wanita itu menyodorkan ponsel padanya.


"Ethan Bunda?" tanya Zoya dengan sedikit harapan yang meronta, setidaknya ia ingin mendengar suara pria itu.


"Ayah kamu."


"Oh." Zoya memaksakan senyumnya dan mengambil ponsel dari tangan Freya, menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Hallo, Yah. Apa kabar?"


"Baik. Kamu bagaimana?"


"Semuanya lancar bukan?"


"Iya, Yah, Zoya baik-baik aja dan semua berjalan lancar."


"Syukurlah kalau begitu, Ayah tutup telponnya–"


"Euu, Ayah."


"Hmm, kenapa? Ada yang ingin kamu tanyakan?"


"Mm, euu. Ayah sibuk?" Zoya bertanya ragu. Ingin menanyakan keberadaan dan kabar Ethan tapi tidak mampu. Lidahnya terasa kelu.


"Mmm, hanya sedikit. Ayah selalu menyempatkan waktu untuk menelpon Bunda."


"Oh, begitu. Kalau gitu, jaga diri ayah baik-baik." pesan Zoya, dalam hati juga menyampaikan pesan yang sama untuk suaminya.


Setelahnya Zoya mengembalikan ponsel pada Freya. Freya mengambil ponselnya kembali, tersenyum pada Zoya.


"Kenapa kamu nggak nanyain Ethan?" Freya bertanya penasaran.


"Enggak papa, Bunda."

__ADS_1


"Ethan sering telpon?" tanyanya lagi. Zoya menggelengkan kepala.


**


Sedangkan di belahan bumi lain. Tepat di negara paman sham, Ethan hanya menatap ponselnya. Sedangkan sang ayah baru mengakhiri panggilan dengan sang bunda bahkan berbicara dengan Zoya. Raut bahagia yang terpancar dari wajah Agyan sangat kontras dengan ekspresi datar Ethan yang semakin terlihat kaku sekaligus meperihatinkan.


Pria itu sedang menjalankan usul sang ayah agar tidak mengabari Zoya guna mengetahui bagaimana reaksi Zoya nanti. Agyan menoleh pada putranya yang masih mengenakan pakaian formal, padahal merela sudah kembali dari perusahaan sejak dua jam yang lalu.


Ayah dua anak itu menggelengkan kepala. Miris dengan nasib putranya. Ia mendaratkan tepukan di pundak Ethan, membuat pria itu menoleh padanya.


"Sepertinya kamu dengan Zoya sangat–" Agyan menggeleng dengan wajah prihatin. Sungguh membuat Ethan sangat kesal melihatnya.


"Zoya bahkan tidak menanyakan kabar kamu, Than."


"Dia marah karena Ethan nggak ngasih kabar. Dan ini semua karena Ayah."


"Ethan akan telpon Zoya sekarang." Ethan meraih ponsel tapi Agyan menahannya, menggelengkan kepala agar Ethan tidak melakukannya.


"Kamu udah bertindak sejauh ini, Than." beritahu Agyan. Saat baru saja sampai ke Bandara dua hari yang lalu, Agyan memang menyuruh Ethan agar tidak menghubungi Zoya sekali pun hanya mengirimkan pesan.


"Kamu mau tau perasaan Zoya, 'kan?" tanya Agyan saat mereka dalam perjalanan ke unit apartemen milik Warry di pusat kota.


Ethan mengangguk. "Biasanya wanita akan terpaksa mengungkapkan perasaannya saat terdesak. Seperti sedang kangen misalnya."


"Dia pasti akan mengesampingkan gengsi."


"Tunggu dia ngehubungin kamu duluan."


"Kalau Zoya nggak ngasih kabar ke Ethan?"


"Pokoknya kamu tunggu sampai dia kasih kabar!"


"Kalau Ethan nggak bisa nahan rindu ke Zoya?" tanya Ethan lagi yang membuat Agyan terdiam mempertimbangkan. Ia tau tanpa komunikasi itu berat, Agyan pernah merasakannya saat bersama Freya.


Di mana komunikasi di antara keduanya harus terputus selama satu tahun. Pahit memang, tapi mengingatnya sekarang membuat Agyan sadar. Jika cinta memang tidak hanya membutuhkan perjuangan, tapi juga membutuhkan pengorbanan.


"Kamu tahanlah sebentar!" Agyan kembali bersuara.


Ethan diam, mempertimbangkan usul sang ayah. Awalnya ia sempat ragu, tapi kemudian Ethan penasaran dengan reaksi wanita itu. Terutama rindu mendengar suara Zoya memanggil namanya. Zoya sama sekali tidak berinisiatif menelponnya, bahkan sekedar mengiriminya pesan pun tidak wanita itu lakukan. Membuat Ethan bimbang dan merindu sendirian.


Ethan bertahan untuk sementara waktu. Menyibukan diri dengan prkerjaan dan ia berjanji akan membayar lunas untuk rindu yang beberapa hari ini ia tahan.


**


Sedangkan Zoya tak jauh berbeda dengan Ethan. Ia sedang menahan diri untuk tidak menghubungi suaminya. Terutama gengsinya terlalu besar untuk menghubungi Ethan lebih dulu.


Sudah lima hari pria itu tidak menghubunginya, padahal Agyan selalu menyempatkan waktu untuk berbicara dengan Freya melalui sambungan telpon. Tapi Ethan seolah sengaja membuat Zoya merindukan pria itu untuk memenuhi perkataannya sebelum Ethan pergi.


"Apa?" Zoya bertanya tanpa minat.


"Karena usul Mbak Zoya, aku buka kafe kecil-kecilan." sahutnya, kali ini Zoya tampak tertarik. Menoleh pada asistennya yang tampak senang.


"Konsepnya tongkrongan anak muda gitu. Kafe sereal jaman now."


"Hmm, bagus dong. Semoga sukses." sahut Zoya, serius. Adhel tersenyum senang atas pujian wanita cantik itu.


"Aku sekalian mau minta tolong sama Mbak Zoya."


"Minta tolong?" dahi Zoya berkerut menatap asistennya yang tengah tersenyum canggung.


"Minta tolong apa?" sambungnya.


"Euu," menatap Zoya sebentar. Adhel tampak ragu mengatakannya. "Mbak Zoya mau nggak promosiin kafe Adhel di instagram Mbak?"


Zoya tersenyum. "Kamu mau endorse?"


"Endorse?" Adhel mengulang apa yang Zoya katakan, kemudian menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Mana bisa Adhel endorse Mbak Zoya. Gaji satu tahun juga gak akan cukup." Adhel terlihat putus asa, Zoya menggeleng pelan.


"Siapa juga yang mau dibayar!" Zoya menyahut kemudian.


"Terus? Mbak Zoya mau bantu Adhel?"


"Sini, kirim bannernya ntar di post di instagram."


Adhel tampak heboh. Segera mengambil ponsel dan menuruti yang tadi Zoya perintahkan. "Yang urus kafe kamu, siapa?"


"Adek, Mbak."


"Oh, okey."


Jari tangan Zoya dengan lincah menari di atas keyborad. "Udah!" menunjukan layar ponsel pada Adhel jika ia sudah melakukan apa yang Adhek butuhkan.


"Makasih Mbak Zoya," raut wanita itu tampak semringah. Zoya hanya menganggukan kepalanya.


"Mbak Zoya, ada jemputan!" salah seorang kru memanggil wanita itu. Zoya menoleh. Kemudian beranjak dan ia melihat sebuah toyota alphard berwarna putih terparkir di area parkir.

__ADS_1


"Ibu Zoya Hardiswara?" tanya seorang pria dengan pakaian serba hitam, Zoya dapat menebak jika Bapak tersebut adalah sopir.


"Iya. Saya," Zoya menyahut setengah bingung.


"Saya diutus untuk menjemput Ibu. Mari," pria berusia sekitar empat puluhan itu melenggang menuju mobil.


"Tunggu!" intruksi Zoya menghentikan langkah sopir tersebut. "Kenapa Bu?"


"Siapa yang suruh Bapak jemput saya?"


"Pak Ethan."


Dahi Zoya berkerut. Ia tersenyum tidak percaya sampai satu pesan masuk dari Selin membuatnya segera membuka isi pesan.


...Mbak Selin...


...Kamu udah ada yang jemput?...


...Mbak udah di sini, Pak Ethan nyuruh Mbak dateng lebih awal....


"Ethan?" lirih Freya sampai kemudian ia berpikir jika mungkin Ethan sudah menyiapkan kejutan romantis untuknya di suatu tempat.


"Bu Zoya?"


"Eu, saya nggak perlu bawa barang apapun Pak?"


"Tidak perlu, Bu. Ibu hanya perlu datang, Pak Ethan sudah menunggu." sahutnya tanpa mengurangi sopan santun berhadapan dengan Zoya yang banyak bertanya.


Zoya masuk ke dalam mobil setelah sopir yang menjemputnya membukakan pintu mobil. Wanita itu duduk dengan tenang tanpa banyak lagi bertanya. Perasaannya bahagia sekaligus tidak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya.


Setelah menempuh perjalanan yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam karena terjebak macet. Mobil yang ditumpangi Zoya sampai di sebuah vila di kawasan puncak. Vila dengan aksen dua pilar itu tampak sepi, sampai seseorang membuka pintu dan menyambut kedatangan Zoya.


Zoya mengedarkan pandangannya ke segala arah setelah ia turun dari mobil. Tidak ada yang istimewa baginya kecuali pemandangan malam yang tampak indah. Selin menatap wanita itu dengan tatapan heran.


"Kenapa Zoy?" tanyanya kemudian.


"Ethan di mana?" Zoya balik bertanya dengan mata yang masih mengedar. Barangkali Ethan bersembunyi dan menyiapkan kejutan khusus untuk menampakan diri.


"Pak Ethan nggak ada di sini!"


Kali ini Zoya mengalihkan tatapannya pada Selin. Ethan tidak ada di sini? Zoya sedang ada dalam situasi yang sulit dimengerti.


"Jadi Ethan nggak ada?" tanya Zoya sekali lagi, memastikan jika dirinya tidak salah dengar. Selin menggelengkan kepala dengan dramatis. Membuat wajah Zoya berubah sendu.


"Terus dia ngapain nyuruh ke sini?"


Selin mengangkat bahu acuh, kemudian menggandeng Zoya untuk masuk ke dalam vila. Wanita itu menyeret langkahnya masuk, mendadak ia lesu dan tidak bersemangat. Bahkan saat Selin menunjukan kamar untuknya di lantai dua.


"Pokoknya Pak Ethan cuma nyuruh kita ke sini, Mbak juga gak tau apa alesannya." Selin menjelaskan agar Zoya tidak kebingungan, kemudian mendudukan Zoya di tepi tempat tidur.


"Sekarang kamu mandi, terus nanti istirahat. Semua keperluan kamu udah Mbak siapin."


"Kalau butuh sesuatu Mbak ada di lantai bawah, okey."


"Hmm."


"Kalau begitu, Mbak tinggal, yah." Selin berlalu keluar setelah menutup pintu. Sedangkan Zoya hanya terdiam, harapannya terlalu berlebihan pada Ethan. Mengira jika pria itu sudah ada di sini dan menunggunya. Kemudian mereka bertemu dan melepas rindu. Nyatanya Zoya hanya sendirian di sini. Tidak ada Ethan, atau sekedar pesan singkat dari pria itu.


Dengan langkah gontai, Zoya berjalan ke arah kamar mandi. Sekali pun rasa malas mendekap tubuhnya, rasa gerah dan lengket tetap membuat Zoya mau tidak mau harus mandi dan membersihkan diri.


Tapi sebelumnya, ia melangkah menuju jendela balkon, menyingkap gorden dan melihat malam yang pekat. Siluet tiga orang di vila lain dalam bayangan gorden membuat Zoya betah melihatnya. Di mana seorang anak kecil tampak asik bermain dengan dua orang dewasa, tak lama Zoya menutup gorden dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


"Anye, kamu belum mau tidur?" tanya Anggun yang sudah mulai lelah mengajak putrinya bermain, sedangkan Fahry tampak masih bersemamgat. Terutama Anye yang sama sekali belum terserang kantuk.


"Mungkin karena saat diperjalanan Anye banyak tidur, jadinya sekarang belum ngantuk." Fahry memyahut karena putri mereka hanya asik bermain. "Enggak papa, kalau kamu ngantuk kamu tidur duluan aja. Biar Anye sama aku." sambungnya. Anggun akhirnya mengangguk.


"Kalau gitu aku ke kamar duluan," pamitnya, mengusap puncak kepala Anye kemudian berlalu lebih dulu meninggalkan Anye dengan Fahry.


Sesuai apa yang Fahry katakan pada Selin tempo hari, jika ia akan mengajak keluarga kecilnya liburan. Dengan begitu, Fahry berharap hubungannya dengan Anggun mampu diperbaiki dan kembali seperti dulu. Fahry tidak ingin, anaknya tumbuh dalam keadaan keluarga yang tidak harmonis.


**


Waktu sudah sangat larut ketika Zoya merasakan ada pergerakan di belakangnya. Sampai kemudian sebuah tangan melingkar di perut Zoya, membuat wanita itu menyentuh lengan tersebut, sedangkan sang pamilik tangan dengan cepat menautkan jari-jemari mereka. Kemudian mendekap erat tubuh Zoya.


Zoya tidak perlu curiga jika ada penyusup ke vila yang ditempatinya, karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya jika orang yang ada di belakangnya adalah Ethan, Zoya dapat mengenal aroma maskulin dari tubuh pria itu. Zoya hendak berbalik untuk dapat melihat Ethan. Tapi dekapan Ethan justru kian erat.


"Jangan bergerak!" berbisik di telinga Zoya.


"Tidurlah kembali!"


"I miss you so much."


"Dan saya lelah."


Suara pelan pria itu akhirnya membuat Zoya menurut, ia hanya diam. Ethan tersenyum, kemudian mencium puncak kepala Zoya sekilas, membuat wanita itu sejenak memejamkan mata. Tak lama, ia merasakan embusan napas tenang Ethan yang menerpa ceruk lehernya.


Zoya tersenyum, matanya mengantuk dan perasaannya membuncah bahagia. Jika ini bukan mimpi, maka besok Zoya akan memarahi pria itu habis-habisan karena tidak mengabarinya selama beberapa hari.

__ADS_1


TBC


Zoya ketemu Fahry nggak yah🤭


__ADS_2