
Ku pejamkan mataku, sesaat ku ingin menenangkan hati dan fikiran. Dalam waktu bersamaan masalah datang bertubi tubi menghampiriku. Ada apa sebenarnya ini. Anton masih setia menemaniku, dia seperti dapat merasakan ke gundahanku. Anton menyarankan agar aku pulang dulu, agar bisa lebih tenang. Biar dia saja yang berjaga di rumah sakit. Ah, mana mungkin aku bisa tenang dirumah. Karena akan bertemu dan melihat Airin. Masalah lain yang sangat menyita hati dan fikiranku. Tapi aku tak enolak sarannya untuk meninggalkan rumah sakit. Dengan pengawalan dari orang bawahan Anton. Aku bisa keluar dari rumah sakit dengan aman sampai ke mobilku.
Kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Bukan karna lari dari rumah sakit. Tapi karena sesak di dadaku. Sempat tadi kulihat orang orang yang berdemo didepan rumah sakit sudah bisa di bubarkan. Ada beberapa penjaga yang dikerahkan Anton untuk membubarkan mereka. Syukurlah kejadian ini tidak melibatkan pihak yang berwajib. Kalau tidak, pasti akan segera tersebar berita di media. Dan tidak menutup kemungkinan Bunda segera tau kalau ada masalah di rumah sakit.
Aku bingung mau kemana, biasanya kalau ada masalah atau datang rasa jenuh. Aku akan menghubungi Syahdan. Dan kami pun akan bertemu dan ngobrol samai lupa waktu. Tapi sekarang, Syahdan adalah yang termasuk masalahku. Jadi tidak mungkin aku menemuinya.
Ku arahkan mobilku menuju pantai. Iya, pantai adalah tempat favorite ku untuk menenangkan fikiran. Melihat debur ombak yang menyapu pantai seakan memberikan ketenangan buatku. Lama aku duduk dipinggir pantai. tanpa terasa waktu maghrib pun telah masuk. Kembali ku lajukan mobilku, mencari mesjid terdekat. Setelah melaksanakan sholat maghrib, aku masih terdiam dalam zikir panjangku. Benar, semua ini terasa menyesakkan dada. Sampai selesai sholat Isya aku masih di mesjid. Kemudian ku arahan mobilku menyusuri jalan jalan tanpa ada tujuan. Ku lirik jam di pergelangan tangan, waktu sudah cukup malam. Baru ku berniat untuk pulang. Berharap Airin sudah tidur saat aku sampai nanti. Jadi tidak ada lagi pembicaraan diantara kami.
Ternyata dugaanku salah, Airin masih belum tidur. Dia menyambutku seperti biasa dan melayaniku. Saat selesai membersihkan diri, dia menawariku makan malam. Entahlah, selera makan ku pun tak ada karena memikirkan semuanya. Ku tolak tawarannya, aku tak ingin menambah beban fikiranku lagi. Dengan berada lama lama disampingnya. Kemunafikannya semakin membuat hatiku sakit. Ku suruh saja dia tidur duluan, dan aku pergi ke ruang kerja. Mungkin akan lebih baik aku tidur disana saja.
__ADS_1
Diluar aku bertemu Bunda. Bunda hendak mengambil susu Syfa. Katanya tadi lupa dibawa ke kamar. Aku mengikuti Bunda ke dapur. Kuperhatikan wanita yang sangat ku sayangi itu, sikap Bunda masih seperti biasa. Berarti Bunda belum tau berita yang terjadi di rumah sakit. Semoga saja Bunda tidak pernah tau semua masalah ini. Paling tidak sampai masalah ini teratasi. Jadi tidak menambah fikiran Bunda.
"Kamu belum tidur,, atau masih kecapean.. ?" Tanya Bunda senyum senyum.
"Capek Bund. Belum ngantuk juga." Jawabku tersenyum.
" Ya jangan terlalu dipaksain. kan malam malam besok juga ada. Nggak pa pa kalau Syfa tidur di kamar Bunda aja sampai kamarnya selesai di renov. Nanti kan Syfa bisa tidur dikamarnya sendiri ditemani pengasuhnya.Ujar Bunda. Aku sedikit tidak mengerti perkataan Bunda.
Apa maksud Bunda berkata begitu. Ah sudahlah,, akutak mau terlalu memikirkannya. Aku pun masuk ke ruang kerjaku. Ku buka ponselku, dan membuka pesan yang di kirimkan Anton. Anton sudah mencoba men cek cctv rumah sakit. Tapi tak ada yang mencurigakan. Menurut dugaan nya ini ada permainan orang dalam. Karena sedikit pun tidak ada meninggalkan jejak yang bisa di curigai.
__ADS_1
Mungkin Anton benar, tapi siapa yang ingin menjatuhkanku posisi ku dirumah sakit. Apa mungkin Handoko ? Papanya Dokter Adrian. Dia adalah pemegang saham nomor dua setelah ku. Memang sudah beberapa kali dia mengajukan ide untuk menjadikan anaknya sebagai President Diruktur rumah sakit. Tapi karena aku masih pemegang saham terbesar dan masih banyak yang mendukungku, maka posisi presdir masih di amanatkan padaku. Apakah semua ini termasuk bagian dari rencananya ?
Tapi kalau untuk masalahku dengan Airin, bukan berarti Tuan Handoko juga kan. Apa mungkin foto foto kemaren adalah suruhannya.Apa mungkin sedetail itu dia ingin menghancurkan kuasaku. Sampai harus mengusik rumah tanggaku. Ah, tidak mungkin. Aku tidak yakin. Kalau masalah yang terjadi di rumah sakit, bisa jadi itu ulahnya. Tapi dengan Airin ?
Airin ? teringat akan Airin. Aku teringat juga perkataan Bunda tadi. Apa maksud Bunda berkata begitu. Seakan akan Bunda mengisyaratkan kalau kami telah melewati malam yang indah. Ah Bunda, sedikitpun menantumu itu belum kusentuh. Tapi sikap Airin dikamar tadi memang terlihat berbeda. Senyumnya seakan menggoda. Padahal tadi pagi kami baru saja berdebat. Malam ini dia sudah bisa tersenyum seperti itu. Apa maksud wanita itu. Aku akan ke kamar sekarang, aku ingin menanyakan semuanya padanya. Tidak mungkin masalah ini akan selesai kalau aku tidak membicarakan padanya. Aku tidak ingin dia lebih lama lagi bermain sembunyi sembunyi bertemu dengan selingkuhannya itu. Kalau memang harus berpisah, oke. Berpisah saja, urusan Bunda nanti akan aku jelaskan. Bukti bukti foto perselingkuhannya masih aku simpan. Akupun segera melangkah ke arah kamar.
Ternyata dia telah tidur diranjang, lampu kamar sudah berganti dengan lampu tidur. Suasana menjadi temaram. Apa ini, apa aku tak salah lihat. Airin tidur memakai lingerie yang tipis. Warnanya sangat cocok dengan kulitnya yang mulus. Perlahan ku dekati dia, ya tuhan, kemolekan tubuhnya membuat ada yang bangkit di tubuh ku. Bagaimanapun aku laki laki normal.
Perlahan ku sentuh wajahnya, sangat cantik. Matanya yang indah, bibirnya yang tipis. Sangat ingin ku mel*matnya. Pelan ku ci*um bibir tipis itu, hasratku benar benar menginginkannya. Sedikit ku hisap, tanganku pun tak bisa diam. Ku sentuh bagian dadanya yang terlihat ranum. Bagian atasnya sedikit terbuka karena belahan lingerie yang rendah. Airin sedkit bergerak, ku hentikan tanganku. Aku takut dia akan terbangun. Tapi syukurnya dia hanya menggeser posisi tubuhnya. Matanya masih terpejam, kulihat dia tersenyum. Apakah dia sudah bangun dan tau akan perbuatanku. Lama ku terdiam, memastikan kalau dia masih tertidur dan hanya tersenyum karena mimpi.
__ADS_1
Hasratku kembali ingin menyentuhnya, kucium lehernya yang putih. Wangi parfhumnya melenakanku., sehingga semakin dalam ciumanku. Airin bergerak lagi. "Massss,,, aku mencintaimu mass...." Desahnya... Aku sedikit panik. Takut kalau dia sudah bangun. Aku malu kalau ketauan telah menciumnya secara diam diam begini.
Setelah agak lama, Airin tak lagi bersuara, dia kembali terlelap lagi. Mungkin Airin benar bermimpi. Tapi, siapa yang ada dalam mimpinya. Siapa yang dicintainya ? Aku kah ? atau Syahdan. Kembali hatiku dipenuhi cemburu dan amarah. Dalam mimpipun dia masih mengungkapkan cintanya pada Syahdan. Padahal aku yang telah menyentuhnya. Dengan segera ku tinggalkan dia. Kembali keruang kerjaku. Aku tak ingin semakin sakit hati mendengar desahannya yang memimpikan Syahdan.