
Syuting hari pertama berjalan dengan lancar. Tampaknya semangat para pemain dan juga para kru membuat semua berjalan cepat dan tepat hari ini.
Meski tanpa orang-orang tahu jika di sela-sela syuting, saat Zoya tengah membaca skripnya sedangkan Edrin melakukan take, wanita itu sempat mengkhawatirkan Naina yang merasa kesakitan di hari keduanya datang bulan.
"Ethan, Naina sakit. Kamu beliin dia obat pereda nyeri haid, yah." sahut wanita itu, meminta tolong pada sang suami karena tidak akan mungkin jika Zoya yang harus membelikan Naina obat pereda nyeri, sebentar lagi gilirannya untuk melakukan pengambilan adegan.
"Saya?" pria itu menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu."
"Sayang–"
"Zoy, siap-siap." seorang kru memanggil Zoya dan menyuruhnya mempersiapkan diri. Zoya mengangguk cepat dan meminta agar Ethan segera memenuhi permintaan tolongnya.
Pria itu hanya mendesah saat Zoya sudah berlalu tanpa menghiraukannya.
"Nggak usah Pak, sebentar lagi nyerinya juga pasti reda." Naina angkat bicara, tak ingin membuat Ethan kerepotan karenanya.
"Kamu tunggu di sini." pesan Ethan yang kemudian berlalu meninggalkan gadis itu. Naina hanya terdiam pasrah, membiarkan Ethan memenuhi permintaan Zoya untuk membelikannya obat pereda nyeri haid.
Naina meringis saat nyeri itu kembali menyerangnya, padahal biasanya saat tamu bulanannya datang, Naina tak pernah mengeluhkan apapun.
Setelah cukup lama, pria itu kembali dengan dua botol minuman pereda nyeri. "Saya cuma dapat ini. Setahu saya ini obat penyeri haid. Saya juga pernah melihat Zoya meminumnya." sahut pria itu panjang lebar seraya menyerahkan sebotol minuman tersebut yang sudah ia buka penutup botolnya. Naina hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih, lantas menempelkan bibir botol ke bibirnya.
Sedangkan Ethan tampak mengepalkan tangan saat melihat adegan yang dilakukan Zoya dengan Edrin. Naina yang baru saja melegut sedikit minuman pereda nyeri itu mengikuti arah pandangan Ethan dan melihat Zoya dan Edrin yang tengah melakukan adegan.
Tidak berlebihan, hanya sekedar saling bertatapan. Tetapi tatapan yang menakjubkan. Setiap orang yang melihatnya akan sadar seberapa hebat chemistry yang berhasil dua orang itu ciptakan hingga menghipnotis semua orang untuk terkagum-kagum pada mereka.
Ini baru permulaan, kisah asmara Rain dengan Angkasa bahkan belum dimulai.
Naina kembali mengalihkan perhatiannya pada Ethan yang tampak tak bisa menahan rasa cemburunya. Tampaknya Ethan sangat tidak rela istrinya tersebut berinteraksi dengan pria lain meski hanya saling bersitatap.
Mungkin, jika saja tidak ingat dengan janjinya pada Zoya saat di dalam mobil dalam perjalanan ke lokasi syuting. Bisa saja dengan nekadnya Ethan menghentikan adegan tersebut dan mengacaukan semuanya.
__ADS_1
Namun pria itu tampak hanya menghela napas, benar-benar mengendalikan rasa cemburu dan amarahnya dengan begitu tenang.
Memangnya perasaan suami mana yang tidak hancur dan cemburu saat melihat istrinya menatap pria lain? Sekalipun hal itu hanya akting dan di kehidupan nyata Zoya tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu, namun tetap saja fakta jika Zoya dan Edrinlah yang melakukan adegan tersebut cukup mencabik cabik hati Ethan.
Namun begitu, tak ada yang bisa ia lakukan. Yang bisa dilakukannya hanya memantau wanita itu dan berharap jika Zoya akan baik baik saja.
Ethan menoleh saat melihat Naina yang tengah meringis sembari memegangi perut bagian bawahnya.
"Sakit?" tanya Ehhan pada gadis itu. Naina hanya menganggukan kepalanya samar. Tak ingin membuat pria itu khawatir tapi ia juga tidak bisa benar-benar menahan rasa sakitnya.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja." tawar pria itu dengan entengnya.
"Enggak perlu Pak, ini bukan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Tidak masalah, nanti juga cepat pulih." Naina menyahut tenang sekalipun Ethan dapat melihat sorot mata gadis itu jika Naina sedang berusaha menahan sakit.
Ethan melihat sekeliling. Ia tidak mungkin menunjukan perhatiannya pada Naina saat ada banyak orang di sekitar mereka. Ia yakin jika ia menyentuh Naina, maka hal itu akan menjadi berita besar yang tak bisa dihindarkan.
"Setelah syuting selesai kita ke Rumah Sakit." sahut pria itu dengan suara yang hanya mampu di dengar oleh Naina, tanpa bisa gadis itu bantah.
***
"Zoy,"
Wanita itu spontan menoleh saat suara panggilan yang diakhiri dengan tepukan yang mendarat di pundaknya cukup membuatnya terkejut.
"Hay, Drin. Ada apa?"
"Nggak langsung pulang?" tanya pria itu yang sudah bersiap untuk meninggalkan lokasi ketika para kru masih sibuk membereskan peralatan syuting.
"Lagi nunggu suamiku." Zoya mengarahkan dagunya pada Ethan, membuat Edrin mengikuti aran pandangan wanita itu dan hanya menganggukan kepala dengan sopan saat Ethan tampak terpaksa mengakhiri obrolannya dengan produser dan sutaradara film mereka saat melihat Edrin bersama dengan istrinya.
"Kamu sama manajermu langsung pulang?" Zpya balik bertanya.
"Kata manajerku ada pertemuan penting untuk syuting iklan. Aku harus ketemu perwakilan perusahaan brand dan tandatangan kontrak." sahut pria itu dengan spesifik. Raut wajahnya terlihat agak malas menghadapi kenyataan jika setelah syuting ini usai ia memiliki pekerjaan lain dan tidak bisa langsung beristirahat.
__ADS_1
Zoya baru saja akan menanggapi kalimat panjang lebar pria itu, namun sebuah tangan besar lebih dulu melingkari pinggangnya penuh posesif. Zoya yang sudah tahu perbuatan tersebut adalah ulah suaminya, ia hanya tersenyum manis pada Ethan yang sedang menunjukan kepemilikannya atas Zoya kepada Edrin.
Bersamaan dengan itu juga, manajer Edrin menghampiri pria itu untuk mengajaknya segera pergi ke lokasi selanjutnya. "Zoya, duluan yah." pamit manajer Edrin dengan anggukan kepala yang tampak sopan, sedangkan Edrin sudah berlalu lebih dulu. Ia tahu situasi dan cukup tahu diri untuk tidak mengusik Ethan dan mengganggu ketenangan Zoya.
"Iya Mbak,"
Wanita itu balas mengangguk sopan dan melambaikan tangan saat Edrin dan manajernya itu berlalu. Ketika Ethan kian mengeratkan tangannya di pinggang Zoya, wanita itu mengerti jika sang suami butuh penjelasan sekaligus perhatian sehingga Zoya balas melingkarkan tangannya di pinggang pria tampan itu.
"Tadi aku cuma nanya ke Edrin, habis ini dia langsung pulang atau ada kerjaan lain lagi. Dia bilang mau tandatangan kontrak. Cuma itu." Zoya menjawab pertanyaan dari bahasa tubuh yang pria itu keluarkan.
"Kenapa juga kamu harus bertanya?"
"Basa-basi aja." sahut Zoya, asal. Ethan berdecak. Bersamaan dengan itu, Selin dengan Naina yang sudah metapikan kebutuhan Zoya muncul.
"Udah beres, kita langsung pulang sekarang aja?" tanya Selin, Zoya menganggukan kepala yang akhirnya membuat Selin melangkah lebih dulu untuk keluar dari Bandra.
Begitu juga Naina, tetapi Zoya baru mengingat satu hal hingga ia bertanya pada gadis itu.
"Naina, gimana. Kamu sudah enakan?"
"Sudah Mbak. Sudah jauh lebih baik." Naina menjawab dengan senyum tipis, membuat Zoya merasa lega jika keadaan gadis itu baik-baik saja.
"Tapi kamu harus ke Rumah Sakit." Ethan angkat bicara mengingat Naina yang sempat meringis merasakan sakit beberapa waktu yang lalu.
"Nggak perlu, Pak. Saya baik-baik aja." Naina penolak penawaran itu dengan lembut.
"Yaudah kalau kamu nggak mau ke Rumah Sakit." sahut Zoya akhirnya. Sebagai sesama perempuan, Zoya paham jika Naina tidak membutuhkan dokter. Nyeri saat haid sudah menjadi hal lumrah di kalangan wanita.
"Tapi kamu beneran udak nggak apa-apa, 'kan? Udah nggak sakit lagi, kan?" sekali lagi Zoya memastikan agar ia merasa tenang dan yakin. Naina mengangguk penuh keyakinan dengan senyum manis di bibirnya.
"Yaudah,"
Ketiganya melanjutkan langkah. Zoya berjalan dengan saling bergandengan bersama Ethan, sesekali tertawa dan terlihat begitu gembira.
__ADS_1
Sangat jauh dengan keadaan Naina. Naina tertinggal di belakang. Gadis itu hanya mampu menatap punggung Ethan dengan Zoya yang mulai menjauh dari pandangannya.
TBC