Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Luna


__ADS_3

SYAHDAN


"APA ? Anda jangan main main ya. Bukan kah kita sudah sepakat kemaren.!!" Irawan tampak begitu marah. Ya, sesampainya di kantornya. Aku langsung mengutarakan tujuanku kedatangannku menemuinya. Bahwa aku ingin dia mencabut tuntutannya atas Dokter Devid.


"Saya rasa anda masih bisa mendengar dengan jelas perkataan saya tadi Pak Irawan. Jadi saya tidak perlu mengulangnya kembali." Ujarku. Aku sama sekali tidak takut menghadapinya. Karena sebenarnya aku juga sudah mengetahu siapa Irawan. Dia adalah salah satu orang yang pnya kuasa. Tapi sayangnya dengan kekuasaan yang dimilikinya ia banyak mendzolimi orang lain.


"Anda fikir semudah itu saya akan menuruti kemauan anda. Anda fikir anda itu siapa. Haah ? Anda hanya seorang lawyer yang tidak berarti apa apa buat saya. Saya bisa saja menghancurkan karier anda. PAHAM !" Seperti dugaanku, Irawan mulai menampakan ke asliannya. Tapi untung saja, aku sudah mengumpulkan banyak bukti dan data. Semua perbuatan jahatnya daa kelicikannya.


"Ohya ? Apakah Anda sedang mengancam saya ? " Aku tidak takut dengan gertakannya. Karena kartu nya ada padaku.


"Jangan main main ya pengacara brengs*k, kamu tidak kenal siapa saya. " Lagi lagi dia menampakan taringnya.


"Baikah Bapak Irawan yang terhormat. Saya juga ada kesibukan lainnya. Silahkan Bapak cek file ini saja. Agar Bapak paham dan mengerti. Ingat, saya tidak pernah main main dalam setiap hal yang saya tangani." Ujarku kemudian sambil memberikan sebuah flasdisk kepadanya. Lalu segera berdiri meninggalkan kantor Irawan. Biar dia cek sendiri dan pastinya dia bisa mengambil keputusan sendiri, mana yang terbaik untuk dirinya.


Sementara itu Irawan yang sangat kesal dengan sikap Syahdan. Dengan segera mengambil flashdisk itu dan membukanya di laptopnya. Irawan sangat terkejut, ternyata Syahdan mengetahui semua bukti kejahatannya. Kalau saja Syahdan membongkar semua ini ke public maka akan sangat bisa dipastikan kehancuran nya didepan mata.


"Aaaarrrgggghhhhh...." Irawan berteriak histeris sambil membanting semua yang ada dimeja kerjanya. Dia benar benar kesal, ternyata Syahdan benar benar seorang Lawyer yang jeli. Dia bisa mendapatkan semua itu. Pasti karena memiliki koneksi kuat. Kalau sudah begini, tak ada pilihan lain selain menuruti perkataan Syahdan. Dia langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk mengurus pencabutan tuntutannya kepada Dokter Devid.


Tak lama sampai di kantor, aku menerima telfon. Kabar mengenai Pencabutan tuntutan oleh Irawan. Aku tidak tau, apakah aku senang dengan semua ini. Tapi aku hanya bisa berharap kalau semua ini bisa membuktikan kepada Airin bahwa aku tidak pernah berniat untuk menghancurkan rumah tangganya, meskipun rasanya ingin sekali aku merebutnya dari Devid


Tapi aku masih penasaran, siapa yang telah mengedit foto foto aku dan Airin. Apa mungkin dia mengenal ku dan Devid juga. Siapa pun dia aku harus segera menemukannya. Aku segera memerintahkan orang untuk menyelidikinya. Tapi sayangnya tidak ada info yang ku dapat. Sungguh sangat pintar sekali permainan orang ini.

__ADS_1


Perlahan semuanya berlalu, tapi tidak dengan hatiku. Masih saja sunyi sepi dan merindu, Airin tak kunjung pergi dari dalam hatiku. Terkadang aku sengaja lewat didepan rumah Devid, dan kadang aku melihat Airin disana. Sesekali ku kuliat dia tengah bersenda gurau dengan Syfa. Gadis kecil yang juga sangat kurindukan. Aku lah pertama kali yang menggendong Syfa sewaktu dia baru lahir. Aku lah yang mengumandangkan Iqomat di telinga. Ya, saat saat Airin Akan melahirkan Syfa dulu masih teringat jelas di Ingatanku. Airin yang terpaksa haru melahirkan dengan cara operasi karena shock diperlakukan tidak baik oleh mantan ibu mertuanya. Sejak itulah rasa cinta dan sayangku untuk mereka berdua semakin bertambah dalam.


Terkadang aku bertemu Airin tengah bersama Devid di luar. Aku cemburu, seharusnya aku yang disana. Seharusnya aku yang berjalan disamping Airin sambil menggennggam jemarinya dan menggendong Syfa. Seharusnya aku yang menemani Airin berbelanja. Seharusnya Aku yang mengajak Syfa bermain di taman bermain anak anak itu. Seharusnya aku, aku... Bukan Devid.


Maafkan aku Airin, kalau aku belum bisa mengabulkan permintaanmu untuk tidak membenci Devid. Ya, aku hanya manusia biasa yang juga bisa merasakan sakit dan kecewa. Aku tak sanggup menyaksikan kebersamaan kalian. Meskipun aku yakin, engkau kini sudah berbahagia. Maafkan aku Airin.


Hari ini aku pulang kerumah sudah sangat larut. Sesampai dirumah, bik Inah langsung menghampiriku dengan raut wajah ketakutan.


"Tuan, Non Luna Tuan, non Luna...." Ujarnya dengan raut wajah cemas.


"Luna kenapa bik, ?" Aku pun jadi khawatir.


"Luna... Lunaaaa... Buka pintunya Luna... Ini mas Syahdan dek." Ku gedor gedor pintunya dan berteriak memanggil Luna. Tapi tak ada jawaban. Perasaanku semakin tak enak, aku tak mau terjadi apa apa dengan Luna. Apalagi kalau sampai kehilangan Luna. Hanya dia satu satunya keluarga yang ku punya sekarang. Fikiran fikiran buruk pun menghantuiku.


"Di dobrak aja tuan pintunya Bibik sudah coba buka pakai kunci cadangan tapi nggak bisa. Karena pintunya dikunci dari dalam juga." Ujar Bik Inah.


Aku pun kemudian mendobrak pintu kamar Luna. Pintunya sangat kuat sampai aku harus mendobraknya beberapa kali baru berhasil. Mataku terpana melihat keadaan kamar Luna yang sangat berantakan. Semua barang barang hancur. Tapi aku tak melihat Luna. segera ku berlari ke kamar mandi, mungkin saj Luna disana.


" LUNAAAAAAA...." Dugaanku benar. Luna tampak tergeletak dilantai kamar mandi. Langsung kuraih tubuhnya, kulihat darah mengucur dari pergelangan tangannya. Luna tak sadarkan diri, tubuhnya masih hangat. Segera ku gendong dan ku bawa ke rumah sakit.


Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi sehingga Luna berbuat nekat seperti ini. Luna adalah gadis yang ceria, dia tak pernah sama sekali menyusahkan. Tapi seja kematian Mami, memang Luna sedikit lebih berbeda. Dia menjadi pendiam, dan sudah lama tak kudengar celotehnya meramaikan rumah.

__ADS_1


Mungkin semua salahku, aku kurang perhatian padanya. Sejak Mami meninggal dan Airin menikah, aku merasa seperti hidupku hancur. Aku larut dalam kesedihanku, sehingga aku melupakan Luna. Aku bahkan lupa, kapan terakhir kali kami makan malam bersama dirumah. Aku selalu sibuk dengan pekerjaanku. Kadang pulang sudah larut malam. Ya, itulah cara ku melupakan kesedihanku. Tapi aku tak sadar, kalau Luna masih membutuhkanku. Hanya aku satu satunya saudaranya. Mungkin Luna amat sangat marah padaku. Sehingga melakukan ini semua. Jangan sampai Luna berfikir ingin mengikuti Mami.


Tidak, aku belum sanggup kehilangan lagi. Segera kularikan mobilku dengan kecepatan tingi. Aku tidak ingin terlambat sampai dirumah sakit. Sesampainya di rumah sakit aku berteriak seperti orang gila memanggil siapa saja disana untuk membantuku menyelamatkan Luna. Lna segera dibawa ke ruang IGD. Aku menunggu dengan harap harap cemas selama Dokter mengobati Luna.


"Ya Allah, tolong selamatkan adikku. Aku sangat menyayanginya. Jangan ambil dia ya Tuhan. Aku berjanji setelah ini aku akan lebih menjaganya." Do'aku dalam hati.


Pintu ruangan itupun terbuka,dan Dokterpun keluar setelah hampir satu jam aku menunggu.


"Bagaimana keadaan adik saya Dokter," Tanya ku langsung menghampiri Dokter.


"Alhamdulillah, adik Bapak berhasil melewati masa kritisnya. Meskipun tadi sempat lemah karena banyak kehabisan darah. Tapi Allah masih menyelamatkannya." Ujar Dokter itu tersenyum.


"Alhamdulillah...." Aku pun bernafas lega mendengar penjelasan Dokter.


"Tapi pak," Ujar Dokter itu.


"Tapi apa Dok.." Aku penasaran, raut wajah Dokter itu berubah menjadi lebih serius.


"Kandungan adik Bapak semakin melemah. Kami sudah memberikan vitamin penguat kandungan. Kami harap, adik Bapak harus benar benar bedrest ya. Jangan melakukan apapun dulu sampai kandungannya kuat. Dan yang paling penting, jangan sampai banyak fikiran dan tertekan perasaan. Karena itu sangat berpengaruh sekali dengan kehamilannya yang lemah." Ujar Dokter itu menjelaskan.


Aku terkejut, serasa tak percaya. Aku terdiam tak tau harus bicara apa. Apa Dokter ini salah periksa ? . Aku berharap aku yang salah mendengar, tidak mungkin Luna Hamil. Sampai Dokter itu pamit pergi meninggalkanku. Aku terperosot jatuh ke lantai. Tubuhku lemas, ini tidak mungkin. Mana mungkin Luna hamil.

__ADS_1


__ADS_2