
Suasana di meja makan teramat hambar bagi Freya. Apalagi, mengingat bagaimana kacaunya obrolan ia dengan Agyan semalam, Freya terus memikirkannya dan tidak bisa tidur setelah Agyan memutus sambungan telpon tanpa persetujuannya.
Freya mungkin salah karena tidak meminta izin terlebih dahulu pada tunangannya. Tapi Freya merasa Agyan tidak akan keberatan karena ia sudah tau bagaimana profesi Freya sebagai seorang publik figur.
Nyatanya, Agyan tetap tidak bisa mengertikan dirinya dan justru bersikap keras kepala. Bertingkah seolah Freya adalah yang paling salah.
Anna yang merasa heran dengan sikap putrinya lantas menyentuh lengan Freya, membuat gerakan tangan Freya yang sejak tadi hanya melamun sambil mengaduk-aduk makanan terhenti dan menoleh padanya.
"Kenapa, Mi?"
"Kamu yang kenapa, ngelamun gitu. Ada masalah?"
Freya hanya menggeleng samar, sementara Warry yang tadi asik menikmati sarapan kini menatap putrinya, mengunyah makanan dengan perlahan. "Agyan?" tebak Warry setelah beberapa saat. Freya tak menyahut.
"Sudah Papi bilang, jangan berhubungan lagi dengan Agyan. Buang cincin yang kamu pakai. Percuma saja kalian bertahan!" sarkasnya tanpa perduli bagaimana hancurnya perasaan Freya mendengar tentangan dari sang Papi yang terus menyuruhnya menyerah dengan Agyan.
Freya bangkit. Berlalu dari meja makan tanpa permisi, Anna hanya menggantung tangannya di udara. Mau mencegah kepergian Freya, tapi putrinya itu sudah terlanjur menjauh.
Ia lantas menghela nafas, menatap suaminya yang melanjutkan sarapan.
"Kasian Freya, Mas."
"Lebih kasihan jika dia menjadi menantu Andreas," sahut Warry dengan cepat.
"Mas, seharusnya anak-anak tidak perlu dilibatkan dengan masa lalu yang sudah terlewat." Anna memberianikan diri untuk berbicara secara terang-terangan pada Warry.
"Jangan membahasnya, percuma saja. Sesuatu yang berhubungan dengan Andreas, aku tidak bisa terima, apapun itu!"
"Termasuk kebahagiaan putri kita?" sela Anna dengan cepat.
"Laki-laki di dunia ini bukan hanya Agyan!"
"Tapi Freya hanya mencintai Agyan!"
Warry diam, ia menghela nafas. Anna sudah bersiap akan kemarahan suaminya. Tapi Warry berhasil menahan emosi, ia kembali melanjutkan sarapan tanpa menyahuti kalimat sang istri.
*
*
"Harusnya loe gabung kita, Ga. Gedung fakultas loe kejauhan!" cela Morgan saat mereka berada di parkiran kampus. Cherry dan Gavin mengangguk mengiyakan.
"Nggak bakal bener kalo gabung sama kalian!" Braga menyahut dengan cepat.
"Enak aja, loe!" Cherry memukul dada Braga keras-keras. Braga meringis sambil memegangi dadanya, tapi perlahan tersenyum begitu melihat Freya baru saja memasuki gerbang kampus.
"Frey!" ia melambaikan tangan pada Freya.
Gadis yang menekuk wajah itu tampak memaksakan tersenyum ke arah Braga dengan yang lainnya.
"Pada ngumpul di sini," tegurnya saat sudah bergabung.
"Iya, nih. Padahal ada kelas pagi," Gavin menyahut kalem sambil melihat arloji dipergelangan tangan.
__ADS_1
"Yaudah, kenapa nggak ke kelas?" heran Freya. "Ngusir, Frey?" Morgan memperlihatkan raut mengenaskan. Freya tertawa, "Enggak!"
"Yaudah tapi, Frey. Kita duluan, ya. Dosen di sini galak-galak!" Gavin berpamitan sambil menggandeng Cherry. Tiga orang itu berlalu, meninggalkan Freya dan Braga di sana.
"Langsung ke kelas?" tanya Braga pada gadis itu setelah cukup lama mereka hanya menatap kepergian tiga kawannya.
"Loe duluan aja, gue telpon Mbak Nadien dulu!" Freya memunggungi Braga. Sementara pemuda itu hanya berdiri saja di dekat Freya tanpa beranjak.
"Mbak di mana?" sambar Freya setelah panggilan terhubung.
"Di kantor. Kebetulan kamu telpon, Mbak mau nunjukin hasil pemotretan kemarin." "Nanti, Mbak kirim."
"Enggak usah!"
"Aku nelpon cuma mau ngasih tau, pemotretan selanjutnya, aku gak nerima partner cowok!" sahut Freya tanpa basa-basi.
"Tapi—"
"Agyan ngamuk-ngamuk, aku nggak mau kita ribut gara-gara itu. Mbak!"
"Gimana sama pihak agensi, Frey?" Freya tau, di sana, Mbak Nadien pasti sedang memijit pelipis karena mendengar protesnya.
"Gini, deh, Frey—"
"Mbak, model bukan cuma aku aja!" Freya mulai kesal.
"Tapi yang paling dipake sama agensi, tuh, kamu!"
"Aku nggak nolak, Mbak. Tapi kalo partnernya harus cowok aku nggak bisa!"
"Ini masih di sini,"
Freya tersenyum kecut. "Sorry. Loe jadi harus denger gue marah-marah."
"Nggak papa,"
Keduanya perlahan berjalan ke arah gedung fakultas ekonomi, tanpa obrolan apapun. Karena Braga tau bagaimana kondisi perasaan Freya saat ini. Ia mengerti.
*
*
Satu minggu berlalu dengan cepat, tapi tidak bagi Freya yang tidak mendapat kabar apapun dari Agyan. Pemuda itu menghilang begitu saja seolah melupakannya, mengabaikan, dan tak perduli lagi padanya.
Selama satu minggu ini juga Freya tidak melakukan pemotretan yang dijadwalkan untuknya. Freya tidak bisa melakukan hal apapun dengan kondisi perasaan yang berantakan.
Freya duduk di tepi kolam renang dengan kaki yang berada di dalam air, ponsel selalu setia berada di sampingnya, barangkali Agyan mengingat dan nanti menghubunginya. Ia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Mengusapnya berulang kali, ia merindukan orang yang menyematkannya.
"Kamu nggak kangen aku, Gyan?!" lirihnya dengan pilu.
Sementara Warry yang berdiri di pintu kaca samping menghadap kolam renang hanya menatap putrinya dengan segelas kopi di tangannya.
Diam-diam ia berharap agar Agyan tidak lagi menghubungi Freya.
__ADS_1
**
Seorang pria meraba-raba sekitar tempat tidur di kamarnya yang temaram. mencari sumber suara di mana letak ponselnya. Dengan mata yang masih mengantuk ia meraih ponsel, menggeliat dan menyalakan lampu di samping tempat tidur.
Cukup lama hanya terdiam setelah mematikan alarm, turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Tanpa mengeringkan wajahnya yang basah dengan handuk, ia meraih ponsel dan langsung menghubungi seseorang.
Dengan cepat, orang di ujung sana mengangkat telponnya. "Sayang," sapa Agyan dengan senyum di bibir, dan rasa bersalah di matanya.
"Kamu ke mana aja?" orang diujung sana mengerutu dengan isakan kecil.
"Maafin aku."
"Kamu ke mana aja!"
"Aku nggak suka kamu ngilang-ngilang, aku cemas tau nggak, sih, Gyan."
"Aku takut kamu ninggalin aku!" Freya terisak-isak di ujung sana.
Agyan jelas merasa bersalah. Tapi alasan kenapa ia tidak mengubungi gadis itu. Semata-mata karena ia takut Freya masih kesal padanya, dan Agyan ingin menghindari keributan diantara mereka.
Agyan tidak ingi lagi berdebat, meski hal itu memang tidak bisa dihindarkan.
"Aku nggak kemana-mana, aku banyak tugas, Yang."
"Tugas kamu jauh lebih penting dari aku?" "Seenggaknya kamu ngabarin aku. Biar aku nggak cemas!"
"Kamu jauh lebih penting!"
"Tapi kenapa nggak ngabarin?!" gadis itu berteriak marah. Dan justru mengundang tawa Agyan, menghilangkan rasa kantuknya meski sejujurnya pagi nanti ia memiliki banyak kegiatan kampus.
"Kamu juga nggak ngabarin!"
"Aku takut kamu masih marah sama aku,"
"Aku nggak marah!"
Keduanya kemudian hanya terdiam. Sama-sama tersenyum dengan perasaan senang yang membuncah dalam hati masing-masing. Nyatanya, meski hanya satu minggu tidak saling berbicara, keduanya tidak dapat bertahan lama menahan rindu.
"Yang, maafin aku. Maaf untuk komunikasi terakhir kita, aku nggak ada maksud buat ngatur-ngatur kamu."
"Aku nggak ada maksud buat maksa-maksa kamu, maaf." sesal Agyan. Mengingat bagaimana perlakuan kasarnya pada Freya satu minggu yang lalu.
"Aku juga minta maaf," Freya menghentikan isakannya.
"Kamu nggak salah!"
"Aku sayang kamu!"
"Aku juga, Gyan. Aku juga sayang kamu!"
"Kuat, yah, Yang. Tunggu aku pulang!"
"Iya, Agyan. Aku tunggu kamu pulang."
__ADS_1
Keduanya melanjutkan obrolan, menghabiskan setiap detik waktu yang terus berdenting berganti menit, menikmati semuanya meski hanya sekedar mendengar deruan nafas satu sama lain.
TBC