Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kembali Normal


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika Zoya berjalan ke arah walk-in closet untuk mencari lingerie miliknya yang tertata rapi di sana. Sejujurnya ia banyak memiliki benda tersebut, sebagian adalah kado pernikahan yang ia dapat dari orang-orang terdekatnya.


Namun memang ia sangat jarang menggunakannya, karena ia lebih nyaman menggunakan sleep wear dan Ethan pun tidak masalah dengan hal itu.


Begitu menemukan lingerie berwarna merah menyala diantara warna gelap lainnya, Zoya tersenyum. Ia tidak suka warna pakaian cerah, namun kali ini ia melakukan hal tersebut bukan semata-mata untuk dirinya sendiri.


Malam nanti ia akan memberikan kejutan untuk sang suami, bukan hal besar tapi setidaknya akan cukup untuk membuat Ethan tidur nyenyak malam ini.


Setelah menemukan lingerie berwarna merah menyala miliknya dan menaruhnya di atas tempat tidur, Zoya membuka brankas Ethan dan mengambil sebuah kardus dengan design elegan di sana. Ia ingat, jika kardus tersebut berisi sebotol anggur merah merk mahal yang Ethan dapatkan dari luar negri saat suaminya ada pekerjaan di sana. Selanjutnya, ia memilih


parfum terbaik miliknya. Ethan tidak boleh melupakan aroma yang nanyi akan ia berikan.


Zoya kembali tersenyun senang ketika melihat persiapannya sudah lengkap. Setelahnya ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian turun ke lantai bawah untuk menikmati makan malam.


Sambil menikmati makanannya, pikiran Zoya berkelana membayangkan bagaimana reaksi suaminya ketika nanti pulang bekerja. Tadi ia sempat mendapat telepon dari sang suami jika Ethan akan pulang cukup malam dari biasanya. Zoya tidak masalah, artinya ia memiliki banyak waktu untuk bersiap menyambut kepulangan sang suami.


Usai menikmati makan malam, Zoya mulai beraksi mengenalkan lingerie yang sudah ia siapkan, merias dirinya dengan begitu cantik lantas mencari heels yang sekiranya cocok untuk dikenakan malam ini, dan pilihannya jatuh kepada heels berwarna gold yang ia beli tepat setelah menikah dengan Ethan.


Terakhir, wanita itu menyemprotkan parfum ke nadi. Leher, juga lengannya.


"Perfect."


Zoya menatap pantulan dirinya di dalam cermin, ia tersenyum penuh kagum pada dirinya sendiri yang begitu terlihat cantik. Ethan pasti akan terkesima.


Rupanya usaha Zoya tidak sia-sia ketika malam ini Ethan benar-benar bekerja keras dengannya. Pria itu menyukai permainannya.


Zoya hanya tersenyum dibalik selimut, mendekap selimut tebal itu yang menutupi tubuh polosnya. Sementara Ethan berada di dalam kamar mandi dan sedang membersihkan diri usai ritual malam.


Tak lama ketika pintu kamar mandi terbuka Zoya hanya menatap suaminya yang berjalan ke arah walk-in closet beberapa saat kemudian pria itu kembali setelah menggunakan baju tidurnya. Lantas berbaring di samping Zoya setelah mematikan lampu utama.

__ADS_1


Waktu menunjukkan tepat pukul jam dua belas malam. Saat itu Ethan menarik selimutnya menutupi tubuh, kemudian merubah posisinya menatap sang istri, tangannya terulur untuk mengusap salah satu sisi wajah istrinya.


"Thanks for tonight my wife." sahutnya sarat akan makna,,mendekat dan mendaratkan kecupan di kening Zoya, cukup lama. Hingga kemudian Zoya merasakan aliran hangat di dalam tubuhnya.


***


Bagai mendapat angin surga, begitulah yang Ethan rasakan ketika ia bangun di pagi hari setelah menikmati malam yang panjang dengan istrinya malam yang sangat menyenangkan untuknya setelah berapa hari berpuasa. Kemudian bangun pada keesokan harinya dengan tubuh segar bugar dan perasaan yang tak memiliki beban.


Pria itu membuka matanya dengan perlahan, dengan senyum yang terukir di bibirnya, ketika beberapa hari ini biasanya ia bangun dalam keadaan lemah melihat kondisi sang istri. Pagi ini berbeda ketika di ia disambut senyum hangat Zoya yang tampak sudah segar bugar, rambut wanita itu tampak masih basah.


Zoya pasti baru saja selesai mandi. Ethan mendesah, sedikit menyayangkan hal tersebut, seharusnya pagi ini mereka mandi bersama tapi ...,


"Hay," Zoya yang sedang menyusir rambut di depan meja rias menyapa dengan riang, hal yang membuat perasaan Ethan menjadi jauh lebih baik melihat raut wajah sang istri yang berbeda dari beberapa hari yang lalu. Ethan merasa senang Zoya terlihat jauh lebih baik.


"Zoya." panggil Ethan yang membuat wanita itu kembali menoleh, mengangkat alis dengan gestur bertanya kepada Ethan.


Apa maksud pria itu memanggilnya?


Begitu mengurai pelukan, Zoya mengangkat wajahnya. Menatap Ethan penuh tanya. "Ada apa?" tanyanya pada sang suami yang justru tampak betah menatapnya dalam jarak hanya beberapa centi.


"Saya takut jika yang semalam hanyalah mimpi." sahutnya dengan polos.


"Mimpi? Kalau emang mimpi, terus ini apa? Ini apa? Ini apa?" sahut wanita itu sambil menunjuk bercak-bercak merah di leher dan juga dadanya. Hasil perbuatan Ethan semalan, pria itu justru tergelak, sementara Zoya mengerucutkan bibir.


Hal yang benar-benar membuat Ethan bahagia sekalipun yang ia dapat dari Zoya adalah ketusnya wanita itu, tapi setidaknya Ethan dapat melihatnya sendiri jika Zoya yang saat ini sedang menindih tubuhnya itu adalah istrinya, adalah Zoya-nya yang sudah kembali.


"Banyak gini." wanita itu menggerutu.


Ethan tak menyahut, hanya mengecup bibir Zoya dengan singkat. Singkat, tapi kemudian membuatnya ketagihan hingga ia melakukannya berulang-ulang.

__ADS_1


Zoya hanya pasrah mendapatkan perlakuan tersebut dari sang suami, Zoya biarkan saja pria itu, ia tahu Ethan sangat merindukannya.


***


Suasana rumah hari itu seolah kembali menjadi seperti semula ketika senyum Zoya kembali terukir di wajah wanita itu. Naina merasakan aura berbeda ketika dua orang itu menuruni anak tangga dengan saling bergandengan tangan dan mengukir senyumnya.


Ia juga harus ikut berbahagia bukan? Tampaknya keadaan sudah menjadi normal. Naina senang melihat hubungan Ethan dengan Zoya kembali membaik. Ia senang Zoya terlihat jauh lebih baik.


"Halo Naina," wanita itu menyapa Naina, Sapaan biasa yang beberapa hari ini tak melintasi indera pendengaran Naina


"Halo Mbak Zoya," Naina balas menyapa sembari terus menata meja makan dengan menu sarapan yang sudah dibuat sejak subuh tadi. Sedangkan Ethan dengan Zoya duduk di tempatnya masing-masing dengan saling melemparkan senyum.


Zoya menyendokan nasi dan juga beberapa lauk ke piring suaminya agar suaminya sarapan yang banyak. Karena pria itu sudah banyak mengeluarkan energinya semalam.


"Terima kasih, Sayang." ucap pria itu yang Zoya respon dengan anggukan kepala, setelahnya mereka sarapan bersama, begitu pula dengan Naina yang biasa bergabung di meja makan.


Keadaan benar-benar menjadi normal sama seperti biasanya, terbukti dengan interaksi antara Ethan dengan Zoya yang tampak jauh lebih hangat. Naina terus memperhatikan hal itu, kemudian ia tersadar jika keadaannya menjadi seperti sekarang, kaka ia sudah tidak perlu lagi melayani segala kebutuhan Ethan.


Naina tersenyum tipis, kenapa rasanya ia enggan meninggalkan kebiasaan yang sudah ia lakukan selama beberapa hari ini saat Zoya mengabaikan Ethan?


Untuk kali ini, Naina tersenyum miris ketika mengingat pada suatu malam saat Ethan menikmati makan malam sendirian, pria itu hanya melamun memikirkan kondisi istrinya yang memprihatinkan.


Naina seringkali menemani pria itu makan, namun sama seperti Zoya, Ethan pun memilih untuk tidak banyak bicara sehingga Naina seolah-olah hidup bersama patung di dalam rumah itu.


"Oh, Ethan. Aku mau ke psikolog." sahut Zoya yang membuat mainan tersadar dari lamunannya. Lantas menetap Zoya yang tengah menatap Ethan, sedangkan pria itu juga balas menatap itu istrinya dengan raut tak percaya. Zoya sekali lagi mengangguk untuk meyakinkan sang suami. "Aku mau ke psikolog." wanita itu mengulangi perkataannya.


Ethan tersenyum senang. Ia mengangguk-anggukan kepala artinya siang ini dia akan menemani Zoya untuk menemui psikolog. "Iya Sayang. Nanti biar saya buat jadwal untuk kita bertemu psikolognya." sahut Ethan.


Zoya mengangguk antusias. Beberapa waktu berikutnya, ketiganya kembali melanjutkan makan. Zoya memang merasa baik-baik saja sekarang dan merasa tidak perlu datang ke psikolog. Tapi ia tidak benar-benar tenang.

__ADS_1


Setidaknya, hatinya harus benar-benar menerima fakta yang dihadapinya sehingga nanti dirinya tak mengkhawatirkan apapun lagi.


TBC


__ADS_2