
Naina menghela napas panjang. Ethan kembali ke kamarnya sementara Naina memilih pergi ke dapur dan mengambil segelas air putih untuk membasahi kerongkongannya yang begitu kering.
Ia menggelengkan kepala dengan mata terpejam saat sekilas bayangan apa yang terjadi beberapa waktu lalu melintasi kepalanya. Naina menepis hal itu kuat-kuat, menolak percaya jika hal tersebut benar-benar terjadi. Dimana rahasia yang ia dengan Ethan dan Zoya coba sembunyikan dari Rival justru diketahui oleh pria itu.
Dari hatinya yang terdalam, Naina begitu merasa iba saat mengingat bagaiman reaksi pertama yang Rival berikan saat Ethan mengatakan padanya jika ia dengan Ethan sudah menikah. Naina tidak menyangka, jika Ethan akan berterus terang pada Rival mengenai hubungan mereka.
Sekalipun Ethan dengannya tertangkap basah dan tak bisa mengelak, tetapi seharusnya Ethan tetap bisa beralasan, apapun itu. Bagiamanapun caranya agar Rival tidak perlu mengetahui hal ini. Namun kini nasi sudah jadi bubur, Naina tahu semuanya sudah terlanjur. Perasaan Rival pasti terluka, pria itu pasti merasa dibodohi dan merasa dipermainkan.
Bagaimanapun, Naina harus meminta maaf pada pria itu. Sekalipun sekarang Rival sudah tahu bagaimana kronologi awal ia bisa menikah dengan Ethan. Namun pria itu belum tahu sepenuhnya bagaimana perasaan Naina. Pria itu belum tahu bagaimana kondisi sebenarnya perasaan Naina pada pria itu.
Naina kembali ke kamarnya dan meraih ponsel. Ia segera mencari kontak Rival dan menghubunginya, berharap pria itu masih sudi untuk menerima panggilan darianya.
Gadis itu tidak bisa berdiam di tempatnya saat nada sambung sudah terdengar. Ia bahkan memohon pada Tuhan agar Rival mau mengangkat telponnya dan berbicara dengannya.
Naina seketika membulatkan mata saat pria itu mengangkat telponnya. Naina diam beberapa saat guna menyusun diksi yang tepat untuk berbicara dengan pria itu. Sementara Rival di ujung sana juga hanya terdiam. Yang terdengar hanyalah ******* napasnya dan hal tersebut benar-benar membuat Naina merasa kian gugup, takut dab merasa bersalah pada pria itu.
"Mas Rival." Naina ingin memastikan jika pria itu benar-benar Rival dan Rival mendengarkannya.
"Ada apa Naina?"
Naina bernapas lega ketika pria itu merespond.
Ia menghela napas sebelum berbicara, hingga kemudian setelah dirasanya siap ia mulai buka suara. "Maafin saya. Saya salah, selama ini saya merahasiakan pernikahan saya dengan Mas Ethan seolah mempermainkan Mas Rival."
"Saya salah. Saya juga mau melakukan pernikahan itu karena mau membalas budi pada Mbak Zoya dan juga Mas Ethan." panjang lebarnya. Ia menjeda sesaat kalimatnya dan menghela napas.
"Tapi saya nggak tahu kalau perasaan saya pada Mas Ethan akan jadi berbeda setelah sekian lama kami bersama."
"Tapi Mas Rival harus tahu, saya sama sekali tidak memiliki niatan untuk menyakiti Mas Rival apalagi sampai mempermainkan perasaan Mas Rival."
"Saya tahu ini terlambat dan sangat memalukan. Tapi saya sudah punya jawaban atas pilihan yang Mas Rival berikan pada saya."
"Saya bersedia untuk dikenalkan pada keluarga Mas Rival. Saya berniat menerima Mas Rival ketika perjanjian saya sama Mas Ethan selesai nanti. Tapi saya lupa mempertimbangkan satu hal–" Naina menjeda kalimatnya, ia menelan ludah dan menghela napas sebelum kemudian melanjutkan.
"Akan sangat tidak tahu malu bagi saya yang bekas orang untuk menawarkan diri pada Mas Rival. Jadi, semuanya cukup sampai di sini saja Mas Rival." sambungnya dengan air mata yang sudah membanjiri pipi mulusnya. Nada bicaranya bergetar dan pada akhirnya ia terisak
"Anggap kita tidak pernah saling mengenal. Anggap, kejadian tadi tidak pernah terjadi." sambungnya dengan pasrah.
"Kejadian yang mana Naina?" pria itu bertanya setelah cukup lama hanya diam dan membiarkan Naina banyak berbicara.
"Kejadian yang mana? Saya tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud." tanya pria itu lagi.
__ADS_1
Nain diam beberapa saat, mencerna apa yang pria di ujung sana katakan. Ia menyeka air matanya dan lebih memahami lagi maksud perkataan Rival.
"Tadi saya akan mengunjungi kamu tapi nggak jadi, saya mendapat telpon dari orang rumah dan disuruh pulang. Mungkin kita bisa bertemu di lain waktu." panjang lebar pria itu yang membuat air mata Naina kembali jatuh dengan deras begitu meanyadari apa yang Rival maksud.
"Mas Rival." isak Naina.
Pria itu tidak bersuara, Naina hanya mendengar hembusan napasnya hingga kemudian suara Rival kembali terdengar dengan nada yang begitu rendah.
"Kamu meminta untuk seolah-olah tidak ada yang terjadi bukan? Maka saya lakukan, Naina."
"Setidaknya hal itu jauh lebih muda daripada memercayai fakta, jika kamu dengan Ethan sudah menikah."
Naina tahu ia salah, mungkin seharusnya sejak awal pria itu kembali ke Indonesia, Naina tak perlu menemuinya, seharusnya Naina tak perlu kembali dengan pria itu dan memicu masalah.
***
Zoya beraktivitas seperti biasa. Sejak lusa kemarin tim sudah menetap di kota selanjutnya untuk melanjutkan syuting.
Selama beberapa hari berjalan, anehnya Ethan sama sekali tak pernah berkunjung ke lokasi syuting baru Zoya. Bahkan pria itu terbilang jarang menghubunginya. Tentu saja hal tersebut membuat Zoya heran. Bahkan sesekali membuatnya tak fokus ketika take syuting.
Berbagai pertanyaan seringkali bersarang di kepalanya. Apa yang sedang Ethan lakukan?
Bagaimana keadaan pria itu?
Hal apa yang sedang membuat pria itu betah jarang menghubunginya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Mungkin sangat menganggu andai ia utarakan pada Ethan.
Zoya mengerti suaminya sibuk bekerja. Namun sebelumnya, Ethan tak pernah separah ini membiarkannya. Biasanya daripada kerjaan, Ethan jauh akan lebih memilih dirinya.
"Zoy,"
"Zoya,"
"Hey!" Selin menyentuh bahu wanita itu dan membuat Zoya tersentak, wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Kamu sakit?" tanya Selin. Ia melihat menu makan siang wanita itu yang masih utuh.
"Kamu nggak makan lagi?" Selin tampak kesal dengan hal itu. Pasalnya, beberapa hari kemarin, Zoya tampak tidak nafsu makan, wanita itu sering kali melewati waktu makannya. Padahal tubuhnya diforsir untuk syuting siang dan malam. Tenaga wanita itu tetkuras tanpa terisi apapun.
"Suami kamu belum ada nelpon?" tanya Selin lagi memahami jika hal itulah yang menjadi salah satu alasan Zoya tampak tak bersemangat di lokasi syuting. Ethan jarang menghubunginya dan tak pernah datang ke lokasi syuting untuk melihat dan menemani wania itu seperti sebelum-sebelumnya. Hal itu tentu saja mengganggu kesehatan dan ketenangan Zoya.
__ADS_1
Selin mendesah saat wanita itu menggelengkan kepala. Ia meraih styrofoam makan Zoya. "Tapi seenggaknya kamu harus makan, kamu butuh tenaga buat ngelanajutin syuting."
"Sebentar lagi kamu take, kita makan dulu, yah." bujuknya seraya menyodorkan sesendok nasi untuk Zoya, melihat tatapan mata sang manajer yang begitu tulus padanya, Zoya yang tidak tega jika harus menolaknya akhirnya membuka mulut. Tersenyum saat Selin mengukir senyum penuh suport padanya begitu nasi masuk ke mulutnya.
Beberapa waktu lalu, Ethan mengiriminya pesan dan pria itu belum bisa mengunjunginya di lokasi syuting karena tengah sibuk mempersiapkan acara serah terima jabatan hotel milik sang grandpa Andreas.
***
Ethan tidak bohong saat ia mengatakan pada Zoya jika dirinya tengah sibuk ikut mengurus persiapan serah terima jabatan yang akan digelar malam nanti. Ia terlibat langsung karena Agyan yang menugaskannya saat pria itu tak bisa berpartisipasi, Agyan memiliki urusan di luar kota dan Freya turut diboyongnya seperti biasa.
Sehingga mau tak mau, Ethan terjun langsung ke lapangan dan melihat persiapan karena serah terima jabatan tersebut akan digelar secara mewah.
"Sudah 99% Pak, Pak Ethan tenang saja. Semuanya hampir selesai." sahut seorang manajer EO setelah Ethan banyak membahas kelengkapan persiapan acara dengannya.
Ethan mengangguk-anggukan kepala. Ia mengedarkan matanya melihat ornamen yang sudah selesai dipasang. Warna putih menjadi pilihan dan membuat Ethan merasa seperti di pesta pernikahan. Sangat mengesankan.
Pria itu kemudian mematung selama beberapa saat ketika matanya menangkap objek yang ingin ia tolak. Ia melihat Rival yang juga tengah mengamati ballrom tempat akan diadakannya acara. Sepertinya pria itu sedang melakukan kunjungan untuk melihat kondisi lokasi serah terima jabatan direktur hotel digelar.
Usai kejadian di rumahnya beberapa hari yang lalu, Ethan memang belum pernah bertemu lagi dengan pria itu. Pun Rival tidak pernah lagi datang ke rumahnya untuk bertamu.
Ketika langkah pria itu sudah berada dekat dengannya, Ethan mengela napas, ia berharap tidak akan tetjadi masalah apapun di tempat yang sudah tertata rapi tersebut.
"Oh, Pak Ethan." tiga karyawan dari perusahaan Zeinn Group yang datang bersama dengan Rival menyapanya. Ethan hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala samar.
Sementara Rival juga menatap pria itu datar. Keduanya tak saling menyapa dan membuat sang manajer EO dan karyawan tersebut keheraban, pasalnya mereka tahu jika dua orang itu adalah saudara.
Tetapi tatapan keduanya tampak berbeda, baik Ethan maupun Rival memberikan sorot mata seolah keduanya tengah mengibarkan bendera perang.
***
"Zoya, kita take satu kali lagi." Irpan sudah menanggil saat Zoya baru menghabiskan setengah makanannya. Zoya mengangguk dan segera meraih botol minumnya.
"Selesain dulu aja makannya, cuma sedikit lagi." Selin menahan agar wanita itu menghabiskan makannya terlebih dahulu.
"Justru karena sedikit lagi, Mbak Selin aja yang abisin, yah." sahut wanita itu yang justru segera berlalu guna memenuhi panggilan sutrada dan meninggalkan Selin di sana. Wanita itu hanya menghela napas dengan mata mengarah pada Zoya yang sudah bersiap bersama dengan Edrin untuk melakukan take.
"Sekali take langsung jadi, okay." pinta sang sutradara. Edrin dengan Zoya mengangguk, mereka sudah berlatih cukup keras semalam untuk scene kin.
Tak jauh dari mereka, saat proses syuting berlangsung. Seorang dari departement kamera tampak mengarahkan kamera ponselnya secara diam-diam.
Membuat Alexa yang sedang beristirahat melihat pria itu sekilas. Namun begitu wanita itu berdecih dan mengabaikannya. Ia jauh lebih tertarik pada adegan yang tengah dilakukan Zoya dan Edrin.
__ADS_1
Akting jempolan dua aktris besar itu sangat menyentuh hatinya.
TBC